NovelToon NovelToon
PENGANTIN SANG JENDERAL

PENGANTIN SANG JENDERAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:253
Nilai: 5
Nama Author: Dede Queen

Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.

Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".

Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.

Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.

Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 — Bayang di Atap Kota

Asap pagi masih mengepul tipis di atas atap-atap kayu ibu kota ketika Li An menapakkan kakinya di punggung ubin keramik yang dingin. Angin membawa bau debu, kayu terbakar, dan sesuatu yang lain — bau logam tajam, bau pedang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Kita tidak bisa masuk lewat gerbang utama," bisiknya, menoleh ke arah Ling Yue yang berjalan tertatih di belakangnya. Wajah gadis itu masih pucat, perban di lengan kanannya basah oleh keringat dan darah yang merembes. "Pasukan kekaisaran sudah menutup semua jalan masuk. Sepertinya mereka tahu kita datang."

Ling Yue mengangkat wajahnya, matanya yang jernih menatap ke arah menara pengawas yang menjulang di kejauhan. Bendera kekaisaran berkibar pelan di sana, namun di sampingnya terpasang lambang lain — seekor elang hitam dengan sayap yang terkembang lebar, lambang yang seharusnya sudah hilang dari peta dua puluh tahun lalu.

"Itu lambang Klan Langit Gelap," suaranya bergetar pelan. "Mereka bukan sekadar ada di balik kudeta ini, Li An. Mereka sudah menguasai ibu kota sepenuhnya."

Li An mengeratkan genggamannya pada gagang pedang di pinggang. "Kalau begitu, Kaisar..."

"Kaisar mungkin sudah tidak berkuasa," potong Ling Yue pelan. "Itulah sebabnya semua pesan dari istana terhenti. Mereka menahan kaisar, menguasai gerbang, dan memerintah atas namanya sendiri. Seluruh negeri berjalan menuju perang tanpa rakyat tahu siapa yang sebenarnya memegang kendali."

Di samping mereka, Rouran yang sejak tadi diam saja tiba-tiba melangkah maju. Wajahnya yang biasanya ceria kini tertutup bayangan gelap. Ia mengeluarkan selembar kain lusuh dari saku dadanya — peta yang digambar tangan, dengan tanda silang merah di bagian tengah kota.

"Ada terowongan tua," ucapnya pelan. "Kakekku pernah bercerita. Dibangun pada masa perang saudara, menghubungkan kuil kuno di kaki bukit langsung ke halaman belakang istana. Tidak ada yang tahu selain keturunan penjaga gerbang rahasia. Dan..." Ia berhenti sejenak, menelan ludah. "Dan ayahku adalah salah satunya."

Li An menatapnya lekat-lekat. "Kau yakin jalan itu masih ada?"

"Harus. Selama tidak ada yang meruntuhkannya. Tapi kita harus berhati-hati. Jika Klan Langit Gelap sudah tahu soal terowongan ini..."

"Mereka pasti sudah memasang jebakan," potong Li An tegas. Ia menoleh ke arah keduanya, suaranya rendah namun mantap. "Tapi kita tidak punya pilihan lain. Jika kita menunggu di luar, pasukan mereka akan mengepung kita sebelum matahari terbenam. Satu-satunya cara menghentikan mereka adalah masuk ke jantung istana dan membuktikan pada rakyat siapa yang sebenarnya berkuasa."

Ling Yue mengangguk pelan, meski kakinya gemetar menahan sakit. "Aku ikut. Aku tahu tata letak istana lebih baik daripada siapa pun. Jika ada jalan keluar lain, aku akan menemukannya."

Mereka melintasi pinggiran kota dengan berjalan menyusuri lorong-lorong sempit di antara rumah warga. Suasana ibu kota yang biasanya riuh kini aneh sekali — jalanan kosong, pintu-pintu tertutup rapat, dan sesekali terdengar suara langkah kaki pasukan yang berpatroli di kejauhan. Di mana-mana terpasang pengumuman bertuliskan perintah darurat: siapa pun yang terlihat mencurigakan harus ditangkap atau dilaporkan segera. Tidak ada nama mereka, namun Li An tahu wajah ketiganya sudah digambarkan dan disebarkan ke setiap sudut kota.

