Menjalani kehidupan yang cukup sulit akibat terlilit hutang-hutang ayahnya membuat Diva terkadang ingin merasakan bagaimana enaknya menjadi orang kaya. Namun siapa sangka, suatu kejadian yang menimpanya membuat jiwa Diva terjebak dalam raga orang lain, sehingga gadis itu menyadari bahwa tidak semua orang yang terlahir kaya bisa menikmati hidupnya. Semua manusia pasti tercipta dengan sifat dan ujian yang berbeda-beda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4.
"Kalau tidak ada kepentingan lain, kembalilah ke meja kerjamu!." Titah Elio pada Erin.
"Baik, tuan."
Dihadapan Elio sikap Erin sangat jauh berbeda dan Diva memperhatikan itu. Diva mulai berpikir dan mencerna situasi yang selama ini dihadapi oleh Calista sehingga bersikap over posesif pada suaminya.
"Pandai sekali wanita itu memanipulasi keadaan didepan tuan Elio. Tidak menutup kemungkinan hal serupa kerap kali dilakukannya, sengaja memancing sikap Calista agar terlihat selalu salah di mata suaminya sendiri." Batin Diva. Di kehidupannya yang sesungguhnya, Diva sudah terbiasa dengan orang-orang seperti Erin, wanita munafik.
"Are you okay?."
"Hem."
Elio mengerutkan dahi. Biasanya Calista akan mengadu macam-macam tentang Erin, namun kali ini istrinya tidak mengadukan apapun, hanya mengangguk singkat.
"Aku akan kembali ke ruang meeting." Pamit Elio.
"Silahkan!."
"Sepertinya aku harus berhati-hati pada sekretaris tuan Elio! Dari sikapnya, sepertinya wanita itu menyukai tuan Elio." Gumam Diva setelah kepergian Elio.
Diva kembali mendudukkan tubuhnya di sofa, menemani Elhan yang masih lelap dalam tidurnya.
"Mari meladeni permainan wanita itu, Diva!." Diva bergumam pada diri sendiri. Mungkin dulu wanita ular bernama Erin itu bisa memerankan perannya sebagai malaikat dan menjadikan Calista sebagai iblisnya untuk memuluskan jalannya mendekati Daddy-nya Elhan, tapi untuk selanjutnya, Diva tidak akan membiarkan wanita itu menindas Calista lagi. Dan untuk Elio sendiri, terserah pria itu mau melakukan apapun yang dianggapnya benar, menyalahkan istrinya sekalipun tak masalah bagi Diva. Tetapi, untuk kembali bersikap posesif ataupun mengemis cinta dari pria itu, tidak akan pernah dilakukan oleh Diva selama jiwanya masih terperangkap di raga Calista. Diva memang tidak sepenuhnya menyalahkan Elio atas sikap pria itu terhadap istrinya, namun menurut Diva semestinya Elio mencari tahu penyebab istrinya sampai bersikap posesif terhadapnya selama ini, bukannya malah jengah dengan sikap istrinya tersebut.
Terlalu sibuk dengan pemikirannya sendiri tanpa sadar Diva tertidur dengan posisi duduk bersandar di sofa. Tampak keringat bercucuran di dahi Diva, padahal alat pendingin di ruangan Elio bekerja dengan sempurna dan suhu pun terbilang sangat sejuk dan nyaman. Rupanya Diva sedang bermimpi. Dalam mimpinya, wanita itu melihat seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengannya. Wanita itu nampak menangis sesenggukan, ketika Diva hendak mendekat tiba-tiba sosok wanita yang mirip dengannya tersebut langsung menghilang.
"Tunggu....!."
Baru saja kembali ke ruangannya, tiba-tiba Elio mendapati istrinya meracau dalam tidurnya.
"Calista...." Elio mengguncang pelan bahu istrinya agar terbangun. Diva sontak membuka mata. Wanita itu sampai membulatkan mata dengan sempurna ketika menyadari keberadaan Elio membungkuk di depan wajahnya.
"Kamu bermimpi?." Tebak Elio.
Diva mengangguk.
"Memangnya tadi kamu mimpi apa?." Lagi, tanya Elio. Mungkinkah istrinya tadi mengalami mimpi buruk, mengingat saat ini dahinya nampak di penuhi keringat.
