Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Festival Penentuan Dimulai
Lapangan latihan terbesar Kerajaan Chu telah berubah total.
Panggung kayu besar kini berdiri megah di tengah lapangan, dikelilingi tribun-tribun bertingkat yang dipenuhi bangsawan, pejabat istana, perwakilan sekte-sekte kecil dari seluruh Benua Timur, dan penduduk kota yang berdesakan di bagian terluar untuk sekadar menyaksikan momen yang hanya terjadi sekali dalam satu generasi. Bendera-bendera Kerajaan Chu berkibar di sepanjang tembok lapangan, dan udara pagi itu dipenuhi gumaman ribuan orang yang menunggu dengan tegang.
Chu Feng berdiri di antara enam saudaranya di sisi panggung, mengenakan jubah formal berwarna hitam sederhana—jauh berbeda dari jubah-jubah mewah bersulam emas yang dikenakan sebagian besar saudaranya. Ia bisa merasakan tatapan-tatapan penasaran dan mengejek yang diarahkan padanya dari tribun, terutama dari kalangan yang sudah lama menganggapnya sebagai "putra yang tidak berbakat".
Di tribun kehormatan, ia bisa melihat Su Yue duduk di antara perwakilan Klan Su lainnya, matanya mencari-cari sosoknya di antara barisan pangeran sebelum akhirnya menemukannya dan memberikan anggukan kecil yang menenangkan.
Kaisar Chu berdiri di podium tertinggi, mengenakan jubah kebesaran lengkap dengan mahkota yang jarang sekali ia kenakan di luar acara-acara terpenting kerajaan.
"Festival Penentuan tahun ini," suaranya menggema ke seluruh lapangan berkat formasi sihir sederhana yang memperkuat suaranya, "akan berlangsung dalam tiga tahap. Tahap pertama: Ujian Kekuatan Dasar, untuk menilai fondasi kultivasi masing-masing peserta. Tahap kedua: Pertarungan Berpasangan, untuk menilai kemampuan tempur nyata. Dan tahap ketiga: Ujian Kebijaksanaan, untuk menilai kemampuan memimpin dan strategi."
Gumaman antusias bergema dari tribun. Chu Feng memperhatikan reaksi saudara-saudaranya—Chu Heng yang berdiri tegap dengan percaya diri seorang panglima, Chu Ming yang tersenyum tenang seperti biasa, Chu Yan yang menyilangkan tangan dengan sikap sudah pasti menang.
"Peserta pertama untuk Ujian Kekuatan Dasar," lanjut Kaisar Chu, "Putra Pertama, Chu Heng."
Ujian Kekuatan Dasar cukup sederhana dalam konsepnya: setiap peserta akan mengalirkan qi penuh ke sebuah batu ujian raksasa yang ditempatkan di tengah panggung, dan intensitas cahaya yang dihasilkan akan diukur oleh para tetua istana yang bertindak sebagai juri.
Chu Heng melangkah maju dengan percaya diri, menempelkan telapak tangannya ke batu ujian, dan dalam hitungan detik, batu itu menyala terang dengan cahaya keemasan yang kuat, disertai gemuruh sorak-sorai dari tribun.
"Tingkat Kondensasi Qi lapis kelima!" seru salah satu tetua juri, mengumumkan hasilnya.
Satu per satu, saudara-saudaranya maju secara bergiliran, masing-masing menunjukkan hasil yang mengesankan—Chu Ming di tingkat Kondensasi Qi lapis keenam, putra ketiga dan keempat di tingkat serupa, putra kelima sedikit lebih rendah namun tetap solid.
Dan ketika giliran Chu Yan tiba, hasil yang ditunjukkan membuat seluruh tribun terdiam sejenak sebelum meledak dalam sorakan luar biasa.
"Tingkat Lautan Qi lapis kedua!"
Sebuah pencapaian yang jauh melampaui usianya, mengonfirmasi reputasinya sebagai jenius kultivasi generasi ini. Chu Yan tersenyum puas, melirik sekilas ke arah Chu Feng dengan ekspresi yang jelas mengejek.
Kemudian, tibalah giliran terakhir.
"Putra Ketujuh, Chu Feng."
Keheningan yang berbeda menyelimuti tribun kali ini—bukan antisipasi, melainkan rasa ingin tahu yang bercampur ejekan tersembunyi. Beberapa orang di tribun terluar bahkan mulai berbisik-bisik, bertaruh berapa lama waktu yang dibutuhkan sang pangeran termuda untuk mempermalukan dirinya sendiri.
