NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Tanpa Bakat

Jalan Pedang Tanpa Bakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
​Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Mencelup Besi ke Dalam Es

​Semakin dalam Awan melangkah menuju pusat Reruntuhan Lembah Angin, lingkungan di sekitarnya menjadi semakin ekstrem.

​Angin yang semula hanya berupa hembusan kencang, kini telah berubah menjadi pusaran badai yang membawa serpihan batu tajam. Bagi kultivator di bawah Tingkat Delapan, berjalan di area ini tanpa pelindung Qi sama saja dengan membiarkan tubuh mereka dikuliti hidup-hidup.

​Namun bagi Awan, angin tajam itu hanya terasa seperti gesekan sikat kasar pada kulitnya.

​Ia menemukan sebuah gua tersembunyi di balik tebing yang melengkung ke dalam, sebuah tempat yang cukup aman dari jangkauan badai maupun monster. Awan menutup mulut gua itu dengan sebuah bongkahan batu besar, menjerumuskan dirinya ke dalam kegelapan total.

​Ia duduk bersila di atas lantai gua yang dingin. Dari dalam Kantong Penyimpanannya, ia mengeluarkan botol giok berisi Esensi Darah Siluman Angin Tingkat Tiga.

​Cahaya biru pendar dari cairan kental di dalam botol itu menerangi wajah Awan. Hawa dingin yang menusuk tulang langsung menyebar, membekukan uap air di udara sekitarnya.

​Awan teringat masa kecilnya saat memperhatikan sang ayah di bengkel pandai besi.

“Besi yang terus-menerus dipanaskan dan dipukul memang akan menjadi sangat keras,” kata ayahnya suatu ketika. “Namun besi yang hanya keras akan menjadi rapuh. Ia akan patah jika berbenturan dengan tenaga yang lebih besar. Agar besi itu menjadi pedang sejati, kau harus mencelupkannya ke dalam air dingin pada suhu yang tepat. Kejutan suhu itu akan mengubah struktur besinya, membuatnya tidak hanya sekeras intan, namun lentur bagaikan tali busur.”

​Otot dan tulang Awan saat ini persis seperti besi panas tersebut. Rebusan Teratai Magma telah memberinya kepadatan dan kekerasan yang tak tertandingi di alam fana, tetapi hal itu membuat pergerakannya sedikit kaku. Benturannya dengan kapak emas Wu Kang menyadarkannya bahwa tubuhnya masih memendam getaran yang bisa menghancurkan organ dalamnya jika ia tidak bisa meredamnya.

​"Waktunya proses pendinginan," gumam Awan.

​Tanpa ragu sedetik pun, Awan menenggak habis Esensi Darah Siluman Angin itu ke dalam mulutnya dan menelannya.

​TESS... ZRAAAASH!

​Begitu cairan biru itu menyentuh lambungnya, sensasi dingin yang melampaui kematian meledak di dalam tubuhnya. Darah Awan yang sebelumnya selalu mendidih akibat efek sisa Teratai Magma, seketika membeku. Urat-urat di leher dan lengannya menonjol keluar, warnanya berubah menjadi biru pucat berlapis es tipis.

​"ARGH!" Awan menggigit bibirnya hingga berdarah.

​Ini adalah rasa sakit yang sama sekali berbeda dari rasa panas. Rasa panas membakar dari luar ke dalam, namun rasa dingin ini seakan membekukan sumsum tulangnya, membuatnya rapuh hingga ia merasa tulangnya akan hancur menjadi serpihan es hanya dengan bernapas.

​Sisa-sisa energi Teratai Magma di dalam sumsumnya memberontak. Panas ekstrem dan dingin ekstrem kini bertabrakan hebat di dalam tubuh fana Awan. Kulitnya di bagian dada memerah seperti besi pijar, sementara lengan dan kakinya membiru membeku.

​Jika aku diam, tubuhku akan hancur terbelah dua, batin Awan. Bergerak!

​Ia memaksa tubuhnya yang kaku dan beku untuk berdiri. Ia mencabut pedang Kayu Besi Hitamnya. Tangan kanannya gemetar hebat, nyaris tak sanggup menahan beban lima puluh kilogram karena ototnya membeku.

​Awan menarik napas pendek dan putus-putus, memutar pinggulnya, dan mengayunkan pedang itu ke depan.

​Swush...

Ayunan pertamanya lambat dan lemah. Sendi-sendinya berderit ngeri.

​Namun, ia tidak berhenti. Satu.

Ia memaksakan ayunan kedua. Dua.

Ayunan ketiga. Tiga.

