NovelToon NovelToon
Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Ribka pandiangan

Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Alex yang slalu mengalihkan topik

Lauren menggeleng pelan mendengar pertanyaan petugas medis itu. "Tidak ada, tapi nanti akan saya telepon teman saya untuk menjemput saya."

"Baik, Nona. Anda bisa duduk dulu di kursi tunggu sana sambil menghubunginya," kata petugas itu, membantu Lauren berpindah dari ranjang periksa ke salah satu kursi tunggu di sudut ruangan, meletakkan sepasang kruk kecil di sampingnya. "Kalau butuh bantuan lagi, saya masih di sini sampai setengah jam ke depan."

"Terima kasih banyak," jawab Lauren, tersenyum tipis meski masih menahan sisa rasa sakit di kakinya.

Petugas itu berlalu ke meja kerjanya sendiri di sudut ruangan, membiarkan Lauren duduk sendirian, ponselnya sudah di tangan, jarinya bergerak mencari nomor Ivy di daftar kontak. Ia menekan tombol panggil, menunggu beberapa detik sebelum akhirnya terdengar suara di seberang.

"Halo? Ivy, kau sedang sibuk tidak?" tanya Lauren begitu sambungan tersambung.

"Tidak juga, kenapa? Suaramu kedengaran aneh," jawab Ivy, nadanya langsung berubah waspada.

"Aku... sedikit kecelakaan tadi di kantor," Lauren mencoba menjelaskan sesantai mungkin, tidak ingin membuat Ivy terlalu panik. "Kakiku terkilir, tidak parah, cuma perlu dijemput karena aku tidak bisa naik bus sendirian sekarang."

"Astaga, Lauren! Kenapa bisa begitu?" Ivy terdengar panik di seberang sana. "Tunggu, aku ambil mantel dulu, aku ke sana sekarang juga. Kau di mana persis?"

"Di gedung kantorku, ruang P3K di lantai dasar sayap timur," jawab Lauren.

"Baiklah aku akan kesana." kata Ivy tegas sebelum menutup panggilan.

Lauren menatap layar ponselnya sejenak setelah panggilan berakhir, menghela napas lega mengetahui bantuan sudah dalam perjalanan. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding ruang P3K, membiarkan tubuhnya sedikit rileks meski rasa sakit di kakinya masih terasa berdenyut pelan.

Lauren menghela napas, menyandarkan punggungnya ke kursi tunggu, mencoba rileks sambil menunggu kedatangan Ivy. Ruangan P3K itu sepi, hanya suara samar petugas medis yang sesekali merapikan peralatannya di meja kerja, dan dengung pelan pendingin udara yang mengisi keheningan.

Ia menatap kakinya yang dibalut perban, sedikit berdenyut setiap kali ia mencoba menggerakkannya, mengingat kembali detik-detik menegangkan tadi ketika rak besi itu roboh menimpanya.

"Untung tidak lebih parah," pikirnya, mengelus perlahan bagian atas perban itu. "Kalau saja Frank tidak lewat tepat waktu, entah berapa lama aku akan terjebak di sana sendirian."

Ia mengecek ponselnya sekali lagi, memastikan tidak ada pesan atau panggilan lain yang mungkin terlewat, sebelum akhirnya menyandarkan kepalanya ke dinding, menunggu dengan sabar sambil membiarkan pikirannya melayang, mencoba menenangkan diri dari sisa-sisa kejut yang masih terasa di tubuhnya.

Petugas medis di meja kerjanya sesekali melirik ke arah Lauren, memastikan kondisinya tetap stabil, sebelum kembali sibuk dengan berkas-berkas kecil yang perlu ia rapikan sebelum jam kerjanya berakhir. Sesekali terdengar suara langkah kaki karyawan lain yang lewat di lorong luar, sebagian melirik penasaran ke arah pintu kaca ruang P3K sebelum melanjutkan langkah mereka, tidak berhenti untuk bertanya lebih jauh.

Tidak lama kemudian, pintu kaca ruang P3K terbuka, dan Ivy muncul dengan napas terengah-engah, mantelnya masih setengah terbuka seolah ia mengenakannya buru-buru sebelum keluar rumah.

