"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"
_________________
Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.
Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.
Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?
꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
꧁ঔৣ [Chapter 20 ] ঔৣ꧂
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...
Bau debu yang tersiram air menyengat hidung, bercampur dengan dentang samar ember kaleng yang beradu dengan lantai semen.
Di sana, Luni menyapu sisa-sisa air pembilas mobil, jemarinya yang kemerahan menggenggam erat gagang sapu kayu. Keringat tipis membasahi pelipisnya. Di sebelahnya, Vita sedang mengelap kap mesin dengan kain, namun tangannya mendadak berhenti. Matanya membelalak menatap Luni.
"Hah?! Seriusan, Lun?!" Vita menepuk paha celana kerjanya sendiri, suaranya naik satu oktav karena terkejut.
Luni menghentikan gerakannya. Ia menghela napas panjang, bahunya merosot memperlihatkan rasa iba yang amat sangat.
"Iya, Pit... Kasihan sekali Oppa Dante. Sampai terbaring sakit begitu gara-gara kelelahan."
Vita meremas kain lap di tangannya hingga matras kuku jempolnya memutih. Rasa khawatir langsung menjalar mendadak ke dadanya. Siapa yang tidak kenal Dante? Tangan kanan Tuan Oscar—pria bujangan, tampan, penuh kharisma, yang biasanya selalu berdiri tegap dengan setelan jas rapinya. Kini, pria memesona itu hanya bisa meringkuk lemas berbalut selimut tebal di atas kasurnya.
Selama beberapa hari terakhir, Dante dikuras habis-habisan. Ia mengerjakan tugas-tugas berat dari Oscar, terutama mengurus pekerjaan kantor yang sengaja Oscar tinggal kan
Vita mendekat, menurunkan volume suaranya dengan wajah cemas. "Terus sekarang keadaan Tuan gimana, Lun? Apa beliau tidak peduli sama sekali sama Mas Dante?"
"Tuan terlalu sibuk menemani Nyonya dari minggu kemarin. Kamu tahu sendiri, kan? Tuan mulai nempel terus-terusan kayak perangko sama Nyonya akhir-akhir ini... Ya, bagus sih, adem liatnya."
"Lalu... bagaimana dengan Nyonya, Lun? Masa Nyonya tidak tahu Mas Dante tumbang?" tanya Vita lagi, alisnya bertaut bingung.
"Kalau menurutku," Luni berbisik sambil melirik ke arah lorong utama, "Tuan sengaja menutupi ini dari Nyonya. Mungkin karena Nyonya memang belum siap atau tidak mau bikin Nyonya kepikiran."
Vita mengangguk-angguk paham, helaan napas lega perlahan keluar dari bibirnya. "Iya juga sih, kamu benar, Lun..."
Di antara rasa cemas akan beban berat yang menghantam Dante, ada setitik kehangatan yang menyeruak di hati kedua pelayan itu. Pasangan suami-istri kesayangan mereka kini terlihat makin mesra. Tak bisa dimungkiri, Oscar dan Anisa kini benar-benar lengket dan saling mengasihi.
di dalam ruang kerja berarsitektur modern minimalis, suasana terasa begitu tenang dan berwibawa. Bau harum aroma kopi hitam bercampur dengan wangi kayu cendana dari pendingin udara.
Ezekiel berdiri tegap di samping meja kerja mahoni yang megah. Jemarinya yang cekatan menggeser layar tablet berukuran besar sebelum menyodorkannya ke hadapan sang atasan.
"Tuan, ini denah toko yang Anda minta," ujar Ezekiel dengan nada suara datar namun penuh penghormatan.
Oscar menyesap napas dalam-dalam, mengambil tablet tersebut. Matanya meneliti setiap garis, sudut, dan detail cetak biru toko kue yang sangat ingin ia selesaikan. Bagaimanapun risikonya, ia bertekad toko itu harus berdiri sempurna dalam sebulan ke depan.
"Aku berharap setiap furniture yang aku minta sudah bisa terpasang rapi begitu bangunannya selesai. Jangan ada yang molor," tegas Oscar. Suaranya berat, penuh aura kepemimpinan yang tak terbantahkan.
"Tentu, Tuan. Saya sudah menyusun beberapa daftar barang dan Vendor terbaik yang dibutuhkan," jawab Ezekiel mantap.
"Ah... iya, hampir lupa." Oscar menegakkan posisi duduknya, menunjuk layar tablet dengan raut wajah yang mendadak sangat serius. "Dengar. Aku ingin setiap jengkal dan sisi toko tidak meninggalkan cacat sedikit pun. Aku mau ada pengamanan ekstra di sana. Dan pastikan lantainya tetap nyaman saat diinjak."