​Awan mulai mempraktikkan Seni Pedang Dasar Angin Jatuh dan Langkah Besi Jatuh secara bersamaan di dalam gua sempit itu. Ia menggunakan seluruh pergerakan ototnya sebagai palu tempa dari dalam. Setiap kali ototnya berkontraksi, ia memaksa energi es dari darah siluman itu bertabrakan dengan sisa api magma di sumsumnya.

​Satu jam berlalu. Ayunan Awan mulai bertambah cepat.

Dua jam. Pedang kayunya mulai menciptakan ledakan udara di dalam gua.

​"Seribu lima ratus!" teriak Awan parau.

​Uap panas dan kabut es mengepul dari pori-porinya secara bersamaan. Kulit tembaganya mulai mengelupas, digantikan oleh lapisan kulit baru. Keajaiban evolusi fana sedang terjadi di luar nalar hukum kultivasi spiritual.

​Tulangnya yang semula kaku dan keras akibat magma, kini mulai menyerap fleksibilitas dari energi elemen angin tingkat tiga tersebut. Otot-ototnya yang sebelumnya besar dan menonjol seperti monster, perlahan menyusut menjadi lebih ramping, padat, dan memanjang bagaikan serat baja karbon tingkat tinggi.

​Ketika ayunan ke sepuluh ribu selesai, Awan jatuh berlutut, menopangkan berat tubuhnya pada pedang kayunya.

​Gua itu dipenuhi oleh kabut tebal. Awan bernapas perlahan, merasakan perubahan di dalam dirinya.

​Ia tidak lagi merasa berat. Seluruh kekakuan di ototnya telah hilang. Saat ia mengepalkan tangannya, ia merasakan ledakan tenaga yang jauh lebih presisi dan terkendali. Kulitnya kini berwarna perunggu bersih, tidak lagi terlihat kasar, melainkan mulus dan menyembunyikan daya hancur absolut di baliknya.

​"Keras seperti berlian untuk menahan serangan, lentur seperti cambuk untuk melepaskan tenaga," Awan tersenyum tipis, merasakan kekuatan murni meresap di setiap inci dagingnya.

​Ia telah mencapai batas mutlak dari manusia biasa. Tubuhnya kini setara dengan Siluman Buas Tingkat Tiga. Jika diukur dengan standar kultivator, murni dari segi kekuatan fisik dan daya tahan, Awan kini setara dengan seorang ahli di Alam Fondasi Roh.

​Dua hari kemudian.

​Sebuah menara hitam pekat menjulang tinggi menembus langit abu-abu, seolah menyangga awan-awan badai di atas Reruntuhan Lembah Angin. Itulah Menara Warisan Pusat.

​Di pelataran luas di sekeliling menara tersebut, berkumpul ratusan kultivator muda. Mereka adalah para jenius dari berbagai faksi yang berhasil bertahan hidup dari bahaya reruntuhan pinggiran.

​Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa masuk ke dalam menara.

​Menara itu dilindungi oleh sebuah dinding angin puting beliung raksasa. Angin itu bukan angin biasa, melainkan Badai Pemotong Tulang, sebuah formasi alam yang akan mencabik-cabik siapa saja yang mencoba melewatinya.

​"Sialan! Aku sudah membuang tiga jimat pelindung Tingkat Menengah, dan badai ini masih belum bisa kutembus!" umpat seorang pemuda berjubah mewah, salah satu pemimpin faksi Murid Luar.

​Di sisi lain pelataran, berdiri sekelompok pemuda yang memancarkan aura luar biasa. Pemimpin mereka adalah Zhao Meng, pemuda berkipas lipat yang dulu menertawakan Awan di Ujian Tangga Seribu Beban.

​Berkat Meridian Kelas Limanya, Zhao Meng telah menjadi Murid Dalam dan bahkan menembus Puncak Alam Pengumpul Qi Tingkat Sembilan hanya dalam waktu setengah tahun. Ia dikirim ke reruntuhan ini melalui kuota khusus untuk mencari peluang menembus Alam Fondasi Roh.

​"Minggirlah, sampah," ucap Zhao Meng angkuh, melangkah maju mendekati badai tersebut. "Angin ini memiliki hukumnya sendiri. Melawannya dengan perlindungan fisik adalah tindakan bodoh. Kau harus menyatu dengan afinitas anginnya."

​Zhao Meng merentangkan kedua tangannya. Aura Qi elemen angin berwarna hijau pekat menyelimuti tubuhnya. Ia melangkah perlahan memasuki dinding badai raksasa tersebut.

