Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".
Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aula Lautan Darah
Lorong labirin yang tersusun dari tulang rusuk binatang buas itu perlahan melebar, mengantarkan Shen Yuan pada sebuah pemandangan yang sanggup meremukkan kewarasan manusia biasa.
Di ujung labirin, membentang sebuah rongga bawah tanah raksasa yang diterangi oleh ribuan lentera api hantu berwarna hijau pucat. Di tengah-tengah rongga tersebut, bukan tanah berbatu yang terhampar, melainkan sebuah danau yang sepenuhnya berisi darah merah pekat. Darah itu tidak membeku dan tidak membusuk, terus bergolak mengeluarkan gelembung-gelembung udara yang membawa hawa Yin yang sangat mematikan.
Di pusat lautan darah itu, sebuah peti mati batu hitam kelam melayang beberapa jengkal di atas permukaan darah, ditopang oleh empat pilar rantai besi raksasa yang tertancap ke dasar danau.
Ini adalah Aula Utama Makam Tuan Tanah Hantu!
Namun, Shen Yuan bukanlah orang pertama yang tiba di sana.
Di tepi lautan darah, puluhan tokoh kuat berdiri dengan wajah tegang. Mereka adalah para Penatua dari Sekte Pedang Langit yang berada di Ranah Pengumpulan Lautan Qi, dan di depan mereka, berdiri sang Tuan Muda Pertama, Jian Wushuang.
Jubah sutra putih Jian Wushuang berkibar tanpa angin. Wajah tampannya berkerut dipenuhi amarah. Di depannya, sebuah kubah cahaya berwarna merah darah—sebuah Susunan Aksara Pelindung kuno—membentang menutupi seluruh danau darah dan peti mati tersebut, menghalangi langkah mereka menuju warisan sang penguasa jiwa.
"Tuan Muda, susunan aksara ini terlalu kuat. Kami telah mengorbankan sepuluh murid pilihan untuk menguji daya tolaknya, namun jiwa mereka langsung menguap begitu menyentuh kubah darah ini," lapor seorang Penatua dengan keringat dingin menetes di dahinya.
"Alasan mengapa segel ini tidak bisa dihancurkan adalah karena kita kehilangan kuncinya!" desis Jian Wushuang, tangannya menggenggam gagang pedang peraknya begitu erat hingga udara di sekitarnya retak. "Peta purbakala itu... anak yang merampasnya dan masuk mendahului kita pasti telah memicu pertahanan tersembunyi dari makam ini!"
Tepat saat amarah Jian Wushuang mencapai puncaknya, telinganya yang sangat tajam menangkap suara langkah kaki yang bergema pelan dari salah satu lorong di belakang mereka.
Bukan hanya Jian Wushuang, puluhan Penatua Lautan Qi juga menoleh serentak. Tatapan membunuh dari puluhan ahli tingkat tinggi itu bersatu, menciptakan tekanan yang sanggup membuat gunung runtuh.
Dari dalam kegelapan lorong, sesosok pemuda berjubah abu-abu melangkah keluar dengan santai. Topeng perunggunya telah dibuang, menampakkan wajah mudanya yang tegas dan sepasang mata yang sedalam jurang malam.
"Kau..." Mata Jian Wushuang menyipit, memancarkan kilatan pedang yang sangat nyata. "Tikus tanah rendahan yang merampas petaku di Kota Bintang Jatuh dan berani mengacungkan telunjuk meremehkan di depan gerbangku. Kau rupanya tidak tersesat di labirin kematian."
Para Penatua sekte terbelalak. "Dia? Hanya seorang anak fana di Ranah Penempaan Raga? Bagaimana mungkin dia bisa melewati jebakan labirin dan membunuh lima murid pelacak kita?!"
Shen Yuan berhenti melangkah pada jarak dua puluh tombak dari tepi lautan darah. Ia berdiri sendirian menghadapi salah satu sekte paling menakutkan di Benua Awan Gelap. Tidak ada secuil pun kepanikan di wajahnya. Setelah mencapai Kesempurnaan Fana di Puncak Lapisan Kesembilan, ketenangannya telah menyatu dengan tulangnya.
"Merampas petamu?" Shen Yuan tersenyum miring. "Keluarga Lin yang merampasnya darimu. Aku hanya memungutnya dari mayat mereka. Jika kau tidak mampu menjaga barang lelangmu sendiri, jangan menyalahkan orang lain yang memungutnya dari genangan lumpur."
