NovelToon NovelToon
Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.

Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Kunci Masa Depan

Pagi hari setelah malam yang mengguncang di Grand Ballroom Hotel Mulia, matahari terbit membakar kabut tipis di atas langit Jakarta. Namun, guncangan sesungguhnya justru baru saja dimulai di dunia jagat maya dan media massa nasional.

Sejak pukul enam pagi, nama Alya Nusantara, Rendy, dan Siska menduduki urutan teratas dalam daftar trending topic di berbagai platform media sosial. Potongan video drama penangkapan di atas panggung—mulai dari histeria Siska yang membongkar perselingkuhan, Rendy yang berlutut memohon di hadapan Alya, hingga momen saat polisi memasangkan borgol—beredar luas dan ditonton jutaan kali hanya dalam hitungan jam.

“Direktur Operasional Nusantara Industri Utama Ungkap Penggelapan 80 Miliar di Perayaan Ulang Tahun Perusahaan!” “Plot Twist Mewah: Alya Nusantara Gunakan Umpan Aset 150 Miliar untuk Kunci Pelakunya!” “Skandal Perselingkuhan dan Penipuan Berakhir di Tangan Polisi: Kehebatan Strategi Alya Nusantara Dipuji Publik.”

Di saat reputasi Rendy dan Siska hancur lebur hingga dasar jurang—dengan hujatan publik yang tak membendung—nama Alya justru melambung tinggi. Publik dan para pelaku industri bisnis memujinya sebagai sosok pemimpin wanita yang sangat cerdas, dingin, berani, dan tidak bisa diintimidasi.

Pukul sembilan pagi, ruang rapat utama di lantai tertinggi kantor pusat Nusantara Industri Utama sudah dipenuhi oleh seluruh anggota dewan komisaris dan pemegang saham utama. Suasana ruang rapat yang biasanya terkesan kaku kini diselimuti ketegangan yang bercampur dengan rasa kagum yang samar.

Pintu kaca tebal terbuka. Alya melangkah masuk dengan balutan busana blazer berwarna putih gading dipadu celana bahan senada. Rambut hitam mewahnya disanggul rapi. Setiap langkah kakinya memancarkan aura ketegasan dan kepemimpinan yang mutlak.

Di sampingnya, Kai Aditya berjalan mendampingi dengan setelan jas abu-abu gelap, memancarkan wibawa dingin yang disegani.

"Selamat pagi, Bapak dan Ibu Anggota Dewan Komisaris," sapa Alya seraya mendudukkan dirinya di kursi utama di ujung meja panjang.

Pak Handoko, komisaris senior yang biasanya paling bersikap kritis, langsung berdehem pelan seraya menatap Alya dengan senyum penuh apresiasi.

"Selamat pagi, Bu Alya," ujar Pak Handoko, membuka pembicaraan. "Saya rasa... rapat darurat pagi ini sebenarnya tidak perlu diisi dengan banyak pertanyaan lagi. Berita di seluruh media nasional dan laporan kepolisian tadi pagi sudah menjelaskan semuanya secara transparan."

Alya menyunggingkan senyum tipis yang amat anggun. Ia mengoperasikan pengontrol di tangannya, menampilkan draf laporan keuangan di layar presentasi utama.

"Seperti yang bisa Bapak dan Ibu lihat di layar," tutur Alya dengan suara yang mantap dan jernih. "Tindakan tegas yang kita ambil semalam telah membuahkan hasil sempurna. Seluruh dana operasional sebesar delapan puluh miliar rupiah yang sempat disimpangkan oleh Saudara Rendy telah berhasil dibekukan oleh pihak kepolisian dan otoritas jasa keuangan. Aset jaminan bernilai seratus lima puluh miliar yang sempat ditandatangani oleh pelaku kini sepenuhnya berada dalam penguasaan legal perusahaan."

Riuh tepuk tangan pelan namun penuh penghormatan bergema di antara para anggota dewan komisaris.

"Luar biasa, Bu Alya," sahut seorang komisaris lainnya. "Bukan hanya menyelamatkan keuangan perusahaan dari kerugian besar, tapi tindakan tegas Bu Alya semalam justru menaikkan nilai saham Nusantara Industri Utama sebesar empat koma delapan persen pagi ini karena kepercayaan publik terhadap transparansi manajemen kita."

"Terima kasih atas kepercayaan Bapak dan Ibu sekalian," jawab Alya penuh kesantunan. "Proyek kerja sama strategis kita dengan Aditya Group juga akan resmi ditandatangani siang ini tanpa ada hambatan lagi."

Kai Aditya yang duduk di sebelah Alya menyandarkan tubuhnya di kursi, memandang Alya dengan mata yang dipenuhi pendar kebanggaan yang amat dalam. Bagi Kai, menyaksikan wanita yang dicintainya berdiri tegak dan memenangkan pertarungan hidupnya adalah pemandangan paling indah di dunia.

Setelah rapat darurat dan konferensi pers singkat selesai, suasana kantor mulai kembali tenang.

Alya melangkah masuk ke dalam ruang kerja VIP-nya, menghembuskan napas panjang yang amat lega. Beban berat yang bertahun-tahun mengikat jiwanya seolah-olah telah menguap sepenuhnya bersama udara pagi ini.

