Siapa aku, seorang pecundang?
Mengikuti kisah Lyan Clament, seorang penyihir tingkat Saint. Walaupun masih remaja, ia mengejutkan banyak orang dengan kemampuannya. Tapi kekuatan sihir bukanlah penentu utama.
Di dunia ini, Benua Ostland menjadi tempat Kekaisaran melakukan invasi tanpa henti. Tidak ada yang murni baik atau buruk; semua orang memiliki alasan masing-masing untuk bertahan hidup.
Tingkat Saint? Hah...
Gelar itu tidak membuat Lyan spesial di antara puluhan penyihir lainnya. Meski hanya satu dari seratus orang yang bisa menggunakan sihir, untuk apa kemampuan tersebut jika dihadapkan dengan kekuatan Kekaisaran?
Lyan baru saja kehilangan kedua orang tuanya, dan tetap bernapas sampai sekarang adalah sebuah keajaiban. Dendam di dalam hati sempat membutakannya untuk membalas kematian orang tuanya. Namun, semua itu perlahan berubah ketika ia bertemu dengan Steven dan Sandra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lamunan Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3 Kompetisi
"... Lyan!"
"Oy! Aku pengen tidur lebih lama lagi!"
"Tidak ada jalan lain—aku datang!"
Brug...
Menerjangku dari tempat tidur, Sandra tanpa merasa bersalah membangunkanku dengan cara yang menyakitkan.
"Bangunlah!" teriaknya. "Kita harus cepat!"
Tanpa mengganti pakaian lagi karena pakaian inilah yang kugunakan, aku segera menghampiri Steven yang sedang bersandar di samping kuda sambil menungguku.
"Misi apa yang diberikan Mbak Kaslana kali ini?" tanyaku.
"Bukan misi," balas Steven singkat.
"Jadi?"
"Kita akan mengikuti kompetisi tarung tingkat rookie."
"Benar!" sambung Sandra yang baru tiba. Di punggungnya terkait sebuah pedang baru yang berkilau dengan batu zamrud di gagangnya. "Count memberikan surat kebebasan bagi siapa pun yang dapat memenangkan kompetisi tersebut!"
"Tunggu sebentar," potongku. "Kan ini untuk tingkat rookie. Pada tingkat penyihir, ini sama seperti tingkat amateur. Jadi lawanku bakalan lebih mudah, kan?" tanyaku penuh harap.
"Tidak!" jawab Steven. "Kami sudah mendaftarkanmu untuk melawan peserta lain setingkat King/Saint."
"Ayolah! Kalau ada yang lebih mudah, kenapa kalian milih yang susah untukku!"
"Ya, kami sebenarnya sudah minta untuk dipasangkan dengan lawan seumuran denganmu, tapi mereka menolak!" tegas Sandra. "Kalau begitu, ayo cepat! Acara mau dimulai!"
Bergegas, kami menaiki seekor kuda yang sama. Steven mengendalikan kuda itu dengan piawai, sedangkan Sandra yang baru pertama kali menaiki seekor kuda berteriak sepanjang perjalanan. Tiba di tengah Kota Lorenso, semua orang dari tiga permukiman telah menunggu. Para panitia berseragam serba hitam dengan topi lancip segera membawa kami ke balik panggung.
"Kalian lambat sekali!" bentak seorang panitia.
"Salah dia, Pak!" tuding Sandra sambil menunjuk ke arahku.
"Oy!"
"Sudahlah!" potong pria tua berjanggut putih itu dengan kesal sambil memukul meja di depannya. "Kalian berbarislah sekarang! Tapi sebelum itu, siapa di antara kalian yang bernama Lyan?"
Tanpa pikir panjang, aku langsung mengangkat tangan.
"Nah... Kamu ikut aku! Cepat, enggak banyak waktu lagi. Count Maxus bakalan memotong leherku kalau telat." Menarik lenganku, pria tua memperkenalkan diri sebagai Godot. Bersama beberapa panitia lain memisahkanku dari kedua saudara itu.
Sementara itu, Sandra dan Steven ditempatkan di barisan lawan yang rata-rata seusia mereka. Godot kemudian membawaku menyusuri lorong gelap. Saat cahaya lampu minyak mulai terpancar dari ujung ruangan, puluhan peserta yang rata-rata sudah berusia paruh baya tampak sedang menunggu giliran mereka.
Berbeda dengan peserta kelas rookie yang harus berbaris di luar, para peserta tingkat King/Saint dari berbagai kelas—mulai dari Wizard (penyihir), Mage, Priest, Shieldren, Fighter, Assassin, hingga Thief—dikumpulkan dalam sebuah ruangan luas yang dilengkapi kursi dan loker penyimpanan barang.
Begitu Godot meninggalkanku sendirian, salah seorang peserta menghampiriku. Ia menertawakanku lalu mengacungkan pisaunya untuk menakut-nakuti.
"... Kamu masih kecil! Anakku saja di rumah masih main bareng temannya. Hahaha..."
