Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.
Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.
Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Pagi itu, langit di atas ibu kota Keraton Amarta secerah permata safir yang baru saja dipoles. Matahari bersinar keemasan, mengusir sisa-sisa embun dari atap-atap pendopo dan dedaunan beringin kurung di alun-alun utara. Burung-burung kepodang berkicau riang di dahan pepohonan taman istana, seolah semesta sedang bersuka cita menyambut hari yang bersejarah ini.
Namun bagi Dewi Pregiwa, cahaya matahari pagi itu tak ubahnya seperti kobaran api yang siap memanggangnya hidup-hidup.
Di dalam kamar keputriannya yang luas, udara terasa pengap oleh kepulan asap dupa cendana dan aroma tajam dari beratus-ratus kuntum bunga melati yang sedang dirangkai. Lima orang emban senior keraton sibuk mengelilingi sang putri sejak dua jam sebelum fajar menyingsing. Mereka memandikan Pregiwa dengan air kembang setaman, melulur kulit pualamnya dengan bubuk mangir dan kayu manis, lalu membalut tubuhnya dengan pakaian kebesaran yang belum pernah ia kenakan seumur hidupnya.
Ini bukan sekadar pakaian seorang putri raja. Ini adalah pakaian seorang calon permaisuri yang sedang dipersiapkan untuk diserahkan kepada kerajaan sekutu.
Pregiwa duduk mematung di depan cermin tembaga raksasa yang memantulkan bayangannya secara utuh. Ia menatap sosok di dalam cermin itu dengan pandangan kosong, nyaris tak mengenali dirinya sendiri. Tubuhnya dibalut oleh kain dodot sutra bersulam benang emas dengan motif Sida Mukti—motif sakral yang melambangkan harapan akan kehidupan yang makmur dan sejahtera. Betapa ironisnya makna motif itu bagi hatinya yang telah mati.
Di kepalanya, bertengger sebuah mahkota kecil (siger) dari emas murni yang dihiasi taburan berlian dan batu rubi seukuran biji jagung. Rangkaian bunga melati segar, ronce tibo dodo, menjuntai dari sanggulnya hingga menyentuh dada kirinya. Sangat indah. Sangat sempurna. Namun, untaian melati itu terasa sangat berat, seolah setiap kuntumnya terbuat dari rantai besi yang perlahan-lahan mencekik lehernya. Wangi melati itu... wangi yang sama yang tercium saat ia berada di dalam dekapan Gatotkaca di dasar gua Wanamarta, kini justru membuat perutnya mual karena menahan perih yang tak tertahankan.
"Gusti Putri sungguh terlihat mempesona. Prabu Dirgantara dan Putra Mahkota Swantipura pasti akan bertekuk lutut melihat kecantikan Gusti Putri," puji salah seorang emban tua sambil memulas gincu merah ke bibir Pregiwa yang pucat pasi.
Pregiwa tidak menjawab. Bibirnya hanya melengkungkan sebuah senyuman tipis, senyuman mekanis yang telah ia latih ribuan kali untuk menutupi kehancuran di baliknya. Ia adalah boneka pualam yang sempurna. Boneka yang tidak memiliki hak untuk menangis di hari pelepasannya.
Di luar tembok keputrian, suara gemuruh mulai terdengar. Gamelan Monggang—gamelan sakral keraton yang hanya ditabuh untuk mengiringi keberangkatan pasukan perang atau prosesi agung—mulai mengalun dengan ritme yang lambat, berat, dan menggetarkan dada. Suara gong besarnya seolah menghitung mundur sisa-sisa detik kebebasan Pregiwa.
"Waktunya telah tiba, Gusti Putri," ucap emban tua itu seraya menunduk hormat. "Gusti Prabu Arjuna dan para sesepuh keraton telah menunggu di pelataran utama."
Dengan sisa-sisa tenaga yang ia kumpulkan dari dasar keputusasaannya, Pregiwa bangkit berdiri. Sutra emas yang membalut tubuhnya berdesir menyapu lantai. Ia melangkah keluar dari kamarnya, diiringi oleh barisan emban yang membawakan ujung kain kerajaannya. Setiap langkah yang ia ambil melintasi lorong-lorong pualam keraton terasa seperti langkah seorang pesakitan yang berjalan menuju tiang gantungan.