"Bukan apa-apa kok, mas." Mungkin karena nyawanya belum terkumpul dengan sempurna sehingga tanpa sadar Diva kembali memanggil Elio dengan sebutan 'mas'. Akan tetapi, kini Elio tak lagi mempermasalahkannya karena sebelum ia menikahi Calista, seperti itulah panggilan akrab wanita itu terhadapnya dulu. Elio dan Calista merupakan teman seangkatan saat SMA dan setelah lulus mereka pun melanjutkan kuliah di fakultas yang sama. Bukan secara kebetulan tapi Calista memang sengaja mengambil jurusan yang sama dengan Elio, walaupun kenyataannya wanita itu tidak suka dengan ilmu bisnis. Semuanya dilakukan Calista demi bisa terus dekat dengan pria pujaan hatinya tersebut. Hingga pada suatu malam, terjadilah sesuatu yang menyebabkan Elio harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan menikahi Calista. Calista adalah gadis yang cantik, dan gadis itu juga berasal dari keluarga terpandang, sehingga tak sulit bagi Elio untuk jatuh hati pada wanita itu setelah mereka resmi menjadi pasangan suami-istri. Ya, Elio dan Calista menikah pada saat mereka masih berstatus sebagai mahasiswa. Namun seiring berjalannya waktu, Elio mulai jengah dengan sikap Calista yang menurutnya over posesif dan dianggap telah merenggut kebebasannya dalam bersosialisasi dengan orang-orang disekitarnya.
Diva diam melamun.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku setelah kecelakaan itu? Mengapa aku bermimpi bertemu dengan wanita yang wajahnya sangat mirip denganku? Dan mengapa pula wanita itu kelihatannya sedih sekali?." Batin Diva. Seolah dapat merasakan kesedihan yang dirasakan oleh sosok wanita yang ada di mimpinya tadi, kini kedua bola mata Diva berubah berkaca-kaca.
"Aku harus segera kembali ke kota asalku! Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ragaku!."
"Calista...."
Saking fokusnya pada lamunannya, Diva sampai tidak mengindahkan seruan Elio. Setelah Elio kembali menyerukan nama Calista, barulah Diva tersadar dari lamunannya.
"Calista..."
"Iy_iya mas." Diva sedikit terbata.
"Kenapa kamu melamun?."
"Bukan apa-apa kok, mas. Aku hanya sedang memikirkan menu buat makan malam nanti." Elak Diva seraya mengulas senyum senatural mungkin agar Elio percaya.
"Sejak kapan kamu memikirkan tentang menu makan malam?." Sejak menikah, ini kali pertama Elio mendengar istrinya memikirkan tentang menu makan malam, karena Calista yang dikenalnya merupakan wanita sosialita yang paling tidak suka dengan apapun yang berhubungan dengan dapur, termasuk memikirkan menu masakan sekalipun.
"Sejak hari ini." Daripada pusing-pusing memikirkan alasan yang membuat otaknya harus kembali berpikir keras, Diva memilih menjawab dengan kalimat yang terlintas begitu saja di benaknya. Masa bodoh, Elio mau percaya atau tidak, Diva tak mau terlalu ambil pusing.
"Mommy...." Elhan terbangun sehingga otomatis seruan bocah itu menyudahi obrolan diantara kedua orang tuanya.
"Kamu sudah bangun, nak..."Diva mengelus lembut puncak kepala bocah itu.
Melihat sikap serta perlakuan lembut Diva pada Elhan, Elio sontak mendekat dan sedikit merunduk lalu berbisik tepat disamping telinga Diva. "Aku harap kamu benar-benar tulus menyayangi Elhan, bukan hanya karena ingin menarik perhatianku saja, Calista."
Diva sontak saja menolehkan pandangan pada pria itu. Jujur, ada perasaan kesal dihati Diva atas sikap Elio. Bagaimana mungkin Elio berpikiran seperti itu terhadap istrinya sendiri.
"Rasanya aku tidak perlu menarik perhatian siapapun, termasuk mas."
Deg.
Elio sontak menautkan kedua alis tebalnya.
"Hari sudah hampir sore, sebaiknya mas mengantarkan aku dan Elhan pulang sekarang! Kalau memang mas masih punya banyak kesibukan, kami akan naik taksi saja." Sepersekian detik kemudian, barulah Diva menyadari ucapannya. Bagaimana ia bisa menawarkan diri untuk pulang naik taksi bila kenyataannya alamat kediaman Dirgantara saja ia tak tahu. Untungnya, Elio tidak mengizinkannya pulang naik taksi. Kalau tidak, Diva bisa pusing sendiri jadinya.
Setelah mengantarkan istri dan putranya kembali ke rumah, Elio lantas balik lagi ke kantor.
*
Di ruang Pimpinan.
Erin kembali mengingatkan Elio tentang perayaan ulang tahun salah seorang rekan bisnis Dirgantara Group yang akan diadakan malam nanti.
"Kebetulan sekali saya sedang tidak sibuk, saya bisa menemani anda menghadiri acara perayaan ulang tahun tuan Tama nanti malam, tuan." Dengan penuh percaya diri, Erin menawarkan diri untuk mendampingi Elio menghadiri acara nanti malam, menggantikan Calista.
"Jaga batasanmu, Erin!."
Real ya pelakor banyak gak sadar diri dan gak tau posisi...🤣🤣🤣🤣