"Tertinggal di Kota Sane berarti menyerahkan nyawa pada misteri yang mengintai."
Kota Sane adalah pulau indah bernuansa surga, namun memiliki aturan yang sangat ketat: hanya dibuka 4 bulan sekali dan wisatawan hanya boleh berkunjung selama 2 minggu. Bagi yang tertinggal, mitos mengatakan mereka tak pernah selamat.
Naya, mahasiswi kaya yang manja, mengalami mimpi buruk saat ketiduran di dermaga dan ditinggal kapal terakhir. Di tengah kota yang mendadak sepi bagai kota mati, Naya memohon perlindungan pada Devan—pemilik penginapan kayu yang tampan, dingin, dan tegas.
Naya rela bekerja tanpa gaji demi bisa bertahan hidup selama 4 bulan hingga kapal berikutnya datang. Namun, Devan menolak mentah-mentah kehadiran gadis manja itu.
Ketika malam mulai jatuh dan ancaman Kota Sane mengintai, sanggupkah Devan membiarkan Naya berada dalam bahaya? Rahasia kelam apa yang sebenarnya disembunyikan pulau ini?
Simpan novel ini dan ikuti kisah romansa penuh ketegangan antara Devan dan Naya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bahaya baru segera datang
Pagi hari menyapa Pulau Sane dengan sinar matahari yang memanjakan mata. Naya terbangun dengan senyum merekah di bibirnya. Wajahnya memang memperlihatkan rasa lelah yang amat sangat, tapi hatinya diliputi kepuasan luar biasa. Bagaimana tidak? Rencana bisnis yang ia susun matang-matang berjalan melampaui ekspektasinya!
Biasanya, penginapan Devan selalu sepi bagai kuburan di luar musim wisatawan. Tapi kini, berkat ide kreatif Naya yang menyulap sudut penginapan menjadi kafe estetis dengan sentuhan rempah lokal, tempat itu ramai setiap hari oleh warga Pulau Sane sendiri! Suara tawa warga, aroma kopi racikan khusus, dan kehangatan yang tercipta seolah mengikis aura kelam yang selama ini menutupi pulau tersebut.
Dari ambang pintu, Naya menatap sosok jangkung yang sedang sibuk menyangkul tanah di halaman depan. Devan sedang menanam pohon-pohon bunga dan tanaman hias agar kafenya terlihat jauh lebih indah. Urat-urat di lengan pria itu tercetak jelas saat cangkulnya menghantam tanah.
"Abang!" panggil Naya riang sembari melambaikan tangan, melangkah menghampirinya.
Devan menghentikan ayunan cangkulnya sejenak. Pria itu menyapu keringat di dahinya dengan lengan baju, lalu menatap Naya dengan raut wajah yang mendadak kembali kaku tanpa ekspresi.
"ya ...,"
sahut Devan datar dan dingin, lalu kembali mengayunkan cangkulnya tanpa memandang Naya lagi.
Naya mengerucutkan bibirnya, cemberut. Dih, gengsi banget! Perasaan tadi malam ada yang tersenyum manis banget pas ngeliat kafenya ramai, sekarang udah balik dingin lagi kayak es batu, gumam Naya dalam hati, kesal sekaligus gemas.
Ya sudahlah... Naya berusaha tidak ambil pusing. Hari ini jadwalnya belanja stok bahan pokok untuk kafe. Saat melihat Devan berjalan menuju mobil jipnya, Naya bergegas menyusul.
"Naya ikut ya, Bang! Mau milih bahan-bahan segar buat kafe," ujar Naya antusias, sudah memegang gagang pintu mobil.
"Gak usah," potong Devan cepat. Suaranya penuh penekanan yang tak bisa dibantah. "Kamu di rumah aja sama Nenek. Biar aku pergi sama Karim."
Naya melotot, rasa kesalnya langsung memuncak. "Lho, kenapa?! Kan aku yang tahu bahan-bahan yang perlu dibeli! Aku gak mau cuma diam di sini, Devan!"
"Aku bilang gak boleh, ya gak boleh. Jangan membantah," tegas Devan dingin, lalu mengunci pintu jip dari dalam dan langsung tancap gas bersama Karim, meninggalkan kepulan debu di halaman.
"Devan! Iiish... menyebalkan banget sih!" jerit Naya sembari menghentakkan kakinya ke tanah, merajuk dan kesal setengah mati karena ditinggal begitu saja.
Naya masuk kembali ke dalam penginapan dengan wajah melengkung asam. Nenek yang sedang menyeduh teh herbal hanya terkekeh melihat tingkah gadis itu.
"Kenapa mukanya dilipat begitu, Naya?" tanya Nenek lembut.
