NovelToon NovelToon
Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kaya Raya
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.

Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.

Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 014: Api

Telepon Darmawan membangunkan Rian Prasetyo lewat tengah malam.

"Pak Bos." Suaranya pendek, tegang, dan tidak seperti biasanya. "Makmur Mart terbakar."

Rian langsung duduk.

Selama satu detik, otaknya kosong.

Lalu semua bayangan tentang rugi, sistem, omzet, dan siklus menghilang begitu saja.

"Karyawan kita?"

"Aman, Pak. Garuda Mart tidak kena api. Tapi asapnya tebal, warga sekitar panik. Kami sedang bantu evakuasi."

"Saya ke sana sekarang."

Rian tidak menunggu jawaban. Ia menyambar jaket, keluar dari kamar, dan berlari ke mobil yang sudah disiapkan. Bagas yang tidur di sofa kantor sementara ikut terbangun dan langsung menyusul.

"Bos, apa yang terjadi?"

"Makmur Mart terbakar."

Wajah Bagas berubah. "Garuda Mart?"

"Belum kena."

"Belum?"

Kata itu membuat keduanya diam.

Di jalan menuju kawasan komersial, Rian melihat cahaya merah berkedip di langit malam. Suara sirene memotong udara. Semakin dekat, bau asap makin kuat, menusuk hidung dan membuat dada berat.

Ketika mobil berhenti, pemandangan di depan mereka seperti mimpi buruk yang terlalu terang.

Makmur Mart di seberang jalan diselimuti asap. Api berkobar di bagian belakang bangunan, sementara petugas pemadam berusaha menahannya agar tidak menyebar ke toko-toko lain. Garis polisi mulai dipasang. Warga berkumpul di pinggir jalan, sebagian membawa anak kecil, sebagian masih memakai pakaian tidur.

Garuda Mart berdiri di sisi lain jalan.

Lampunya menyala.

Pintunya terbuka.

Dan karyawannya bergerak.

Bukan untuk menjual barang.

Mereka membagikan air mineral gratis. Beberapa membantu warga lanjut usia duduk di area parkir. Tim keamanan mengarahkan orang menjauh dari asap. Staf gudang mengeluarkan masker cadangan. Kasir yang biasanya memegang scanner kini memegang daftar nama warga sekitar.

Rian turun dari mobil dan langsung mencari Darmawan.

"Ada yang terluka?"

Darmawan berlari menghampiri. Wajahnya hitam oleh debu tipis, tapi suaranya tetap terkendali. "Belum ada laporan korban serius, Pak Bos. Beberapa warga batuk karena asap, sudah kami arahkan ke area aman. Pemadam bilang api tidak langsung mengarah ke sini."

Rian baru bisa bernapas.

Lalu amarah datang.

Tidak panas seperti Husein.

Dingin.

Berat.

"Siapa yang mulai?"

Darmawan menatap ke arah Makmur Mart. "Polisi sedang memeriksa. Tapi beberapa saksi melihat Pak Husein masuk ke area belakang sebelum api muncul."

Bagas menggertakkan gigi. "Orang itu benar-benar gila."

Rian tidak menjawab.

Ia berjalan ke depan Garuda Mart. Seorang anak kecil menangis di pelukan ibunya. Rian mengambil sebotol air dari karyawan dan menyerahkannya sendiri.

"Ibu duduk di dalam dulu. Jangan dekat asap."

Ibu itu terkejut saat mengenalinya. "Pak Rian?"

"Nanti bicara. Sekarang aman dulu."

Kalimat itu menyebar lebih cepat daripada instruksi resmi.

Pak Rian ada di sini.

Garuda Mart buka tempat istirahat.

Ambil air di sana.

Jangan panik.

Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, area parkir Garuda Mart berubah menjadi pos darurat kecil. Tidak sempurna, tidak direncanakan, tapi berjalan. Karyawan yang kemarin menandatangani pernyataan tidak pindah kerja kini membuktikan loyalitas dengan cara yang tidak pernah Rian minta.

Mereka tidak menunggu perintah.

Mereka bergerak karena merasa tempat ini milik mereka juga.

Beberapa warga merekam. Ponsel terangkat di mana-mana. Tapi kali ini Rian tidak peduli pada reputasi.

Ia hanya menghitung kepala.

Karyawan aman.

Warga aman.

Api tidak menyeberang.

Itu saja.

Seorang staf gudang datang tergesa-gesa. "Pak Bos, ada keluarga dari ruko sebelah belum menemukan neneknya."

Rian langsung menoleh. "Siapa yang terakhir lihat?"

