NovelToon NovelToon
Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran

Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.

Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 — Ujian Pertama

Malam itu, sebuah kabar buruk sampai ke kediaman Zhou Chen dengan tergesa-gesa.

"Yang Mulia!" Ah Fu berlari masuk, napasnya terengah, wajahnya pucat. "Jalur dagang di dekat Hutan Selatan—rombongan pedagang kita diserang!"

Zhou Chen yang saat itu sedang membaca laporan bersama Zhao Kai langsung berdiri. "Berapa banyak yang terluka? Siapa penyerangnya?"

"Belum jelas, Yang Mulia. Tapi kabarnya bukan perampok biasa—jumlahnya cukup banyak, dan mereka terorganisir. Dua penjaga dagang kita terluka parah, dan barang dagangan senilai ratusan tael dirampas."

Zhou Chen menahan napas. Jalur dagang di dekat Hutan Selatan adalah salah satu rute utama perdagangan yang selama ini menjadi sumber pemasukan pribadinya—sumber dana yang selama ini ia gunakan diam-diam untuk membiayai latihan pasukan kecilnya dan membantu Zhou Feng memperbaiki wilayah utara.

Lebih dari sekadar kerugian materi, ini adalah ujian pertama bagi kelompok yang telah ia bangun dengan susah payah selama berminggu-minggu terakhir.

"Kumpulkan semuanya," perintahnya, suaranya tegas. "Xiao Hei, Yue Er, Zhao Kai. Kita berangkat malam ini juga."

Zhao Kai, yang sejak awal memiliki insting militer yang tajam, langsung angkat bicara. "Yang Mulia, apakah bijaksana jika Anda sendiri yang turun tangan? Kita masih belum sepenuhnya siap menghadapi kelompok bersenjata terorganisir."

"Justru karena itu," jawab Zhou Chen, "aku harus melihat sendiri seberapa besar ancaman ini. Kalau kita tidak bertindak sekarang, jalur dagang kita akan terus diserang, dan itu akan melumpuhkan semua rencana yang sudah kita bangun."

Perjalanan menuju Hutan Selatan memakan waktu hampir dua jam berkuda dalam kegelapan malam. Sesampainya di lokasi, mereka menemukan sisa-sisa kekacauan: gerobak yang terbalik, barang-barang berserakan, dan dua penjaga yang terluka sedang dirawat seadanya oleh sisa rombongan yang selamat.

"Yang Mulia!" salah satu penjaga yang terluka mencoba bangkit, tetapi Zhou Chen segera menahannya.

"Jangan bergerak dulu. Ceritakan apa yang terjadi."

"Mereka datang tiba-tiba, sekitar lima belas orang, bersenjata lengkap dan bergerak dengan formasi yang rapi," jelas penjaga itu, suaranya masih bergetar menahan sakit. "Bukan perampok biasa, Yang Mulia. Mereka tahu persis kapan rombongan kita akan lewat."

Zhou Chen mengerutkan kening. Informasi tentang jadwal rombongan dagang kita bocor. Tapi dari mana?

Ia mengarahkan Mata Dewa ke penjaga yang terluka, memeriksa kondisinya secara mendalam.

Kondisi Luka Luka tusuk di bahu kiri, cukup dalam namun tidak mengenai organ vital Risiko infeksi jika tidak segera ditangani dengan benar Penanganan yang disarankan: Bersihkan luka dengan air mendidih yang telah didinginkan, gunakan kain bersih, hindari penggunaan abu sebagai penutup luka (kebiasaan umum namun berisiko infeksi)

Ia segera memberi instruksi kepada Yue Er, yang memiliki sedikit pengetahuan dasar pengobatan dari kesehariannya dulu, untuk menangani luka itu sesuai arahan yang lebih tepat.

Sementara penanganan berlangsung, Zhou Chen mengamati jejak-jejak yang ditinggalkan para penyerang—bekas kaki kuda, pola formasi serangan, arah pelarian mereka.

Ini bukan perampok biasa, pikirnya. Formasi serangan seperti ini terlalu terorganisir untuk kelompok bandit acak.

