NovelToon NovelToon
L.S. Underworld

L.S. Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Mafia
Popularitas:303
Nilai: 5
Nama Author: ANDIKA,312

Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 6

Matahari yang kian merendah memancarkan warna merah darah di sepanjang garis pantai Vespucci Beach. Andika baru saja hendak menyedot rokoknya kembali saat nalurinya sebagai anak jalanan mendadak berdesir tajam. Ada langkah kaki terburu-buru yang menapak pasir keras di belakangnya.

Secara refleks, Andika menoleh.

Hanya beberapa meter di belakangnya, berdiri Shen dengan tatapan dingin, dikelilingi tujuh orang pria berjas hitam. Tato naga menyembul dari kerah baju mereka, dan di tangan masing-masing sudah menggenggam pistol serta moncong MAC-10 yang mengarah tepat ke dadanya.

"Ancuk!" maki Andika spontan.

Tanpa membuang mikrodetik, Andika melompat dari kayu gelondongan tepat saat raungan senapan submesin memecahkan ketenangan pantai!

Dada-dada-dada-dat!

Pasir pantai berhamburan dihantam hujan peluru. Beruntung, refleks cepat Andika berhasil membawanya berguling dan melompati sebuah tembok semen pembatas jalan setapak pantai.

Brak!

Sambil bersandar di balik tembok semen yang mulai terkikis sabetan peluru, Andika menarik pistol otomatis dari balik jaket kulitnya. Mengatur napas yang mendadak menderu, ia mengintip sedikit dari celah tembok dan mengarahkan bidikan.

Bang! Bang!

Dua tembakan presisi dilepaskan Andika. Seorang anak buah Shen roboh seketika di atas pasir dengan dada tertembak, sementara satu orang lainnya teriak kesakitan saat peluru Andika menembus bahunya!

"Sialan! Dia punya reaksi cepat! Kepung tembok itu!" teriak Shen memberi perintah sambil terus melepaskan tembakan.

Peluru terus membanjiri tembok tempat Andika berlindung. Beton semen di sekitarnya hancur berhamburan. Andika menghitung jumlah tembakan dan posisi musuh—tujuh orang bersenjata otomatis terlalu berat untuk dihadapi sendirian di area terbuka.

Saat melihat celah ketika musuh mengisi ulang magazin, Andika memutuskan untuk memutar otak: ia harus mundur.

"Mobil... sial, mobil terkepung!" gumam Andika panik saat melihat dua anak buah Shen sudah berdiri mendekati Declasse Vigero ZX Matte Black miliknya di pinggir jalan.

Tak punya pilihan lain, Andika berbalik dan berlari sekuat tenaga menembus gang-gang pemukiman di sekitar Vespucci Beach. Ia melompati pagar, meliuk-liuk menghindari brondongan peluru yang terus mengejarnya dari belakang.

"Kalian empat orang, kejar anak itu! Jangan sampai lolos!" perintah Shen pada anggotanya.

Sementara empat anak buahnya mengejar Andika yang berlari menjauh, Shen melangkah mendekati Vigero ZX milik Andika. Shen menyiramkan bensin dari jeriken yang diambil dari mobil mereka ke kap mesin dan jok Vigero ZX, lalu menyalakan pemantik api dan melemparkannya.

BOOM!

Kobar api raksasa langsung melalap mobil muscle kesayangan Andika tersebut. Dalam hitungan detik, Vigero ZX hitam gagah itu berubah menjadi tumpukan besi tua yang terbakar hebat.

Sementara itu, napas Andika tersengal-sengal. Peluru masih terdengar memantul di dinding-dinding gang. Dengan sisa tenaganya, Andika melompati pagar kayu sebuah rumah warga dan bersembunyi rapat di balik tumpukan tong sampah serta tanaman tinggi di pekarangan belakang rumah tersebut.

Ia menahan napasnya rapat-rapat. Empat anak buah Shen berlari melintasi gang tepat di luar pagar, celingukan mencari keberadaannya, sebelum akhirnya berlari terus ke arah yang salah.

Setelah dipastikan aman, Andika terduduk lemas di tanah. Dengan tangan gemetar dan pakaian penuh debu, ia merogoh ponsel di saku celananya dan langsung menekan nomor L.J..

Di seberang sana, ponsel L.J. terus berdering di atas meja VIP Bahama Mamas. Namun, L.J. yang sedang mabuk berat diapit wanita-wanita bayaran dan tenggelam dalam musik house yang pekak sama sekali tidak mendengar ponselnya bergetar. Panggilan pun terputus begitu saja.

"Cok! Angkat, L.J.!" umpat Andika frustrasi.

Tanpa buang waktu lagi, Andika segera mengalihkan panggilan ke Lamar dan membuat panggilan grup bersama Franklin.

"Yo Andika, ada apa?" suara Lamar terdengar santai di telepon.

