NovelToon NovelToon
GALAREA

GALAREA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Melasepti__

Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kasih Sayang

Setelah cukup lama Rea membujuk Gala untuk masuk, akhirnya Gala pasrah dan menuruti bujukan gadis itu.

Dengan langkah pelan dituntun oleh Rea, Gala membuka pintu ruang UGD.

Langkah Gala sempat terhenti saat melihat Revin terbaring lemah di atas brankar dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya, lalu Saka yang duduk di kursi sambil menggenggam tangan wanita itu dan mengusap kepala istrinya.

Gala menoleh ke arah Rea seraya menggelengkan kepala, tanda jika ia tidak ingin mendekat.

Rea tersenyum tipis dan mengusap lengan Gala lembut, sebelum menuntunnya kembali untuk mendekat pada Saka dan Revin.

Revin yang menyadari kehadiran mereka, pun tersenyum sayu. Ia masih sedikit lemah pasca pendarahan, tetapi perutnya sudah tidak sesakit tadi.

Rea membalas senyum Revin, tidak dengan Gala yang justru menunduk dan berusaha untuk tidak melihat ke arah kedua orang tuanya.

Rea menepuk lengan Gala, membuat cowok itu menoleh ke arahnya dengan memelas.

Rea mengedipkan matanya, memberi kode pada cowok itu agar segera berbicara. Namun, Gala menggelengkan kepalanya pelan, tanda jika ia tidak mau.

Rea menghela nafas, lalu melepas pegangannya di tangan Gala, untuk menghampiri Revin.

"Ibu, baik?"

Revin mengangguk pelan. "Gala sudah diobatin?" tanya Revin pada Rea, dengan tatapan mengarah pada putranya yang setia menunduk.

Rea mengangguk. "Sudah, tadi sama Dokter."

"Abang?" panggil Revin dengan suara pelan, yang justru membuat air mata Gala menggenang.

Jika Gala mengedipkan matanya sekali saja, sudah dapat dipastikan jika air itu akan mengalir di pipinya.

"Abang gak mau peluk Ibu?" tanya Revin dengan senyum sendu.

Gala masih diam, bahkan ia membiarkan air matanya menetes ke lantai, karena kepalanya masih menunduk.

"Galaska?"

Gala mendongak saat namanya disebut oleh Saka. Jelas sekali matanya yang memerah dan basah, bahkan ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakan.

"Gala minta maaf," katanya dengan lirih, dibalas senyum sayu oleh Revin.

Wanita itu melambaikan tangan, meminta Gala untuk mendekat.

Dengan langkah ragu, Gala mendekati Revin dari sisi Rea, berseberangan dengan Saka yang terus menatapnya lekat.

Revin membuang nafas pelan, sebelum menarik tangan Gala dan memeluk kepala anak itu, hingga dapat ia dengan isak tangisnya yang lepas.

"Gala minta maaf, Bu. Maafin Gala," ucap Gala di tengah isakannya.

Revin memejamkan matanya, jujur ia juga sangat takut tadi. Tapi, ia bersyukur calon anak keduanya masih bisa bertahan.

"Gala gak salah, ini musibah, sayang."

Gala menangis di pelukan Ibunya. "Tapi kalau Gala hati-hati, pasti gak kayak gini."

Revin menggeleng, lalu melepas pelukannya. Ia menangkup wajah Gala, dan mengusap air mata laki-laki itu. "Gak boleh berandai-andai, semua yang terjadi itu atas kehendak Allah. Mau kita hati-hati atau enggak, pun kalau sudah seharusnya dapat musibah ya pasti tetap terjadi, Nak."

Gala kembali menunduk dan menyandarkan kepalanya di pundak sang Ibu. "Maafin Gala, Bu."

"Ini bukan salah Gala. Tadi Gala sudah hati-hati, kok. Memang sudah seharusnya kayak gini, sayang. Adiknya juga baik-baik aja."

Gala mengangkat kepalanya saat merasakan usapan lembut di rambutnya. Ia menoleh dan menatap Saka yang kini tersenyum tipis seraya melebarkan kedua tangannya.

Gala terdiam sejenak, sebelum berlari memutari brankar untuk memeluk Papanya.

"Maafin Gala, Pa."

"Enggak apa-apa, Papa gak marah, ini bukan salah kamu." Saka menepuk punggung Gala dan mengusapnya lembut.