"Lauren!" Ivy bergegas mendekat, wajahnya penuh kekhawatiran, matanya langsung tertuju ke kaki Lauren yang dibalut perban. "Astaga, kau benar-benar terluka. Apa yang terjadi sebenarnya?"

"Aku cerita di jalan saja," kata Lauren, mencoba tersenyum menenangkan sahabatnya itu. "Sekarang bantu aku berdiri dulu, ya? Kruk ini agak sulit kupakai sendirian."

Ivy segera membantu Lauren berdiri, menyelipkan kruk kecil itu di bawah lengannya, memapahnya perlahan menuju pintu keluar sambil sesekali melirik khawatir ke arah kaki sahabatnya. Petugas medis melambaikan tangan singkat dari mejanya, mengingatkan Lauren untuk kompres es secara rutin di rumah dan segera ke rumah sakit kalau rasa sakitnya tidak kunjung membaik.

Mereka berjalan pelan menyusuri lorong menuju pintu keluar gedung, langkah Lauren masih agak canggung dengan kruk barunya, sesekali meringis kecil setiap kali beban tubuhnya sedikit bertumpu pada kaki yang cedera. Ivy setia berjalan di sampingnya, siap menopang kapan saja dibutuhkan, wajahnya masih menyimpan kekhawatiran yang belum sepenuhnya reda.

"Kau yakin tidak perlu ke rumah sakit sekarang juga?" tanya Ivy begitu mereka keluar dari gedung, angin malam menyambut mereka dengan sedikit hawa dingin.

"Petugas medisnya bilang cuma terkilir, bukan patah," jawab Lauren, mencoba meyakinkan sahabatnya sekaligus dirinya sendiri. "Kalau besok masih parah, aku akan periksa lebih lanjut."

Ivy mengangguk, meski matanya masih menyimpan keraguan, memapah Lauren perlahan menuju halte taksi terdekat, bersiap membawanya pulang ke apartemen mereka yang hangat, jauh dari segala kekacauan yang baru saja terjadi di gedung megah tempat Lauren bekerja.

Sepanjang perjalanan pulang di dalam taksi, Ivy terus mencecar Lauren dengan pertanyaan, ingin tahu detail lengkap kejadian tadi, mulai dari kenapa Lauren harus naik tangga sendirian, sampai bagaimana rasanya saat rak besi itu roboh menimpanya. Lauren menjawab satu per satu dengan sabar, meski suaranya masih terdengar lelah, sesekali meringis kecil setiap kali taksi itu melewati jalan yang sedikit bergelombang.

"Kau harus lebih hati-hati lain kali," omel Ivy, meski nada suaranya lebih penuh kekhawatiran daripada kemarahan sungguhan. "Kalau ada apa-apa lagi, telepon aku duluan, jangan malah diam-diam menahan sakit sendirian."

"Iya, iya," jawab Lauren, tersenyum lelah, menyandarkan kepalanya ke jendela taksi, menatap lampu-lampu jalan yang berkelip melintas di luar. "Terima kasih sudah mau repot-repot jemput aku secepat ini."

"Untuk apa punya sahabat kalau bukan buat saling bantu," jawab Ivy, menepuk pelan tangan Lauren, senyumnya kembali muncul meski masih menyisakan kekhawatiran di matanya.

******

Di lantai tiga puluh delapan, suasana jauh berbeda dari ketegangan yang baru saja dialami Lauren beberapa lantai di bawah. Ruang kerja Alex diterangi lampu temaram, cahaya kota London yang mulai berkelip di kejauhan menembus jendela kaca besar, menciptakan suasana yang lebih santai dibanding jam-jam kerja biasa.

Alex duduk di sofa kulit hitam di sudut ruangannya, sebatang rokok terselip di antara jarinya, asapnya mengepul tipis ke udara setiap kali ia menghembuskannya perlahan. Di meja kecil di depannya, sebotol anggur merah sudah terbuka, dua gelas kristal terisi setengah, salah satunya dipegang Zara yang duduk di sofa seberang, kakinya disilangkan anggun, gaun kerja formalnya masih terlihat rapi meski hari sudah menjelang malam.