Oscar jeda sejenak, mengusap dagunya yang ditumbuhi brewok tipis nan rapi. "Pastikan juga kamar kecil di sana pas dan bersih untuk beribadah dan berganti pakaian. Usahakan memisah kamar ganti istriku dan kamar ganti karyawan. Dan jangan lupakan... langsung rekrut beberapa karyawan setelah ini. Pastikan seragam yang dibuat memiliki kombinasi unsur warna seperti hijau pastel, cokelat, dan hitam. Istriku suka warna-warna itu. Jangan sampai salah memasukkannya, Ezekiel."
"Baik, Tuan. Sangat dimengerti," jawab Ezekiel seraya mencatat poin-poin tersebut di agendanya.
"Satu lagi. Yang terakhir..." Oscar menatap tajam Ezekiel, tatapan yang menuntut kepatuhan mutlak.
"Apa itu, Tuan?"
"Pastikan istriku tidak tahu tentang proyek yang kubuatkan untuknya ini. Tutup rapat mulutmu sampai waktunya tiba."
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya mohon pamit." Ezekiel membungkukkan badannya secara hormat sebelum berbalik dan melangkah keluar tanpa suara.
Sepeninggal Ezekiel, kesunyian kembali menguasai ruangan. Oscar melepaskan sandaran punggungnya, merebahkan tubuh ke kursi kerja kulitnya yang empuk. Ia memejamkan mata sejenak. Senyum tipis yang amat tulus terpatri di bibirnya. Dibalik ketegasannya, ada rasa bahagia meluap-luap membayangkan senyum Anisa saat melihat toko kue impiannya berdiri tanpa perlu sang istri merintis susah payah dari nol. Oscar bertekad menjadi pria yang lebih baik, sosok yang sanggup membuat Anisa bangga memilikinya.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketukan pintu kayu berbunyi halus, disusul sebuah bisikan lembut nan sopan yang terngiang merdu di telinga.
"Assalamu’alaikum, Mas Oscar~ Boleh saya masuk?"
Dada Oscar berdesir hebat. "Masuk!" serunya cepat, ketegasannya mendadak luluh seketika.
Pintu terbuka perlahan. Pemandangan di ambang pintu langsung menghangatkan dinginnya pagi itu. Anisa berdiri di sana, tampil memesona dalam balutan gamis elegan berwarna lembut yang begitu pas di tubuhnya—sangat berbeda dari gamis sederhana yang biasa ia kenakan. Cadar kainnya terpasang sempurna, membingkai sepasang mata jernih yang selalu membuat Oscar bertekuk lutut.
"Ini kopinya, Mas..." ujar Anisa melangkah mendekat, membawa cangkir keramik berisi kopi panas.
Belum sempat Anisa menaruh cangkir itu di meja, Oscar berdiri cepat dan langsung menarik pinggang istrinya.
"Aakh! Mas?!" Anisa terperanjat, pekikan kecil lolos dari balik cadarnya.
Napasnya tertahan saat tubuhnya kini menempel sepenuhnya pada Oscar, terduduk pasrah di atas paha kekar sang suami yang kembali duduk di kursi kerjanya.
"Kamu makin cantik, Anisaku~" goda Oscar berbisik tepat di samping telinganya. Tangannya melingkar erat melingkupi perut Anisa, enggan melepas pelukannya dari belakang.
Meski ia belum sepenuhnya 'memiliki' Anisa secara utuh, naluri pria normalnya selalu bergejolak hebat setiap kali wanita yang teramat dicintainya ini berada dalam jangkauan sedekat ini.
"Mas... jangan kenceng-kenceng peluknya," rengek Anisa pelan, tubuhnya menegang. Suaminya ini belakangan sering lupa batasan jika sudah gemas.
"Sakit, Sayang?" tanyanya panik.
"Iya..."
"Aakh, ma-maaf!" Oscar refleks melemaskan cengkeramannya. Dorongan hasrat di dadanya memicu rasa bersalah. Namun, ia tetap mempertahankan Anisa duduk di pangkuannya.
Hening sejenak menyelimuti. Wajah Anisa merona hebat di balik kain cadar. Pria maskulin di bawahnya ini nampak begitu memikat sekaligus lelah. Kemeja putih Oscar agak terbuka di bagian atas, agak menempel ketat menampakkan lekuk dada bidangnya yang terukir sempurna akibat peluh dingin setelah bekerja keras sejak subuh.
Gemetar, Anisa memutar sedikit posisi duduknya. Rasa kagum dan tergiur yang amat sangat melingkupi dadanya. Jemari lentiknya terangkat ragu, menyentuh dada bidang suaminya.
Anisa menatap tepat ke manik mata Oscar. "Mas... kini sudah sebulan masa pernikahan kita. Masa pacaran kita... dan terus berjalan hingga masa satu tahun kontrak itu..."
