NovelToon NovelToon
Aku Terlempar Ke Zaman Kuno Jadi Ibu Jahat

Aku Terlempar Ke Zaman Kuno Jadi Ibu Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.

​Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.

Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.

Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 - Perisai Darah

​Desingan anak panah itu membelah udara dengan suara tinggi yang memuakkan. Dalam satu detik yang terasa berjalan lambat, Aruna melihat ujung logam runcing itu berkilau tertimpa cahaya api, melesat tepat ke arah dada Arel. Arvand masih terjebak dalam emosinya sendiri terhadap Kaelan, dan para pengawal lainnya sibuk menahan kepungan musuh.

​"Arel!"

​Aruna tidak sempat berpikir tentang logika atau keselamatan. Kakinya yang gemetar dipaksa bergerak dengan ledakan adrenalin yang menyakitkan. Ia melemparkan tubuhnya ke arah Arel, merangkul bocah itu erat-kali ini bukan sekadar pelukan pelindung, tapi ia menjadikan punggungnya sendiri sebagai tameng hidup.

​Jleb!

​Suara mata panah yang menembus daging terdengar tumpul namun nyata. Aruna tersentak hebat. Rasa sakit yang tajam dan panas seketika menjalar dari bahu kiri bawah hingga ke tulang rusuknya. Dunianya seakan berguncang. Ia tersungkur ke tanah berbatu sambil tetap memeluk Arel dalam dekapannya.

​"Argh..." Aruna mengerang, giginya gemeretak menahan perih yang seolah ingin mencabik kesadarannya.

​"Ibu?" Suara Arel terdengar sangat kecil, teredam oleh dada Aruna. Bocah itu bisa merasakan cairan hangat dan kental mulai merembes membasahi pakaiannya. Saat ia mendongak, ia melihat wajah Aruna yang memucat seketika dengan butiran keringat dingin sebesar biji jagung.

​"Tetap... di bawahku, Arel," bisik Aruna parau. Bau besi dari darahnya sendiri mulai memenuhi rongga hidungnya, bercampur dengan bau debu tanah yang kering.

​Melihat istrinya tertembak, raungan kemarahan Arvand pecah. "Ratri!"

​Jenderal itu bergerak seperti badai yang mengamuk. Dengan satu tebasan horizontal yang kuat, ia menghancurkan barisan musuh di depannya. Ia tidak lagi peduli pada Kaelan. Arvand menerjang maju, berlutut di samping Aruna dan Arel, sambil terus memutar pedangnya untuk menangkis hujan panah susulan yang datang dari bukit.

​"Pengecut! Hadapi aku, jangan mengincar wanita dan anak-anak!" teriak Arvand dengan suara yang sanggup menggetarkan pepohonan bambu di sekitar mereka.

​Pangeran Kaelan tidak tinggal diam. Ia melesat menuju arah semak-semak tempat panah itu berasal. Gerakannya begitu sunyi dan mematikan, seperti bayangan yang menyatu dengan kegelapan hutan. Tak lama kemudian, terdengar teriakan singkat dari balik bukit, disusul dengan suara benda berat yang jatuh berdebam.

​"Master Daryan! Kemari! Siapkan obat penghenti darah!" perintah Arvand sambil mencoba membalikkan tubuh Aruna dengan sangat hati-hati.

​Aruna mengerang kesakitan saat ujung panah itu sedikit bergeser karena gerakan Arvand. "Jangan... jangan dicabut sekarang," cegah Aruna, tangannya mencengkeram lengan baju Arvand hingga buku-buku jarinya memutih. "Panahnya... beracun. Jika dicabut sembarangan, aku akan... mati lebih cepat."

​Arvand tertegun. Ia melihat noda hitam keunguan yang mulai menyebar di sekitar luka panah tersebut. Rahangnya mengeras. Ia menatap istrinya, wanita yang dulu ia anggap sebagai beban dan sumber kebencian. Kini tergeletak bersimbah darah demi melindungi putranya.

​"Kenapa kau melakukan ini, Ratri? Kenapa kau tidak lari saja?" tanya Arvand, suaranya kini melunak, ada nada getir yang terselip di sana.

​Aruna mencoba tersenyum, meski sudut bibirnya juga mulai mengeluarkan darah. "Sudah kubilang... aku ingin menebus dosa. Dan seorang ibu... tidak akan lari dari takdir anaknya."

​Arel merangkak keluar dari dekapan Aruna, tangannya yang mungil gemetar saat menyentuh pipi Aruna. "Ibu... jangan tidur. Kamu berjanji akan memberiku manisan lagi, kan? Jangan bohong lagi!"

​Mendengar sebutan "Ibu" dari mulut Arel tanpa nada kebencian, Aruna merasakan kehangatan yang aneh di tengah rasa sakitnya. Sistem Karma Ibu berkedip lemah di sudut matanya yang mulai kabur.