Keesokan paginya, setelah membawa kembali para korban yang terluka untuk mendapat perawatan lebih baik di istana, Zhou Chen mengumpulkan seluruh kelompok kecilnya untuk membahas apa yang sebenarnya terjadi.

"Aku ingin tahu siapa yang membocorkan jadwal rombongan dagang kita," katanya, menatap satu per satu orang yang hadir dalam pertemuan itu. "Formasi serangan mereka terlalu rapi untuk sekadar kebetulan."

Zhao Kai mengangguk setuju. "Hamba juga curiga hal yang sama, Yang Mulia. Tapi siapa yang punya kepentingan untuk mengganggu jalur dagang kita secara langsung?"

Ah Fu, yang sejak awal bertugas mengawasi sekeliling kediaman, tiba-tiba teringat sesuatu. "Yang Mulia... beberapa hari lalu, salah satu pelayan baru yang bertugas mencatat jadwal pengiriman barang tiba-tiba mengundurkan diri tanpa alasan jelas. Hamba sempat merasa aneh, tapi tidak terlalu memikirkannya."

Zhou Chen menatap Ah Fu tajam. "Siapa nama pelayan itu?"

"Namanya... Xiao Mei, Yang Mulia. Kalau tidak salah, dia direkomendasikan oleh salah satu pejabat di bagian perdagangan istana, bukan dari kalangan kita sendiri."

Sebuah dugaan mulai terbentuk di kepala Zhou Chen, meski ia belum memiliki bukti kuat untuk memastikannya.

Seseorang di istana sengaja menyusupkan mata-mata untuk mengawasi pergerakan dagangku—dan mungkin, untuk mengganggu sumber pendanaanku secara langsung.

Ia teringat kembali pada Zhou Ming, Pangeran Kelima yang terkenal dengan jaringan mata-matanya yang luas. Namun ia juga tahu, tidak bijaksana untuk langsung menuduh tanpa bukti yang jelas—terutama di tengah situasi politik istana yang serba rumit.

"Untuk sementara," katanya akhirnya, "kita perlu memperketat keamanan informasi kita. Jadwal pengiriman barang tidak boleh lagi diketahui lebih dari orang-orang yang benar-benar kita percaya."

Meski serangan itu menimbulkan kerugian dan kekhawatiran baru, ada satu hal positif yang muncul dari kejadian tersebut: kelompok kecil Zhou Chen, untuk pertama kalinya, bekerja sama secara nyata dalam menghadapi krisis sesungguhnya—bukan sekadar latihan di halaman belakang, melainkan situasi nyata yang menguji kesiapan mereka.

Xiao Hei, meski belum sepenuhnya menguasai teknik barunya, menunjukkan keberanian luar biasa saat membantu mengevakuasi korban yang terluka. Yue Er membuktikan bahwa kemampuan pengamatannya yang tajam bisa digunakan lebih dari sekadar memanah. Dan Zhao Kai, untuk pertama kalinya sejak dipecat dari militer karena tuduhan pengecut, kembali menunjukkan insting taktisnya dengan menganalisis pola serangan musuh secara mendalam.

Malam itu, sambil menatap kelompok kecilnya yang kini tampak lebih dekat satu sama lain setelah melewati ujian bersama, Zhou Chen merasakan sesuatu yang baru—keyakinan bahwa apa yang ia bangun bukan sekadar rencana di atas kertas, melainkan sesuatu yang benar-benar nyata dan bisa diandalkan.

Tapi ini baru permulaan, pikirnya, menatap ke arah istana yang megah di kejauhan, tempat di mana entah siapa—mungkin Zhou Ming, mungkin pihak lain yang belum ia ketahui—mulai bergerak diam-diam untuk mengganggu rencananya.

Kalau seseorang berani menyerang jalur dagangku secara langsung... maka perebutan takhta ini sudah dimulai lebih cepat dari yang kuduga.

Bersambung ke Bab 10 — Bayangan di Balik Serangan

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semangat ya . semoga gif mawar ini menjadi semangat baru klo km . butuh temn masuk grup aku kita saling dukung
Irhab Hauzan: siap mampir 🙏
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!