Oscar merengkuh dan menangkup lembut kedua pipi Anisa dengan kedua telapak tangannya yang hangat. Tatapan matanya berubah sangat dalam, tulus, memperlihatkan ketakutan terbesar sekaligus kesungguhan paling suci dalam hidupnya.
"Aku tidak akan meresmikan pernikahan kita..."
Anisa menahan napasnya. "...di lembaran hukum negara sekarang, Anisa," tutur Oscar dengan suara amat pelan, namun bergetar tegas.
"Ke... kenapa, Mas?" tanya Anisa gugup, matanya berkaca-kaca.
"Karena aku takut..." Pengakuan jujur itu lolos begitu saja. Oscar menundukkan kepala tipis. "Aku takut jika aku terburu-buru mengikatmu secara resmi sekarang, kau belum benar-benar mengenal dan memahami seberapa gelapnya duniaku. Aku takut kau kaget, kedinginan... dan mendadak pergi meninggalkanku."
"Ya ampun, Mas... saya—"
"Shhht!" Oscar memotong, menyegel bibir Anisa dengan tatapan matanya. Ia meremas lembut jemari istrinya. "Sisa masa kontrak satu tahun ini... izinkan aku menggunakannya untuk memantaskan diri. Biarkan aku membuktikan padamu bahwa aku sanggup melindungimu. Dan begitu waktunya tiba nanti... aku sendiri yang akan melamarmu kembali secara sah di hadapan hukum dan Allah, sebagai suamimu yang sah selamanya."
Kehangatan menjalar di dada Anisa. Ia tersenyum manis di balik cadarnya, mengangguk pelan penuh rasa percaya. "Baik, Mas. Saya akan memegang janjimu."
Anisa meremas pelan baju Oscar. "Em... Mas?"
"Iya, Sayang?"
"Mas, boleh izinkan saya keluar hari ini? Hari ini saya ingin mengambil ponsel saya yang sempat rusak di konter HP... Saya tidak sendiri kok, pagi ini saya ditemani KakAzy."
Permintaan itu terdengar sederhana, namun seketika mengundang kilat curiga di mata Oscar. "Ponselmu?... Ah, iya, aku baru ingat. Yang kamu ceritakan rusak parah itu, kan? Sebenarnya... bagaimana mungkin kerusakannya bisa separah itu?"
Oscar menyipitkan mata. Selama ini ia terlalu sibuk dimabuk asmara dengan Anisa hingga tak ambil pusing. Namun, melihat raut wajah Anisa yang mendadak tegang dan tidak siap bercerita, naluri protektifnya langsung menyala.
"Anisa Sayang~ Kalau tidak mau menceritakannya sekarang, tidak apa-apa..." Oscar membelai kepala istrinya lembut. "Lagipula, kamu tinggal minta padaku untuk membelikan yang baru, pasti langsung kubelikan. tidak perlu repot-repot mem—"
"Enggak, Mas! Saya tidak mau!" potong Anisa cepat, nada suaranya meninggi penuh penolakan. Ia menatap Oscar kesal. Lagi dan lagi, ia paling tidak suka jika Oscar menggunakan gelombang kekayaannya hanya untuk menyelesaikan segala hal. "Di sana banyak kenangan indah saya. Dan saya tidak bisa menukarnya dengan yang baru!"
"Oke, oke... Calm down," bujuk Oscar buru-buru, membelai pipi Anisa agar amarah istrinya surut. "Kalau begitu aku izinkan. Tapi... aku yang akan mengantarkan kalian ke sana. Boleh?"
Anisa menghela napas lega, mengangguk pelan. "Boleh, Mas... Boleh."
Namun, sebelum mereka melanjutkan percakapan, sebuah suara lantang bernada sewot berbunyi dari arah pintu kantor yang setengah terbuka.
"Aduh! Anisa, kenapa bangun sih?! Aku belum sempat foto kemesraan kalian tau!"
Azy berdiri di sana, berkacak pinggang dengan wajah kecewa yang dibuat-buat. Wanita itu tampil sangat glamor, seksi, dan dibalut berbagai aksesori mewah yang gemerlap dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Mbak... Kak Azy kapan datangnya?" tanya Anisa gugup, buru-buru berdiri dari pangkuan Oscar sambil membenarkan letak pakaiannya yang agak kusut.
"Oh, ya ampun, Sayangku! Aku ini bukan orang yang suka ingkar janji ya," sahut Azy centil. Ia melangkah masuk dengan gaya berlenggang-lenggok manja bak bintang papan atas Bollywood. "Jadi kalau sudah janjian pagi, ya pagi-pagi aku pasti sudah sampai di sini!"