​Sorak-sorai kekaguman terdengar dari para pengikutnya. "Lihat! Kakak Senior Zhao Meng berhasil! Badai itu tidak memotongnya!"

​Memang benar, dengan afinitas angin tingkat tingginya, Zhao Meng mampu membuat celah kecil pada badai tersebut dan berjalan maju sepuluh langkah. Namun, saat ia mencapai pertengahan ketebalan badai, tekanan angin melonjak sepuluh kali lipat.

​Wajah arogan Zhao Meng berubah pucat. Qi pelindungnya mulai retak. Serpihan angin tajam menembus pertahanannya dan merobek jubah sutranya, melukai bahu dan pipinya.

​"Ugh!" Zhao Meng memuntahkan darah dan segera melompat mundur keluar dari badai, jatuh terduduk di tanah pelataran dengan napas terengah-engah.

​Keheningan melanda pelataran. Jika seorang jenius elemen angin dari Sekte Dalam saja gagal menembus badai itu, lalu bagaimana dengan mereka?

​"Ini mustahil," gumam seorang Murid Luar dengan putus asa. "Kecuali kita berada di Alam Fondasi Roh, tidak ada yang bisa melewati badai ini!"

​Tepat saat keputusasaan mulai menyelimuti para kultivator, terdengar suara langkah kaki yang berat dan teratur dari arah ngarai batu di belakang mereka.

​Tap... Tap... Tap...

​Kerumunan menoleh. Sesosok pemuda berpakaian jubah biru yang robek-robek berjalan perlahan mendekati pelataran. Jubahnya penuh debu merah, punggungnya dihiasi sebuah pedang kayu hitam yang besar, dan wajahnya datar tanpa emosi.

​Beberapa murid yang pernah menonton turnamen arena seketika membelalakkan mata.

​"I-Itu... Si Pelayan Fana! Awan!"

"Dia masih hidup?! Kudengar Klan Wu mengerahkan seluruh elit mereka untuk memburunya!"

"Tunggu, di mana kelompok Kakak Senior Wu Kang?"

​Awan tidak memedulikan tatapan kaget, sinis, maupun penasaran dari ratusan kultivator di sana. Ia bahkan tidak melirik Zhao Meng yang sedang diobati oleh para pengikutnya. Awan berjalan lurus, membelah kerumunan yang tanpa sadar mundur memberinya jalan karena aura buas tak kasatmata yang dipancarkan oleh tubuh perunggunya.

​Awan berhenti tepat di depan dinding Badai Pemotong Tulang yang raksasa itu.

​"Apa yang akan dilakukan si idiot itu?" cibir salah satu pengikut Zhao Meng. "Bahkan Kakak Senior Zhao terluka parah. Manusia fana itu pasti akan tercincang menjadi daging giling jika dia mendekat!"

​Awan tidak mengaktifkan jimat. Ia tidak merapal mantra sihir pelindung.

​Ia hanya menghela napas panjang, menurunkan titik berat tubuhnya ke telapak kakinya menggunakan Langkah Besi Jatuh. Otot-otot di bawah kulit perunggunya menegang, mengeras melampaui baja, namun tetap mempertahankan kelenturannya.

​Lalu... ia melangkah masuk.

​ZRAAAAAASH!

​Angin badai yang mengerikan langsung menerkam tubuh Awan bagai ribuan gigi gergaji mesin. Jubah birunya seketika hancur berkeping-keping, meninggalkan bagian atas tubuhnya bertelanjang dada.

​Ratusan murid menahan napas, menunggu darah fana menyembur dari tubuh Awan.

​Namun, yang terjadi selanjutnya membuat rahang mereka jatuh menyentuh tanah.

​Bilah-bilah angin spiritual yang bisa memotong batu karang itu... memantul! Setiap kali angin tajam itu menghantam dada, punggung, atau wajah Awan, hanya terdengar suara dentingan nyaring seolah angin itu memotong permukaan logam lentur. Serangan yang membuat kultivator Tingkat Sembilan muntah darah, bahkan tidak mampu meninggalkan satu goresan pun pada kulit perunggu Awan.

​Langkah Awan sangat stabil. Tidak cepat, tapi tidak pernah terhenti. Ia seolah menganggap badai mematikan itu hanyalah angin sepoi-sepoi di musim semi.

​Dalam diam yang mencekam, disaksikan oleh ratusan jenius spiritual yang tak berdaya, manusia fana itu berjalan menembus rintangan alam tertinggi dengan murni menggunakan tubuh dagingnya.

​Ia menembus badai, dan perlahan sosoknya menghilang di balik gerbang Menara Warisan Pusat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!