Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.
Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.
Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.
"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."
Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.
Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.
"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21: Menemukan Komplotan
Daun tidur dengan lampu kamar menyala malam itu.
Tangannya tetap menggenggam ujung baju Hendry sampai ia benar-benar tertidur.
Jessica duduk di sisi ranjang, matanya masih merah. Berkali-kali ia menyentuh rambut Daun, seolah takut anak itu hilang lagi jika ia berkedip terlalu lama.
Hendry berdiri di pintu.
Ia tidak mengatakan bahwa semua sudah selesai.
Karena ia tahu belum.
Keesokan paginya, sebelum matahari tinggi, Hendry menelepon Budiman Suryadi.
"Aku ingin Rizal menyelidiki penculik kemarin."
"Saya sudah menunggu perintah itu, Pak Hendry."
"Jangan ganggu proses polisi. Ambil jalur luar."
"Mengerti. Saya akan hubungkan Anda dengan Rizal."
Satu jam kemudian, Hendry menerima pesan singkat.
Saya di tempat biasa. Si Pisau.
Alamat yang dikirim berada di kawasan ruko tua dekat jalur ekspedisi kota. Dari luar, tempat itu tampak seperti kantor jasa fotokopi dan pengurusan dokumen. Papan namanya sudah pudar.
Di dalam, suasananya berbeda.
Rak berisi map, layar monitor, peta Kota Biru, dan foto-foto kendaraan memenuhi dinding belakang.
Seorang pria berkacamata duduk di balik meja.
Kemeja putih.
Rambut rapi.
Wajah seperti pegawai kantor pajak.
Tidak ada yang akan menyangka pria itu adalah Rizal Suryadi, Si Pisau.
Ia berdiri ketika Hendry masuk.
"Pak Hendry."
"Rizal."
Mereka berjabat tangan.
Jari Rizal dingin dan tenang.
Di bawah lengan bajunya, Hendry melihat sekilas bekas sarung pisau tipis.
"Pelaku kemarin bernama Sabar Hadi," kata Rizal tanpa basa-basi. "Masuk daftar DPO di dua provinsi. Kasusnya penculikan anak, pemerasan, dan pengiriman orang melintasi wilayah."
Hendry menatap foto di meja.
Wajah pria bermasker itu kini terlihat jelas.
"Dia bekerja sendiri?"
"Tidak."
Rizal menaruh peta jaringan.
Beberapa nama dihubungkan dengan garis merah. Ada tempat persembunyian, bengkel mobil, perusahaan ekspedisi kecil, dan dua rekening penampung.
"Jaringan ini bergerak lintas kota. Mereka mengambil target dari mall, terminal, atau area sekolah. Anak orang biasa dipakai untuk pemerasan cepat. Anak keluarga kaya dijual ke jaringan lebih besar."
Udara di ruangan terasa turun.
Hendry memegang ujung meja.
"Siapa kepalanya?"
"Belum pasti. Saya baru punya lapisan kedua. Kalau kita bergerak sekarang, kepala mereka akan menghilang."
"Berapa lama?"
"Empat puluh delapan jam untuk struktur awal. Satu sampai dua minggu untuk mengunci pemimpin lapangan. Lebih lama jika ingin membongkar uangnya."
Hendry menatap Rizal.
Pria itu tidak menjual kepastian kosong.
Bagus.
"Jangan bunuh jaringan kecilnya dulu. Ikuti uangnya."
"Itu rencana saya."
"Dimas?"
"Sudah saya hubungi. Dia menelusuri rekening penampung dan kamera jalan."
Seolah dipanggil, laptop di meja menyala. Wajah Dimas Kurniawan muncul di panggilan video, rambutnya masih sama berantakan.
"Pak Hendry, saya dapat satu van cadangan yang mirip dengan van kemarin. Plat palsu. Pemilik asli tidak tahu. Saya sedang cari bengkel pembuat platnya."
"Jangan tinggalkan jejak."
Dimas tersenyum tipis. "Saya ini jejak yang menghapus jejak."
Rizal melirik layar. "Jangan sombong."
"Bang Rizal, kalau saya sombong, itu karena data mendukung."
Untuk pertama kalinya sejak penculikan, Hendry hampir tersenyum.
Tim ini bisa bekerja.
Sore hari, setelah dari tempat Rizal, Hendry pergi ke sebuah showroom mobil bekas yang bersih di pinggir kota.
Ia tidak memilih mobil mewah.
Tidak memilih Alphard.
Tidak memilih Mercedes.
Ia memilih sebuah VW Sagitar berwarna putih mutiara, kondisi bagus, kilometer rendah, dokumen lengkap.
Harga masuk akal.
Cukup nyaman.
Cukup aman.