Dua karyawan keamanan mengangkat tangan. Mereka tidak menunggu instruksi panjang. Bersama petugas lingkungan, mereka menyisir area aman di belakang Garuda Mart dan akhirnya menemukan perempuan tua itu duduk di dekat musholla kecil, batuk-batuk karena panik.

Rian sendiri mengantarnya ke area parkir yang lebih terbuka.

"Pelan-pelan, Bu. Sudah aman."

Perempuan itu menggenggam tangannya. "Terima kasih, Nak."

Kata itu sederhana.

Nak.

Bukan Pak Bos.

Bukan pemilik toko.

Hanya seorang anak muda yang kebetulan berada di sana saat malam menjadi buruk.

Untuk beberapa detik, Rian merasa semua uang sistem di dunia tidak ada artinya dibanding memastikan orang ini bisa duduk dan bernapas.

Menjelang dini hari, api berhasil dikendalikan. Bagian belakang Makmur Mart hangus. Papan nama depannya masih berdiri, tapi tampak seperti sisa kesombongan yang lupa runtuh.

Seorang perwira polisi menghampiri Rian dan Darmawan.

"Pak Rian Prasetyo?"

"Saya."

"Kami perlu keterangan singkat. Berdasarkan rekaman CCTV dari sekitar lokasi dan keterangan saksi, Pak Husein Maulana diduga kuat berada di area belakang Makmur Mart sebelum kebakaran. Tim kami sudah mengamankan yang bersangkutan."

Rian menatapnya. "Diamankan di mana?"

Perwira itu menambahkan, "Kami juga menemukan rekaman dari kamera jalan dan kamera toko sekitar. Untuk sementara, tidak ada indikasi keterlibatan Garuda Mart. Justru beberapa karyawan Anda membantu evakuasi sebelum petugas lengkap tiba."

Darmawan menghela napas yang sejak tadi ia tahan.

Rian baru sadar bahwa risiko fitnah itu nyata.

Jika bukti datang terlambat, satu malam seperti ini bisa berubah menjadi tuduhan besar.

Ia menatap para karyawan yang masih membagikan air.

Mereka menyelamatkan warga.

Tanpa sadar, mereka juga menyelamatkan nama Garuda Mart.

Perwira itu menunjuk ke sisi jalan.

Di dekat mobil polisi, Husein Maulana berdiri dengan tangan diborgol. Wajahnya kacau, rambutnya berantakan, matanya merah. Dua polisi menjaganya.

Ketika melihat Rian, Husein tiba-tiba berontak.

"Ini salah dia!" teriaknya. "Garuda Mart menghancurkan kami! Dia memaksa saya!"

Warga menoleh.

Kamera ponsel terangkat lagi.

Rian berjalan mendekat, berhenti beberapa langkah dari garis polisi.

"Saya tidak pernah menyuruh Anda membakar toko sendiri, Pak Husein."

Suara Rian rendah, tapi cukup jelas.

Husein tertawa kasar. "Kamu pikir kamu menang? Kamu pikir semua ini selesai?"

Polisi menahannya lebih kuat.

Perwira itu berkata dingin, "Pak Husein, semua keterangan bisa diberikan di kantor polisi."

"Lepaskan saya!"

Tidak ada yang melepaskan.

Saat Husein dimasukkan ke mobil polisi, ia masih berteriak bahwa Garuda Mart penyebab semuanya. Tapi kali ini tidak ada yang percaya.

Terlalu banyak orang melihat Garuda Mart membantu warga.

Terlalu banyak kamera merekam Husein dibawa polisi.

Terlalu banyak bukti membuat kebohongan kehabisan ruang.

Pagi harinya, berita menyebar ke seluruh Kota Tanjung Emas.

Makmur Mart terbakar.

Husein Maulana ditangkap.

Garuda Mart bantu evakuasi warga.

Video karyawan Garuda Mart membagikan air dan membantu warga tua menjadi viral. Komentar yang muncul tidak lagi hanya soal harga murah atau layanan cepat.

Garuda Mart bukan cuma toko.

Mereka jaga lingkungan.

Karyawan mereka luar biasa.

Pak Rian benar-benar beda.

Rian membaca komentar itu di kantor Garuda Mart dengan wajah lelah.

Fajar mengirim rangkuman percakapan publik dari Jakarta.

Isunya sudah menyeberang kota.

Beberapa akun bisnis menulis bahwa Garuda Mart adalah contoh bagaimana perusahaan lokal bisa menang lewat harga dan kepercayaan sekaligus. Ada juga yang mulai menyebut Rian sebagai pengusaha muda paling manusiawi di Jawa Tengah.