"Aku dengar rapat investor tadi berjalan lancar," kata Zara, menyesap anggurnya sedikit, nadanya santai, jauh dari ketegangan yang biasa mewarnai percakapan mereka belakangan ini.

"Cukup lancar," jawab Alex singkat, menyesap rokoknya sekali lagi. "Mereka setuju dengan proposal ekspansi ke pasar Asia. Tinggal urusan detail kontrak yang perlu diselesaikan minggu depan."

"Bagus," kata Zara, tersenyum tipis. "Ayahku akan senang mendengar itu. Dia selalu bilang, kerja sama kedua keluarga kita memang selalu menguntungkan."

"Bagi kedua belah pihak," tambah Alex, meletakkan rokoknya sejenak di asbak. "Perusahaan Whitmore juga diuntungkan dari setiap kesepakatan yang kita jalankan bersama."

"Tentu saja," Zara mengangguk, menyesap anggurnya lagi. "Meski aku tidak pernah terlalu peduli soal itu. Bagiku, urusan bisnis biar ayahku dan kau saja yang atur."

Alex hanya mengangguk, tidak menanggapi lebih jauh, matanya menatap asap rokok yang mengepul perlahan di depan wajahnya.

"Kau jarang sekali mengajakku minum santai begini," lanjut Zara, memperhatikan Alex dengan seksama. "Ada apa? Tumben."

"Tidak ada apa-apa," jawab Alex, meletakkan gelas anggurnya di meja. "Hanya ingin bersantai sejenak sebelum pulang."

Zara tertawa kecil, suaranya ringan. "Kau tidak pernah benar-benar bersantai, Alex. Aku mengenalmu cukup lama untuk tahu itu."

"Mungkin kau tidak mengenalku sebaik yang kau kira," balas Alex, nadanya datar, meski ada sedikit nada bercanda yang jarang sekali ia tunjukkan.

"Mungkin saja," Zara mengangkat bahu, menyesap anggurnya lagi, matanya menatap ke luar jendela, ke arah kota yang mulai diselimuti cahaya lampu malam. "Kau tahu, sebentar lagi acara pertunangan kita akan diperbarui statusnya, sesuai permintaan kedua keluarga. Mungkin sudah waktunya kita mulai membicarakan detail pernikahannya juga."

Alex tidak langsung menjawab, jarinya mengetuk pelan tepi meja, matanya menatap kota di kejauhan tanpa benar-benar melihatnya. "Tidak perlu buru-buru," katanya akhirnya, nadanya tetap terkendali. "Masih banyak urusan bisnis yang perlu diselesaikan dulu."

"Selalu bisnis," gumam Zara, meski tidak terdengar marah, lebih seperti sudah terbiasa dengan jawaban semacam itu. "Baiklah, aku tidak akan memaksa. Tapi jangan terlalu lama menunda, Alex. Ayahku mulai tidak sabar."

"Aku tahu," jawab Alex singkat, mematikan sisa rokoknya di asbak kecil di meja, gerakannya tenang dan terkendali seperti biasa.

Zara menyandarkan punggungnya ke sofa, memutar gelas anggurnya perlahan, memperhatikan cairan merah itu berputar sebelum kembali menatap Alex. "Kau tahu, aku sering bertanya-tanya, apa yang sebenarnya kau pikirkan tentang pernikahan kita nanti. Kau tidak pernah benar-benar membicarakannya, selalu mengalihkan topik setiap kali aku menyinggungnya."

"Tidak ada yang perlu dipikirkan berlebihan," jawab Alex, meraih rokok baru dari kotak peraknya, menyalakannya dengan gerakan yang sudah begitu terlatih. "Ini kesepakatan yang sudah disetujui sejak lama. Kita hanya perlu menjalaninya."

"Sekadar kesepakatan," ulang Zara, nadanya sedikit menurun, meski wajahnya tetap terjaga tenang. "Kau selalu memandangnya seperti itu."

"Bukankah memang begitu adanya?" Alex menghembuskan asap rokoknya perlahan, matanya menatap Zara lurus, tanpa emosi berlebihan. "Kita berdua tahu ini bukan soal perasaan."