Kata-kata Shen Yuan ibarat tamparan keras yang mendarat tepat di wajah Jian Wushuang di hadapan para bawahannya.
"Beraninya kau, Semut Kotor!" raung seorang Penatua berwajah codet. Ia tidak bisa membiarkan penghinaan terhadap Tuan Mudanya. Hawa murni dari tahap menengah Lautan Qi meledak dari tubuhnya. "Biar kucabut lidahmu!"
Penatua itu melesat maju, tangannya membentuk cakar elang raksasa yang terbuat dari pusaran angin setajam silet, mengincar langsung wajah Shen Yuan.
Kecepatan seorang ahli Lautan Qi sangat mengerikan, namun di mata Shen Yuan yang lautan kesadarannya telah diperluas, gerakan itu terlihat memiliki banyak celah.
Shen Yuan tidak mundur. Ia mengambil kuda-kuda rendah, menyalurkan seluruh hawa murni iblis dari Lapisan Kesembilannya ke tangan kanannya. Kulitnya memancarkan kilau emas pekat yang menyilaukan. Ia menyongsong cakar angin itu dengan pukulan telak!
Bummmmm!
Bentrokan antara Kesempurnaan Fana dan Lautan Qi menciptakan gelombang kejut yang meretakkan lantai batu kelam di aula tersebut. Angin tajam menyayat jubah abu-abu Shen Yuan, namun tidak mampu meninggalkan satu goresan pun pada Tubuh Emas Gelap-nya.
Di sisi lain, Penatua Lautan Qi itu terbelalak ngeri. Ia merasakan tinju Shen Yuan seolah mengandung kekuatan seekor naga kuno yang meronta. Tulang tangannya berderit keras, dan ia terlempar mundur tiga langkah, sementara Shen Yuan hanya bergeser satu langkah ke belakang!
Aula itu sunyi senyap. Puluhan Penatua menahan napas. Seorang pemuda di Ranah Penempaan Raga baru saja menahan pukulan ahli Lautan Qi tanpa terluka parah?! Ini melanggar segala hukum kultivasi yang mereka ketahui!
"Kesempurnaan Fana..." gumam Jian Wushuang, matanya memancarkan ketertarikan sekaligus niat membunuh yang semakin pekat. "Fondasi fisikmu sungguh luar biasa. Ditambah lagi, tidak ada satu pun Niat Pedang Perakku yang tersisa di lautan jiwamu. Kau menelannya."
Jian Wushuang perlahan menghunus pedang peraknya dari sarungnya. Suara gesekan logam yang merdu terdengar bagai nyanyian malaikat maut.
"Kau cukup berbakat untuk menjadi pelayanku, anak muda. Serahkan peta itu, berlutut, dan bersumpah setia dengan darahmu, maka aku, Jian Wushuang, akan membiarkanmu hidup," ucap sang Tuan Muda dengan kesombongan yang mutlak.
Shen Yuan menyeka sedikit debu dari bahunya. "Bersumpah setia padamu? Bahkan langit pun belum pernah kuberikan lututku."
"Maka matilah!"
Kesabaran Jian Wushuang habis. Ia tidak lagi meminjam tangan Penatuanya. Hawa murni dari Ranah Pembentukan Inti Emas meledak! Ini bukanlah energi yang mengambang seperti Lautan Qi, melainkan kekuatan yang telah memadat hingga menyerupai cairan cahaya yang sangat berat. Udara di dalam aula seolah membeku, dan tekanan berat di udara meningkat puluhan kali lipat.
Jian Wushuang mengayunkan pedangnya dari jarak dua puluh tombak.
"Pedang Penghukuman Langit!"
Seberkas tebasan pedang berbentuk bulan sabit berwarna perak terang melesat membelah ruang. Kecepatannya jauh melampaui suara, membawa kaidah kehancuran yang mutlak. Bahkan ahli di Puncak Lautan Qi pun akan terbelah menjadi dua jika terkena tebasan ini.
"Bocah! Menghindar! Tubuh Emas Gelapmu tidak akan sanggup menahan hukum ruang dari ahli Inti Emas!" raung Leluhur Darah dengan panik.
Shen Yuan tahu ia tidak bisa menangkisnya. Kekuatan Kesempurnaan Fana hanyalah puncak dari alam fana, sementara Inti Emas adalah gerbang menuju keabadian. Jurang ini tidak bisa diseberangi dengan keberanian semata.
Namun, Shen Yuan tidak berniat melarikan diri ke dalam labirin. Ia memiliki rencana yang jauh lebih gila.
