NovelToon NovelToon
Gelang Bima

Gelang Bima

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Ilmu Kanuragan
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: bang deni

satria baru mengetahui jika dirinya hanya seorang anak yang di temukan oleh kakek pandu saat berada di kaki gunung gede, saat kakek Pandu merasa ajalnya sudah dekat ia memberikan sebuah gelang yang ada bersama Satria langit saat ia menemukannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kekuatan Baron

Di ruang perawatan yang terletak di bagian paling dalam dari kompleks Perguruan Naga Hitam, suasana terasa pengap dan muram. Ruangan itu dibangun menyatu dengan dinding batu alami di balik air terjun Way Nyampur, dihiasi aroma obat-obatan tradisional dan minyak gosok yang menyengat. Jarot dan Sugeng  terbaring lemah di ranjang perawatan, wajahnya penuh memar dan tubuhnya dibalut perban di sana-sini.

Baron berjalan mendekati tempat tidur perawatan itu dengan langkah tegap. Ketua Candra dan ayahnya, Sasmita mengikuti dari belakang. Wajah Baron perlahan berubah menjadi dingin saat melihat kondisi kedua murid senior itu yang menenaskan

"Mas Jarot, Mas Sugeng. apa yang terjadi?" tanya  Baron, keduanya murid inti dari Perguruan Naga Hitam, jadi yang bisa melukainya tentu saja bukan orang sembarangan

Jarot dan Sugeng mencoba bangkit meski menahan rasa sakit.

" Kami kalah telak tuan muda" jawab Sugeng terbata-bata.

" Katakan siapa yang mengalahkan dan membuat kalian terluka seperti ini Bimo? Atau Hadi? Bukannya target kita hanya mereka berdua?" tanya Baron selidik.

Jarot dan Sugeng saling berpandangan seolah mengingat kejadia beberapa hari yang lalu.

saat mereka menyerang Bimo di vila

"Bimo... dia memang kuat, badannya besar dan tenaganya lumayan besar. Tetapi ia tak memilik tenaga dalam,aku seorang bisa menghabisinya, apalagi Hadi bukan lawan kami" ujar Jarot pelan.

"Lalu? Kalau bukan Bimo, terus siapa yang bikin kalian jadi begini?" tanya Baron makin penasaran.

Sugeng menghela napas panjang sebelum menjawab. "Ada satu orang lagi, tuan Muda. Sepertinya dia yang memimpin mereka. Dia..."

"Dia apa?" desak Baron.

"Dia memiliki kekuatan yang jauh di atas kami. Pemuda itu tenaga dalamnya sangat tinggi, cepat, dan serangannya mematikan. Dia yang mengalahkan kami berdua dengan mudah," jelas Sugeng panjang lebar.

Mata Baron menyipit. Ada rasa curiga yang mulai merayapi hatinya. "Satu orang? Mengalahkan kalian berdua? Siapa namanya?"

"Kami tidak tahu namanya. Tapi dia memakai baju sederhana, sikapnya tenang tapi berwibawa," jawab Jarot.

Baron mengangguk pelan. Ia lalu mengeluarkan ponselnya, mencari satu foto yang pernah diambilnya dulu saat Satria dan Hadi mendaftar kuliah. Foto itu menampakkan wajah Satria yang sedang tersenyum tenang.

"apa dia orangnya?" tanya Baron sambil menyodorkan layar ponselnya ke depan wajah Jarot dan Sugeng.

Begitu melihat wajah di layar itu, mata Jarot dan Sugeng terbelalak serentak. Mereka langsung mengangguk cepat meski gerakan itu membuat kepala mereka pening.

"IYA! Itu dia! Dia yang membuat kami terluka!" seru mereka berdua hampir bersamaan.

"Benar, Baron. Dia yang melukai kami saat kami menyerang Bimo yang adadi desa itu,," tambah Sugeng.

Baron menarik kembali ponselnya.