Saat Pregiwa muncul di anak tangga terakhir menuju pelataran agung Amarta, ribuan pasang mata seketika tertuju padanya. Pelataran itu telah dipenuhi oleh lautan manusia. Para menteri, panglima perang, bangsawan, dan seribu prajurit elit keraton berdiri berbaris rapi membentuk pagar betis. Di tengah pelataran, sebuah kereta kencana raksasa yang terbuat dari kayu jati berukir dan dilapisi prada emas, telah disiapkan. Enam ekor kuda putih berdarah murni, lengkap dengan pelana beludru dan zirah perak, mengentak-entakkan kaki mereka ke tanah, tidak sabar untuk segera berlari.
Di depan kereta kencana itu, berdiri tiga sosok dewa kembar Pandawa: Prabu Puntadewa, Bima sang raksasa, dan ayahandanya, Arjuna. Sri Kresna juga hadir, berdiri sedikit menyamping dengan senyum penuh teka-tekinya yang khas.
Pregiwa melangkah menuruni anak tangga, menundukkan pandangannya. Namun, bahkan tanpa mengangkat wajahnya pun, ia bisa merasakan keberadaan satu sosok lain yang berdiri tegak di barisan paling depan pasukan pengawal. Sosok yang auranya begitu pekat, begitu menekan, hingga sanggup menelan kemegahan seluruh pelataran keraton.
Gatotkaca.
Sang Senopati Pringgandani berdiri mematung di sisi kanan kereta kencana. Ia mengenakan zirah perang tingkat tertingginya—zirah pusaka Antakusuma yang memancarkan kilau keemasan redup. Di punggungnya, terpasang jubah beludru merah darah yang berkibar pelan tertiup angin pagi. Sayap bajanya terlipat rapat di balik jubah itu. Tangannya yang besar dan terbungkus sarung tangan baja, menggenggam erat sebuah tombak panji bergambar bintang segi enam, lambang pasukan khusus Amarta.
Gatotkaca tidak tidur sedetik pun selama dua hari terakhir. Wajahnya yang garang tertutup sebagian oleh helm perang berukir kalamakara yang bagian visor-nya ditarik turun, menyembunyikan mata elangnya di balik bayang-bayang kegelapan pelat baja. Itu adalah tindakan pencegahan yang sengaja ia lakukan. Ia tidak berani membiarkan siapa pun, terutama ayahandanya, Bima, melihat sorot matanya pagi ini. Matanya merah, bukan karena haus darah, melainkan karena menahan lautan duka yang mengancam akan menenggelamkan akal sehatnya.
Saat Pregiwa berjalan melintasi karpet merah menuju Arjuna, aroma melati itu kembali menyapu penciuman Gatotkaca.
Tangan raksasa yang menggenggam gagang tombak itu seketika bergetar hebat. Buku-buku jarinya memutih dari balik sarung tangan baja. Gatotkaca harus memanggil seluruh cakra pertahanan di tubuhnya hanya untuk memastikan ia tidak meremukkan tombak pusaka itu menjadi serpihan kayu dan logam. Di balik helmnya, ia memejamkan mata rapat-rapat saat ujung kain sutra keemasan Pregiwa berdesir melewati ujung kakinya.
*Jangan menatapnya,* bisik Gatotkaca dalam hati, sebuah rapal mantera untuk mempertahankan kewarasannya. *Jika kau menatapnya dalam balutan pakaian permaisuri itu, kau akan menghancurkan tempat ini sekarang juga.*
Pregiwa bersimpuh di hadapan Arjuna. Sang ksatria panah itu membungkuk, menempelkan kedua tangannya di pundak putrinya. Wajah Arjuna tampak tegar, namun ada kegetiran yang mendalam saat ia menatap wajah cantik darah dagingnya sendiri yang akan segera ia serahkan ke negeri antah berantah.
"Putriku, Dewi Pregiwa," suara Arjuna menggema di pelataran yang tiba-tiba sunyi senyap, mengalahkan tabuhan gamelan. "Hari ini, kau berangkat bukan sekadar sebagai putri dari keraton ini. Kau berangkat sebagai harapan Amarta. Di pundakmu, terletak keselamatan ribuan nyawa prajurit dan kedamaian negeri ini. Darma telah memanggilmu, dan kau menjawabnya dengan kehormatan yang tak tertandingi."
Pregiwa mencium punggung tangan ayahnya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes satu per satu, jatuh membasahi ubin pualam. "Doa Ayahanda adalah satu-satunya bekal yang hamba butuhkan. Hamba akan melaksanakan kewajiban ini... hingga napas terakhir hamba."