"Di sini," bisik Rouran, berhenti di depan sebuah dinding batu yang tertutup semak belukar tua. Ia menyentuh batu tertentu dengan pola jari yang aneh — menekan tiga kali, lalu memutar ke arah kiri. Terdengar bunyi gemeretak pelan, dan bagian dinding itu bergeser perlahan, menampakkan lubang gelap yang berbau lembap dan tanah tua.

Udara di dalam terowongan terasa berat dan dingin. Mereka berjalan beriringan, hanya diterangi cahaya remang dari obor sederhana yang dinyalakan Rouran di dinding. Di sekeliling mereka tertulis ukiran-ukiran kuno — gambar perang, pahlawan yang gugur, dan naga yang melindungi gerbang negeri. Ling Yue melambatkan langkahnya melihat ukiran itu, seolah ada sesuatu yang akrab di sana.

"Ini bukan sekadar jalan rahasia," gumamnya pelan. "Ini jalan para pendiri dinasti. Dulu, hanya keluarga kekaisaran dan penjaga setia yang boleh melaluinya."

"Berarti Klan Langit Gelap belum tahu semuanya," ujar Li An. "Kalau mereka tahu nilai tempat ini, pasti sudah merusaknya."

Belum sempat Rouran menjawab, suara langkah kaki terdengar dari arah depan — bukan satu atau dua, melainkan puluhan, mendekat dengan cepat. Cahaya obor lain mulai tampak di kejauhan, memantul di dinding batu yang licin.

"Mereka menunggu kita," desis Rouran, mencabut pedangnya. "Ada pengkhianat di antara orang-orang yang dipercaya ayahku."

Li An berdiri di depan keduanya, pedangnya terhunus sepenuhnya. Cahaya obor di ujung lorong semakin terang, hingga akhirnya sekelompok prajurit berbaju zirah hitam berhenti beberapa langkah di depan mereka. Di barisan depan berdiri seorang pria bertubuh tinggi, wajahnya tertutup topeng perak berbentuk wajah elang.

"Jenderal Li An," suaranya berat dan bergema, seolah sengaja diubah agar tidak dikenali. "Kau telah melangkah ke tempat yang tidak boleh kau injak. Serahkan gadis itu, dan aku akan membiarkanmu mati dengan cepat."

Li An tertawa pelan, namun matanya tajam menatap sosok bertopeng itu. "Siapa kau? Mengapa bersembunyi di balik topeng? Apakah wajahmu terlalu memalukan untuk ditunjukkan pada rakyat yang kau tawan?"

Pria itu tertawa dingin. "Aku adalah tangan kanan penguasa baru negeri ini. Dan gadis di belakangmu — dia adalah kunci segalanya. Serahkan dia, atau ketiga kalian akan terkubur di sini bersama rahasia tua ini."

Ling Yue melangkah maju meski tubuhnya masih lemah. "Kau tidak akan mendapatkannya," suaranya jernih namun tegas. "Aku tahu apa yang kau cari. Giok itu, silsilah rahasia, bukti bahwa kalian merencanakan ini sejak bertahun-tahun lalu... Tidak akan kubiarkan jatuh ke tanganmu."

"Kau tidak punya pilihan," pria itu mengangkat tangannya, dan para prajurit di belakangnya melangkah maju serentak. "Kekuatan sudah berpihak pada kami. Istana ada di tangan kami, tentara tunduk pada perintah kami. Apa yang bisa kau lakukan sendirian?"

Li An melirik Ling Yue dan Rouran sekilas. "Bukan sendirian," ucapnya pelan namun mantap. "Kami bertiga."

Pertarungan itu meledak seketika. Li An menerjang ke depan, pedangnya menyambar dengan kecepatan yang hampir tak terlihat, menangkis serangan dua prajurit sekaligus. Namun jumlah mereka terlalu banyak. Satu lawan sepuluh, dua puluh... keunggulan musuh terlalu jelas.

