Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18: Kedai Kopi dan Wanita Bermata Elang
Keesokan siang, Bima berkeliling lantai produksi sebelum jadwal makan.
Beberapa staf perempuan sudah mengenal reputasinya. Begitu ia memeriksa pintu darurat, seorang desainer mengangkat gulungan kain seperti mikrofon.
"Bang Bima, hari ini siapa yang mau dipukul pakai sandal?"
"Belum ada daftar. Kalau Mbak menghalangi pintu darurat dengan kain itu, mungkin gulungannya yang saya sita."
"Kejam sekali."
"Keselamatan kerja memang nggak romantis."
Tawa ringan mengikuti langkahnya. Bima tetap memindahkan dua kotak yang menyempitkan jalur evakuasi dan meminta staf gudang menandatangani catatan pemindahan.
Menjelang makan siang, Vanya dan Gita keluar dari ruang kerja. Bima sudah menunggu dengan BMW di depan lobi.
"Kita ke kedai kopi dekat kantor," kata Vanya. "Hanya satu jam."
"Siap, Bu Vanya."
Gita masuk ke kursi belakang dan mengangkat pergelangan tangan. Gelang berlian kemarin masih terpasang.
"Bang Ahli, hari ini kelihatan asli atau belum?"
Bima melihat melalui kaca spion. "Kalau setiap hari harus ditanyakan, mungkin pemiliknya yang kurang yakin."
"Aku bisa menyuruhmu turun."
"Boleh. Tapi Bu Vanya yang menyetujui gaji sopir."
Vanya menahan tawa sepanjang perjalanan pendek itu.
Kedai kopi dipenuhi karyawan kantor dan beberapa pebisnis yang sedang bertemu klien. Bima memilih meja yang memiliki pandangan ke pintu utama dan akses samping. Ia tidak duduk membelakangi jendela.
Di meja dua baris dari mereka, seorang perempuan berpakaian putih gading sedang berbicara dengan dua pemasok teh. Wajahnya tenang, suaranya tidak tinggi, tetapi para lawan bicara mendengarkan tanpa berani memotong.
Dua pria berdiri di dekat mejanya.
Yang pertama, Wisnu, memiliki bahu lebar dan telapak penuh kapalan. Yang kedua, Bayu, lebih ramping tetapi langkahnya hampir tanpa suara. Tarikan napas keduanya panjang dan stabil.
Puncak Tenaga Dalam, nilai Bima dalam hati.
Mereka bukan sekadar pengawal berbadan besar.
Gita mengikuti arah pandangnya. "Itu Laras Maheswari. Pemilik Sekar Arum. Bisnis batik dan tehnya sampai Bandung."
"Teman Bu Gita?"
"Kenal di lingkaran bisnis. Dia jarang dekat dengan orang. Dan nggak ada yang berani macam-macam di depannya."
Laras menandatangani satu halaman, lalu mengangkat mata. Tatapannya bertemu Bima sepersekian detik.
Mata elang, pikir Bima. Perempuan itu terbiasa melihat siapa yang berpura-pura.
Pesanan datang. Percakapan mereka kembali ke pekerjaan. Vanya membahas jadwal kunjungan pemasok, Gita mengeluh gelangnya menjadi bahan lelucon, dan Bima sesekali menjawab sambil mengawasi pantulan kaca.
Tiga pria telah berdiri terlalu lama di seberang jalan.
Salah satunya berkepala botak. Dua lainnya mengenakan jaket meski siang panas. Seorang pria keempat memegang ponsel secara horizontal dari dalam warung kecil, lensanya mengarah ke pintu kedai kopi.
Bima belum tahu siapa mereka. Namun pola mereka jelas: kamera sudah siap sebelum konflik dimulai.
Ia memotret pantulan mereka melalui kaca, bukan mengarahkan ponsel secara terang-terangan. Foto, lokasi, dan nomor pelat motor yang terparkir di dekat pria botak dikirim kepada Pak Hadi dengan pesan singkat: kemungkinan provokasi terencana, simpan salinan dan siapkan bantuan.
"Ada masalah?" tanya Vanya, menangkap perubahan kecil pada tatapannya.
"Empat orang mengawasi pintu. Satu merekam sebelum ada kejadian. Bisa saja kebetulan, tapi kita perlakukan sebagai risiko."
"Kita panggil polisi sekarang?" tanya Gita.
