Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.
Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.
Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.
Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekesalan Azam
#25
Beberapa hari kemudian, di tempat Dina.
Dalam perjalanan pulang dari perkebunan, ada satu hal yang baru saja disadari Dina dan kini membuatnya gelisah. Stok ASIP yang biasanya cukup banyak, ternyata semakin berkurang. Pengiriman terakhir kemarin pun jauh lebih sedikit daripada biasanya.
“Kenapa akhir-akhir ini ASI-ku tidak sebanyak biasanya?” gumam Dina saat memeriksa freezer di rumahnya.
Ia menatap botol-botol ASIP di dalam lemari pendingin. Ada rasa khawatir yang perlahan muncul, bukan hanya karena persediaannya berkurang, melainkan karena ada seorang bayi kecil yang masih bergantung pada ASIP darinya. Dina tidak ingin mengecewakannya.
Bu Rara baru saja keluar dari kamar usai berganti pakaian. Ia dibuat heran melihat putrinya yang masih termenung di depan lemari es.
“Apa yang kamu pikirkan? Kenapa tidak segera mandi? Nanti tubuhmu gatal-gatal,” tegur Bu Rara.
“Ini, Ma. Aku perhatikan, stok ASIP-ku semakin berkurang. Aku baru menyadarinya hari ini,” keluh Dina.
“Kok, bisa? Bukankah kamu selalu rajin mengonsumsi daun katuk untuk membantu melancarkan ASI?”
“Itu dia, Ma. Aku juga heran. Kira-kira kenapa, ya?”
“Sekarang lebih baik kamu mandi dulu. Setelah itu, coba hubungi Azam.”
Dina mengangguk, lalu menuruti perkataan ibunya.
“Mungkin karena akhir-akhir ini aku terlalu banyak beraktivitas,” gumamnya.
Sejak mulai membantu Pak Hermanto menghidupkan kembali perkebunan keluarga, rutinitas Dina memang semakin padat. Waktunya banyak dihabiskan di luar rumah. Bahkan, beberapa kali ia pulang dalam kondisi cukup lelah hingga malam harinya langsung tertidur setelah menunaikan salat Isya.
Akibatnya, rencana untuk menghubungi Azam malam itu terpaksa batal karena Dina sudah lebih dahulu terlelap.
•••
Di rumah keluarga Azam, suasana pagi juga tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Ghazi kembali membuat Bunda Hilda kewalahan. Bukan hanya Bunda Hilda, tetapi hampir semua orang di rumah besar itu ikut dibuat bingung oleh tingkah bayi mungil tersebut.
Sejak bangun tidur, Ghazi lebih banyak merengek. Setelah mendapatkan susu, ia memang sempat tenang, tetapi ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Bunda Hilda menggendongnya sambil berjalan perlahan.
“Kenapa lagi, Sayang?”
Ghazi hanya bergerak-gerak gelisah dalam gendongan eyangnya. Tentu saja, bayi itu belum mampu mengutarakan apa yang sedang dirasakannya.
Azam yang baru selesai menerima panggilan dari salah satu pekerja perkebunan langsung menghampiri Bunda Hilda yang masih kerepotan menenangkan Ghazi.
“Masih rewel, Bunda?”
“Sejak tadi dia begini. Bunda sampai pusing menghadapinya, Nak,” keluh Bunda Hilda.
Azam segera mengambil alih Ghazi dari gendongan Bunda Hilda.
Hal seperti ini sudah terjadi selama beberapa hari terakhir. Setiap kali hati kecilnya berbisik bahwa Ghazi mungkin sedang merindukan Dina, saat itu pula Azam buru-buru menepis pemikiran tersebut.
“Sepertinya dia sedang menginginkan sesuatu,” ujar Bunda Hilda.
Azam terdiam. Ia tak ingin menanggapi, tetapi kalimat itu kembali mengingatkannya pada perkataan Bunda beberapa hari lalu tentang keinginan Ghazi yang tidak mudah diterjemahkan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya.
Beberapa hari terakhir, Dina memang mengirimkan ASIP dalam jumlah yang tidak sebanyak biasanya. Namun, Azam justru ragu menanyakan penyebabnya karena khawatir hal itu akan menambah beban pikiran baginya.
Bagaimanapun juga, Dina tidak pernah meminta imbalan apapun. Wanita itu selalu menolak ketika Azam ingin memberinya uang sebagai bentuk penghargaan atas bantuan yang telah diberikan.
“Mungkin Dina sedang kelelahan, Bund,” jawab Azam kalem. Kalimat itu tercetus begitu saja dari bibirnya.
“Memangnya Dina sedang sibuk apa?” tanya Bunda Hilda, mulai penasaran.