​Misi Sukses: Pengorbanan Nyawa untuk Pewaris.

Hadiah Darurat: Vitality Lock (Mengunci sisa nyawa selama 60 menit).

Status Arel: Kepercayaan meningkat tajam (45%).

​Kaelan kembali dengan pakaian yang sedikit terciprat darah. Di tangannya, ia memegang sebuah busur panjang yang unik dengan ukiran bunga lili hitam. "Pemanahnya sudah mati. Tapi ini bukan kelompok Barka. Ini adalah The Silent Reaper, pembunuh bayaran dari kerajaan tetangga."

​Arvand menatap busur itu dengan tajam. "Siapa yang membayar mereka sampai menggunakan teknik panah berbelok?"

​"Hanya ada satu orang yang memiliki hubungan dengan mereka di istana kita," jawab Kaelan sambil menatap Aruna dengan penuh kekhawatiran yang ia sembunyikan di balik wajah dinginnya. "Tapi sekarang bukan saatnya membahas politik. Ratri butuh penawar dari bunga lili hitam itu, atau dia tidak akan bertahan sampai fajar."

​Arvand segera menggendong Aruna dengan posisi horizontal, mengabaikan jubah perangnya yang kini benar-benar basah oleh darah istrinya. "Kita tidak bisa ke kediaman musim panas. Terlalu jauh. Ada kuil tua di balik bukit ini. Kita ke sana!"

​Perjalanan menuju kuil dilakukan dengan kecepatan penuh. Aruna merasakan setiap guncangan di atas kuda Arvand seperti ribuan jarum yang menusuk jantungnya. Ia merasa jiwanya ditarik-tarik antara dunia ini dan kegelapan abadi.

​Sesampainya di kuil tua yang terbengkalai, Master Daryan segera menyiapkan peralatan medis sederhana di atas meja batu. Cahaya obor yang temaram menari-nari di dinding kuil, menciptakan bayangan yang mengerikan.

​"Jenderal, aku butuh Anda untuk memegang pundaknya. Tuan Muda Arel, tolong ambilkan air bersih dari sumur belakang," perintah Master Daryan dengan nada mendesak.

​Arel berlari secepat kilat, tidak mempedulikan rasa takutnya pada kegelapan kuil tua itu. Sementara itu, Arvand memegang kedua bahu Aruna. Tatapan mereka bertemu. Untuk pertama kalinya, Aruna melihat ada ketakutan yang tulus di mata pria yang dikenal sebagai singa medan perang itu.

​"Tahan ini, Ratri. Ini akan sangat sakit," bisik Arvand.

​Master Daryan membakar ujung belati kecil, lalu mulai menyayat area di sekitar mata panah untuk mengeluarkan racun hitam yang mulai mengental. Aruna menjerit tertahan, kukunya menancap dalam di lengan Arvand. Rasa sakitnya melampaui apa pun yang pernah ia alami sebagai editor naskah di dunianya dulu.

​"Sedikit lagi..." Master Daryan menarik mata panah itu keluar dengan satu gerakan cepat.

​Splash!

​Darah hitam muncrat ke lantai batu. Aruna lemas, kepalanya terkulai di dada Arvand. Napasnya tersengal-sengal, setiap tarikan napas terasa sangat pendek.

​"Mana penawarnya, Daryan?!" bentak Arvand.

​"Sedang saya siapkan, Jenderal. Tapi luka ini terlalu dalam. Saya butuh seseorang dengan aliran energi yang stabil untuk membantu mendorong racunnya keluar dari jalur saraf pusat," Master Daryan menatap Kaelan.

​Kaelan maju selangkah, namun Arvand menghalanginya. "Aku suaminya. Aku yang akan melakukannya."

​"Anda sedang tidak stabil, Arvand. Amarah Anda akan merusak jantungnya," ujar Kaelan tenang namun menekan. "Biarkan aku yang melakukannya. Aku memiliki teknik aliran air yang lebih lembut."

​Ketegangan antara dua pria itu kembali memuncak di tengah kondisi Aruna yang kritis. Namun, suara lirih Arel yang baru kembali membawa air memecah keheningan. "Siapa pun... tolong selamatkan Ibu. Aku mohon..."

​Akhirnya Arvand mengalah. Ia membiarkan Kaelan duduk di belakang Aruna dan meletakkan telapak tangannya di punggung wanita itu. Aruna merasakan aliran hangat yang sejuk mengalir masuk ke tubuhnya, perlahan-lahan meredam rasa terbakar di dalam dadanya.

​Namun, di tengah proses pemulihan yang sangat sensitif itu, telinga Aruna yang mulai membaik menangkap suara halus dari bawah lantai batu kuil. Suara itu bukan suara tikus atau angin. Itu adalah suara detak mekanisme seperti sebuah bom waktu kuno yang baru saja aktif.