Arjuna mengangguk perlahan, lalu bangkit berdiri. Ia memutar tubuhnya, menghadap ke arah barisan pasukan pengawal. Pandangan tajamnya langsung tertuju pada sosok raksasa yang berdiri mematung memegang panji kebesaran.
"Senopati Gatotkaca! Maju ke depan!" titah Arjuna.
Kalimat itu meluncur bagai petir yang menyambar tepat di ulu hati keduanya. Pregiwa menahan napasnya, meremas ujung kain dodotnya dengan kuat. Di sisi lain, Gatotkaca merasa bahwa langkah yang harus ia ambil saat ini jauh lebih berat daripada melangkah masuk ke dalam Kawah Candradimuka.
Dengan gerakan kaku layaknya mesin perang yang enggan dihidupkan, Gatotkaca melangkah maju dua tindak. Suara benturan sepatu bajanya dengan lantai pualam menggema keras. Ia menjatuhkan dirinya, berlutut dengan satu kaki di hadapan Arjuna, dan yang lebih menyiksa lagi, berlutut tepat di samping Dewi Pregiwa.
Jarak mereka kini hanya terpisahkan oleh kurang dari satu jengkal. Hawa panas dari tubuh Gatotkaca menyapu kulit Pregiwa yang dingin, menciptakan sebuah paradoks yang menyayat hati. Mereka berdekatan, sangat dekat, namun terpisahkan oleh jurang takdir yang mustahil untuk dilompati.
Arjuna mencabut sebilah keris pusaka berlapis emas dari pinggangnya, lalu menyodorkannya ke hadapan Gatotkaca sebagai simbol penyerahan mandat keamanan tertinggi.
"Gatotkaca, keponakanku, perisai kebanggaan Pandawa," ucap Arjuna dengan suara bariton yang penuh wibawa. "Kepadamu, kuserahkan nyawa yang paling berharga bagiku di dunia ini. Kuserahkan keselamatan putriku, Dewi Pregiwa. Perjalanan menuju Swantipura akan melintasi Lembah Kematian dan Bukit Tengkorak, wilayah tanpa hukum yang rawan akan pencegatan telik sandi Astina. Tugasmu bukan hanya mengawal, tapi memastikan bahwa tidak ada satu pun debu kotor yang berani menyentuh kulitnya."
Gatotkaca menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Sendika dawuh, Paman Arjuna," suaranya parau, berat, dan bergetar samar—sebuah getaran yang disalahartikan oleh Arjuna dan Bima sebagai kobaran semangat tempur, padahal itu adalah tangisan jiwa yang tertahan.
"Angkat wajahmu, Senopati," perintah Arjuna lagi. "Tatap wajah putri yang harus kau lindungi, dan ucapkan sumpahmu di hadapannya langsung."
Ini adalah hukuman mati. Para dewa benar-benar sedang mempermainkan Gatotkaca dengan cara yang paling biadab.
Perlahan, sangat perlahan, Gatotkaca mengangkat wajahnya. Ia mendorong visor helm bajanya ke atas, memperlihatkan raut wajahnya yang sekeras batu andesit, lengkap dengan mata elangnya yang merah dan memancarkan keputusasaan yang begitu telanjang.
Saat matanya bertemu dengan mata bulat Dewi Pregiwa yang basah oleh air mata, semesta di sekeliling mereka kembali berhenti berdetak.
Ribuan prajurit, para raja, tabuhan gamelan, dan kemegahan Amarta seketika memudar menjadi latar belakang yang buram. Di dunia ini, hanya ada mereka berdua. Gatotkaca melihat Pregiwa yang dibalut kemegahan emas, tampak begitu cantik hingga sanggup menghentikan detak jantungnya, namun kecantikan itu dilumuri oleh duka yang tak terperi. Di sisi lain, Pregiwa melihat raksasa penjaganya yang tangguh, kini berlutut di hadapannya seperti pesakitan yang memohon ampunan karena gagal menyelamatkannya dari takdir.