"Lamar! Franklin! Saya diserang!" potong Andika cepat dengan suara berbisik tapi panik. "Orang-orang Cina berjas hitam—Ying Long! Mereka menghadang saya di pantai! Mobil saya hancur terbakar dan sekarang saya dikepung!"

"WHAT?!" teriak Lamar dan Franklin bersamaan dari seberang telepon.

"Kau di mana sekarang, Andika?! Kau terluka?!" tanya Franklin panik.

"Saya berhasil lolos dan bersembunyi di pekarangan rumah warga dekat Vespucci. Tapi mereka masih menyisir area ini!"

"Dengar Andika, cari taksi atau jalan kaki lewat gang-gang sepi, langsung ke rumah saya di Davis sekarang juga!" perintahkan Lamar tegas. "Saya dan Franklin akan kumpul di rumah saya detik ini juga! Cepat!"

"Siap, saya meluncur sekarang!" balas Andika menutup telepon.

Andika merapikan pistolnya, mengintip situasi jalanan yang sepi, lalu melangkah cepat menembus kegelapan malam Los Santos menuju daerah Davis. Sementara itu, L.J. masih berada di dalam klub malam, sama sekali belum tahu bahwa perang terbuka antara kru mereka dan geng Ying Long baru saja meletus di jalanan.

Menahan napas yang terasa sesak di dada, Andika merayap keluar dari pekarangan rumah warga di Vespucci Beach. Ia berjalan cepat menyusuri gang-gang kecil yang gelap, menghindari lampu jalan utama dan sirine polisi yang mulai meraung dari kejauhan.

Setelah berjalan kaki beberapa ratus meter dan memastikan tak ada pergerakan anggota Ying Long yang mengikutinya, Andika menghentikan sebuah taksi kuning yang melintas di ujung jalan Strawberry Avenue. Ia masuk ke kursi belakang, merundukkan kepalanya dalam-dalam, dan meminta sopir taksi melaju cepat menuju kediaman Lamar di Davis.

Sementara itu, di depan klub malam Bahama Mamas, dentuman musik bass masih samar-samar terdengar memantul dari pintu kaca tebal.

Little Jacob melangkah keluar dengan jalan yang sedikit menyempit dan oleng. Langkah boots-nya berat, kepalanya berat oleh alkohol kelas atas, dan matanya merah di balik kacamata hitam. Dengan senyum lebar dan kepala yang masih dipenuhi kepulan asap kesenangan, L.J. berjalan santai menuju SUV hitamnya yang terparkir di sudut parkiran yang agak remang.

Ia membuka pintu mobil, merosotkan tubuh besarnya ke kursi kemudi, lalu melemparkan kunci ke dasbor.

Saat jemarinya yang panjang hendak menjangkau kunci kontak untuk menyalakan mesin, matanya yang redup menangkap layar ponselnya yang menyala di konsol tengah. Ada belasan panggilan tak terjawab bertubi-tubi dari Andika, Lamar, dan Franklin, disertai beberapa pesan teks darurat.

"Cho... wha' happen to dem bredda?" gumam L.J. berat dengan suara serak, mengerutkan dahi kebingungan.

Jemarinya baru saja menyentuh layar ponsel untuk menelepon balik Andika, saat bayangan gelap mendadak menutup kaca jendela samping mobilnya.

Tanpa ada peringatan, tanpa ada kata-kata.

Enam orang pria Tionghoa berjas hitam—anak buah Shen yang sudah melacak pergerakan L.J. sejak dari dalam klub—muncul dari balik kegelapan parkiran. Mereka mengepung SUV hitam itu dari berbagai sisi, mengangkat senapan submesin MAC-10 dan pistol otomatis mereka tepat ke arah kaca jendela!

DADA-DADA-DADA-DADA-DAT! BANG! BANG! BANG!

Raungan senjata otomatis memecah malam di luar klub. Kaca kendaraan hancur berkeping-keping diiringi hujan ratusan peluru berkaliber tinggi yang menembus kabin SUV tanpa ampun. L.J. bahkan tidak sempat meraih pistol di balik jaketnya atau menyalakan mesin.

Tubuh tingginya tersentak bertubi-tubi dihantam timah panas. Ponsel di tangannya terlepas, terlempar ke lantai mobil yang kini bersimbah darah segar.

Dalam hitungan detik yang brutal dan dingin, suara letusan senjata mendadak berhenti. Asap mesiu membumbung tebal dari dalam kabin SUV yang hancur berantakan. Enam anggota Ying Long itu menurunkan senjata mereka, menatap dingin ke dalam mobil untuk memastikan target mereka tak lagi bernapas, lalu berbalik dan menghilang dengan cepat menembus kegelapan malam Los Santos.

Little Jacob—spesialis senjata, kawan setia dari Liberty City yang baru saja merayakan kekayaannya—tewas secara mengenaskan di balik kemudi mobilnya sendiri. Di atas lantai mobil, layar ponselnya yang retak dan terkena cipratan darah masih menyala tipis, menampilkan nama Andika di daftar panggilan.

