NovelToon NovelToon
The Path To Godhood

The Path To Godhood

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Dikelilingi wanita cantik / Fantasi
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Made Budiarsa

Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?

Ikuti perjalanannya yang memegangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di mana ini?

Ketika para manusia menemukan cinta, mereka pada dasarnya memakan sesuatu yang baru.

Ia hanya ingat kalimat ini dan membuka matanya. Ketika ia berusaha mengingat kembali, kepalanya terasa sakit, seolah-olah pembuluh darah kepalanya tersumbat, menyebabkannya berteriak nyaring. Suaranya bergema di bawah tanah.

Di sekitarnya hanya ada kabut hijau dengan bebatuan yang runcing. Ia dikurung dalam jeruji besi. Tampak lusuh dengan pakaian yang warna aslinya tidak diketahui. Mungkin dulunya punya warna, namun sekarang tampak kecokelatan, bau, dan dalam sekali tarik langsung robek.

Ia melihat ke sekeliling sebentar, mencoba membuka sel. Ternyata dalam sekali dorong, engselnya hancur dan pintu sel itu terjatuh. Suaranya bergema menjauh dan terus menjauh. Telinganya cukup bagus mendengar suara-suara jarak jauh itu. Ia tidak mengingat apa pun, kecuali namanya sendiri, Xuan Han.

Melangkah keluar, tiba-tiba kepalanya jadi sakit dan tanpa sadar ia memegangnya. Rasanya pening dan penglihatannya menghitam sebentar sebelum akhirnya kembali normal. Dan ia tanpa sadar memegangi jeruji sel yang sudah tua dan berkarat itu.

Berjalan dengan lemas, Xuan Han tampak seperti seseorang yang terluka parah.

Tanah di bawahnya becek dan aroma gua ini terasa lembap. Barangkali ada banyak kelelawar yang tinggal di sini, sehingga Xuan Han dapat mendengar suara cit-cit yang ramai dari kejauhan. Aroma yang lembap ini juga dipadukan dengan aroma kotoran kelelawar dan juga air kencingnya sehingga terasa menyengat. Hidung Xuan Han terasa sakit sehingga beberapa kali ia menekannya sembari terus berjalan.

Lambat sekali, tapi selama ia berjalan suara tetesan air, kelelawar, dan beberapa suara yang tidak dikenalnya masuk ke telinganya. Terdengar jelas, tapi ia tidak tahu dari sejauh mana suara itu berasal. Xuan Han berjalan ke timur, ia bisa mendengar banyak suara dari sana. Barangkali di sanalah jalan keluar gua ini.

Ia tidak tahu mengapa dikurung di sini, dan mengapa juga ada kabut hijau yang tidak memiliki aroma. Xuan Han khawatir kabut ini beracun, tapi selama ia berjalan, semua terasa baik-baik saja.

Setelah sepuluh menit, akhirnya ia memegang batu di pinggir gua dan mendapati mayat yang telah menjadi tengkorak dengan balutan Hanfu yang kotor. Tergeletak dengan kepala bertumpu di atas batu. Kedua tangannya menyamping dan kedua kakinya diluruskan. Ada sebuah pedang berkarat di tangannya. Xuan Han menatapnya sebentar. Ia juga mendapati sebuah tusuk rambut tua di samping tengkorak tersebut. Jelas, ia seorang perempuan. Mungkin sebelum meninggal, ia sekarat di sini dan akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.

Xuan Han penasaran, mengapa ia tidak mendengar atau mengetahui wanita ini datang. Apa ia selama ini tertidur di sana, dan seluruh ingatannya menghilang? Atau... mungkin ada seseorang yang sengaja melakukannya.

Melihat mayat itu lagi, ia jadi menduga-duga. Pertama, wanita ini mati karena terluka setelah bertarung dengan seseorang atau hewan buas. Dan mencoba menyelamatkan diri di sini. Kedua, mungkin Xuan Han dan gadis ini datang bersama; Xuan Han dijebak dan wanita ini terluka. Ketiga, mungkin wanita ini adalah salah satu orang yang mengurungnya dan sebelum Xuan Han hilang ingatan, ia sempat melukainya.

Apa pun itu, Xuan Han mengambil tusuk rambut dengan bunga peony merah di ujungnya dan sebuah pedang berkarat tersebut.