“Dina ingin menghidupkan kembali perkebunan milik keluarganya. Jadi, akhir-akhir ini dia sering ke kebun untuk membantu pekerjaan di sana.”
Bunda Hilda tersenyum lega.
“Baguslah. Berarti Dina sudah mulai punya kesibukan, supaya dia tidak terus-terusan tenggelam dalam kesedihan.”
Azam mengangguk setuju. Sambil berbicara, ia kembali menatap wajah mungil Ghazi. “Benar, Bund.”
“Tapi, Zam, Ghazi akan semakin besar. Kebutuhan ASI-nya juga akan terus bertambah. Bagaimana kita bisa memastikan persediaannya tetap cukup kalau ASIP yang dikirim Dina terus berkurang?”
Azam terkejut. Ia sama sekali belum memikirkan kemungkinan tersebut.
“Memangnya begitu, Bund?”
Bunda Hilda mengangguk. “Seiring pertumbuhannya, kebutuhan nutrisi Ghazi juga berubah. Kita harus memastikan dia mendapatkan asupan yang cukup. Jadi, kita tidak bisa hanya mengandalkan persediaan ASIP yang ada tanpa memikirkan kelanjutannya.”
Perkataan Bunda Hilda membuat Azam terdiam.
“Makanya, Bunda pernah bilang padamu, kalau kamu masih punya rasa pa—” sambung Bunda Hilda, tapi terputus begitu saja.
“Bunda, please!” Azam segera menyela ucapan ibunya.
Bunda Hilda mengembuskan napas panjang, lalu mengulurkan tangan.
“Sini, berikan Ghazi pada Bunda. Kamu sebaiknya segera menghubungi Dina. Tanyakan kabarnya atau bicarakan apa saja. Terserah kamu mau ngomong apa.”
Bunda Hilda membawa cucunya keluar untuk menikmati udara pagi. Sementara itu, Azam masih terdiam selama beberapa saat. Kemudian, ia mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja dan membuka percakapannya dengan Dina.
Jarinya mulai mengetik, tetapi setiap kali keraguan muncul, ia kembali menghapus kalimat yang sudah ditulisnya.
Ada banyak hal yang ingin ditanyakan. Ia ingin mengetahui kabar Dina, ingin tahu bagaimana kesibukannya di perkebunan, bahkan ingin memastikan apakah wanita itu baik-baik saja.
Namun, entah mengapa, memulai percakapan sederhana saja terasa begitu sulit.
Di tengah keraguannya, pikiran Azam kembali tertuju pada almarhumah Nayla. Ia menunduk, menatap layar ponselnya yang masih menampilkan nama Dina.
“Nay, apakah aku boleh melakukannya?” gumamnya lirih dalam kesunyian, Azam terdiam sejenak sebelum kembali menatap foto Ghazi yang tersimpan di galeri ponselnya.
“Tapi Ghazi membutuhkan ibu ASI-nya untuk membantu menopang tumbuh kembang fisiknya."
Azam kembali menghela nafas panjang, akhirnya, setelah berkali-kali mengetik dan menghapus pesan, ia hanya mengirimkan satu kalimat pendek.
📤 Dina, bagaimana kabarmu?
Tidak lama kemudian, tanda pesan terbaca muncul.
Azam langsung menegakkan tubuh, dibacanya kembali pesan singkat itu, seolah-olah ada sesuatu yang kurang tepat dengan kalimatnya.
Padahal, hanya pertanyaan sederhana, namun, hingga beberapa menit berlalu, belum ada balasan dari Dina.
Azam berusaha mengalihkan perhatian dengan berjalan mengelilingi ruang tamu, akan tetapi, baru beberapa saat berjalan, tangannya kembali meraih ponsel.
Belum juga ada balasan, padahal lima menit telah berlalu.
Sepuluh menit.
Hingga dua puluh menit kemudian, layar ponselnya masih menampilkan percakapan yang sama. Perasaan yang semula membuatnya bersemangat perlahan berubah menjadi rentetan pertanyaan.
Kenapa belum dijawab?
Sesibuk apa Dina sampai belum sempat membalas pesan yang sudah dibacanya?
Apakah di perkebunan tidak ada sinyal?
Azam mengerutkan kening, gelisah dengan perasaan dan prasangkanya sendiri.
Memangnya sesulit itu menjawab satu pertanyaan sederhana dengan kata 'baik'?
Pria itu menggaruk rambutnya yang sama sekali tidak gatal.
“Ya Allah, Azam. Apa-apaan kamu ini?” gumamnya kesal pada tingkahnya sendiri.
Bukankah ia hanya ingin menanyakan kabar?
Lantas, mengapa menunggu balasan dari Dina saja bisa membuatnya segelisah ini?
tpi km bisa mnikmati perempuan lain...
dasar serakah... tk ada otak🙄🙄