Livy adalah definisi nyata dari "cegil". Selama dua tahun di SMA Wijaya, dia melakukan segala cara ekstrem untuk memenangkan hati Galang, kapten tim basket yang sedingin es. Livy menempel padanya bak perangko, membuatkan bekal setiap hari, hingga melabrak siapa saja yang mendekati Galang. Namun, Galang selalu merespons dengan tatapan sinis serta perkataan yang menyakitkan.
Puncaknya terjadi di hari ulang tahun Galang yang ke-17. Hadiah rajutan tangan Livy dibuang ke tempat sampah di depan umum. Malam itu, Livy sadar dia telah kehilangan harga dirinya. Dia memutuskan untuk berhenti mengejar Galang secara total.
Galang menyadari dia merindukan kehadiran Livy, semuanya sudah terlambat ketika teman masa kecilnya Livy datang ke sekolah sebagai murid pindahan. Livy sudah menutup hati pada Galang, dari situ giliran Galang yang harus menurunkan harga dirinya, mengejar Livy yang telanjur menjauh.
Sebuah pertanyaan, apakah Galang mampu merebut hati Livy?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Livy 10.
Tawa riuh itu seperti enggan beranjak dari kepala Livy. Sepanjang perjalanan pulang di atas motor ojek daring, telinganya terus berdenging oleh suara bisikan, cemoohan, dan pandangan merendahkan dari ratusan murid angkatan kelas tiga SMA Wijaya yang memadati Grand Ballroom Hotel Lumina.
Galang tidak hanya menolaknya. Cowok itu menghancurkannya. Di depan semua orang, Galang membuang kotak hadiah berisi syal rajut yang cantik buatan Livy sampai jari tangan nya terluka, membiarkannya dibuang. Kata-kata Galang malam tadi masih terukir jelas di benak Livy: "Setiap detik kamu ada di sekitar saya, saya merasa muak. Kehadiran kamu itu sampah di hidup saya. Kamu pikir kamu berharga? Enggak, Liv. Kamu itu cuma penggangu, parasit yang numpang tenar lewat nama saya di sekolah. Jangankan buat cinta, buat kasihan aja, kamu gak layak."
Livy melangkah masuk ke dalam rumahnya yang sepi dengan tatapan kosong. Kedua orang tua masih berada di luar negeri, memberikan kebebasan bagi Livy yang 'hampa' untuk runtuh tanpa perlu berpura-pura kuat. Ia berjalan gontai menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Begitu pintu tertutup dan terkunci dari dalam, tangisan sesegukan yang meluap dari hotel kini semakin meluap dan dramatis.
Livy merosot di balik pintu, mendekap lututnya, dan menangis sejadi-jadinya sampai dadanya terasa sesak.
Selama dua tahun ini, Livy mengira label 'cegil' atau cewek gila yang disematkan teman-temannya adalah sebuah bentuk perjuangan cinta. Ia bangga menjadi satu-satunya cewek yang paling gigih mengejar Galang, tidak peduli seberapa sering cowok itu mengabaikannya, membentaknya, atau mengusirnya.
Livy selalu berpikir bahwa batu yang keras pun akan terkikis oleh tetesan air. Namun, ia lupa bahwa Galang bukanlah batu, melainkan tembok baja yang sengaja dibangun untuk menolaknya.
Setelah tangisnya mereda menjadi isakan kecil, Livy bangkit berdiri. Ia melangkah menuju meja riasnya. Di depan cermin besar berbingkai putih itu, ia menatap bayangannya sendiri.
Livy tertegun. Sosok di dalam cermin itu tampak begitu asing. Matanya sembap dan merah, maskaranya luntur membentuk garis-garis hitam di pipi, dan rambutnya yang biasa tertata rapi kini kusut berantakan. Gaun satin merah mudanya tampak kotor di bagian lengan karena sempat terjatuh saat kabur sejauh mungkin dari hotel itu.
Ia menyentuh permukaan kaca cermin dengan ujung jarinya yang gemetar.
"Ini kamu, Liv?" bisiknya pada keheningan kamar. "Segitu rendahnya kamu di mata dia?"
Untuk pertama kalinya, Livy melihat dirinya dari sudut pandang orang lain. Selama ini ia buta oleh obsesi yang ia sebut cinta. Ia rela mengemis perhatian, rela menjadi bahan tertawaan satu sekolah, dan rela membuang semua gengsinya demi seorang cowok yang bahkan tidak pernah sudi menatap matanya dengan ramah.
Harga dirinya sudah bukan lagi nol, melainkan sudah minus, diinjak-injak sampai menjadi debu di bawah pesta ulang tahun Galang yang ke tujuh belas.
Rasa hangat menjalar di dadanya, bukan lagi rasa sedih, melainkan rasa sesak akibat kemarahan yang luar biasa pada dirinya sendiri. Mengapa ia membiarkan dirinya dihina sedalam ini? Mengapa ia mengizinkan Galang memperlakukannya seperti sampah?
Livy menghapus air mata di pipinya secara kasar dengan punggung tangan. Ia menarik napas dalam-dalam, mengisi dadanya yang sempat terasa kosong dengan sisa keberanian yang ia miliki.
"Cukup," ucapnya tegas, menatap tajam manik mata bayangannya di cermin. "Cukup sampai hari ini."
Livy mengambil ponselnya dari dalam saku rok. Dengan tangan yang tidak lagi gemetar, ia membuka aplikasi obrolan. Ia membuka profil Galang. Tanpa ragu sedikit pun, Livy menekan tombol blokir pada nomor cowok itu, lalu menghapus seluruh riwayat pesan mereka yang berisi ratusan pesan searah darinya yang hanya dibaca atau bahkan diabaikan oleh Galang.
Tidak berhenti di situ, Livy beralih ke media sosialnya. Ia menghapus semua foto diam-diam Galang yang pernah ia unggah, membersihkan seluruh jejak digital yang menandakan bahwa ia pernah tergila-gila pada kapten tim basket SMA Wijaya tersebut.
Livy kemudian berjalan menuju sudut kamar, mengambil sebuah kotak kardus besar dari bawah tempat tidur. Kotak itu berisi segala hal tentang Galang: botol minum bekas yang tertinggal di lapangan, gantungan kunci yang sama dengan milik Galang, hingga coretan-coretan nama cowok itu di buku hariannya. Livy menutup kardus itu rapat-rapat, lalu menyeretnya keluar kamar dan membuangnya ke tempat sampah di depan rumah tanpa menoleh lagi.
Saat kembali ke kamarnya, Livy kembali berdiri di depan cermin. Kali ini, tatapannya jauh lebih hidup dan tajam. Air matanya telah mengering.
"Kamu mau saya pergi, Galang? Oke," gumam Livy dengan senyum getir yang perlahan berubah menjadi seringai dingin. "Mulai besok, kamu nggak akan pernah lihat saya lagi. Jangankan ngejar kamu, ngelirik kamu pun saya nggak sudi. Anggap Livy si cegil udah mati malam ini di pesta ulang tahun mewahmu."
Livy berjanji pada dirinya sendiri. Mulai detik ini, ia akan mengambil kembali seluruh harga dirinya yang telah hilang.
Ia akan memberikan Galang apa yang sangat diinginkan cowok itu selama ini: hilangnya Livy secara total dari hidupnya.
......................
...****************...
To be continue,