NovelToon NovelToon
PANGERAN YANG TERSEMBUNYI

PANGERAN YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Transmigrasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: subspace_illusion

Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENERUS MPU BHARADA

Sudah enam tahun berlalu semenjak Sena menanamkan benih dihati Anusapati

Di usianya yang kini genap delapan belas tahun, Sena tak lagi sosok remaja biasa. Tubuhnya tegap, sorot matanya makin tajam, dan pemikirannya jauh melampaui usianya.

Selama enam tahun menimba ilmu di Panawijen, ia telah menyerap habis seluruh kitab, falsafah, dan ilmu kebatinan yang dimiliki Mpu Parwa.

Di mata sang Mpu, Sena telah menyelesaikan masa perguruannya; ia adalah murid paling cerdas yang pernah dilahirkan padepokan itu.

Namun, bagi Sena, ilmu kebijaksanaan Mpu Parwa hanyalah landasan awal.

Pengetahuan tentang penataan jiwa dan kesucian tidak akan pernah cukup untuk menggenggam tatanan kekuasaan yang ia impikan.

Siang itu, di sudut ruang belakang padepokan yang sepi, Sena berdiri memperhatikan Ki Jiwo pria tua kepercayaan Mpu Parwa yang telah mengabdi di Panawijen sejak masa Tumapel masih dipimpin Akuwu Tunggul Ametung.

"Kau sudah menyelesaikan semua pelajaran dari Eyang Mpu, Sena," ujar Ki Jiwo sambil menumpuk gulungan lontar tua "Harusnya kau sudah siap mengamalkan ilmumu di masyarakat, atau hidup tenang sebagai petapa. Tapi matamu masih menunjukkan binar yang sama seperti enam tahun lalu."

Sena melangkah mendekat, menyandarkan tubuhnya pada tiang kayu. "Kebijaksanaan Eyang Mpu luar biasa, Ki. tapi aku masih ingin mencari lebih banyak lagi."

Ki Jiwo terhenti, mengamati pemuda di hadapannya itu dengan kening berkerut. "Apa lagi yang kau cari?"

Sena langsung mengutarakan keinginannya untuk mencari pewaris mpu Bharada, karena dari sejarah yang pernah dia baca dikehidupan sebelumnya, Mpu Bharada adalah seorang pendeta resi yang sangat sakti dan termasyhur pada masa pemerintahan Raja Airlangga abad ke-11 di Kerajaan Kahuripan.

Mendengar nama Mpu Bharada tokoh legendaris yang pernah membelah Kerajaan Kahuripan menjadi Janggala dan Kadiri mata Ki Jiwo melebar. Pria tua itu spontan menoleh ke sekeliling, memastikan tak ada cantrik lain yang mendengar.

"Jangan sebut nama itu sembarangan, Sena," bisik Ki Jiwo tegas. "Garis keturunan dan keilmuan Mpu Bharada adalah rahasia para raja. Ilmu itu terlalu besar dan terlalu berbahaya untuk digenggam satu orang."

"Maka dari itu aku membutuhkannya," balas Sena dingin, sorot matanya mantap tanpa keraguan. "Aku tahu Eyang Mpu Parwa memiliki hubungan dengan para juru pertapaan kuno.

Siapa penerus garis keilmuan Mpu Bharada yang masih hidup hari ini?"

Ki Jiwo menarik napas panjang, meremas jemarinya yang keriput. Ia sadar, menahan ambisi Sena saat ini bagaikan membendung air bah dengan jemari tangan.

"Ada satu nama," bisik Ki Jiwo akhirnya, suaranya sangat pelan. "Seorang resi yang mengasingkan diri di lereng bukit terlarang, jauh di perbatasan daratan Kediri. Namanya Mpu Ranajaya.

Beliau adalah pewaris tunggal kitab rahasia dan trah keilmuan Mpu Bharada."

Ki Jiwo menatap Sena dengan tatapan penuh peringatan. "Namun ingat, Sena... Mpu Ranajaya tidak sembarangan menerima murid. Beliau hanya mengajar mereka yang memiliki takdir besar, atau mereka yang cukup nekat untuk mempertaruhkan nyawanya demi kekuatan itu."

Sena tersenyum tipis sebuah senyuman penuh keyakinan "Terimakasih ki."

Sena melangkah meninggalkan gerbang kayu Panawijen tanpa menoleh lagi.

Di punggungnya terikat buntalan kain berisi sedikit bekal dan sebuah lontar petunjuk dari Ki Jiwo. Angin dingin berembus kencang, menyambut usia barunya yang ke-delapan belas dengan ketidakpastian jalan yang membentang di hadapannya.

Perjalanan menuju tempat persembunyian Mpu Ranajaya bukanlah perjalanan biasa.

