Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Pertemuan di Tengah Kehancuran
Asap hitam membumbung tinggi, menutupi sebagian langit sore Seoul yang kini berwarna merah darah. Jalan raya yang biasanya dipenuhi oleh kemacetan kendaraan roda empat kini berubah menjadi ladang pembantaian. Mobil-mobil saling bertabrakan, terbakar, dan ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya.
Dari atas jalan layang, Han Do-Yoon menatap pemandangan neraka di bawahnya dengan ekspresi datar. Jeritan putus asa bersahutan dengan raungan monster dari segala arah.
Kapak raksasa yang ia panggul di bahu kanannya masih meneteskan darah segar. Sepanjang perjalanan dari kampus menuju pusat kota, ia telah menebas puluhan Goblin dan beberapa monster tingkat rendah lainnya yang kebetulan menghalangi jalannya.
[Anda telah membunuh Goblin (Tingkat Terendah).]
[Anda mendapatkan 10 Poin Pengalaman.]
[Anda telah membunuh Anjing Neraka (Tingkat F).]
[Anda mendapatkan 30 Poin Pengalaman.]
Notifikasi Sistem terus bermunculan di sudut pandangannya, namun Do-Yoon mengabaikannya. Tingkatnya saat ini sudah mencapai angka 4. Peningkatan atribut fisiknya membuat langkahnya seringan bulu, meski ia membawa senjata seberat puluhan kilogram.
"Distrik Gangnam," gumam Do-Yoon, matanya menyipit menatap deretan gedung pencakar langit di kejauhan. "Pusat keramaian. Itu artinya, tingkat kemunculan monster di sana sepuluh kali lipat lebih padat dibandingkan pinggiran kota."
Tanpa membuang waktu, Do-Yoon melompat dari atas jalan layang. Ia mendarat dengan lutut ditekuk di atas atap sebuah mobil sedan, membuat atap baja itu melesak ke dalam akibat benturan. Keterampilan pasif Kulit Tembaga miliknya meredam semua rasa sakit di kakinya.
Ia kembali berlari, membelah kekacauan layaknya bayangan hitam yang tak tersentuh.
Beberapa kali ia melewati warga sipil yang sedang diseret hidup-hidup oleh monster. Tangan-tangan berlumuran darah menggapai ke arahnya, memohon pertolongan. Namun, Do-Yoon tidak menoleh sedikit pun. Hatinya telah lama membeku di kehidupan sebelumnya. Menyelamatkan orang-orang yang tidak memiliki kemauan untuk bertarung di dunia baru ini hanyalah tindakan bunuh diri yang menunda kematian mereka sesaat.
Tujuannya hanya satu. Stasiun Bawah Tanah Gangnam. Pintu Keluar Nomor 4.
Di kehidupan masa lalunya, tempat itu adalah lokasi tragedi yang melahirkan legenda 'Permaisuri Pedang'. Yoo Ji-Ah, seorang mahasiswi atlet anggar nasional, terjebak di sana bersama puluhan warga sipil. Demi melindungi adik perempuannya dan orang-orang yang bersembunyi di belakangnya, Ji-Ah bertarung sendirian melawan gelombang monster hingga lengan kanannya hancur dan adiknya tewas tercabik-cabik.
Kejadian itu menghancurkan kewarasannya, mengubahnya menjadi mesin pembunuh dingin yang pada akhirnya mati secara tragis demi melindungi Do-Yoon di masa depan.
"Kali ini, aku tidak akan membiarkanmu hancur, Ji-Ah," batin Do-Yoon, mempererat cengkeramannya pada gagang kapak.
TRANG!
Suara benturan keras antara logam dan kayu menggema di depan Pintu Keluar Nomor 4 Stasiun Gangnam.
Seorang gadis muda dengan rambut sebahu yang berantakan terdorong mundur hingga punggungnya menabrak pilar beton. Napasnya tersengal-sengal, seragam olahraga putihnya kini basah oleh keringat dan bercak darah. Di kedua tangannya, ia menggenggam erat sebilah pedang latihan dari kayu ek yang sudah mulai retak.
Di belakang gadis itu, belasan orang berkerumun, gemetar ketakutan. Di antara mereka, seorang gadis kecil menangis memeluk lututnya.
"Kakak..." rintih gadis kecil itu.
"Jangan keluar dari sana, Ji-Hye! Tetap di belakang!" teriak Yoo Ji-Ah tanpa menoleh, matanya menatap tajam ke arah tiga ekor monster babi hutan bipedal—Orc—yang mengepungnya.
Makhluk-makhluk itu tingginya mencapai dua meter, bersenjatakan parang daging berkarat. Mereka mendengus, menatap Ji-Ah dengan tatapan lapar dan merendahkan.
