Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembantaian di Lautan Emas
Sisa-sisa tirai magis yang mengelilingi tenda raksasa itu hancur berkeping-keping layaknya kaca tipis yang dilempar batu. Ribuan prajurit Garda Matahari berseragam emas dan putih merangsek masuk, senjata mereka ditarik penuh, siap membakar apa pun yang ada di dalam.
Namun, langkah mereka terhenti serentak.
Pemandangan di depan mereka membekukan aliran darah setiap ksatria elit tersebut. Inkuisitor Agung Valerius, salah satu entitas paling ditakuti di Kekaisaran Pusat, tergeletak tak bernyawa dengan dada berlubang. Darah keemasannya menggenangi lantai pualam. Dan berdiri di atas mayatnya, adalah seorang pemuda berjubah kulit compang-camping, menggendong seorang gadis tak sadarkan diri di bahu kirinya. Lengan kanan pemuda itu kini terbungkus sarung tangan obsidian raksasa yang memancarkan pendar ungu mematikan.
"I-Inkuisitor Agung..." salah satu komandan garda tergagap, wajahnya pucat pasi di balik helmnya. Matanya beralih menatap Kaelen. "Bunuh dia! Cincang tubuhnya sampai habis! Jangan biarkan monster itu hidup!"
Raungan perang meledak. Ribuan prajurit elit menerjang maju secara bersamaan. Tombak-tombak cahaya dilontarkan, membentuk hujan sinar mematikan yang siap mengubah Kaelen menjadi debu.
Kaelen tidak bergeser dari posisinya. Ia menatap lautan emas yang menimpanya dengan kekosongan absolut. Di dalam dadanya, Inti Leviathan tidak lagi bergetar panik. Dengan terhubungnya bagian kedua, kapasitas mesin purba itu melonjak hingga taraf yang tidak bisa dipahami oleh logika manusia.
Kaelen mengangkat lengan kanannya yang berlapis baja obsidian. Rune biru di gauntlet itu menyala terang, merespons perintah diam dari otak Kaelen.
Ia tidak membuka pusaran untuk menyerap. Ia tidak membuang waktu.
Kaelen mengepalkan gauntlet raksasa itu dan meninjunya langsung ke arah ruang kosong di depannya.
Udara di dalam kawah itu seolah menjerit. Tinju mekanis Kaelen menghantam realitas itu sendiri, menciptakan sebuah Gelombang Ketiadaan (Null-Wave)—ledakan kinetik raksasa yang bercampur dengan penghapus sihir absolut.
Saat gelombang tak kasat mata itu menyapu barisan depan, hujan tombak cahaya yang mengarah padanya padam seketika di udara, berubah menjadi butiran debu tak berbahaya. Namun gelombang itu tidak berhenti. Hantaman itu terus melesat, menabrak ratusan prajurit Garda Matahari di garis depan.
Suara derak logam dan tulang patah yang mengerikan bergema serentak. Ratusan ksatria elit Kekaisaran Pusat itu terlempar ke udara bagai dedaunan kering yang disapu badai topan. Zirah emas mereka remuk, tubuh mereka hancur sebelum sempat menyentuh tanah. Sebuah kawah sekunder selebar lapangan sepak bola langsung tercipta di atas dasar Kawah Hitam, menyisakan darah, debu, dan keheningan di jalurnya.
Barisan prajurit di belakang yang selamat dari gelombang pertama berhenti melangkah. Teriakan perang mereka tertelan oleh teror murni. Satu pukulan. Tanpa mantra, tanpa rapalan panjang, Kaelen baru saja menghapus satu batalion elit dari muka bumi.
"Kalian menghalangi jalanku," suara Kaelen menggema, dingin, mekanis, dan memancarkan dominasi yang membuat lutut para ksatria suci itu gemetar.
Ia mulai melangkah maju. Lyra masih bertumpu aman di bahu kirinya. Setiap langkah sepatu bot Kaelen menggetarkan batu di bawahnya.
Beberapa komandan yang fanatik mencoba memanggil sihir mereka kembali, menembakkan meriam cahaya dari jarak jauh. Namun, sebelum tembakan itu sempat mengenai sasaran, Kaelen hanya menjentikkan jari gauntletnya. Pusaran hampa udara terbentuk secara instan di depan moncong meriam musuh, membuat senjata magis mereka meledak dari dalam, membunuh kru penembaknya sendiri.
Kaelen berjalan menembus lautan pasukan Kekaisaran layaknya malaikat maut yang sedang menelusuri taman bunga yang layu. Siapa pun yang berani mendekat dalam radius sepuluh meter, seketika kehilangan sihirnya, lumpuh oleh tekanan Domain Null, lalu diakhiri dengan sabetan cakar baja Kaelen atau hantaman fisik yang meremukkan tulang.
Pertumpahan darah itu terlalu sepihak. Puluhan ribu pasukan elit itu kini tidak lebih dari sekawanan semut yang mencoba menghentikan roda baja raksasa.
Namun, bagian rasional Kaelen yang tersisa mengkalkulasi waktu. Membunuh lima puluh ribu prajurit satu per satu akan memakan waktu berjam-jam, dan Lyra membutuhkan pertolongan medis sebelum denyut nadinya semakin melemah akibat paparan Aura Suci tadi.
