Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.
Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan Sang Suami
Malam harinya, rumah megah Mbah Wira terasa jauh lebih dingin daripada malam-malam yang dihabiskan Shanum di balik dinding rapuh rumahnya. Suasana kamar begitu mewah, dengan ranjang kayu jati berukir dan seprai putih bersih yang wangi aromaterapi. Namun bagi Shanum, kamar ini terasa seperti sangkar emas yang asing.
Shanum berdiri mematung di sudut kamar dan masih mengenakan kebaya putihnya. Ia tidak berani bergerak, bahkan untuk sekadar duduk di tepi ranjang. Pikirannya melayang pada status barunya yang kini istri dari Abimana Satya Putra, pria yang berpendidikan tinggi, seorang Dosen, sementara Shanum hanyalah gadis desa yang selama ini dianggap barang tidak laku.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dan Abi masuk dengan langkah tenang, pria itu sudah melepas jasnya hingga menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka, menampilkan kesan santai namun tetap terlihat mengintimidasi bagi Shanum.
"Kenapa belum ganti baju?" tanya Abi datar dan berjalan menuju meja kayu lalu meletakkan jam tangan dan ponselnya di sana.
"I-iya, Mas. Baru mau ganti," jawab Shanum gugup.
Shanum segera mengambil tas pakaiannya yang diletakkan di dekat lemari, tangannya gemetar saat merogoh daster panjang dan hijab instan yang ia bawa dari rumah.
Abi melirik sekilas lalu beralih ke arah kamar mandi, "Nanti saja gantinya, saya mau mandi dulu. Perempuan biasanya kalau mandi lama," ucap Abi.
Abi melangkah masuk ke kamar mandi, meninggalkan Shanum yang masih berdiri mematung dengan daster di pelukannya. Suara gemericik air dari dalam kamar mandi terdengar begitu jelas di keheningan malam dan membuat Shanum merasa semakin canggung, ia duduk di pinggiran kursi kayu, tidak berani menyentuh ranjang yang nampak begitu rapi dan mewah.
Sekitar sepuluh menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka dan uap hangat keluar bersamaan dengan aroma sabun pria yang maskulin dan segar. Abi keluar hanya dengan mengenakan celana kain panjang dan kaus oblong hitam yang pas di tubuh tegapnya, handuk putih tersampir di lehernya, digunakan untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah.
Shanum refleks menundukkan kepala dan memilin ujung dasternya, "Giliran kamu," ucap Abi tanpa menoleh, ia berjalan menuju meja kerja kecil di sudut kamar dan membuka laptopnya.
"I-iya, Mas," balas Shanum.
Shanum bergegas masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya rapat-rapel. Di dalam kamar mandi, ia menyandarkan punggungnya ke pintu, jantungnya berdegup tak karuan. Ini adalah pertama kalinya ia berada dalam satu ruangan tertutup dengan seorang pria yang bukan mahramnya. Ralat, sekarang pria itu adalah suaminya.
Setelah selesai membersihkan diri, Shanum keluar dengan mengenakan daster panjang berlengan panjang dan jilbab instan yang menutup dada, ia melihat Abi masih sibuk dengan laptopnya, jemarinya menari lincah di atas keyboard.
"Mas... a-aku tidur di mana?" tanya Shanum sangat pelan.
Abi menghentikan gerakannya dan menatap Shanum dari ujung kaki hingga ujung kepala, tatapannya yang tajam namun tanpa ekspresi itu membuat Shanum ingin menghilang saat itu juga.
"Tentu saja di ranjang, itu tempat tidur kita," jawab Abi santai.
"Tapi... Mas lagi kerja, a-aku takut ganggu," jawab Shanum.
"Nggak ganggu, cepat tidur," ucap Abi dan diangguki Shanum.
Shanum melangkah dengan sangat hati-hati menuju ranjang besar itu dan merebahkan tubuhnya di sisi paling pinggir, bahkan hampir terjatuh karena takut mengambil terlalu banyak ruang.