Gala itu galak seperti dirinya, tetapi memiliki sisi lemah jika ada masalah yang berhubungan dengan kedua orang tuanya, terutama sang Ibu.

Gala bahkan tidak pernah merasa sungkan atau gengsi untuk menangis, jika yang menjadi sumber kelemahannya adalah Ibu. Tak peduli ia berada di tempat umum, jika itu tentang Ibu, Gala tidak pernah segan untuk menangis tersedu-sedu.

Saka menangkup wajah Gala, mengusap air matanya dan mengecup kelopak mata itu.

Sebesar apapun Gala, di mata Saka dan Revin dia tetaplah anak kecil. Putra kecil mereka yang tak pernah rela jika kasih sayang orang tuanya akan terbagi.

Rea yang melihat hal tersebut, pun tersenyum sendu. Tak pernah ia merasakan ini sejak kehadiran Bella. Kakak angkatnya yang merupakan putri dari saudara sepupu sang Ayah.

Tak pernah ia dapati dekapan hangat, kecupan lembut, usapan kasih sayang. Sungguh, Rea merindukan itu dari sosok Ayahnya.

Ada namun tiada, itulah yang Rea rasakan tentang Althan. Dia masih berwujud, namun Rea tak pernah merasakan kehadirannya.

Sikap Althan yang seringkali menomorsatukan Bella, membuat Rea perlahan menjauh. Rea bahkan tak ingat, kapan terakhir kali ia memeluk Ayahnya. Mungkin saat Bundanya meninggal beberapa tahun lalu, saat Rea tak berhenti menangis.

Revin yang menyadari hal tersebut, segera menarik tangan gadis itu.

"Kami juga keluarga kamu. Ibu Gala, Ibu kamu. Papa Gala juga Papa kamu. Jangan sungkan dan jangan sedih."

Rea tersenyum dan mengangguk, lalu menunduk untuk memeluk Revin, membuat wanita itu tersenyum dan membalas pelukannya.

Setelah sekian lama, akhirnya Rea dapat merasakan kembali dekapan seorang Ibu yang begitu ia rindukan. Meski bukan dari orang yang sama, namun Rea dapat merasakan kehangatan yang serupa.

"Ibu sudah boleh pulang?" tanya Gala setelah selesai dengan tangisannya, dan kini ia duduk di pangkuan Saka. Benar-benar anak ini, tidak ingat umur sama sekali.

"Besok siang baru boleh pulang," jawab Saka seraya memeluk pinggang Gala, bersikap seolah anak itu adalah seorang bayi. Padahal, badan Gala lebih tinggi beberapa centi dari pada Saka.

Rea melepas pelukannya, lalu menatap Gala dengan memutar bola matanya. Ternyata begini kelakuan Gala saat bersama orang tuanya, sangat manja. Berbanding jauh dari kebiasannya saat berada di luar.

"Kalian pulang dulu aja, besok harus kuliah, kan?"

Gala mengangguk, lalu bangkit dari pangkuan Saka. Ia menatap perut rata Ibunya dengan sendu, lalu bergerak menunduk untuk mencium permukaan perut itu.

"Maafin gue ya, Cil. Karena Abang ganteng lo ini, lo hampir pergi. Baik-baik di dalam, gue pengin lihat lo pas gedenya kayak apa, pasti gantengan gue. Gue juga pengin ngajak lo baku hantam, tembak-tembakan, lempar-lemparan batu. Ah, asyiknya kalau gue bisa bikin kepala lo benjol."

Saka menendang pelan kaki cowok itu, dan menatapnya datar. "Sebelum melakukan itu, baku hantam dulu sama Bapak lo sini.

Gala menyengir lebar, mengangkat dua jarinya sebagai tanda damai.

"Ampun, Pa. Gala pulang duluan, Ibu cepat sembuh, ya?"

Revin mengangguk sambil menutup matanya, menikmati kecupan hangat di dahi yang Gala berikan.

Gala menyalami tangan Saka dan Revin, mencium punggung dan telapak tangannya, diikuti Rea.

Gala dan Rea berlalu setelah mengucapkan salam.

"Gue yang bawa mobilnya," kata Rea seraya membuka pintu kemudi.

Gala yang merasa lelah dan sakit di sekujur tubuhnya, pun hanya menuruti. Cowok itu duduk di sebelah kursi kemudi.

"Gue baru tau kalau lo semanja itu," kata Rea seraya terkekeh pelan.