Rouran bertarung di sisi lain, tubuhnya bergerak lincah di antara bayangan, menyerang dari sisi yang tidak disangka. Namun ia juga terdorong mundur, napasnya memburu. Di tengah keributan itu, Ling Yue merasakan sesuatu berdenyut di dadanya — giok yang ia pakai di leher terasa hangat, semakin hangat seiring dengan semakin dekatnya sosok bertopeng itu ke arahnya.

"Serahkan!" bentak pria itu, mengayunkan pedangnya ke arah gadis itu.

Namun sebelum pedang itu menyentuhnya, cahaya keemasan tiba-tiba memancar dari leher Ling Yue, menyilaukan siapa pun yang melihatnya. Pria bertopeng itu mundur terhuyung, menutupi matanya. Di saat itulah Li An melihat celah — ia melompat ke depan, ujung pedangnya menancap tepat di bahu kanan pria itu. Topeng perak itu terlepas dan jatuh ke lantai batu dengan bunyi denting yang nyaring.

Wajah yang tampak di baliknya membuat semua orang tertegun.

"Paman..." gumam Ling Yue nyaris tak terdengar.

Pria itu — Paman Mu, saudara kandung ibunya sendiri — menatap mereka dengan wajah pucat dan berdarah. Di matanya terlihat kemarahan bercampur kesedihan yang tak bisa dijelaskan.

"Kau..." suaranya pecah. "Bagaimana bisa kau..."

"Kau seharusnya sudah mati," desis Paman Mu, menekan luka di bahunya. "Sejak hari itu... seharusnya kau ikut pergi bersama ibumu."

"Kenapa?" tanya Ling Yue, suaranya bergetar namun ia tidak mundur selangkah pun. "Mengapa kau melakukan semua ini? Kau adalah bagian dari keluarga kami!"

"Keluarga?" Paman Mu tertawa getir. "Keluarga apa yang membiarkan adikku — ibumu — mati dibuang seperti sampah? Keluarga apa yang melihat keturunanmu dihina dan diusir? Aku melakukan ini demi membalas ketidakadilan itu! Aku ingin mengubah segalanya!"

"Kau mengubahnya dengan menindas rakyat lain? Dengan membunuh orang tak berdosa?" potong Li An tegas, melangkah berdiri di samping Ling Yue. "Balas dendam tidak bisa membangun negeri, Paman Mu. Itu hanya akan menghancurkannya."

Pria itu terdiam, napasnya memburu. Di kejauhan, suara gemuruh terdengar — tanah di bawah kaki mereka bergetar pelan.

"Terlambat," ucapnya pelan, senyum getir muncul di bibirnya. "Pasukan utama sudah bergerak. Tidak ada yang bisa menghentikannya sekarang."

"Kita akan lihat," kata Ling Yue tenang. Ia menatap paman kandungnya itu lekat-lekat. "Aku tidak akan melawanmu dengan pedang, Paman. Tapi aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan apa yang ibu lindungi sampai akhir hayatnya."

Ia berbalik, menarik tangan Li An dan Rouran. "Ayo. Kita harus sampai ke ruang takhta sebelum mereka mengeluarkan perintah terakhir."

Mereka berlari meninggalkan Paman Mu yang masih berdiri terpaku di tempat, menatap topeng perak di kakinya sendiri. Di belakang mereka, terowongan itu berguncang lebih kuat — seolah sesuatu yang besar sedang bergerak mendekat.

"Mereka menutup jalan di belakang kita," teriak Rouran, melihat dinding batu di ujung lorong mulai bergeser perlahan. "Kita harus cepat!"

Cahaya di depan semakin terang, menandakan pintu keluar sudah dekat. Namun ketika mereka melompat keluar dari terowongan itu, ketiganya terhenti.

Mereka berdiri di halaman belakang istana yang sunyi — bukan kosong, melainkan dipenuhi ratusan prajurit yang berdiri diam, menunggu. Dan di tangga utama istana, berdiri sosok yang tidak pernah mereka sangka akan melihatnya berdiri di sana.

Sosok itu menoleh perlahan, menatap mereka, dan tersenyum.

"Selamat datang," ucapnya lembut. "Aku sudah menunggu kalian sejak lama."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!