Shanum menarik semua selimut tebal tersenyum hingga menutupi dagunya dan mencoba menyembunyikan rasa cemasnya. Matanya terpejam, namun telinganya tetap terjaga dan mendengarkan denting suara ketikan keyboard dari arah sofa tempat Abi saat ini.
Hampir satu jam berlalu, Shanum belum juga bisa terlelap. Tiba-tiba, suara ketikan itu berhenti dan ia mendengar suara kursi digeser lalu langkah kaki yang mendekat. Shanum menahan napas, pura-pura tertidur saat merasakan sisi ranjang di sebelahnya sedikit goyang karena beban tubuh Abi.
Cukup lama hening, hingga Shanum merasakan sebuah tangan besar bergerak di dekat kepalanya, ia tersentak saat merasakan ujung selimutnya ditarik perlahan.
"Jangan tidur terlalu pinggir, nanti jatuh," ucap Abi terdengar rendah dan tenang di kegelapan.
Shanum tidak menjawab, namun ia merasa tangan Abi dengan lembut menyentuh bahunya, menggeser tubuhnya sedikit ke tengah agar lebih aman.
Detik berikutnya, Shanum mematung dan jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Ia merasa tubuh tegap Abi kini berada tepat di sampingnya dan memberikan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, selimut tebal yang menutupi mereka berdua terasa mendadak lebih panas.
Tiba-tiba, lengan kekar Abi melingkar di pinggang Shanum. Secara perlahan namun pasti, Abi menarik tubuh Shanum mendekat ke arahnya. Shanum tetap memejamkan mata dan berpura-pura sudah terlelap meski seluruh saraf di tubuhnya menegang, ia merasakan punggungnya bersentuhan langsung dengan dada bidang Abi, di mana ia mengeratkan pelukannya dan menyandarkan dagunya di puncak kepala Shanum yang masih terbungkus jilbab instan.
"Tidurlah, kamu pasti sangat lelah," gumam Abi.
Sentuhan Abi tidak terasa menuntut. Justru sebaliknya, pelukan itu terasa sangat protektif, seolah-olah pria itu sedang membangun benteng di sekeliling Shanum untuk melindunginya dari semua hinaan tetangga dan kekejaman lisan ibunya yang selama ini menghujani hidupnya.
Lambat laun, rasa Shanum mulai menguap. Wangi sabun maskulin dari tubuh Abi dan detak jantung pria itu yang tenang di punggungnya memberikan rasa aman dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak perlu merasa waspada akan ada barang yang dibanting atau teriakan yang memekakkan telinga.
Dalam pelukan sang suami, mata Shanum terasa berat dan akhirnya ia benar-benar terlelap. Di kamar mewah milik keluarga terpandang di desanya itu, Shanum akhirnya bisa tidur, sebuah tidur yang paling tenang yang pernah ia rasakan dalam hidupnya.
Fajar belum menyingsing ketika alarm di ponsel Abi bergetar halus di atas meja nakas, pria itu segera membuka matanya, kesadaran pulih sepenuhnya dalam hitungan detik. Abi merasakan beban hangat di lengannya dan saat menoleh, ia mendapati Shanum masih terlelap dengan sangat tenang dalam dekapannya.
Wajah Shanum saat tidur terlihat begitu damai, dan tanpa sadar ibu jari Abi mengusap lembut punggung tangan Shanum yang berada di atas dadanya.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Abi melepaskan pelukannya dan berusaha tidak menimbulkan guncangan agar Shanum tidak terbangun. Ia beranjak dari ranjang, menyambar handuk dan melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Dinginnya air di pagi hari menyentuh kulit Abi, menyegarkan pikiran dan jiwanya. Setelah itu, ia keluar dan mendapati Shanum mulai menggeliat, gadis itu perlahan membuka matanya dan begitu menyadari keberadaan Abi yang sudah berdiri tegak dengan sarung dan baju koko putihnya, Shanum langsung terduduk kaget.
.
.
.
Bersambung.....
pasti keduanya akan merasa kecanduan setelah merasakan nikmatnya Sorga Dunia😊