Peserta lain ikut tertawa melihatnya. Namun, seorang pria tiba-tiba mengangkat jubah, menunjukkan bekas sayatan lebar di wajahnya. Ia mencengkeram pergelangan tangan si Thief yang mengacungkan pisau tadi, lalu memelintirnya tanpa ragu.
"Mengancam dan meremehkan peserta lain sebelum kompetisi dimulai? Tindakan pecundang!"
"A... Ampun..."
Seketika, semua tawa di ruangan lenyap. Pria tersebut melepaskan cengkeramannya, membiarkan si Thief mengerang di lantai sambil berteriak minta tolong karena sendinya patah, membuatnya tidak bisa mengikuti kompetisi. Panitia yang melihat keributan langsung datang dan membawanya keluar.
Pria itu kembali mengenakan jubah hijaunya, lalu duduk di sampingku.
"Kenalkan, aku Kyrin Arslan," ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Aku dengan enggan menjabatnya. "Kamu pasti berasal dari Kota Eldros, bukan?" bisiknya pelan.
"Dari ma—"
Ia dengan cepat membungkam mulutku sebelum aku sempat berteriak, lalu menyuruhku untuk tenang. Aku mengangguk, dan ia pun melepaskan tangannya.
"Dari mana kamu tahu?" balasku berbisik.
"Aku bisa mengenali wajah familiarnya dari dirimu."
"Bagaimana kondisi Eldros sekarang?" tanyaku cemas.
"Semuanya sudah tidak bisa diselamatkan..." Kyrin tertunduk, ia mencoba untuk mengungkapkan sesuatu. "Sayangnya ayahmu, Tuan Zendir telah meninggal selama perjalanan—"
"... Jadi dimana kamu menguburnya Tuan?" Tukasku begitu mendengar kematiannya. Aku sempat akan menangis, tapi aku menahannya.
"Tenanglah, Lyan. Nanti kutunjukkan tempatnya. Aku tidak bisa mengatakan sekarang, ada yang menguping!" Kyrin mengisyaratkan agar aku diam. Beberapa orang di sekitar kami tampak mencoba mendengarkan perbincangan kami.
"Dan tentang ibumu—"
"Semuanya!" Suara Godot berderit, membunyikan bel kecil dari sakunya. "Berbaris! Kita mulai upacara penyambutan Duke Welding."
Mendengar nama itu, dahi Kyrin mengerut. Tangannya mengepal begitu erat hingga urat-urat birunya menonjol. Kami terpaksa berpisah karena barisan diatur berdasarkan kelas. Wizard (penyihir) menjadi kelompok paling sedikit, sementara Fighter dan Shieldren mendominasi jumlah peserta.
Panitia menggiring kami keluar. Cahaya matahari langsung menghantam mataku yang terbiasa di ruangan gelap, membuat pandanganku silau sesaat. Begitu sadar, suara riuh ribuan orang langsung menyapa telingaku. Mereka bersorak-sorai sambil mengibarkan bendera kekaisaran—ironis, mengingat mereka adalah bangsa yang tertindas.
Di antara lautan manusia yang berdesakan, dua sosok berdiri mencolok di balkon Colosseum.
Seorang pria tambun bertubuh pendek dengan hidung yang terus berair dan napas memburu, tampak sibuk menyeka ingus menggunakan jubah sutranya yang mahal. Di sebelah kanannya, berdiri seorang pria berwajah karismatik dengan tinggi di atas rata-rata, menggenggam tongkat ungu flamboyan yang memancarkan aura penindasan. Pakaian bangsawan gaya Victoria serta pengawalan ketat membuat kedua sosok kontras itu langsung menarik perhatian siapa saja yang melihat.
"... Semuanya diam!"
Teriakan seorang perwira seketika meredakan keributan dalam waktu kurang dari dua menit. Salah seorang peserta memberitahuku bahwa pria gemuk yang menjijikkan itu adalah Count Maxus, sedangkan pria di sampingnya adalah Duke Welding. Ia juga menambahkan bahwa Duke Welding-lah yang memimpin invasi untuk menaklukkan Istarloth dulu. Pantas aja beberapa peserta menatap sang duke dengan tatapan penuh kebencian.
"... Semuanya berdiri!" Perwira itu bangkit dari duduknya, diikuti oleh seluruh pasukan kekaisaran. Count Maxus dan Duke Welding turut berdiri, disusul oleh para penonton di seluruh tribun. "Menyanyikan lagu 'Bangsaku yang Besar!'."
Musik mulai mengalun. Ketukan gendang yang megah membuka lagu, disusul nyanyian paduan suara...
...Bangsaku yang besar......
...Bangun... Bangun... Bangunlah! ...
...Panji naga besar kita Hancurkanlah musuh kita ...
...Melihat mereka lenyap Menyambut fajar kekuasaan di langit gelap ...
...Langkah ribuan ksatria menggelegar...
...Kibarkan panji, tinggi ke angkasa ...
...Dengar derap langkah kami yang mengerikan Kejayaan abadi dalam satu nama: Kekaisaran agung, selamanya berjaya! ...
...Wahai takhta emas, pimpinlah umat manusia berdosa menuju kemegahan yang sirna...