Gala menoleh, lalu bersandar nyaman di kursi yang sedikit dimundurkan.

"Suka-suka gue lah," katanya dengan mata terpejam.

Rea tak lagi menjawab, ia fokus pada kemudinya, membiarkan Gala untuk mengistirahatkan tubuh barang sejenak.

Tak lama, Rea menoleh sekilas saat merasakan kepala Gala bersandar di pundaknya. Cowok itu tertidur ternyata.

Rea mengusap pelan kepala Gala, membuatnya menggeliat pelan dan menyamankan posisi sandarannya di pundak Rea.

Rea berdehem dan sedikit menggerakan bahunya. "Pegal," gumamnya setelah beberapa saat menahan kepala Gala agar tetap bersandar dengan nyaman.

Sampai di pekarangan rumah Saka, Rea menghentikan mobilnya dan menghela nafas lega, setidaknya mereka sudah sampai.

Rea menunduk untuk menatap Gala dengan lekat. Perlahan tapi pasti, wajahnya bergerak maju.

Bulu mata Gala yang lentik, hidungnya yang mancung, pipinya yang putih mulus, bibirnya yang tipis dan merah alami. Sungguh perpaduan yang sangat sempurna. Ditambah dengan alis yang hampir menyatu, kumis tipis yang rapi dan rambut yang hitam lebat berjambul.

Ah, sial. Rea dibuat menelan ludah karenanya. Ia yang perempuan bahkan tidak memiliki gambaran sesempurna itu.

Bibirnya yang pink sedikit pucat, hidungnya yang mungil, bulu matanya yang tidak selentik milik Gala.

Huft, insecure dengan suami sendiri boleh tidak?

Rea semakin mendekatkan bibirnya di kening Gala, namun belum sempat menyentuhnya, Gala sudah lebih dulu terbangun dengan raut kantuknya.

"Sudah sampai?" tanya Gala dengan suara serak, seraya menguap dan mengucek matanya.

Rea kembali mundur, tampak pipinya yang memerah. Beruntung, suasana gelap karena hari sudah malam, jadi Gala tidak akan menyadarinya.

Rea mengangguk, lalu hendak keluar lebih dulu, sebelum Gala mencekal tangannya.

Rea menoleh dengan alis terangkat, melihat Gala yang menatapnya lekat.

"Gak jadi cium gue?"

Rea sontak mengalihkan pandangan. Sialan, ternyata Gala menyadarinya, batin Rea.

Gala mendekat, menghimpit tubuh Rea ke pintu samping kemudi, menatapnya dalam.

"Ayo, cium gue," tantang Gala dengan wajah yang semakin mendekat.

Ekspresinya yang datar, membuat Rea overthinking, takut jika Gala marah karena kelakuannya tadi.

"Kening, pipi, atau bibir? Hm?" tanya Gala lagi.

Wajah mereka sudah sangat dekat, jika Rea bergerak sedikit saja, sudah dapat dipastikan jika salah satu bagian wajah mereka akan bertemu, entah bibir ataupun hidung.

"Ayo, cium!" Gala menatap Rea penuh menantang, membuat Rea menggeleng pelan.

"Enggak," jawabnya.

"Kenapa? Gak berani?" Alis Gala terangkat, senyumnya miring meremehkan.

"Kata siapa?" tantang Rea balik, ia tidak suka diremehkan.

"Ya sudah, cium cepat!"

Diam-diam, Rea menelan ludah dan nafasnya tercekat, saat jarak antara bibirnya dan bibir Gala hanya sebatas beberapa mili meter.

Rea berdehem seraya berusaha mendorong dada Gala agar sedikit menjauh darinya, namun Gala tetap berada di posisinya dan tak bergeser sedikitpun.

Tatapan mereka bertemu dan saling terkunci, menyelami bola mata masing-masing. Rea dengan netra coklatnya, dan Gala dengan netra hitam pekatnya.

Cup

Niatnya hanya kecupan singkat yang Rea berikan di bibir Gala, namun tanpa ragu cowok itu menahan tengkuknya. Tidak, tidak ada gerakan apapun, hanya menempel sempurna dan dalam selama beberapa saat, sebelum Gala melepasnya dan mengusap bibir Rea.

"Manis," gumamnya.

.

.

.

To be continue ...

1
Ossa Mulya
suka banget ceritanya... dan bikin penasaran
Ossa Mulya
lanjuuuutt Thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!