Dalam keheningan komunikasi batin itu, mata Pregiwa berteriak memohon: *Bawa aku lari, Kanda. Bawalah aku terbang malam ini juga. Hancurkan sangkar emas ini dan biarkan kita jatuh bersama di dasar jurang Wanamarta.*
Namun mata Gatotkaca membalas dengan kepedihan yang menyayat: *Hamba tidak bisa, Tuan Putri. Darah hamba adalah milik Amarta. Jika hamba membawamu lari, ayahanda hamba sendiri yang akan memburumu, dan kehormatanmu akan hancur menjadi debu. Hamba lebih rela hancur lebur berkeping-keping daripada membiarkan namamu ternoda karena seorang raksasa sepertiku.*
Gatotkaca memutus kontak mata itu sebelum ia benar-benar kehilangan kewarasannya. Ia menundukkan kembali wajahnya, menatap keris pusaka yang disodorkan oleh Arjuna, lalu menerimanya dengan kedua tangan bergetar.
"Hamba, Gatotkaca," suara sang senopati menggema, menggelegar ke seluruh penjuru pelataran, namun di telinga Pregiwa, suara itu terdengar seperti rintihan kematian. "Bersumpah di atas nama darah Pringgandani dan kebesaran Pandawa. Nyawa hamba adalah perisai bagi Gusti Putri Dewi Pregiwa. Tulang hamba adalah dinding keretanya. Darah hamba adalah sungai yang akan menenggelamkan siapa pun yang berani menghalangi jalannya. Hamba... hamba akan memastikan Gusti Putri tiba di Swantipura... untuk menyambut takdirnya."
Kata-kata terakhir itu nyaris mencekiknya sendiri. Ia mengucapkannya dengan gigi bergemeretak, menahan rasa mual yang luar biasa.
"Sumpah diterima," sahut Arjuna lega. Ia mundur selangkah, memberikan ruang bagi prosesi. "Bantu putriku naik ke keretanya, Senopati."
Siksaan itu belum berakhir. Gatotkaca harus bangkit berdiri. Ia mengulurkan tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan baja ke arah Pregiwa, persis seperti yang ia lakukan di tepi tebing Wanamarta. Namun kali ini, sentuhan itu tidak dilakukan dalam kegelapan yang intim, melainkan di bawah sorotan matahari pagi dan tatapan ribuan pasang mata.
Pregiwa meletakkan telapak tangan pualamnya di atas telapak tangan baja Gatotkaca. Saat kulit mereka kembali bersentuhan, meski terhalang oleh logam, sebuah sengatan listrik kesedihan menyambar keduanya. Pregiwa menggenggam erat jari-jari baja itu sedetik lebih lama dari yang seharusnya, menyalurkan seluruh keputusasaan dan cintanya yang tak tersampaikan melalui satu sentuhan putus asa.
Gatotkaca menahan napasnya, membimbing Pregiwa menaiki pijakan kereta kencana emas. Saat sang putri akhirnya duduk di atas bantalan beludru di dalam kereta, para emban segera menarik tirai sutra penutup jendela, memenjarakan Pregiwa di dalam sangkar kemegahannya. Kegelapan menyelimuti Pregiwa, menyembunyikannya dari dunia luar, membiarkannya akhirnya menangis tersedu-sedu tanpa suara di dalam kereta guncang itu.
Gatotkaca melepaskan tangannya, berbalik dengan kasar, dan berjalan menuju bagian paling depan barisan. Ia melompat ke udara, bukan untuk terbang menjauh, melainkan melayang di ketinggian sepuluh kaki di depan barisan kuda putih penarik kereta. Ia tidak akan menunggang kuda. Ia akan memimpin iring-iringan ini dari udara, membelah angin, menjadi algojo yang mengantarkan separuh jiwanya menuju neraka yang bernama pernikahan politik.
"Bunyikan sangkakala! Pasukan, maju!" teriak salah seorang panglima pendamping dari bawah.
Terompet kerang ditiupkan dengan nyaring. Gamelan mengentak dengan ritme keberangkatan. Ribuan prajurit serentak menghentakkan tombak mereka ke tanah. Perlahan, roda-roda raksasa kereta kencana itu mulai berputar, berderit membelah pelataran pualam.
Iring-iringan agung itu mulai bergerak meninggalkan gerbang Keraton Amarta. Memasuki jalan tanah yang berdebu, melangkah menuju pegunungan selatan yang terjal. Di dalamnya, seorang putri menangisi kebebasannya yang direnggut paksa. Dan di depannya, melayang sang badai langit yang rela hatinya sendiri dicabik-cabik oleh seribu paruh burung nazar, asalkan ia bisa menatap wajah wanita itu untuk beberapa belas hari ke depan, sebelum semuanya benar-benar berakhir.