Silvana, seorang dokter dengan karir yang sangat bagus, terpaksa di kirim ke Wilayah Konflik karena menolak cinta dari putra salah satu Petinggi di Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Tentu saja Silvana menolak, karena Pria itu tak hanya meminta cintanya, namun juga hampir melecehkannya.
Karena tak ingin berada di lingkungan toxic, ia pun sama sekali tak keberatan ketika di kirim ke Wilayah Konflik yang ada di Negaranya.
Disana, ia bekerja di sebuah Klinik Militer. Selain menangani Prajurit yang terluka, ia juga secara rutin datang ke desa-desa sekitar Markas Militer untuk melakukan pemeriksaan pada warga desa.
Siapa sangka, jika di tempat 'pengasingan' itulah ia justru bertemu dengan pria yang berhasil meluluhkan hatinya.
Bagaimana kisah cinta Silvana?
Apakah perjalanan cintanya berjalan dengan mulus?
Siapakah sosok pria yang berhasil meluluhkan hatinya?
Simak kisah dan keseruannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Irit Bicara
"Dosil... Dosil... Apa yang di bicarakan sama Komandan?" Tanya Maria yang penasaran. Ia langsung menghampiri Silvana ketika Dokter cantik itu masuk ke dalam Klinik.
"Oh, itu masalah bantuan. Ternyata bantuannya sudah sampai di Bandara sini." Jawab Sisil.
"Tak ada yang lain, kah?" Tanya Jopi. Silvana mengernyitkan dahi saat Jopi bertanya seperti itu padanya.
"Apa Jopi ini peramal, ya? Kenapa dia bisa tau kalau ada hal lain yang di bicarakan?" Batin Silvana yang akhirnya membuat ia berkata jujur pada Jopi dan Maria.
"Jadi, ada sedikit kendala di sana. Komandan di hubungi Markas KODAM yang menanyakan mengenai bantuan itu. Takutnya, ada penggelapan dana yang di lakukan karena Batalyon kedatangan bantuan sebanyak itu tanpa ada konfirmasi ke KODAM." Jelas Silvana.
"Itu aja, Dok? Tidak ada yang lain lagi?" Tanya Maria yang membuat Silvana makin heran.
"Maksudnya?" Tanya Silvana.
"Barang kali Komandan melakukan pendekatan dengan Dokter Sisil." Jawab Maria yang membuat Silvana membelalakkan mata.
"Ngawur kamu ini, Mar. Bisa jadi skandal nanti kalau sampe orang lain dengar. Apa lagi kalau sampai ke telinga istri Komandan." Kata Silvana.
"Eh! Memang kapan Komandan menikah?" Tanya Maria dengan wajah terkejutnya.
"Benar sudah menikah kah, Komandan? Bukannya masih lajang?" Jopi pun turut bertanya-tanya hingga membuat Silvana menjadi kikuk.
"Memang Komandan belum menikah?" Tanya Silvana dengan setengah berbisik hingga membuat mereka bertiga saling menatap.
"Ah! Dokter Sisil ini, hampir saja kami semua, fans nya Komandan ini patah hati serentak." Protes Maria yang menduga jika Silvana hanya menebak-nebak saja.
"Saya kira, Komandan sudah menikah." Lirih Silvana dengan tatapan kebingungan.
"Mana ada, Dok! Komandan itu masih lajang. Informasi ini pasti akurat, karena Ajudannya sendiri yang membocorkan." Kata Jopi.
"Oh, begitu. Maaf, ya, saya gak tau." Kata Silvana sambil cengar-cengir.
"Pantas saja Komandan tinggal sendiri di perumahan Batalyon." Imbuh Silvana.
"Sepertinya bertambah satu lagi saingan kita untuk memperebutkan Komandan Kaivan." Celetuk Maria yang membuat ia dan Jopi tertawa, sementara Silvana hanya bisa menggelengkan kepalanya.
...****************...
Dua hari kemudian, setelah melaksanakan Apel, Miko kembali menghampiri Silvana yang sedang berjalan menuju ke Klinik bersama Jopi dan Maria.
"Dok! Dokter!" Panggil Miko yang membuat langkah Silvana dan dua rekannya terhenti.
"Ada apa, Ko?" Tanya Dokter Silvana.
"Komandan mengajak Dokter keluar." Jawab Miko yang menyampaikan perintah atasannya.
"Keluar untuk berkencan kah?" Tanya Maria dengan tatapan terkejut. Pasalnya, selama ini Komandan Kaivan itu tampak sangat sulit di gapai oleh wanita.
"Memangnya kenapa kalau Komandan menganjak Dokter Sisil berkencan? Kamu cemburu kah?" Tanya Miko yang justru meledek.
"Gila kamu! Tentu saja saya tidak cemburu kalau Komandan berkencannya dengan Dokter Sisil." Jawab Maria yang membuat Jopi dan Miko tertawa.
"Kalian ini apa-apan, sih? Main jodoh-jodohin orang aja." Protes Dokter Sisil.
"Ya barang kali benar jodoh. Jadi kita bisa merasakan punya Ibu di sini. Sudah dua tahun rasanya seperti anak piatu. Punya Bapak tapi tak punya Ibu." Jawab Miko yang kembali memecah tawa Maria dan Jopi.