Lanjut berjalan, akhirnya ia tiba di persimpangan. Gua ini ternyata sangat panjang. Ada suara kelelawar, serta kelabang merah besar yang merayap di dinding gua. Sepertinya juga ada ular besar karena suara mendesis terdengar jelas. Xuan Han ragu-ragu sebentar. Ia menatap pedang berkarat di tangannya. Jelas ini adalah pedang yang indah dan dibuat dengan sangat baik sebelumnya, namun sekarang terlihat buruk. Ia teringat dengan kalimat panjang tentang cinta itu dan bertanya-tanya, mengapa ia mengingatnya.

Ia lalu melangkah ke dalam genangan air dan menuju lorong gua dengan suara kelelawar.

Menurut pendengarannya, di jalan ini hanya terdengar suara kelelawar, jadi barangkali bahayanya jauh lebih sedikit.

Berjalan ke sana, tanahnya lembap dan Xuan Han juga berjalan di atas kerikil. Anehnya, telapak kakinya tidak terasa sakit, namun kerikil itu pecah-pecah menimbulkan suara gema yang panjang. Ia penasaran sehingga menatap telapak kakinya. Berjongkok mengambilnya dan berusaha menghancurkannya. Ternyata dalam sekali genggam, kerikil itu sudah menjadi abu yang jatuh dari telapak tangannya. Itu seperti pasir hitam.

Xuan Han merasa aneh tapi ia lanjut berjalan.

Setelah beberapa menit lagi, akhirnya ia melihat puluhan pasang mata merah di langit-langit gua. Para kelelawar itu sedang bergelantungan. Xuan Han terdiam sebentar di sana. Ia mendengarkan suara kelelawar itu beberapa saat, lalu dengan tenang berjalan di bawahnya sembari menginjak kotorannya yang terasa dingin. Xuan Han membenci semuanya, ia berusaha menahan napas.

Ketika melewatinya, ia menghela napas, berbalik sebentar, lalu akhirnya berjalan lagi.

Ia begitu gembira mendapati genangan air dan langsung membasuh kedua kakinya sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan.

Kabut hijau perlahan-lahan menipis dan semakin tipis setelah ia berjalan selama tiga puluh menit. Selama itu, ia tidak banyak merasa kelelahan lagi dan tubuhnya terasa jauh lebih kuat. Selain itu, ada banyak suara yang memasuki telinganya.

Berjalan lagi, ia akhirnya diam setelah melihat kelabang sepanjang sembilan puluh sentimeter merayap di dinding gua. Ia mengeluarkan pedang dan segera menusuknya. Kaki-kaki dan tubuhnya bergoyang-goyang dengan suara mendesis lalu akhirnya mati. Xuan Han melempar mayatnya dan melanjutkan berjalan. Sementara itu, ujung pedang tersebut mengeluarkan asap dan perlahan mencair.

Satu jam kemudian, berhenti lagi. Ada sebuah danau kecil di kelilingi dinding-dinding gua. Airnya berwarna biru cerah ketika cahaya matahari mendarat di sana. Apakah ini pagi atau sore hari? Ia tidak tahu dan segera berjalan di atas batu persegi empat yang berderet di permukaannya. Airnya terlihat sangat biru, Xuan Han tanpa sadar terus melihatnya.

Ketika sampai di ujung, ia segera melepaskan pakaiannya dan mandi sebentar. Lalu akhirnya memakainya kembali, lalu berjalan menaiki tangga menuju ke atas. Semakin lama semakin cerah dan ia perlahan-lahan mulai bisa melihat cahaya itu. Awalnya hanya cahaya cerah yang terus bersinar, perlahan semakin terang. Kedua telapak kakinya mulai merasakan panas dan sisa air danau di tubuhnya perlahan-lahan menguap.

Ketika mencapai ujung anak tangga, ia menutup dan membuka matanya.

Suara angin berdesir, burung-burung mengepakkan kedua sayapnya, dan pohon-pohon bergoyang. Xuan Han melihat langit biru dengan matahari yang cerah. Ia bertanya dengan tenang, “Di mana ini?”

1
Pena Quality
saling support
Budiarsa: Terima kasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!