"Kepagian!" ketus Oscar dingin, menatap tajam wanita itu dengan raut wajah jengkel karena momen mesranya dihancurkan begitu saja.
Azy mendelik, mengibaskan tangannya di udara. "Alah~ Diem deh, Kak Oscar! Jangan ikut campur urusan kita para women!"
Atmosfer ruangan langsung riuh. Dari tatapan mata mereka, jelas sekali Oscar dan Azy adalah tipe saudara ipar yang sangat sulit akur dan selalu punya alasan untuk saling sindir.
"Sudah siap, kan, Sayang? Ayo lekas berangkat!" Azy mengangkat tinggi-tinggi tas bermereknya dengan heboh.
"Tapi Mas Oscar ikut kita, kak" selip Anisa pelan.
Seketika itu juga, wajah Azy berubah pucat pasi. Ia menatap Oscar yang kini menyunggingkan senyum kemenangan yang sangat menyebalkan.
"Cih... nyamuk perusak suasana!" sungut Azy tidak terima. Padahal ia sudah membayangkan hari ini akan menjadi girls' day out yang menyenangkan tanpa ada gangguan pria bertubuh kekar itu.
"Yah... aku ikut dan aku yang mengemudikan mobilnya. Titik!" tegak Oscar penuh penekanan.
"Heuh!" Azy menghembuskan napas kasar, mengibaskan rambut panjangnya yang harum semerbak. "Ya sudah, baiklah! Tapi jangan lama-lama di sini, nanti wanita cantik sepertiku tidak tahan mengisap udara pengap!"
"Istriku masih jauh lebih cantik darimu," balas Oscar santai sambil merangkul Anisa.
"Cih! Gombalan basi!" Azy mendengus pedas lalu berbalik melangkah lebar-lebar keluar ruangan.
make-up tebal dan aroma parfum mahal langsung menguar saat Azy berjalan mendahului mereka di lorong menuju area parkir. Di belakangnya, Oscar dan Anisa berjalan bergandengan tangan dengan mesra.
Melihat pemandangan di depannya dari sudut mata, dada Azy mendadak dihinggapi rasa iri yang membakar. Adiknya bisa begitu dimanjakan dan dimanja oleh suaminya. Puncaknya, saat tiba di samping mobil sedan mewah milik Oscar, pria itu dengan sengaja menahan pintu depan.
"Kamu duduk di belakang sana. Lebih luas, lebih banyak ruang buat bergerak," ujar Oscar santai pada Azy, sembari mendudukkan Anisa di kursi penumpang depan. Sebelum menutup pintu depan, Oscar sempat menjulurkan lidahnya—mengejek Azy secara terang-terangan.
"Ih! Awas ya!" desis Azy murka. Ia membanting pintu belakang mobil dengan kasar hingga menimbulkan suara dentuman keras.
Kini Azy duduk sendirian di bangku belakang, merasa konyol karena terjebak di antara dua orang yang sedang mabuk asmara.
"Sayang... kamu makin hari makin cantik deh~" goda Oscar dari balik kemudi sambil mulai melajukan mobilnya.
"Makasih, Mas..." sahut Anisa malu-malu, menundukkan kepalanya.
Di belakang, urat leher Azy serasa mau putus. Kekesalannya makin memuncak saat Oscar sengaja menggeser kaca spion tengah mobil. Melalui spion itu, mata Oscar menatap Azy, lalu naik-turun memamerkan alis tebalnya seolah mengejek status Azy yang sendirian tanpa didampingi suami.
Napas Azy memburu. Dengan jemari yang gemetar karena emosi, ia merogoh tas mewahnya, menyambar ponsel, dan dengan membabi buta mengetik pesan di WhatsApp kepada suaminya, Hans.
Pesan demi pesan mengalir panjang bagai koran. Sayangnya, di tempat lain, Hans yang berpangkat tinggi sedang memimpin operasi di rumah sakit yang sangat mendesak. Layar ponsel Hans mati total, membuat semua pesan pelampiasan Azy hanya bertanda centang satu.
(Ihhh! Mas Hans baca dong! Aku lagi kesel banget tau!) rengek Azy dalam hatinya, giginya gemertak menahan kemarahan.
"Hei. Dengar ndak?"
Suara berat Oscar memecah lamunan Azy. Azy tersentak, mendongak menatap spion tengah.
"Eh? Iya? Ada apa, Kak Oscar?" sahut Azy mencoba menetralisir nada suaranya, walau matanya melotot tajam.
Laju mobil melambat di perempatan. Tatapan Oscar di kaca spion mendadak berubah sangat serius dan mengintimidasi.
"Kemarin kau pergi kan dengan istriku? Di sana... kalian pergi ke mana saja? Dan apa yang sebenarnya terjadi dengan ponselnya Anisa?"
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...