Dalam waktu sekejap mata sebelum tebasan perak itu mencapainya, Shen Yuan menggunakan Langkah Bayangan Hantu, melemparkan tubuhnya ke belakang—bukan ke arah lorong, melainkan lurus ke arah Kubah Pelindung Darah yang menutupi danau di tengah aula!
Sambil melayang di udara, tangan kanannya merogoh Kantong Qiankun dan menarik keluar Peta Makam Tuan Tanah Hantu. Di saat yang sama, ia menggigit bibirnya, menyemburkan seteguk intisari darahnya tepat ke atas permukaan perkamen kuno tersebut.
Wuuuung!
Peta itu memancarkan getaran gaib yang hebat. Hawa murni dari kubah darah di bawahnya seketika menanggapi kunci tersebut.
Tebasan pedang perak milik Jian Wushuang menyusul, menghantam dada Shen Yuan tepat saat punggungnya menyentuh permukaan kubah pelindung.
Craaak!
"Ukh!" Shen Yuan memuntahkan darah segar yang banyak. Tebasan pedang Inti Emas itu begitu dahsyat, berhasil merobek lapisan terluar dari Tubuh Emas Gelap-nya dan meninggalkan luka panjang yang mengerikan di dadanya, memperlihatkan tulang emas di baliknya. Jika ia terlambat sekejap mata saja untuk mengaktifkan ikatan gaib kubah, ia pasti sudah terpotong menjadi dua.
Namun, tepat pada saat Niat Pedang itu mencoba merangsek masuk untuk menghancurkan jantungnya, kubah darah di punggung Shen Yuan membuka sebuah celah kecil berkat pancaran gaib dari peta di tangannya.
Celah itu menelan tubuh Shen Yuan masuk ke dalam kawasan danau darah, lalu langsung menutup kembali dengan kecepatan kilat!
Bummmmm!
Sisa tenaga dari tebasan pedang Jian Wushuang menghantam kubah darah yang telah menutup rapat. Susunan aksara kuno beriak keras, memantulkan serangan sang Tuan Muda hingga dinding batu hitam kelam di belakang mereka runtuh, namun kubah itu tidak tergores sedikit pun.
Di luar kubah, Jian Wushuang berdiri mematung. Wajahnya yang tampan kini berkerut oleh kemarahan yang membakar kewarasannya.
"DI DAAAAAALAM!" Jian Wushuang mengaum sejadi-jadinya, menghantamkan pedangnya bertubi-tubi ke arah pelindung darah tersebut. "HANCURKAN KUBAH INI SEKARANG JUGA! JIKA KITA TIDAK BISA MENEMBUSNYA SEBELUM ANAK ITU MENCAPAI PETI MATI PURBAKALA, AKU AKAN MEMENGGAL KEPALA KALIAN SEMUA!"
Para Penatua sekte gemetar ketakutan dan segera berhamburan, mengerahkan seluruh sisa hawa murni mereka untuk memukul kubah tersebut dengan putus asa.
Sementara itu, di dalam kubah pelindung...
Shen Yuan terhempas keras dan jatuh di tepian daratan kecil yang menjadi pijakan peti mati batu tersebut. Darah terus mengalir dari dada kirinya. Napasnya tersengal-sengal, pandangannya berkunang-kunang.
Serangan seorang ahli Inti Emas benar-benar sebuah teror yang meremukkan keputusasaan.
"Gila... kau benar-benar iblis yang gila mempertaruhkan nyawamu di ambang tebasan Inti Emas hanya untuk menembus masuk!" Leluhur Darah bersuara dengan nada campur aduk antara murka dan takjub. "Cepat putar Sutra Penelan Surga! Jika Niat Pedang itu menyentuh jantungmu, kau akan tamat!"
Shen Yuan menggertakkan gigi yang berlumuran darah. Ia menyeret tubuhnya yang setengah lumpuh mendekati kolam darah di sekitar peti mati purbakala tersebut. Ia tahu, darah di kolam ini bukanlah darah fana biasa, melainkan esensi Yin dan kematian yang dikumpulkan oleh Tuan Tanah Hantu.
Ia membenamkan tangannya ke dalam kolam berdarah itu, memutar Dantian-nya, dan mulai menghisap lautan energi kuno tersebut untuk menyembuhkan lukanya dan memunahkan sisa Niat Pedang Jian Wushuang.
Tatapan Shen Yuan terangkat, menatap peti mati raksasa berwarna hitam legam di hadapannya.
"Warisan ini... adalah milikku."