NovelToon NovelToon
Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:935
Nilai: 5
Nama Author: Ricca Rosmalinda26

Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.

Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peringatan

Raoul dan aku memasuki bilik lima dengan langkah yang jauh lebih hati-hati daripada yang seharusnya.

Gedung opera telah lama ditinggalkan para penonton malam itu. Tidak ada suara percakapan, tidak ada derap kaki para pekerja, bahkan tidak terdengar alunan musik dari ruang latihan.

Hanya keheningan.

Keheningan yang begitu sempurna hingga suara langkah kami sendiri terdengar terlalu jelas.

Aku berhenti di ambang pintu dan menoleh ke lorong di belakang kami.

Kosong.

"Apakah kau yakin kita seharusnya berada di sini?" bisikku.

Raoul menatapku sambil tersenyum tipis.

"Kalau aku menjawab tidak, apakah kau akan kembali?"

Aku menggeleng, "Tidak."

"Kalau begitu, kurasa pertanyaan itu tidak terlalu berguna."

Aku memutar mata, "Kau masih sempat bercanda."

"Aku hanya berusaha membuatmu tidak terlalu takut."

Aku tidak menjawab.

Tatapanku kembali tertuju pada bilik lima.

Tempat ini seharusnya menjadi ruangan yang biasa saja.

Namun entah mengapa, sejak mendengar kisah tentang Phantom, setiap sudut gedung opera terasa menyimpan sepasang mata yang sedang mengawasi kami.

Raoul mendorong pintu perlahan.

Engselnya mengeluarkan suara berderit panjang.

Aku menahan napas.

Tidak ada apa-apa.

Bilik itu tampak sama seperti bilik penonton lainnya.

Tidak ada debu yang menempel di meja ataupun sandaran kursi. Kursi-kursi berlapis beludru merah tersusun rapi menghadap panggung. Tirai tebal menggantung di sisi bilik, dan ornamen emas yang menghiasi dinding masih berkilauan samar di bawah cahaya lampu.

Semuanya begitu terawat.

Terlalu terawat.

Aku berjalan masuk dan menyentuh sandaran salah satu kursi.

"Tempat ini benar-benar tidak terlihat seperti bilik yang dihantui."

Raoul mendekati meja kecil di sisi ruangan.

"Aku juga berpikir begitu."

Aku menarik tirai perlahan dan memeriksa bagian dalam bilik.

Tidak ada lorong rahasia.

Tidak ada pintu tersembunyi.

Tidak ada apa pun.

Aku mengembuskan napas.

"Kalau begitu, bagaimana mungkin Phantom bisa muncul di sini?"

Raoul menatap ke arahku.

"Aku sudah menanyakan hal itu kepada manajer."

"Dan?"

"Dia mengatakan bahwa dia tidak percaya pada kontrak Phantom."

Aku mengerutkan kening, "Jadi dia menjual bilik ini?"

"Benar."

Raoul berjalan mengitari ruangan.

"Namun, beberapa waktu kemudian, para pelanggan yang menempati bilik ini mulai mengeluh."

"Mereka melihat Phantom?"

"Bukan."

Raoul berhenti, "Mereka mendengar suara."

Aku menatapnya, "Suara?"

"Ya."

Dia mengangguk, "Para pelanggan mengaku mendengar seseorang berbicara kepada mereka. Anehnya, tidak ada seorang pun selain mereka di dalam bilik."

Aku menelan ludah.

"Apakah mereka mendengar suara yang sama?"

"Itulah bagian yang menarik."

Raoul menatapku, "Mereka mengatakan suara itu bahkan mengetahui sesuatu yang sangat pribadi."

"Sebuah rahasia?"

"Ya."

Aku mengerutkan kening.

"Bagaimana Phantom bisa mengetahui rahasia seseorang?"

Raoul mengangkat bahu, "Mungkin Phantom kita adalah seorang paranormal."

Nada suaranya terdengar seperti sedang bercanda.

Aku tidak tertawa, "Raoul."

Dia tersenyum, "Aku hanya mencoba mencari penjelasan."

"Dan kau tidak takut?"

"Takut?"

Dia menatap sekeliling bilik, "Aku justru penasaran."

Kemudian dia mendekat ke salah satu kursi.

"Aku ingin tahu apa yang akan dikatakan Phantom kepadaku jika dia benar-benar ada."

Aku hendak menjawab ketika...

Klik.

Semua lampu padam.

Aku membeku, "Raoul?"

Tidak ada jawaban.

"Raoul?"

Aku mengulurkan tangan dalam kegelapan.

"Kenapa tiba-tiba gelap?"

Sebelum aku sempat bergerak lebih jauh, sepasang tangan menyentuh bahuku.

Aku tersentak.

Jantungku hampir berhenti.

Namun tangan itu segera berpindah ke lenganku dan menahannya dengan lembut.

"Jangan takut."

Suara Raoul terdengar dekat sekali.

"Ini aku."

Aku mengembuskan napas lega.

"Ra-Raoul..."