Chu Feng melangkah maju dengan tenang, tidak terpengaruh oleh bisikan-bisikan itu. Ia menempelkan telapak tangannya ke batu ujian, menutup mata sejenak, dan mulai mengalirkan qi-nya—yang meski masih jauh dari level saudara-saudaranya, kini sudah cukup untuk membuka meridian ketiga berkat latihan intensif selama beberapa minggu terakhir.
Batu ujian itu bercahaya.
Tidak seterang Chu Yan, tidak pula sekuat Chu Heng atau Chu Ming. Tapi cahaya itu nyata, stabil, dan yang paling penting—jauh melampaui ekspektasi siapa pun yang sebelumnya menganggapnya "tanpa bakat sama sekali".
"Tingkat... Kondensasi Qi lapis kedua," ucap tetua juri, suaranya sendiri terdengar sedikit tidak percaya.
Keheningan sesaat menyelimuti tribun, sebelum berubah menjadi gumaman ramai yang penuh kebingungan. Bukan pencapaian yang mengesankan dibandingkan saudara-saudaranya yang lain—tapi bagi seseorang yang selama tujuh belas tahun dianggap tidak memiliki bakat kultivasi sama sekali, ini adalah sesuatu yang mustahil.
Chu Feng menurunkan tangannya, kembali ke barisan dengan ekspresi tenang seperti biasa, seolah tidak menyadari kehebohan yang baru saja ia timbulkan.
Di tribun kehormatan, Su Yue tersenyum kecil, tidak terlalu terkejut—firasatnya beberapa hari lalu terbukti benar.
Namun di sisi lain panggung, Chu Yan menyipitkan matanya, senyum mengejeknya perlahan memudar digantikan dengan sesuatu yang lebih waspada.
Dia bukan sekadar berlatih tombak diam-diam. Ada sesuatu yang lain di sini.
Kaisar Chu, yang duduk di podium tertinggi, mengamati putra bungsunya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran keterkejutan, rasa ingin tahu, dan sesuatu yang lebih dalam yang tidak pernah ia tunjukkan secara terbuka kepada siapa pun.
Selama tujuh belas tahun, anak itu tidak menunjukkan tanda-tanda kultivasi sama sekali, pikirnya, mengingat laporan-laporan tetua istana selama bertahun-tahun yang selalu menyebutkan hal yang sama. Apa yang berubah?
Ia melirik sekilas ke arah kotak kayu kecil yang tersimpan di balik jubahnya—satu-satunya barang peninggalan mendiang selir kesayangannya yang selalu ia bawa, meski jarang sekali ia buka. Sebuah firasat samar mulai muncul di benaknya, firasat yang sudah lama tidak ia rasakan sejak kematian wanita itu bertahun-tahun lalu.
Mungkinkah...
Ia menggelengkan kepala pelan, menepis pikiran itu untuk sementara. Ada festival yang harus dilanjutkan, dan spekulasi semacam itu bisa menunggu hingga waktu yang lebih tepat.
"Tahap pertama telah selesai," umumnya, suaranya kembali tegas seperti biasa. "Tahap kedua, Pertarungan Berpasangan, akan dimulai besok pagi. Pasangan pertarungan akan diundi malam ini."
Sorak-sorai kembali membahana dari tribun, sementara tujuh pangeran kembali ke paviliun masing-masing—masing-masing dengan pikiran yang berbeda-beda tentang apa yang baru saja terjadi, dan apa yang akan datang keesokan harinya.
Chu Feng berjalan kembali ke paviliunnya dengan langkah tenang, namun di dalam dirinya, jantungnya masih berdegup kencang—bukan karena takut, melainkan karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia baru saja menunjukkan sedikit dari kemampuan sejatinya di depan seluruh kerajaan.
"Kau melakukannya dengan baik," suara di dalam dirinya berkata, nada puas terdengar jelas. "Meski masih ada risiko yang harus kau perhitungkan sekarang."
Risiko seperti apa? tanya Chu Feng dalam hati.
"Kau baru saja mematahkan topeng yang sudah kau pelihara selama bertahun-tahun, Pangeran Ketujuh. Mulai sekarang, semua mata akan mengawasimu—termasuk mata-mata yang jauh lebih berbahaya dari sekadar mata-mata Chu Yan."
Chu Feng menatap ke arah langit sore yang mulai menggelap, menyadari kebenaran dalam kata-kata itu. Tahap pertama festival baru saja usai, namun ia tahu bahwa ini hanyalah permulaan dari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar perebutan takhta kerajaan kecil.