Zara tersenyum tipis, meski senyum itu tidak sepenuhnya sampai ke matanya. "Benar. Kita berdua tahu itu."

Ia menyesap anggurnya sekali lagi, menatap Alex dengan seksama, seolah mencoba mencari sesuatu di balik wajah tenang pria itu. "Kadang aku bertanya-tanya, apa kau pernah membayangkan bagaimana rasanya menikahi seseorang karena cinta, bukan karena kesepakatan bisnis."

Alex terdiam sejenak, jarinya mengetuk pelan tepi gelas anggurnya. "Aku tidak punya waktu untuk membayangkan hal semacam itu."

"Jawaban yang sangat khas darimu," gumam Zara, tertawa kecil, meski tawanya terdengar sedikit hampa.

Mereka melanjutkan obrolan ringan beberapa saat lagi, membahas rencana bisnis lain, sedikit tentang keluarga masing-masing, suasana yang terasa jauh lebih santai dibanding pertemuan-pertemuan mereka belakangan ini yang lebih sering diwarnai ketegangan tersembunyi. Namun di balik ketenangan itu, pikiran Alex sesekali melayang, teringat laporan singkat yang baru saja ia terima dari Damian sore tadi, soal insiden kecil di ruang arsip lantai bawah tanah yang melibatkan salah satu karyawan divisi administrasi.

Ia belum sempat mencari tahu lebih detail siapa karyawan yang dimaksud, terlalu sibuk dengan rapat investor yang menyita waktunya sepanjang sore. Tapi entah kenapa, ada firasat samar yang mengganjal di benaknya, sesuatu yang membuatnya ingin segera memeriksa laporan itu begitu Zara selesai dengan obrolannya malam ini.

"Kau melamun," tegur Zara, menyadari Alex sedikit kehilangan fokus dari percakapan mereka.

"Hanya memikirkan pekerjaan," jawab Alex cepat, kembali memasang topeng ketenangannya yang biasa, meraih gelas anggurnya sekali lagi. "Lanjutkan saja."

Zara menatapnya sejenak, tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban itu, tapi memilih untuk tidak mendesak lebih jauh, kembali menyesap anggurnya sambil melanjutkan obrolan ringan yang tersisa malam itu. Tidak lama kemudian, Zara melirik jam tangannya, lalu berdiri dari sofa, merapikan gaunnya sebelum meraih tasnya.

"Sudah larut, aku harus pulang," kata Zara, tersenyum tipis. "Terima kasih untuk minumanya, Alex. Jarang sekali kita bisa duduk santai begini."

"Hati-hati di jalan," jawab Alex, tetap duduk di sofanya, tidak repot mengantar Zara sampai ke pintu.

Zara berjalan menuju pintu, berhenti sejenak sebelum keluar, menoleh sekali lagi ke arah Alex yang masih duduk sambil menatap kota di luar jendela. "Sampai jumpa besok," katanya, lalu melangkah keluar, meninggalkan Alex sendirian di ruangannya yang mulai sunyi.

Begitu pintu tertutup, Alex meraih ponselnya dari meja, jarinya bergerak cepat membuka pesan singkat dari Damian yang belum sempat ia baca lebih detail sejak sore tadi. Ia sempat melihat notifikasi itu masuk di sela-sela rapat investor tadi, tapi terlalu sibuk untuk membukanya lebih jauh saat itu.

Sekarang, dengan ruangan yang kembali sunyi, matanya menyusuri baris demi baris laporan itu, dan seketika, rahangnya mengeras begitu membaca nama yang tertera di bagian bawah pesan.

"Lauren Varles. Insiden di ruang arsip. Terluka pada bagian pergelangan kaki. Sudah ditangani tim medis gedung."

Alex berdiri cepat dari sofanya, gelas anggur di tangannya nyaris terjatuh sebelum ia meletakkannya kembali ke meja dengan gerakan tergesa, pikirannya langsung dipenuhi satu pertanyaan yang mendesak untuk segera dijawab.

1
Chenyu Wang
crita nya bagus saya baru baca separuh tapi udah langsung sreg.. lanjutin sampe tamat ya..🙏🙏
Chenyu Wang: sama2..🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!