NovelToon NovelToon
Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.

​Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.

~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 24 BISIKAN

**"

Angin malam menggigit, mengetuk-ngetuk jendela dengan tetes hujan yang deras dan tak kenal ampun. Di luar, langit gelap seperti tinta, kilat sesekali mencabik tirai langit, memperlihatkan bayangan pucat dari menara istana yang menjulang ke atas seperti pedang menusuk langit.

Di dalam kamar Grand Duke, suara badai terdengar lebih jauh, teredam oleh dinding batu dan tirai berat. Namun tetap terasa, seolah cuaca itu ikut menumpahkan kegelisahan yang tak bisa disuarakan.

Darian Ravengard terbaring di ranjang megah berukirkan lambang gagak perak, namun matanya tetap terbuka. Cahaya dari perapian yang mulai padam memantulkan siluet wajahnya yang tegang. Dadanya naik turun perlahan, bukan karena lelah fisik, tetapi oleh beban pikiran yang menggulung seperti badai di luar sana.

Di sampingnya, Iris terlelap lelap dalam balutan selimut sutra, napasnya lembut, tapi wajahnya sedikit berkerut. Sesekali ia bergerak pelan, satu tangan menempel pada perutnya yang membuncit, seolah mencoba menenangkan gejolak kecil dari dalam.

Darian menoleh, menatap istrinya dalam keheningan.

Apa kau sedang bermimpi buruk, Iris? Atau... anak kita sedang resah karena merasakan ketakutan ayahnya?

Ia duduk perlahan, menyandarkan punggung ke sandaran kepala ranjang. Tangannya terulur, mengusap rambut perak yang tergerai rapi di atas bantal. Lalu perlahan ia menunduk, meletakkan tangannya di atas perut istrinya, yang masih bergerak pelan-pelan.

“Kau masih terjaga di dalam sana?” bisiknya lembut, suara yang tak pernah ia gunakan di medan perang. “Kalau iya... dengarkan aku.”

Hujan menguat di luar, mengguncang jendela sesaat, membuat ruangan terasa lebih sunyi.

“Ayahmu... akan pergi dalam waktu dekat. Mungkin ke tempat yang tak bisa kau lihat. Mungkin ke tempat yang... berbahaya.”

Ia menghela napas, dan senyum tipis muncul di wajahnya yang muram.

“Dulu, aku tak pernah berpikir dua kali soal perang. Aku hidup di medan itu. Aku menang di sana. Aku berdarah di sana.”

Tangannya mengelus perut Iris, jari-jari besarnya terlihat kontras dengan kelembutan kulit sang Duchess.

“Tapi sekarang aku punya alasan untuk kembali. Satu alasan yang membuat semua keberanian itu... terasa menakutkan.”

Ia menunduk sedikit, bersandar pada perut Iris, seolah berbisik ke pusaka hidup yang sedang tumbuh di dalam.

“Kalau kau bisa mendengarku dari sana, dengarlah baik-baik... Jangan marah pada ibumu kalau kadang ia menangis diam-diam. Jangan protes terlalu keras kalau dia terlalu tegas padamu.”

Petir menyambar jauh di langit, membuat bayangan Darian tergambar sesaat di dinding seperti bayangan serigala yang mengawasi gua perlindungannya.

“Karena kau tahu? Dia... perempuan paling kuat yang pernah kutemui. Bahkan lebih kuat dari semua ksatria yang pernah kuperintah. Tapi kekuatan itu... tidak membuatnya kebal dari rasa sakit.”

Ia menatap wajah Iris. Perempuan itu tampak rapuh dalam tidur, tapi Darian tahu di balik keheningan itu, ada badai yang sama seperti di luar sana.

“Jadi tolong, kau... yang belum lahir ini... jagalah ibumu saat aku tak bisa melakukannya.”

Tangannya mengepal pelan di atas selimut.

“Berjanjilah, bahkan jika kau belum bisa bicara. Jangan buat ibumu meringis seperti tadi malam, jangan tendang terlalu keras, jangan buat jantungnya berdebar karena khawatir.”

Ia berhenti sejenak, matanya menatap cahaya redup di langit-langit.