Kaelen berhenti di tengah-tengah lautan mayat berbaju emas. Ia mendongak, menatap dinding tebing Kawah Hitam yang menjulang ribuan meter ke atas, menuju tempat Silas menunggunya.
Kaelen menekuk lututnya, menyalurkan seluruh energi mekanis dari gauntletnya ke kaki kanannya.
"Selamat tinggal," bisik Kaelen pada sisa-sisa prajurit yang masih membeku ketakutan.
Kaelen melompat.
Bukan sekadar lompatan manusia, melainkan ledakan pendorong roket. Tanah pijakannya hancur membentuk kawah baru sedalam tiga meter akibat tolakan tenaga tersebut. Kaelen melesat ke udara layaknya peluru meriam hitam, meluncur vertikal menyusuri dinding tebing kawah dengan kecepatan mengerikan.
Beberapa kapal udara Dreadnought milik Kekaisaran mencoba menembaknya dari udara, namun Kaelen menggunakan cakar gauntletnya untuk menancap di dinding tebing, memutar tubuhnya di udara, dan melompat dari satu serpihan batu ke serpihan lain. Saat sebuah kapal udara menghalanginya, Kaelen menembusnya. Ia menabrakkan dirinya langsung ke lambung baja tebal kapal raksasa itu. Gauntlet obsidiannya mengoyak baja dan reaktor sihir kapal dalam satu sapuan, membelah Dreadnought itu menjadi dua bagian yang terbakar jatuh ke dasar kawah.
Jauh di atas tepi kawah, Dokter Silas menahan napasnya. Pria tua itu mencengkeram kemudi kendaraan lapis baja mereka dengan tangan basah oleh keringat dingin. Dari bawah sana, terdengar suara ledakan beruntun, kilatan cahaya emas, dan getaran gempa yang mengancam meruntuhkan tebing tempatnya parkir.
"Demi dewa-dewa kuno, apa yang dia lakukan di bawah sana..." Silas bergumam panik, matanya tak lepas dari kaca spion.
Tiba-tiba, sebuah tangan logam obsidian raksasa mencengkeram tepi tebing batu tepat di depan kendaraan.
Batu keras itu remuk di bawah cengkeraman cakar baja. Sosok Kaelen menarik dirinya naik dan mendarat dengan dentuman keras di atas pasir gurun. Jubahnya hancur, tubuhnya dilumuri oleh darah emas para prajurit suci, dan di bahu kirinya, Lyra masih tergeletak pingsan.
Silas membeku. Ia menatap gauntlet mekanis raksasa yang kini menyatu dengan lengan kanan pemuda itu. Pendar ungu menyala dari sela-sela logam purba tersebut, menghubungkan garis cahaya lurus hingga ke dada Kaelen.
Namun yang membuat Silas benar-benar ketakutan bukanlah senjata itu. Melainkan mata Kaelen.
Mata itu memandang Silas tanpa setitik pun kehangatan manusia. Ia terlihat seperti mesin pemotong daging yang sedang mengevaluasi apakah pria tua di depannya adalah sekutu atau rintangan.
"Buka pintunya," suara Kaelen berat, terdengar beresonansi dengan logam di tubuhnya.
Silas buru-buru menekan tuas pembuka hidrolik. Kaelen melangkah masuk, meletakkan Lyra dengan hati-hati di kursi belakang. Ia mengabaikan noda darah emas yang mengotori jok kulit kendaraan.
"K-kau... kau menemukannya," Silas menelan ludah, tidak berani menatap lengan Kaelen terlalu lama. "Inkuisitor Agung... pasukannya..."
"Mati," jawab Kaelen singkat. Ia duduk di kursi depan, gauntlet raksasanya berdengung pelan, menyesuaikan diri dengan suhu kabin. "Dan mereka yang tersisa di bawah sana akan segera mengirim pesan ke Ibukota. Kaisar sekarang tahu persis siapa aku dan di mana aku."
Kaelen memalingkan wajahnya menatap gurun abu di depan mereka. Pendar ungu di matanya tidak juga meredup. Emosinya telah ditekan sedemikian rupa hingga Kaelen merasa damai dalam kekosongan absolut ini. Ia tidak takut pada kaisar. Ia tidak takut pada kematian.
"Jalankan mesinnya, Dokter," perintah Kaelen, nada suaranya memotong kebimbangan Silas. "Kita kembali ke Kastil Adiwangsa. Beri tahu Jenderal Kael dan Rexor untuk mempercepat produksi senjata api dua kali lipat. Faksi Ketiadaan tidak akan bersembunyi. Jika Kekaisaran Pusat menginginkan perang untuk memperebutkan dewa mereka, kita akan memberikan mereka kiamat."
Silas mengangguk dengan tangan gemetar. Ia menginjak pedal gas, memutar kendaraan berat itu, dan membelah lautan pasir kelabu kembali ke arah timur. Di kursi belakang, Lyra mulai mengerang pelan, selamat dari maut. Dan di sampingnya, Silas menyadari bahwa pemuda buangan yang ia tolong di klinik kumuh tempo hari telah sepenuhnya mati, digantikan oleh entitas penghancur yang akan merobek seluruh tatanan dunia.
Musim invasi baru saja akan dimulai.