...Dari ujung hingga barat samudra, Hukum Eris ditegakkan ...
...Kejayaan abadi dalam satu nama Kekaisaran agung, selamanya berjaya!...
...Kibarkan panji, tinggi ke angkasa Dengar derap langkah kami yang mengerikan Kejayaan abadi dalam satu nama Kekaisaran agung, selamanya!...
Begitu bait terakhir selesai, seluruh isi Colosseum mendadak sunyi senyap. Semua orang menundukkan kepala dalam khidmat. Aku sempat mengintip sesaat, namun seorang panitia langsung melirik ke arahku dan mengisyaratkan agar aku kembali menunduk.
"Selesai..." Sang konduktor orkestra menurunkan tongkatnya, mengakhiri momen renungan tersebut.
Duke Welding melangkah ke atas podium, melambaikan tangan ke segala arah. Di sampingnya, Count Maxus menyerahkan sebuah gulungan kertas sebelum mundur dan kembali duduk.
Duke membuka gulungan itu dan mulai membacanya. Tanpa perlu aba-aba, semua orang di Colosseum kembali menahan napas.
"Untuk rakyatku, demi Kaisar Abdius!" Dengan suara lantang, Duke mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Hidup Kemuliaan!"
"Hidup Kemuliaan!"
Teriakan itu... itu adalah teriakan yang sama persis kudengar saat mereka menghancurkan tanah airku dulu. Dan sekarang, aku terjebak dalam situasi di mana aku harus ikut meneriakkannya bersama mereka. Semua peserta di sekitarku, mau tidak mau, turut mengangkat tangan dan mengulang pekikan tersebut.
Duke menurunkan tangannya, membuat seluruh stadion kembali bungkam untuk ketiga kali. Ia melanjutkan isi surat di tangannya.
..."... Kaisar senang melihat rakyatnya bahagia. Abdius sang penakluk melihat bangsa yang majemuk, para pemuja Dewa Astromov yang mahakuasa! Dewa dari segala dewa di atas surga... Unifikasi Ostland hampir sepenuhnya berjalan lancar. Negeri Eldros telah ditundukkan, dan tidak ada yang bisa menghalangi sumpah para pendiri kita untuk menciptakan perdamaian abadi. Tapi… rencana kita belum selesai! Kerajaan Levorian yang keras kepala masih menolak pencerahan dari sang penyelamat! Marilah, rakyatku... Kita tatap dunia seindah surga, kekaisaran menunggu untuk membawa perdamaian!"...
Mengepalkan tangan sekali lagi, Duke berteriak mengakhiri pidatonya.
"Hidup Kemuliaan!"
Dengan berakhirnya pidato tersebut, Godot selaku panitia utama bergegas naik ke atas panggung. Sebuah portal suara magis tercipta begitu ia mulai berbicara—rupanya Godot adalah seorang mage. Aku sempat melihat sekilas saat ia merapalkan mantra.
"Semuanya!" teriak Godot, membuat seluruh pasang mata tertuju ke arah panggung. "Dengan ini, kompetisi resmi dibuka!"
Sorak-sorai kembali bergemuruh dari arah tribun saat para penonton melambaikan tangan, disambut oleh lambaian tangan para peserta.
"Kalian para peserta tingkat King/Saint, bukan?" Seorang prajurit tiba-tiba menghampiri barisan kami dengan napas tersengal-sengal.
"Iya, memangnya ada apa?" balas seorang kakek di sebelahku.
"Jadwal pertandingan kalian diundur."
"Hah?" seru kami serentak.
"Pertunjukan kalian dipersiapkan khusus untuk penyambutan kepulangan Duke Welding," tambahnya. "Dan… ini baru kabar angin, katanya peserta kelas Wizard yang keluar sebagai juara akan langsung direkrut menjadi pengawal pribadi sang Duke."
Tunggu, pengawal? Buat apa surat kebebasan kalau pada akhirnya aku menang dan malah masuk ke kandang macan—keluar kandang singa, masuk kandang harimau!
"Kalian sebenarnya berhak menolak tawaran itu," lanjut si prajurit. "Tapi, siapa juga yang bodoh menolak tawaran emas seperti itu? Kehidupan kalian bakal terjamin sampai tua. Cuma orang bodoh yang menolaknya demi bangsa yang sudah hancur."
Dan akulah orang 'bodoh' yang dimaksud. Aku hanya ingin segera keluar.
Aku jadi penasaran, bagaimana nasib Sandra di luar sana? Kalau Steven, aku cukup yakin dia punya battle IQ yang lumayan tinggi, tidak seperti Sandra yang hanya mengandalkan intuisi tanpa logika.
Bagaimana kalau diam-diam aku menggunakan Resonansian untuk memberi buff pada Sandra?
"Saran dari Pak Godot, kalian lebih baik pulang atau duduk di tribun penonton," ujar prajurit itu sebelum berbalik, seolah bisa membaca isi pikiranku. "Dan ingat, dilarang keras membantu peserta lain dengan cara apa pun. Kalau ketahuan, kalian langsung didiskualifikasi."
Hahaha... Sialan!
Bersambung...