“Karena aku... sudah cukup tersiksa mengetahui bahwa aku harus meninggalkan kalian. Tapi kalau kalian bisa saling menjaga... mungkin aku bisa bertahan lebih lama di medan perang.”

Perut Iris tampak bergerak perlahan, seolah memberi respons.

Darian menghela napas panjang, lalu menyandarkan diri kembali ke bantal. Ia menarik selimut lebih tinggi untuk Iris, memastikan istrinya tetap hangat.

Iris bergumam dalam tidurnya. “...Darian...?”

Darian menoleh cepat. “Aku di sini,” jawabnya pelan.

Iris tidak membuka mata. Hanya gumaman kecil yang keluar, “...Jangan terlalu lama…”

Darian menggenggam tangannya. “Aku akan kembali secepat mungkin. Demi kalian berdua.”

Ia mencium punggung tangan istrinya, lalu menatap wajahnya yang perlahan kembali tenang.

Dulu aku tak tahu apa itu rumah, batinnya. Tapi sekarang... aku tahu rumah itu adalah tempat yang membuat seorang Grand Duke takut pergi.

Petir kembali menyambar di luar. Tapi malam itu, suara hujan terasa lebih tenang bagi Darian karena untuk pertama kalinya, ia tahu untuk siapa ia akan kembali dari perang.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya... ia berharap bisa pulang lebih cepat, bukan karena menang, tapi karena ada dua jiwa yang menantinya dalam kehangatan.

**

Langit pagi masih kelabu ketika kereta kuda keluarga Ravengard meninggalkan pelataran istana kekaisaran Valeria. Kabut tipis menyelimuti pepohonan sepanjang jalan, dan hujan sisa semalam masih menetes malas dari dedaunan, menciptakan irama ritmis yang menghantam atap kereta. Roda-roda kereta mengaduk tanah basah, menimbulkan guncangan lembut yang terasa hingga ke dalam kabin mewah berlapis wol dan kulit rusa utara.

Di dalamnya, Iris duduk bersandar pada sisi kiri kereta, wajahnya pucat, napasnya pendek-pendek. Gaun biru tua yang ia kenakan tampak sedikit kusut akibat gerakan tubuhnya yang terus bergoyang seiring jalanan berbatu.

Tangannya yang satu memegang tepi jendela, dan yang lainnya menekan ringan perutnya yang terus bergejolak.

“Ugh... jalanan ini... terasa seperti medan perang,” desahnya pelan, matanya memejam dengan alis berkerut.

Darian duduk di sampingnya, satu tangannya tak pernah berhenti mengusap punggung istrinya dengan gerakan lembut namun mantap. Jemarinya besar, dingin tapi menenangkan. Sesekali ia memandang ke luar, tapi lebih sering menatap Iris diam-diam dengan sorot mata yang tak bisa ia tunjukkan dalam wujud kata.

“Kita hampir sampai ke batas wilayah,” gumamnya, seolah ingin menghibur. “Jalanan akan lebih mulus sebentar lagi.”

Iris membuka mata, menoleh padanya dengan pandangan lelah. “Kau yakin ini bukan rute pelatihan kavaleri berat?”

Darian terkekeh pelan. “Jika iya, aku akan mengajukan protes pribadi pada kapten pengawalku.”

Iris menghela napas panjang, lalu bersandar ke bahunya secara refleks. “Aku tahu kau ingin aku tenang... tapi tubuhku tak sebaik mulutku dalam bersikap anggun saat mual.”

“Kau lebih kuat dari yang kau sadari, Iris.”

“Dan kau... lebih tenang dari yang seharusnya,” balasnya cepat, menatap wajah Darian. “Ada yang kau sembunyikan dariku.”

Darian menahan napas sejenak. “Kau terlalu sensitif, Grand Duchess.”

Iris mencibir kecil. “Dan kau terlalu rahasia. Sudah kukatakan, jangan berani mencoba bersikap normal kalau hatimu sedang tidak di tempat.”

Darian tersenyum samar, tapi tidak membalas dengan jawaban.

Iris kembali bersandar, kini tangannya bergerak pelan ke atas perutnya.

“Dia ikut gelisah, kurasa,” bisiknya pelan, suaranya hampir hilang tertelan deru roda. “Aku bisa merasakannya. Ia tidak suka perjalanan ini... atau mungkin... tidak suka dengan kepergian kita dari tempat yang seharusnya terasa aman.”