Rian menutup ponsel.

Ia tidak tahu mana yang lebih melelahkan: diserang musuh atau dipuji orang asing.

Darmawan berdiri di sampingnya. "Pak Bos, pemasok Makmur Mart mulai menghubungi kami. Beberapa ingin memutus kerja sama dengan Maulana Group cabang kota ini. Banyak pelanggan juga pindah permanen ke Garuda Mart."

Rian menatap jendela.

Di seberang jalan, Makmur Mart berdiri hitam dan kosong.

Secara bisnis, ini kemenangan.

Kemenangan besar.

Garuda Mart sekarang hampir menjadi satu-satunya supermarket besar yang dipercaya di Kota Tanjung Emas.

Secara sistem, itu berita buruk.

Tapi anehnya, Rian tidak merasa ingin berteriak.

Ia hanya merasa berat.

Kemenangan seperti ini bukan yang ia cari.

Ia ingin rugi, bukan melihat seseorang menghancurkan hidupnya sendiri dan membahayakan warga.

"Darmawan," kata Rian pelan.

"Siap, Pak Bos."

"Semua karyawan yang membantu semalam, catat. Beri bonus darurat. Warga yang terdampak asap, bantu kebutuhan medis dasar dan kebutuhan rumah hari ini. Pakai dana operasional yang sah."

Darmawan menunduk dalam. "Siap, Pak Bos."

Rian tahu apa yang akan terjadi.

Orang akan memuji lagi.

Media sosial akan lebih ramai.

Brand Garuda Mart akan makin kuat.

Tetap saja, kali ini ia tidak ingin menarik perintah itu kembali.

Keselamatan lebih penting daripada rugi.

Sore itu, setelah polisi membawa Husein untuk pemeriksaan lanjutan, Rian kembali ke kantor kecil di lantai atas Garuda Mart.

Ia baru duduk ketika ponselnya bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Rian mengangkat.

Suara di seberang terdengar dingin dan terkendali.

"Rian Prasetyo?"

"Ya."

"Saya Hasan Maulana."

Rian diam.

Nama itu seperti bayangan yang kembali dari pintu lama.

"Soal adik saya," kata Hasan, "saya minta maaf atas kekacauan yang dia buat."

Permintaan maaf itu terlalu rapi untuk terdengar tulus.

Rian menatap bekas asap yang masih menggantung tipis di luar jendela.

Hasan melanjutkan, "Tapi jangan salah paham. Anda hanya mengalahkan cabang kecil di Kota Tanjung Emas."

Suara itu menjadi lebih rendah.

"Anda pikir Makmur Mart hanya punya satu toko?"

Telepon terputus.

Rian menatap layar gelap ponselnya.

Di luar, Garuda Mart tetap ramai.

Di seberang, Makmur Mart tinggal bayangan hangus.

Rian perlahan menyandarkan punggung ke kursi.

Bos pertama tumbang.

Tapi ternyata, pintu menuju masalah yang lebih besar baru saja terbuka.

1
Ardan
masih ada lanjutannya author?
Ardan
sangat memahami ya Gas 😄👍
Ardan
ya betul Gas, ini kalimat berbahaya dari sang dewa 😂
Ardan
saluutte 👍
Ardan
wkwkwkwk hihi 😂
Ardan
tak masuk akal yang sungguh menggelitik rasa kemanusiaan tinggi, novel diisi dengan kebingungan, tawa, haru dan kebahagiaan.
Ardan
saya selesaikan baca bab ini dengan derai air mata, thor kamu musti tanggung jawab 😭
Ardan
sama bangetzzz
Ardan
asli ini membuat saya meneteskan air mata 😭
Ardan
bagas sejatinya kawan dalam segala situasi ☺️👍
Ardan
rian sang dewa filosofi😄
Ardan
amppuuunnn ini suatu keindahan yang ditunggu rian, namun semu tak tergapai 😄
Ardan
proyek besar, sebesar harapannya untuk rugi atw malah untung nih ?😄
Ardan
terharu bangettttt dengernya Gas 😭🤣
Ardan
jadi penasara, ekspektasi ini akan terwujud seperti apa yak 🤣?
Ardan
dan ngomen kocak lagi si bagus, "bemcana lucu" sueerrr deh ini keren 😄👍
Ardan
huasseeemmmm, bagas lemes banget ngomong bener nya 🤣👍
Ardan
ampuuuuunnn niat banget ngomentar nya si bagas 🤣
Ardan
astaga seindah ini bisnis dalam novel, brutalllll 😭
Ardan
cikal bakal menderita diatas kesuksesan nih, hehe 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!