Tangan Ji-Ah gemetar. Ia belum menerima Pembangkitan Kelas karena belum berhasil membunuh satu pun monster. Ia hanya mengandalkan refleks murni dari latihan anggarnya selama bertahun-tahun untuk menangkis serangan-serangan fatal. Namun, staminanya sudah mencapai batas.
Salah satu Orc melangkah maju dan mengayunkan parangnya dengan kekuatan penuh secara horizontal.
Ji-Ah mengertakkan gigi, mengangkat pedang kayunya untuk menangkis.
KRAK!
Kayu ek yang kuat itu akhirnya menyerah. Pedangnya patah menjadi dua, dan dorongan tenaga dari ayunan parang itu membuat Ji-Ah terpental jatuh ke tanah. Rasa sakit yang tajam menjalar di pergelangan tangannya.
"Tidaaak!" jerit warga sipil di belakangnya.
Orc itu menyeringai menjijikkan, mengangkat parangnya tinggi-tinggi untuk membelah tubuh Ji-Ah. Gadis itu memejamkan mata, memeluk bagian tangannya yang terkilir.
WUSSH!
Sesuatu yang besar dan berwarna gelap melesat membelah udara dengan kecepatan mengerikan.
JLEB!
Suara logam menembus daging dan tulang terdengar begitu nyaring. Tubuh Orc yang bersiap mengeksekusi Ji-Ah tiba-tiba terdorong ke belakang oleh kekuatan kinetik yang luar biasa besar. Makhluk itu terpaku ke dinding beton stasiun dengan sebuah kapak raksasa tertancap dalam di dadanya.
Darah hijau kental menyembur, membasahi wajah Ji-Ah yang terbelalak kaget.
Dua Orc lainnya berbalik dengan panik, mencari asal serangan tersebut.
Dari balik kepulan asap dan debu puing-puing jalanan, sesosok bayangan melangkah maju dengan tenang. Sepatu botnya menginjak aspal yang retak, menghasilkan suara langkah yang ritmis dan mengancam.
"Ternyata aku datang tepat waktu," ucap sebuah suara bariton yang dingin.
Ji-Ah menengadah. Seorang pria muda dengan kemeja bersimbah darah berdiri beberapa langkah di depannya. Matanya hitam kelam, memancarkan aura membunuh yang bahkan membuat monster-monster di sekitarnya ragu untuk maju.
Do-Yoon tidak membuang waktu. Saat kedua Orc itu meraung dan menerjang ke arahnya, ia merendahkan postur tubuhnya.
"Gunakan keahlian: Penyerapan Bayangan."
Bayangan dari Orc yang baru saja mati tertancap kapak di dinding tiba-tiba melesat ke tubuh Do-Yoon, memberikannya ledakan energi instan. Tanpa senjata di tangan, Do-Yoon justru melesat maju menyongsong kedua monster bersenjata tajam tersebut.
Saat Orc pertama mengayunkan parang, Do-Yoon menyelinap ke ruang kosong di bawah lengan makhluk itu. Tangan kanannya mengepal kuat, dialiri oleh Energi Sihir berwarna hitam pekat yang meletup-letup.
BAM!
Sebuah pukulan telak menghantam rahang bawah Orc tersebut. Tenaga fisiknya yang telah melonjak berkali-kali lipat berkat kenaikan tingkat membuat kepala monster itu terpelanting ke atas dengan sudut yang tidak wajar, mematahkan tulang lehernya seketika.
Melihat rekannya tewas dalam satu pukulan kosong, Orc terakhir menjadi ragu sejenak. Keraguan satu detik itu adalah kesalahan fatal. Do-Yoon meraih parang yang terjatuh dari tangan Orc yang baru mati, berputar di atas tumitnya, dan menebaskan bilah besi itu tepat ke leher Orc terakhir dalam satu gerakan mulus.
Kepala makhluk itu terlepas dari tubuhnya dan menggelinding di atas aspal.
Keheningan total menyelimuti Pintu Keluar Nomor 4 Stasiun Gangnam. Warga sipil yang bersembunyi terdiam tanpa kata, tak percaya dengan pembantaian sepihak yang baru saja terjadi di depan mata mereka.
Do-Yoon mengibaskan darah dari parang rampasannya, lalu menoleh ke arah Ji-Ah yang masih terduduk lemas di tanah.
"Kau masih hidup, Yoo Ji-Ah," ucap Do-Yoon pelan, mengulurkan tangannya yang berlumuran darah ke arah gadis itu. "Mulai sekarang, pedangmu adalah milikku."
jangan lupa hadir juga 😉