Darian menunduk sedikit, memperhatikan perut istrinya. Ia mengangkat tangannya, menaruhnya di atas perut Iris, menyusul tangan istrinya.

“Katakan padanya... bahwa ayahnya tidak ingin pergi,” gumamnya lirih.

Iris terdiam, menoleh cepat. “Apa maksudmu?”

Darian langsung menarik kembali tangannya, berusaha tersenyum. “Tidak. Maksudku... aku tidak ingin terlalu jauh darimu. Itu saja.”

Tapi Iris adalah wanita yang mengenal suaminya lebih dari siapa pun. Ia memicingkan mata, menajamkan suara.

“Darian... ada sesuatu yang tidak kau katakan padaku.”

Darian menahan napas, memejamkan mata sebentar, lalu menjawab dengan nada datar, “Nanti. Saat kita sampai di Ravengard. Aku akan menjelaskannya.”

“Kenapa tidak sekarang?”

“Karena kau butuh tenang, Iris. Dan aku butuh memastikan bahwa kau cukup kuat untuk mendengar kebenarannya.”

Iris menggigit bibirnya, tubuhnya menegang sesaat. Ia lalu menoleh keluar jendela, tidak bicara lagi. Tapi tangan Darian masih di punggungnya, dan untuk alasan yang tidak bisa ia jelaskan, Iris membiarkannya di sana.

Beberapa menit berlalu dalam diam yang berat.

Lalu Iris berbisik tanpa menoleh.

“Kalau ini tentang perang... dan kau harus pergi... aku akan lebih marah jika kau tidak memberitahuku daripada kalau kau benar-benar pergi.”

Darian menatap ke arahnya, pelan-pelan. “Kau sudah tahu?”

Iris mengnoduk lemah. “Matamu tidak bisa berbohong, Darian. Matamu itu... terlalu jujur untuk seorang Grand Duke.”

Ia menarik napas pelan, lalu melanjutkan, “Aku tahu kau memikirkan banyak hal. Tapi aku bukan sekadar istri bangsawan yang hanya duduk menanti kabar. Aku adalah pendampingmu. Jangan bawa beban ini sendirian.”

Darian menatapnya lama, lalu mengnoduk pelan.

“Ya,” gumamnya. “Kaisar memintaku memimpin pasukan utama. Akan ada kemungkinan... kita pecah perang di perbatasan utara.”

“Berapa lama?”

“Tidak pasti. Tapi... mungkin berbulan-bulan.”

“Dan kau tidak akan ada saat aku melahirkan?”

Darian terdiam.

Iris mengalihkan pandangannya, rahangnya mengeras. Tapi saat ia berbicara, suaranya tetap lembut.

“Kalau begitu... setidaknya biarkan aku mengantarmu pergi dengan kepala tegak. Jangan biarkan aku mengetahuinya dari surat setelah kau hilang dari rumah.”

Darian mendekat, meraih tangannya. “Iris... aku akan kembali. Aku berjanji.”

Iris menggenggam tangan itu, meski matanya kini berkaca-kaca.

“Kalau kau tidak kembali... aku akan menyeret jiwamu sendiri kembali dari lembah kematian,” katanya dengan nada datar.

“Dan menyiksaku?”

“Tidak. Aku akan membuatmu mengganti popok anakmu selama seminggu penuh,” balas Iris.

Darian terkekeh pelan, menghela napas.

“Itu ancaman yang lebih menakutkan dari ribuan pasukan musuh.”

Iris tersenyum, meski lelah dan penuh luka yang belum pecah.

Kereta terus melaju, menuju Ravengard. Menuju rumah. Menuju perpisahan yang belum diucapkan.

Dan di dalamnya, dua hati yang saling mencintai tetap bergandengan... meski tahu, jalan mereka akan segera berpisah untuk sementara waktu.

***

Bersambung

1
Yue Li MZy
Cerita sebagus dan sekeren ini jarang didapatkan,tapi sekali didapatkan langsung haitus kadang gak dilanjutkan ditengah ².semoga KA uthor melanjutkan cerita nya sampai ending
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune terus yaaaa😚😚🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!