"Kalo gitu kita usahakan punya Ibu seperti Dokter Sisil tahun ini." Kata Jopi.
"Tidak usah seperti Dokter Sisil. Biar Dokter Sisil saja yang jadi Ibu Komandannya." Sahut Maria yang kemudian tos dengan Jopi dan Miko.
Dokter Silvana sendiri hanya bisa menghela nafas panjang sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Ajudan Komandan dan juga dua rekannya.
Baru satu minggu berada di Markas Batalyon, ia mendadak di daulat menjadi Ibu dari para anak Piatu yang berada di Batalyon.
"Eh! Katanya mau pergi dengan Komandan? Tak jadi, kah? Kenapa malah haha hihi di sini?" Tanya Maria pada Miko.
"Alamak! Iya. Bisa-bisa di goreng Komandan Kaivan, aku nanti." Kata Miko.
"Ayo, Bu Dokter." Ajak Miko kemudian.
"Sebentar! Saya ambil tas di Klinik dulu." Jawab Silvana.
"Yasudah, kalau begitu nanti kami tunggu di dekat gerbang masuk saja." Kata Miko yang di jawab anggukan oleh Silvana.
Setelah mengambil tasnya yang ada di Klinik, Silvana kemudian berjalan menuju ke gerbang Batalyon. Disana, sebuah mobil jeep yang di tumpangi Komandan Kaivan, Miko dan Riki yang biasa mengemudikan mobil, sudah menunggu.
"Maaf, kalau menunggu lama." Ucap Silvana ketika sampai di mobil.
"Gak apa-apa, Dok. Kami juga baru sampai di sini." Jawab Miko yang kemudian membukakan pintu baris kedua untuk Silvana.
"Saya duduk di belakang?" Tanya Silvana.
"Iya, to! Kalau Dokter duduk di depan, lalu saya duduk di atap mobil?" Jawab Miko yang membuat Silvana tertawa.
Sementara itu, sepasang mata elang mengawasi interaksi antara Miko dan Dokter Silvana yang masih berada di luar mobil.
"Apa AC nya kurang dingin, Ndan? Sepertinya Komandan kegerahan." Ledek Riki yang tak kalah usil dari Miko.
"Jangan buat masalah, Riki." Sahut Komandan Kaivan yang nampaknya sudah hafal dengan kejahilan dua anak buahnya itu.
"Saya minta mereka cepat kalau begitu, supaya Komandan tidak kegerahan." Ledek Riki sambil terkekeh. Sementara Komandan Kaivan hanya bisa menghela nafas sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
Tin... Tin...
Riki membunyikan klakson mobil agar Silvana dan Miko segera masuk ke dalam mobil. Mendengar suara klakson mobil, Silvana dan Miko pun buru-buru masuk ke dalam mobil.
"Ee, kenapa lama sekali!" Protes Riki.
"Komandan sudah kegerahan itu." Imbuhnya kembali meledek Komandan Kaivan yang hanya terdiam pasrah.
"Komandan gerah? Padahal AC sudah full sampai mentok." Sahut Miko yang tentu saja paham dengan maksud Riki.
"Padahal sudah dingin gini, masak Komandan kegerahan?" Tanya Silvana dengan polosnya hingga memecah tawa Riki dan Miko.
"Jangan dengarkan mereka. Mulut mereka itu memang sesekali harus merasakan sepatu saya." Jawab Komandan Kaivan yang membuat Riki dan Miko langsung terdiam.
"Kita jalan, Komandan!" Ujar Riki yang kemudian melajukan mobilnya meninggalkan Markas Batalyon.
Sepanjang perjalanan, Komandan Kaivan dan Silvana lebih banyak diam. Hanya Riki dan Miko yang berisik di dalam mobil itu.
Namun, keberisikan mereka sama sekali tak membuat Silvana dan Komandan Kaivan terganggu. Justru hal itu menjadi hiburan untuk Silvana selama mereka berada di perjalanan.
"Komandan sudah menghubungi Ayah saya?" Tanya Sisil yang berusaha mengikis kecanggungan dengan pria yang duduk di sebelahnya.
"Sudah. Untungnya Beliau sangat kooperatif, makanya kita bisa mengambil bantuan itu di Bandara." Jawab Komandan Kaivan.
"Syukurlah." Ucap Silvana dengan lega.
Hanya percakapan itulah yang terjadi antara Silvana dan Komandan Kaivan selama dua jam menempuh perjalan menuju ke Markas KODAM sebelum mereka pergi ke Bandara.
"Kamu tunggu di sini saja dengan Riki. Saya hanya sebentar ke dalam." Pesan Komandan Kaivan ketika mereka sampai di Markas KODAM.
"Iya, Komandan." Jawab Silvana dengan patuh.
"Astaga, benar-benar orang yang irit bicara. Pantas saja kalau belum punya istri. Jodohnya pasti adalah orang yang punya kesabaran seluas samudra." Batin Silvana sambil menatap punggung Komandan Kaivan yang berjalan menjauh.
duh penasaran bin penisirin ini
Ayo komandan cpet datang...
jgn smpae ad prtumpahan darah y thor 😡😡😡
semangat untuk terus berkarya kak, selalu keren untuk ceritamu, semoga selalu diberi kesehatan agar selalu bisa berkarya 🫰
semangat Thor