I AM The Miracle Itself
Di dunia Aethelgard, kekuatan adalah segalanya.
Sihir, iblis, pendekar, dan makhluk yang mampu melampaui hukum alam telah menjadi bagian dari kehidupan. Namun, di tengah dunia yang dipenuhi kekuatan tersebut, lahirlah seseorang yang seharusnya tidak pernah ada.
Ia bukan pahlawan.
Bukan dewa.
Bukan iblis.
Bahkan bukan bagian dari tatanan dunia.
Keberadaannya adalah sebuah anomali—sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum realitas, takdir, maupun batas kekuatan.
Ketika dunia mulai menghadapi kekacauan yang bahkan mengancam fondasi keberadaannya, sebuah pertanyaan perlahan muncul:
Jika segala sesuatu memiliki batas... lalu apa yang terjadi pada sesuatu yang sejak awal tidak memiliki tempat dalam perhitungan?
Dan ketika keajaiban tidak lagi cukup untuk menjelaskan keberadaannya, dunia akan menyadari satu hal—
Dia bukan orang yang memiliki keajaiban.
Dialah keajaiban itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Badai di Balik Tembok Dalam
Kabar tentang runtuhnya Oakhaven dan pembantaian di Hutan Kabut menyebar seperti wabah di jalur-jalur rahasia Kekaisaran. Namun, apa yang terjadi di benteng utama Satuan Pemburu Bayangan di luar perbatasan ibu kota jauh lebih mengerikan daripada sekadar kekalahan militer.
Tiga kristal jiwa yang terhubung langsung dengan tanda kehidupan Vane, Barek, dan Kaelis di dalam Ruang Arwah terbelah dua secara serentak.
Tidak ada retakan perlahan. Tidak ada pendar redup yang menandakan pertarungan panjang. Ketiga kristal kasta Sovereign itu retak dan mati hanya dalam rentang waktu kurang dari satu menit.
Di balik meja batu hitam markas besar militer, Jenderal Kaelen berdiri membisu. Di sampingnya, Master Orren menatap pecahan kristal jiwa itu dengan bibir gemetar.
"Tiga ksatria Sovereign... habis dalam hitungan detik?" suara Master Orren tertahan di tenggorokan, terdengar sumbang. "Tanpa ada ledakan sihir terlarang? Tanpa ada koordinat benturan Qi tingkat tinggi yang tercatat di stasiun pemantau?"
"Bukan habis," sela Kaelen dengan suara dingin yang memendam amarah luar biasa. "Mereka dipreteli."
Kaelen berjalan mendekati peta proyeksi sihir yang memperlihatkan lanskap Aethelgard. Mata merahnya menatap titik Oakhaven yang kini padam, lalu menggeser pandangannya menyusuri Jalur Lembah Kelabu—akses utama menuju wilayah dalam Kekaisaran.
"Dia tidak bertarung seperti monster atau penyihir terlarang," lanjut Kaelen. "Setiap laporan menunjukkan bahwa dia membunuh dengan tingkat efisiensi yang tidak manusiawi. Dia membaca struktur fisik kita, mengeksploitasi jeda aliran Qi, dan menjadikan kekuatan musuhnya sebagai instrumen kematian mereka sendiri."
"Lalu apa perintah Anda, Yang Mulia Jenderal?" tanya perwira pembantu yang berlutut di belakangnya. "Haruskah kita mengerahkan Seluruh Pasukan Kasta Sovereign Garis Depan? Atau memanggil Ksatria kasta Boundless yang sedang bertapa di Menara Tertinggi?"
"Jangan," tegas Kaelen. "Mengerahkan ksatria kasta tinggi yang mengandalkan Qi tebal hanya akan memberinya lebih banyak bahan baku untuk dibantai. Zero-Core ini adalah racun bagi sistem beladiri Kekaisaran."
Kaelen mengepalkan tangannya. "Tutup seluruh akses Jalur Lembah Kelabu. Pasang barikade mekanis tanpa aliran energi. Tempatkan pasukan meriam batu dan jebakan fisik murni di setiap celah tebing. Mulai hari ini, musuh kita bukan lagi pengguna sihir... melainkan hantu yang mengeksploitasi logika tubuh kita sendiri."
Sementara benteng Kekaisaran berubah menjadi siaga satu, di pinggiran Jalur Lembah Kelabu, malam merayap tenang.
Ren Vaelen duduk bersila di balik celah bebatuan tinggi. Di depannya terhampar rampasan dari tiga ksatria Sovereign yang telah tewas: belati Qi Shadow milik Vane, busur Qi Wind milik Kaelis, dan beberapa gulungan peta taktis Kekaisaran.
Ren tidak mengalirkan energi ke dalam senjata-senjata mahal tersebut. Sebagai seorang Zero-Core, senjata berdaya sihir tinggi itu hanyalah potongan logam dan kayu biasa di tangannya. Namun, Ren memperlakukan senjata-senjata itu dengan cara yang berbeda.
Dengan pisau kecil, Ren membongkar engsel busur Kaelis, mengambil tali sutra baja bertekanan tinggi di dalamnya, lalu melilitkannya pada taring babi hutan raksasa rakitannya. Ia memperkuat tumpuan gagang senjata sederhananya menggunakan serat baja dari armor Vane.
Di dalam benaknya, Mata Persepsi Kosmik memproses kalkulasi baru.
【Evolusi Alat: Taring Rakitan Ditingkatkan (Kepadatan Otomatis & Daya Tahan Mekanis)】
【Anomali Terdeteksi: Kekaisaran Mengubah Strategi ke Pertahanan Fisik Murni】
【Progres Status: Level 2 — Hunter (100%)】
【Memproses Akses: Level 3 — Executioner】
Ren menatap tulisan samar yang mengambang di sudut penglihatannya. Wajahnya tetap datar, tanpa sedikit pun riak emosi.
Evolusi kemampuan ini tidak memberinya otot yang lebih besar atau energi ajaib. Yang diberikan oleh Mata Persepsi Kosmik hanyalah perluasan jangkauan analisis—kemampuan untuk membaca titik lelah material, ketegangan molekuler pada struktur bangunan, dan proyeksi gerakan massal dari seluruh pasukan musuh.
Ren berdiri, merapikan jubah perak Zeon yang kini telah disesuaikan agar tidak menghambat pergerakan ketiak dan lututnya.
Ia menatap ke arah celah Lembah Kelabu di depannya. Di sana, dari jarak jauh, Ren sudah bisa melihat bayangan barikade kayu tebal, jebakan batu gantung, dan ratusan prajurit Kekaisaran yang bersiap menunggunya tanpa menggunakan pendar sihir.
Mereka pikir dengan membuang sihir dan mengandalkan jebakan fisik murni, mereka bisa menghentikan sang pemburu.
"Mereka mencoba bertarung di medan yang mereka pikir paling aman," gumam Ren pelan, suaranya hilang disapu angin malam. "Tapi mereka tidak sadar... fisik murni adalah tempat di mana kelemahan mereka paling terlihat telanjang."
Ren melangkah maju, menghilang ke dalam kabut Lembah Kelabu, memulai perjalanannya menembus wilayah dalam Kekaisaran.