"Devan tuh, Nek! Jahat banget! Masa Naya gak boleh ikut belanja? Padahal Naya mau milih bahan kafe sendiri," adu Naya sembari merapatkan duduknya di samping Nenek.
Senyum di wajah Nenek perlahan memudar, berganti dengan pandangan mata yang dalam dan penuh kehati-hatian. Nenek mengelus rambut Naya pelan.
"Jangan marah sama Devan, Naya... Dia ngelakuin itu justru buat ngelindungin kamu," bisik Nenek dengan nada suara yang mendadak berubah serius.
Naya mengerutkan dahi, bingung. "Ngelindungin? Dari apa, Nek? Kan kafenya udah ramai, warga juga udah ramah-ramah..."
"Itu karena ini masih siang," potong Nenek pelan. "Pasar utama di pusat pulau itu dekat dengan kawasan dermaga tua. Tempat berkumpulnya para pua-pua—warga murni pulau yang energinya masih sangat sensitif. Bau darah asing kamu yang tertutup ramuan / kalung darah itu masih bisa tercium, Naya. Devan gak mau ada warga yang 'mencium' kamu di keramaian dan bikin kamu dalam bahaya."
Mendengar penjelasan Nenek, jantung Naya mendadak berdesir. Rasa kesalnya menguap, berganti dengan rasa bersalah sekaligus haru yang membuncah. Ternyata di balik sikap dingin dan ketusnya, Devan selalu memikirkan kesalamatannya setiap detik.
Tiba-tiba, angin berhembus sangat kencang menembus jendela penginapan. Suara derit kayu terdengar nyaring.
Klek.
Satu pot bunga yang baru ditanam Devan di halaman depan mendadak pecah berkeping-keping
--------
Matahari sore mulai meredup, memancarkan sinar oranye keemasan yang hangat di atas Pulau Sane. Kafe di penginapan Devan sedang ramai-ramainya. Suara denting cangkir, tawa renyah pengunjung, dan aroma manis kue yang baru matang memenuhi udara. Naya tampak begitu lincah mencatat pesanan, wajahnya berseri-seri melihat usaha yang ia rintis bersama Devan berkembang pesat.
Namun, di tengah keriuhan itu, sudut mata Devan yang sedang mengelap meja kasir menangkap sesuatu yang tidak beres.
Di meja paling sudut dekat pintu keluar, duduk seorang pria paruh baya mengenakan jaket tebal berdebu dan topi rimba yang menutupi sebagian wajahnya. Pria itu tidak menyentuh minuman di mejanya sama sekali. Sepasang matanya yang tajam, agak cekung, dan bersorot dingin terus tertuju lurus pada Naya—mengikuti setiap pergerakan gadis itu tanpa berkedip sedikit pun.
Atmosfer di sekitar meja itu terasa berat dan mencekam, seolah-olah pria tersebut sedang menguliti Naya dengan pandangannya.
Devan memicingkan mata. Naluri kewaspadaannya seketika menyala. Pria ini memiliki aura yang berbeda—bukan warga lokal Pulau Sane yang terikat darah, tapi juga bukan wisatawan biasa.
Tanpa membuang waktu, Devan meletakkan kain lapnya dan melangkah tegap menghampiri meja sudut tersebut. Tubuh tinggi Devan sengaja berdiri tepat memotong garis pandang pria itu ke arah Naya.
"Ada yang bisa dibantu, Pak?" tanya Devan dengan suara berat terkontrol, nada bicaranya sopan namun tegas.
Pria itu perlahan mendongak. Di balik bayangan topi rimbanya, sepasang mata itu terlihat penuh rasa ingin tahu yang liar.
"Gadis itu..." bisik sang pria dengan suara serak bergetar, jari tangannya yang kurus menunjuk tipis ke arah Naya. "Dia bukan orang sini, kan? Aromanya... sangat berbeda."
Devan tidak menyulitkan dirinya untuk berkelit. Dengan tatapan mata dingin bagai es dan raut wajah tanpa keraguan sedikit pun, Devan menyahut langsung.
"Benar. Dia calon istri saya," jawab Devan singkat, mengklaim Naya sepenuhnya untuk mengunci rasa penasaran sang pengunjung.
Devan lalu sedikit menundukkan tubuhnya, menyodorkan lembaran papan menu ke atas meja untuk mengalihkan perhatian pria misterius itu. "Bapak mau pesan apa?"
Namun, pria itu seolah tak peduli dengan papan menu di depannya. Kepalanya sedikit miring, mencoba mengintip dari balik bahu lebar Devan. Matanya yang ganjil tetap tak lepas dari Naya—menatap gadis itu dengan binar aneh yang membuat bulu kuduk Devan berdiri seketika.