Pintu ruangan terbuka pelan. Kai melangkah masuk tanpa suara. Pria itu tidak lagi bersikap resmi atau formal seperti saat berada di hadapan para komisaris tadi. Ada kehangatan yang sangat personal dan cair dalam setiap gerakannya.

Kai membawa sebuah nampan kecil berisi secangkir teh chamomile hangat dan sepotong kue pastry kesukaan Alya.

"Teh hangat untuk Direktur Operasional kita yang sangat hebat," ujar Kai seraya meletakkan nampan tersebut di meja kerja Alya.

Alya mendongak, tertawa renyah melihat pemandangan itu. "Sejak kapan CEO Aditya Group beralih profesi menjadi asisten pribadiku?"

"Khusus untuk kamu, saya bersedia jadi apa saja," balas Kai santai. Pria itu mengitari meja, lalu duduk di tepi meja kerja Alya—sangat dekat hingga Alya bisa menghirup aroma wangi kayu cendana dari tubuh Kai.

Kai menunduk sedikit, merapikan sehelai anak rambut Alya yang jatuh di pipinya dengan gerakan jemari yang amat lembut. Pandangan matanya yang tajam kini sepenuhnya diisi oleh kelembutan yang memabukkan.

"Kamu sudah makan siang?" tanya Kai pelan.

Alya menggeleng, menatap mata Kai yang hangat. "Belum. Rasanya perutku masih kenyang oleh kemenangan semalam."

"Kemenangan itu memang manis, Alya," tutur Kai seraya terkekeh tipis. "Tapi kamu tetap harus makan. Mulai hari ini, tidak ada lagi dendam yang harus kamu pikirkan. Tidak ada lagi Rendy, tidak ada lagi Siska, dan tidak ada lagi kecemasan masa lalu."

Alya menyandarkan punggungnya di kursi, menatap Kai dengan binar mata penasaran yang makin mengusik pikirannya. Sejak semalam, Kai terus membocorkan bahwa ia telah menyiapkan sesuatu untuk masa depan mereka. Sisi personal Kai yang kian terbuka—bukan sekadar pengusaha tegas atau pelindung yang siap membentengi Alya—membuat dada Alya berdebar-debar oleh rasa ingin tahu.

"Kai..." panggil Alya pelan.

"Ya, Sayang?"

"Semalam kamu bilang... tugasmu menjagaku baru saja dimulai, dan kamu sudah menyiapkan masa depan untuk kita," ujar Alya, memiringkan kepalanya sedikit. "Sebenarnya... apa yang sedang kamu rencanakan, Kai? Jangan bilang kamu mau membelikanku pulau pribadi?"

Kai tertawa renyah—sebuah suara tawa yang amat lepas dan tampan, membuat suasana ruangan terasa makin romantis.

"Pulau pribadi?" Kai menggeleng pelan seraya tersenyum misterius. "Tawaran yang menarik, tapi bukan itu."

"Lalu apa?" desak Alya, bibirnya mengerucut sedikit karena gemas. "Sejak tadi malam aku memikirkannya. Kamu selalu penuh kejutan yang tidak bisa kutebak."

Kai tidak langsung menjawab. Ia merogoh saku dalam jas abu-abunya, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berbalut beludru berwarna biru gelap tanpa pita. Kotak itu berukuran sedikit lebih besar dari kotak cincin biasa.

Kai meletakkan kotak beludru itu secara perlahan di atas jemari Alya yang terikat di atas meja.

Dada Alya mendadak berdesir kencang. Apakah ini cincin lamaran? pikir Alya seraya menatap kotak biru di tangannya.

Namun, sebelum Alya sempat membukanya, Kai mengulurkan tangannya dan menahan jemari Alya di atas penutup kotak tersebut.

"Buka nanti malam," bisik Kai lembut, matanya mengunci pandangan Alya dengan pendar kehangatan yang amat dalam. "Jangan sekarang."

Alya mengernyitkan dahi, makin penasaran. "Kenapa harus nanti malam? Kenapa tidak sekarang saja?"

"Karena hadiah ini butuh waktu dan suasana yang tepat," jawab Kai penuh teka-teki. "Nanti malam jam delapan, pengawal saya akan menjemputmu di rumah. Pakai pakaian yang paling nyaman. Kita tidak akan pergi ke restoran atau acara formal."

"Kita mau ke mana?"

"Ke tempat di mana masa depan kita dimulai," bisik Kai seraya menunduk dan mengecup kening Alya dengan sangat dalam dan menyerap lama.

Alya memejamkan matanya, merasakan hangatnya ciuman Kai yang menyalakan rasa aman yang tak pernah ia rasakan sebelumnya dalam hidupnya.

"Janji ya, jangan dibuka sebelum jam delapan malam," ulang Kai seraya melepaskan kecupannya dan tersenyum tampan.

"Iya, aku janji," balas Alya pasrah, meski rasa penasarannya kini sudah memuncak di ujung kepala.

Malam harinya, pukul delapan tepat.