Puncak pertapaan sang penerus trah Mpu Bharada itu tersembunyi di balik kawasan bukit terlarang di perbatasan daratan Kediri wilayah yang dilindungi oleh kabut abadi, jurang terjal, dan mitos bahwa tak seorang pun manusia biasa sanggup keluar hidup-hidup jika melangkah tanpa niat yang bulat.

Selama seminggu penuh, Sena menembus belantara liar. Ia melintasi sungai-sungai berarus deras, memanjat dinding batu yang licin, dan menahan rasa lapar yang menggerogoti fisik.

Namun, tak sekalipun langkahnya ragu. Setiap kali rasa lelah menghampiri, ingatan akan bayangan takhta dan ambisinya untuk menjadi pengendali para raja kembali membakar semangatnya.

Pada hari kedelapan, kabut tebal menyelimuti pandangannya. Udara di sekitar terasa sangat berat, penuh dengan aura gaib yang membuat bulu kuduk berdiri. Sena tahu, ia telah memasuki wilayah kekuasaan Mpu Ranajaya.

Seorang pria tua berdiri tenang di atas punden batu hitam. Perawakannya tegap dan kokoh meskipun usianya sudah sangat sepuh. Rambut putihnya terikat rapi ke belakang, dan janggut peraknya menggantung hingga ke dada. Matanya tajam, memancarkan kedalaman ilmu yang tenang namun sangat pekat.

Tanpa menggerakkan satu pun anggota tubuhnya, Mpu Ranajaya melirik Sena.

Dalam sekejap mata, gelombang tekanan aura kebatinan yang sangat dahsyat meluncur menghantam udara di sekitar mereka. Udara di sekeliling mendadak menjadi seratus kali lebih berat. Pepohonan di sekitar melengkung, tanah bergetar pelan, dan tekanan gaib itu langsung menghantam pundak Sena tanpa ampun.

Kedua lutut Sena terhentak keras menghantam tanah berlumut. Tubuhnya terdorong ke bawah, dadanya bagai dihimpit batu besar hingga napasnya sesak seketika. Keringat dingin langsung membasahi pelipis dan punggungnya.

Namun, sorot mata Sena tidak menyusut sedikit pun.

Dengan gigi bertaut rapat dan rahang yang mengeras, Sena menahan gempuran aura dahsyat itu. Darah di dalam tubuhnya mendidih, menolak untuk tunduk. Secara perlahan, Sena memaksa otot-otot kakinya bekerja kembali.

Satu kaki Sena terangkat. Ia memaksakan dirinya berdiri tegak di tengah tekanan aura yang makin menghimpit. Langkah demi langkah ia seret dengan payah, menembus gelombang energi yang terus berhembus menahannya, hingga akhirnya ia berhasil melangkah tepat berdiri di hadapan Mpu Ranajaya.

Mpu Ranajaya menarik kembali aura menakutkan itu dalam sekejap. Udara kembali tenang, namun mata sang Resi menatap Sena dengan rasa ingin tahu yang mendalam.

"Apa tujuanmu datang kemari, anak muda?" tanya Mpu Ranajaya, suaranya berat dan dalam bagai gema dari dasar bumi.

"Mencari ilmu" jawab Sena tegas, masih menata napasnya yang terengah-engah namun tatapannya tak setitik pun goyah.

Mpu Ranajaya menyipitkan mata. "Jika tujuanmu hanya mencari ilmu, kenapa harus jauh-jauh datang kemari? Banyak orang berilmu di luar sana."

Sena menegakkan badannya, menatap langsung ke dalam manik mata sang Resi.

"Aku mendapatkan petunjuk untuk datang kemari," ujar Sena mantap. "Hanya di sini, di bawah bimbingan penerus trah Mpu Bharada, aku bisa menemukan ilmu yang kucari."

Sena maju satu langkah, memberanikan diri menantang batas. Tanpa ragu sedikit pun, ia merentangkan tangan dan membusungkan dadanya di hadapan sang Resi.

"Jika Mpu masih meragukan niat dan kapasitas jiwaku." Sena menyunggingkan senyum tipis yang penuh keberanian. "Silakan baca ingatanku. Buka pikiranku, dan lihat sendiri apa yang kubawa!"

1
blue.rose
Suka banget sama Sena, kelihatannya aja polos dan suka merendah, tapi aslinya diam-diam mematikan. liciknya itu elegan, nggak cuma modal otot tapi pake otak juga. dalang dari segala kejadian deh pokoknya, seru abis.
subspace_illusion: Terima kasih banyak atas dukungannya! Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!
total 1 replies
Victoria
alur cerita punya pacing yang pas banget. elemen fiksi sejarahnya kuat, tapi dikemas modern dengan konflik emosional dan kejutan plot yang bikin penasaran di tiap bab. karakter utamanya tegas dan punya pendirian.
subspace_illusion: Terima kasih banyak atas dukungannya! Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!