​Aruna membuka matanya dengan sisa tenaga. Ia melihat ke arah ubin batu di bawah meja medis. Ada cahaya kemerahan tipis yang mulai keluar dari sela-sela semen batu.

​"Arvand... Kaelan... lari..." bisik Aruna dengan panik.

​"Jangan bicara dulu, Ratri. Fokus pada napasmu," sahut Kaelan.

​"Bukan... kuil ini... kuil ini adalah jebakan!" Aruna berteriak sekuat tenaga tepat saat lantai batu di bawah mereka mulai bergetar hebat.

​Tiba-tiba, seluruh dinding kuil mulai bergeser, menutup semua jalan keluar dengan pintu besi tebal yang jatuh dari langit-langit. Di saat yang sama, gas berwarna hijau mulai menyembur dari lubang-lubang kecil di dinding.

​"Gas pelumpuh!" teriak Master Daryan sambil menutup hidungnya.

​Arvand mencoba menebas pintu besi itu, tapi pedangnya justru terpental. Di balik pintu besi yang baru saja tertutup, terdengar suara tawa yang sangat akrab. Suara yang seharusnya sedang berada di dalam sel penjara bawah tanah kediaman Jenderal.

​"Selamat menikmati peristirahat terakhir kalian, Kakak Ipar tersayang. Kalian pikir Barka adalah satu-satunya bidakku?"

​Itu suara Selina. Tapi bagaimana mungkin?

​Aruna melihat ke arah Arel yang mulai terbatuk-batuk karena gas tersebut. Dengan gerakan cepat, ia menarik kain penutup meja dan membasahinya dengan air sumur yang dibawa Arel, lalu membekap hidung dan mulut anak itu.

​"Ibu... kamu?" Arel menatap Aruna dengan mata sayu yang mulai kehilangan fokus.

​Aruna merasa paru-parunya mulai terbakar lagi. Pandangannya berputar. Di tengah kabut hijau yang semakin tebal, ia melihat Kaelan dan Arvand mulai tumbang satu per satu. Namun, sesuatu yang lebih mengerikan terjadi. Salah satu patung di sudut kuil bergeser, menyingkap sesosok pria bertopeng yang memegang busur lili hitam yang sama dengan yang dibawa Kaelan tadi.

​Pria itu mengarahkan panahnya bukan ke Aruna, bukan ke Arvand, tapi ke arah langit-langit kuil yang ternyata penuh dengan gentong-gentong minyak yang siap diledakkan.

​Apakah ini adalah akhir dari perjalanan Aruna sebagai Lady Ratri? Siapakah pengkhianat di dalam pasukan Arvand yang berhasil membebaskan Selina dari penjara dan menjebak mereka semua di dalam kuil maut ini?

1
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
apakah ini berry atau yg mulia summer /Facepalm//Facepalm/
Linda pransiska manalu: hhhhhhh
total 3 replies
vj'z tri
hadeuhhhh gak bisa liat orang senyum dikit ni mahluk 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ semoga bisa bersama kalian
Erchapram
LUAR BIAS!
Travel Diaryska
utk yg suka cerita intens perang ya mgkn bagus aja ceritanya.
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Travel Diaryska
mc nya ga OP, sistemnya cuma jd notif doang, ga kasih hadiah obat bagus apa gitu biar mc fit. ga ada waktu buat mc heal dlu.
vj'z tri
kelennnnn lahhhh pokoke oyeeee🎉🎉🎉🎉
Erchapram
Sudah bab 18, teman-teman yang sudah baca tapi belum lanjut. Diharap segera melanjutkan karena sebentar lagi akan masuk bab 20.

Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.

Terima kasih.
XZR-1ERLAND
Sungguh plotwits nyaa
vj'z tri
hadeuhhh olah raga jantung terus ini /Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/
vj'z tri
OMG pilihan apa lagi ini/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ kasihan jendral
vj'z tri
eeedodoeeee wes keracunan masih tenggak racun lagi /CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
XZR-1ERLAND
duh thorr gw gak sabar liat ending nya , semoga happy ending ya thorrr, semangat trs thorr 💪
XZR-1ERLAND: iya kak Sama-sama, kakak juga jgn lupa mampir baca novel ku ya,btw aku masih jadi athour pemula, mohon dukungannya, kritik atau saran Kakak 👍
total 2 replies
vj'z tri
tahan diset loh ngobrol nya mau meledak ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
oalahhhh ini biang Lala nya ternyata 🤧🤧🤧
vj'z tri: sabarrrrr tunggu up /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
vj'z tri
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ siapa lagi itulah sabar sabar
vj'z tri
kerennnnn 🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
sabar sabar tunggu kelanjutan /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
bener bener ni ya kelakuan pangeran kaleng /Shame//Shame//Shame//Shame/
vj'z tri
benar benar konspirasi /Panic//Panic//Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!