"Tetap di sisiku. Jangan bergerak."

Aku mengangguk meskipun dia mungkin tidak dapat melihatnya.

"Baik."

Kami berdiri dalam kegelapan.

Aku dapat merasakan kehadiran Raoul tepat di sampingku.

Namun, justru karena tidak dapat melihat apa pun, pendengaranku menjadi jauh lebih peka.

Suara napas kami.

Detak jantungku.

Dan kemudian...

Whoosh.

Suara angin terdengar dari suatu tempat.

Aku membeku. Angin itu semakin keras.

Menderu seperti badai yang sedang mengamuk di luar jendela. Aku merapatkan tubuhku ke sisi Raoul.

"Raoul..."

"Aku mendengarnya."

"Tapi..."

Aku menelan ludah, "Tidak mungkin ada angin di sini."

Raoul tidak menjawab.

Kami berdua menatap kegelapan yang tidak dapat kami lihat.

Anehnya, tirai di samping kami sama sekali tidak bergerak.

Tidak bergoyang.

Tidak berkibar.

Seolah-olah angin itu tidak benar-benar berada di dalam ruangan.

Suara tersebut terdengar semakin keras.

Kemudian...

Lenyap.

Seketika.

Keheningan kembali menyelimuti bilik.

Aku bahkan tidak berani bernapas terlalu keras.

Beberapa detik berlalu.

Lalu cahaya menyala kembali.

Aku spontan memejamkan mata karena silau.

Ketika perlahan membuka mata, aku melihat kembali kemegahan bilik lima.

Ornamen emas di dinding memantulkan cahaya lampu.

Kursi-kursi merah tampak sama seperti sebelumnya.

Tidak ada yang berubah.

Raoul mengedipkan mata beberapa kali.

"Itu saja?"

Aku menatapnya, "Apa maksudmu?"

"Jika itu Phantom, dia hanya ingin menunjukkan bahwa dia dapat mengendalikan listrik dan angin?"

Aku menggeleng, "Entahlah."

Raoul melihat sekeliling.

"Atau mungkin ada sesuatu yang kita lewatkan."

Aku hendak menjawab ketika mataku tertuju pada meja.

Aku membeku.

"Raoul..."

"Apa?"

"Jangan bergerak." Nada suaraku membuatnya langsung berhenti.

Aku menunjuk meja dengan tangan gemetar.

"Di sana."

Raoul mengikuti arah pandanganku.

Sebuah benda tergeletak di atas meja. Sesuatu yang tadi tidak ada di sana.

Sesuatu yang begitu mencolok di tengah ruangan yang didominasi warna merah dan emas.

Sekuntum mawar merah.

Raoul berjalan mendekatinya.

Aku segera mengikuti.

"Jangan sentuh."

Raoul berhenti, "Kau yakin?"

Aku mengangguk, "Mawar itu tidak ada sebelumnya."

Raoul menatap bunga tersebut dengan serius.

Aku masih dapat merasakan dingin di ujung jariku, "Dia pasti ada di sini."

Raoul menatapku, "Siapa?"

Aku tidak perlu menjawab.

Phantom.

Dia pasti berada di dekat kami ketika lampu padam.

Mungkin dia melihat kami.

Mungkin dia mendengar seluruh percakapan kami.

Mungkin...

Dia bahkan berdiri hanya beberapa langkah dari kami ketika kami berusaha mencarinya.

Aku menatap mawar itu, "Ini bukan kebetulan."

Raoul mengangguk perlahan, "Kurasa tidak."

"Dia tahu kita datang."

Aku merasa tenggorokanku mengering.

"Dia tahu kita sedang menyelidikinya."

Raoul mengambil napas panjang.

"Dan dia ingin kita tahu bahwa dia menyadarinya."

Aku menatap mawar merah itu.

Aku merasa bahwa kami bukan lagi pihak yang mencari.

Kami sedang dicari.

Phantom tidak bersembunyi dari kami.

Dia membiarkan kami datang.

Membiarkan kami membuka pintunya.

Membiarkan kami bertanya.

Dan sekarang, dia sedang mempermainkan kami.

Aku mengepalkan tangan, "Dia mungkin sedang menertawakan kita."

Raoul menggeleng pelan, "Atau memperingatkan kita."

Aku menatapnya.

"Menurutmu mana yang lebih buruk?"

Raoul tidak langsung menjawab.

Tatapannya tetap tertuju pada mawar merah di atas meja.

"Entahlah."

Ia akhirnya berkata pelan, "Tapi aku mulai berpikir bahwa kita tidak sedang menyelidiki Phantom."

Aku merasakan bulu kudukku berdiri.

"Lalu?"

Raoul menatapku, "Mungkin Phantom lah sedang menyelidiki kita."

Keheningan kembali jatuh di antara kami.

Dan kali ini, aku tidak lagi merasa bahwa bilik lima adalah tempat yang kosong.

Aku merasa seseorang sedang berdiri di balik dinding.

Mendengarkan.

Menunggu.

Mengamati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!