Sebuah mobil sedan hitam mewah jemputan dari Kai sudah terparkir di depan kediaman Alya. Alya turun menuruni tangga rumahnya mengenakan gaun terusan kasual berwarna krem bahan rajut lembut yang membalut tubuhnya dengan sangat indah dan nyaman.

Di dalam tas tangannya, kotak beludru biru kecil itu terus menggoda pikirannya.

Perjalanan mobil memakan waktu sekitar empat puluh lima menit menuju ke arah pinggiran kota yang lebih tenang dan asri, menjauh dari kebisingan pusat kota Jakarta. Mobil akhirnya berbelok memasuki sebuah kawasan perbukitan kecil yang dikelilingi pepohonan rindang dan udara malam yang sangat sejuk.

Mobil berhenti di depan sebuah gerbang kayu jati raksasa bernuansa hangat.

Pengemudi membukakan pintu mobil untuk Alya. "Silakan turun, Bu Alya. Bapak Kai sudah menunggu di dalam."

Alya melangkah keluar mobil. Udara malam yang sejuk menyapa kulitnya, membawa aroma wangi tanah wet dan bunga melati yang menenangkan.

Sesuai janji Kai, Alya merogoh tas tangannya dan mengeluarkan kotak beludru biru kecil itu. Dengan jantung yang berdebar kencang oleh rasa penasaran yang tak tertahankan lagi, Alya akhirnya membuka penutup kotak beludru tersebut di bawah pendar lampu gerbang.

Mata Alya membelalak pelan.

Di dalam kotak beludru itu, ternyata sama sekali tidak ada perhiasan berlian atau cincin emas seperti yang sempat ia duga sebelumnya.

Di sana terbaring selembar dokumen akta otentik bertinta emas yang dilipat rapi, dan sebuah kunci kuningan berukir klasik yang amat indah.

Alya mengambil lipatan dokumen itu dan membukanya perlahan di bawah pendar cahaya. Matanya membaca baris demi baris kalimat hukum di dalamnya:

“Sertifikat Hak Milik dan Akta Hibah Penuh atas Rumah Heritage & Studio Kreatif 'Alya’s Haven'...”

Alya membaca rincian di bawahnya dengan napas tertahan. Rumah itu bukan sekadar rumah mewah atau istana megah seperti rumah 150 miliar yang digunakan untuk menjebak Rendy kemarin. Rumah ini adalah sebuah tempat tinggal berkonsep vila studio seni dan literasi yang dirancang khusus dengan perpustakaan raksasa dua lantai, studio melukis, taman bunga melati, dan area santai berpemandangan danau alami!

Nama pemegang hak milik tunggal yang tercantum di dokumen itu adalah: Alya Nusantara.

Dan di bagian bawah dokumen, terdapat sebuah catatan kecil yang ditulis tangan dengan tinta hitam yang rapi oleh tulisan tangan Kai Aditya:

“Alya... ini bukan tempat untuk memamerkan kekayaan pada dunia. Ini adalah rumah yang saya bangun khusus untuk jiwamu. Tempat di mana kamu bisa menulis cerita barumu, melukis impianmu, dan menjadi dirimu sendiri tanpa perlu merasa cemas atau berpura-pura kuat lagi. Selamat datang di rumah kita.”

Air mata haru yang hangat mendadak menggenang di pelupuk mata Alya. Dadanya bergetar hebat oleh rasa tersentuh yang teramat dalam.

Pria ini... Kai Aditya... tidak membencinya atau melihatnya sebagai wanita yang terikat dendam. Kai memahami isi hati Alya yang paling dalam—bahwa di balik sosok Direktur Operasional yang tangguh, Alya hanyalah seorang wanita yang merindukan ketenangan, sebuah tempat berlindung yang tulus, dan ruang untuk mencintai dirinya sendiri.

Gerbang kayu jati raksasa di depannya perlahan terbuka secara otomatis.

Pendar cahaya lampu-lampu taman berwarna kuning hangat menyala satu per satu, menerangi jalan setapak batu alam yang dipenuhi kelopak bunga. Di ujung jalan setapak itu, berdiri sebuah bangunan rumah bergaya hangat dan elegan dengan dinding kaca raksasa yang memperlihatkan deretan rak buku tinggi dan area studio seni yang megah di dalamnya.

Di depan pintu utama rumah itu, Kai Aditya berdiri menunggunya.

Kai tidak mengenakan jas eksekutifnya. Pria itu hanya mengenakan sweter rajut abu-abu kasual dan celana santai. Wajah tampannya menyunggingkan senyum paling hangat, paling tulus, dan paling penuh cinta yang pernah Alya lihat seumur hidupnya.

Kai merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke arah Alya.

Alya tidak menahan langkahnya lagi. Dengan air mata haru yang menetes bahagia di pipinya, Alya melangkah cepat menelusuri jalan setapak, melupakan seluruh masa lalu yang kelam, dan berlari langsung ke dalam pelukan hangat Kai Aditya—pria yang telah memberinya bukan cuma perlindungan, tapi sebuah masa depan dan cinta yang sejati.

1
Ayu Ara12
next
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NinLugas: ok kk d tnggu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!