"Belum ada tindak pidana yang terlihat. Kita bisa minta petugas kedai menjaga rekaman CCTV dan menghindari kontak. Kalau mereka mengikuti atau menghalangi, baru kita punya dasar yang lebih jelas."
Vanya memanggil manajer kedai ke meja. Tanpa membuat keributan, ia meminta rekaman dari pintu utama dan area parkir tidak dihapus hari itu. Manajer menyetujui serta menugaskan seorang staf mengawasi dari kasir.
Bima memeriksa lokasi kamera milik kedai. Dua lensa menutup pintu utama, tetapi jalur samping hanya terlihat sebagian. Orang yang memilih titik ini telah melakukan pengamatan, meski tidak sempurna.
Ia tidak mengatakan apa pun sampai Vanya dan Gita selesai makan.
"Kita keluar lewat pintu samping," katanya kepada mereka.
Gita mengangkat alis. "Kenapa?"
"Ada kemungkinan gangguan di depan. Tetap dekat saya dan jangan membalas ucapan siapa pun."
Vanya langsung mengangguk. Ia mengirim lokasi kepada Pak Hadi dan meminta lobi Larissa siaga. Bima juga menyalakan perekam suara di ponselnya sebelum memasukkannya ke saku dada.
Gita membuka nomor darurat di layar tanpa menelepon lebih dulu. "Kalau mereka mendekat?"
"Rekam dari belakang saya. Jangan berdiri sejajar dengan tangan mereka. Kalau terlihat senjata, masuk lagi dan kunci pintu."
"Kamu?"
"Saya memastikan mereka mengikuti arah yang bisa direkam."
Vanya tidak menyukai jawaban itu, tetapi melihat posisi empat orang di luar membuatnya menahan perdebatan.
Pintu samping tetap mengarah ke area parkir yang sama. Ketika mereka keluar, tiga pria itu sudah berpindah.
Pria botak menghadang jalur menuju BMW.
"Wah, mobil mahal," katanya. "Orang kaya memang suka mengambil jalan seenaknya."
Bima menggeser tubuh menutup Vanya dan Gita. "Kami tidak mengenal Anda. Beri jalan."
"Namaku Yono Botak. Ingat baik-baik."
Dua anak buahnya menyebar. Ponsel di warung tetap merekam, tetapi sudutnya hanya menangkap punggung Yono Botak dan wajah Bima.
"Tadi bahumu menyenggol orangku di dalam," kata Yono Botak. "Minta maaf sambil berlutut."
"Saya tidak masuk ke area meja kalian. Kamera kedai bisa membuktikan."
Jawaban itu membuat Yono Botak kehilangan satu alasan. Ia melangkah lebih dekat dan sengaja menyenggol dada Bima.
Bima tidak membalas.
"Bu Vanya, Bu Gita, bergerak ke kiri," katanya.
Di sebelah kiri terparkir Jaguar hitam milik Laras. Bodinya lebar dan posisinya dekat dinding kedai, membentuk sudut perlindungan yang hanya bisa dimasuki dari satu arah. Bima memilihnya bukan untuk merusak mobil, melainkan karena dua perempuan akan lebih aman dari pipa jika berlindung di balik mesin dan rangka kendaraan.
Vanya serta Gita mengikuti tanpa berdebat.
Yono Botak memberi tanda. Salah satu anak buah mengeluarkan pipa besi dari balik jaket.
Sekarang alasan membela diri sudah ada, tetapi Bima masih menahan tangan. Ia mundur sambil menjaga jarak, memaksa para penyerang mengikuti ke sisi Jaguar. Kamera bayaran di seberang kehilangan sudut jelas karena tertutup tiang.
"Pukul dia!" bentak Yono Botak.
Anak buahnya mengayunkan pipa. Bima menarik Vanya ke belakang kap mobil dan menundukkan kepala Gita dengan tangan terbuka di bahunya.
Pipa itu meleset.
BUK!
Besi menghantam pintu Jaguar. Cat hitam terkelupas dan pelat bodi penyok dalam.
Semua orang berhenti sesaat.
Pintu samping kedai terbuka.
Laras keluar diikuti Wisnu dan Bayu. Tatapannya jatuh pada pipa di tangan preman, lalu pada penyok besar di mobilnya.
Wisnu dan Bayu langsung bergerak menutup dua sisi tubuh Laras.
Wajah perempuan bermata elang itu mengeras sedingin batu.