Taksi kuning yang ditumpangi Andika berhenti mendadak di depan rumah Lamar di kawasan Davis. Andika dengan terburu-buru melemparkan beberapa lembar uang rupiah ke sopir, lalu melompat keluar dan berlari kencang menerobos pintu depan rumah Lamar tanpa mengetuk.

Brak!

Pintu terbanting terbuka. Di dalam ruang tamu, Franklin dan Lamar yang sedang berdiri tegang langsung berbalik sambil menarik pistol mereka.

"Andika!" seru Franklin sambil menurunkan senjatanya.

Andika bersandar di tembok, napasnya memburu keras dengan pakaian yang kotor penuh debu pantai. "Gila, bung! Saya hampir saja tewas! Orang-orang Cina berjas hitam... mereka menghadang saya di pantai!"

Lamar mengepal jarinya erat-erat, matanya menyipit penuh amarah. "Ying Long... itu pasti anak buah Lee Dong! Bajingan-bajingan Chinatown itu!"

"Siapa sebenarnya mereka, Lamar? Kenapa tiba-tiba mereka mengincar kita?" tanya Andika sambil menerima sebotol air yang disodorkan Franklin.

Lamar menjelaskan dengan raut wajah sangat serius. "Ying Long itu sindikat gangster Tionghoa paling berbahaya di Los Santos Utara. Pemimpinnya namanya Lee Dong, dan tangan kanannya Shen—pria bertato yang dingin. Selama bertahun-tahun, mereka yang memegang monopoli seluruh jalur amunisi gelap di kota ini. Kehadiran bisnis kita minggu ini memotong omzet mereka lebih dari setengahnya! Mereka merasa tersenggol dan sekarang mau menghabisi kita!"

Franklin menggertakkan giginya. "Kita harus hubungi L.J. sekarang juga. Kita butuh pasokan senjata berat dari gudang sebelum orang-orang Ying Long menemukan tempat itu!"

Franklin langsung memutar nomor L.J. Ponsel itu berdering berkali-kali, namun tidak ada jawaban. Lamar dan Andika ikut mencoba menelfonnya secara bergantian, tetapi hasilnya tetap sama.

"Cok! Ke mana anak Jamaika itu?!" maki Andika dengan firasat yang makin tidak enak. "Tadi siang dia bilang ada di VIP room Bahama Mamas!"

"Ayo kita ke sana sekarang!" kata Franklin tegas sambil menyambar kunci mobilnya. "Kita cari L.J. sebelum anak buah Lee Dong menemukannya!"

Di saat bersamaan, di dalam ruang kerja bernuansa merah-emas di Chinatown, Shen berdiri tegang di hadapan Lee Dong.

"Melapor, Bos," kata Shen sambil menundukkan kepala. "Andika berhasil meloloskan diri di kawasan pantai. Tapi kami sudah membakar habis mobilnya sampai jadi abu."

Muka Lee Dong mendadak keruh, namun sebelum ia sempat mengamuk, Shen cepat-cepat melanjutkan pelaporannya.

"Tapi ada kabar baik, Bos. Anak buah kita berhasil melacak dan mengeksekusi Little Jacob di depan klub Bahama Mamas. Pria Jamaika itu mati di tempat di dalam SUV-nya."

Mendengar hal itu, senyum dingin menyungging di wajah Lee Dong. Ia menyesap teh hangatnya perlahan. "Bagus. Tanpa spesialis senjata dari Liberty City itu, jaringan mereka sudah kehilangan satu kaki."

Lee Dong kemudian menatap Shen dengan mata kening yang tajam. "Tapi pekerjaanmu belum selesai, Shen. Saya tidak mau ada sisa. Habisi Andika, Franklin, dan Lamar sekaligus! Runtuhkan seluruh kru mereka esok hari!"

"Siap, Bos. Esok hari mereka bertiga akan menyusul Little Jacob," jawab Shen tegas, menyetujui perintah sang bos besar.

Sementara itu, malam makin larut saat mobil Franklin berhenti di area parkir remang-remang di luar klub Bahama Mamas. Lampu sirine polisi dan garis kuning Police Line sudah melingkari area parkiran.

Andika, Franklin, dan Lamar melangkah keluar dari mobil dengan jantung berdegup kencang. Firasat buruk mereka menjadi kenyataan saat mata mereka tertuju pada SUV hitam milik L.J. yang kondisinya sudah hancur dipenuhi ratusan lubang peluru dan bercak darah kering di kaca kendaraan.

Lamar terduduk lemas di samping mobil, sementara Franklin menutup mukanya dengan kedua tangan.

Andika mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rekan yang baru tadi siang tertawa dengannya di telepon, kini telah tewas secara mengenaskan. Api dendam membakar mata Andika di tengah kegelapan malam Los Santos—perang antara mereka dan geng Ying Long kini resmi tak bisa dihindari lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!