Dan tidak terlalu mencolok.
Penjual mobil memuji panjang lebar.
"Ini cocok untuk keluarga muda, Pak. Istri antar anak sekolah juga nyaman."
Kalimat itu membuat Hendry langsung menandatangani.
Keesokan paginya, mobil itu sudah berada di depan PT Daun Kreasi.
Jessica keluar bersama Tina Larasati, melihat mobil putih itu, lalu berhenti.
"Mobil siapa?"
Hendry berdiri di samping pintu.
"Mobilmu."
Jessica menatapnya.
"Hendry."
"Temanku butuh uang cepat, jadi dia jual murah. Dokumen bersih."
"Aku tidak bisa menerima mobil begitu saja."
"Bukan begitu saja. Kamu harus antar Daun latihan tari, sekolah, dan pulang dari kantor. Setelah kejadian kemarin, aku tidak mau kamu dan Daun terlalu bergantung pada ojek atau taksi online."
Jessica ingin membantah.
Namun nama Daun membuat bantahannya berhenti.
Ia membuka pintu mobil.
Interiornya bersih. Tidak mewah berlebihan, tapi terawat. Di kursi belakang, Hendry sudah memasang child seat baru.
Jessica menatap child seat itu lama.
"Kamu bahkan sudah memasangnya."
"Agar kamu tidak punya alasan."
Tina di belakang mereka tersenyum diam-diam.
Jessica menoleh tajam. "Kamu kenapa senyum?"
"Tidak, Mbak. Mobilnya bagus."
Jessica menarik napas.
"Aku akan bayar cicilan."
"Tidak perlu."
"Hendry."
"Kalau kamu harus membayar, anggap ini investasi keamanan untuk Daun. Kamu boleh membayar dengan memastikan dia sampai rumah tepat waktu."
Jessica menatapnya.
Lalu perlahan, ia menerima kunci.
"Terima kasih."
Kata itu keluar lebih mudah daripada dulu.
Sore itu, Budiman datang ke Taman Indah Residence.
Ia tidak datang sendiri.
Rizal Suryadi berdiri di sebelah kirinya, membawa map hitam.
Dimas Kurniawan berdiri di sebelah kanan, membawa laptop tipis dan tas kabel yang tampak terlalu berat untuk tubuh kurusnya.
Bagus membuka pintu dan langsung menatap Rizal.
Rizal menatap balik.
Dua detik.
Bagus berbisik, "Orang ini kuat."
Dimas mengangkat tangan. "Saya tidak kuat. Saya cuma mahal."
Daun yang lewat membawa boneka menatap Dimas.
"Om rambutnya belum sisir."
Dimas memegang rambutnya dengan panik. "Ini gaya kerja, Dek."
Rizal tidak tersenyum, tapi sudut matanya bergerak sedikit.
Di ruang kerja, Budiman berdiri di depan Hendry dengan sikap resmi.
"Pak Hendry, saya datang untuk mengatur struktur tim lebih jelas."
Hendry duduk di balik meja.
Rizal dan Dimas berdiri tegak.
Budiman melanjutkan, "Rizal Suryadi, Si Pisau. Dia menangani intel lapangan, investigasi, dan operasi khusus. Dimas Kurniawan menangani sistem, data, pengawasan elektronik, dan informasi digital."
Dimas menambahkan pelan, "Juga memperbaiki Wi-Fi rumah kalau diminta."
Budiman meliriknya.
Dimas langsung diam.
"Mulai hari ini," kata Budiman, "mereka tidak menerima perintah dari siapa pun selain Anda."
Rizal menunduk.
"Saya siap, Pak Hendry."
Dimas ikut menunduk, sedikit lebih santai tapi tidak main-main.
"Saya juga siap."
Budiman menatap Hendry.
"Pak Hendry, jalan di depan akan lebih besar daripada yang sudah lewat. Anda membutuhkan tangan kanan dan tangan kiri yang bisa bergerak bahkan saat identitas Anda tetap tersembunyi."
Hendry memandang mereka satu per satu.
Bagus di pintu.
Rizal dengan map hitam.
Dimas dengan laptop.
Budiman yang sejak awal membuka jalan.
Di luar ruangan, Daun tertawa kecil karena mencoba sepatu tarinya. Jessica sedang menerima panggilan kerja di dekat jendela.
Semua alasan Hendry bertarung ada di rumah itu.
Ia berdiri.
"Baik."
Satu kata itu membuat ruang kerja menjadi lebih berat.
"Mulai hari ini, kita tidak hanya bertahan."
Mata Rizal tajam.
Dimas berhenti memainkan kabel tasnya.
Bagus menegakkan tubuh.
Hendry berkata pelan, "Kita mulai membangun kekuatan sendiri."