" sepertinya dia juga yang waktu itu mmebuat ku lumpuh" gumam Baron,

Wajahnya berubah menjadi sangat dinin dan senyum miring menghiasi bibirnya. Jadi benar dugaannya. Satria. Pemuda yang selama ini ia anggap lemah dan miskin itu ternyata menyembunyikan kekuatan besar.

" Satria kau tunggu pembalasanku" geramnya dalam hati

Baron mengerti situasinya sekarang musuhnya ternyata Satria, orang  yang tidak ia perhitungkan

"Kalian boleh istirahat. Biarkan aku yang menyelesaikan masalah ini nanti," ucap Baron dingin

" tetapi kalian harus berlatih keras, kalian memalukan Perguruan naga Hitam!" desis Baron, Jarot dan Sugeng menunduk, Baron melangkah keluar dari ruang perawatan itu

Namun, belum sempat kakinya melangkah jauh, terdengar suara sumbang dari arah pintu masuk ruangan itu.

"Hei! Besar amat mulutmu, anak baru! Berani-beraninya kau memarahi senior yang terluka!"

Baron berhenti dan menoleh. ia seorang pemuda bertubuh besar, berkulit hitam manis dengan otot yang menonjol di balik kaosnya. Darma, salah satu teman dekat Jarot dan Sugeng, serta murid utama Perguruan Naga Hitam lainnya. Di belakangnya berdiri beberapa murid lain yang juga tampak tak terima melihat sikap Baron yang seolah merendahkan teman-temannya.

"Siapa kau?" tanya Baron ketus.

"Aku Darma! Murid inti perguruan ini. Dan aku tidak terima kalau kau menghina teman-temanku yang sedang terluka,  cuma karena kau merasa kaya! Kau baru beberapa hari datang, tapi sudah bertindak seolah jadi pemimpin di sini," bentak Darma dengan nada tinggi.

Ketua Candra mencoba menengahi. "Darma, jangan bicara sembarangan pada Baron. Dia..."

"Biar saja, Paman Candra! Dia cuma anak muda yang beruntung sembuh aja kok sok tahu! Dia belum merasakan kerasnya dunia persilatan di luar sana," potong Darma dengan nada menantang. Ia menatap Baron dengan tatapan membara.

Baron yang memang sejak tadi ingin sekali menguji kekuatan barunya justru tersenyum lebar. Ada rasa lega karena akhirnya ada yang mencari masalah padanya.

"Jadi kau membela mereka? Kau pikir kau lebih hebat dari mereka yang terbaring itu?" tanya Baron santai, namun matanya memancarkan kilatan bahaya.

"Aku tidak membela siapa-siapa. Aku cuma tidak suka cara bicaramu! Kalau kau merasa hebat, kenapa tidak buktikan saja? Lawan aku! Dan kalau kau menang, baru kau boleh bicara seenaknya di sini!" tantang Darma sambil menunjuk dada bidangnya sendiri.

Suasana di ruangan itu menjadi tegang. Para murid yang berkumpul mulai berbisik-bisik.

"Baron, tidak usah diladeni. Darma itu memang keras kepala," bisik Sasmita pada anaknya.

Namun Baron justru melangkah maju mendekati Darma. Ia tidak takut. Justru tubuhnya terasa gatal ingin segera bertarung dan merasakan betapa dahsyatnya kekuatan yang ia dapat dari Nyai Mayang.

"Lawan kau saja?  Kenapa tidak sekalian saja? Ajak teman-temanmu yang lain. Sepuluh orang sekaligus," tantang Baron dengan nada meremehkan. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas sambil memutar-mutar pergelangan tangannya.

Mendengar itu, semua orang terkejut. Darma bahkan sampai tertawa ngakak.

"Hahaha! Gila apa kau?! Sepuluh orang? Kau mau bunuh diri?!"

"Aku cuma mau bilang, kalau kalian semua merasa tidak terima dan merasa lebih hebat dari aku, seranglah sekarang. Aku layani kalian satu per satu atau sekaligus, sama saja bagiku," jawab Baron angkuh. Ia mengerahkan kekuatannya, Aura merah samar mulai menyelimuti tubuhnya, membuat suhu di ruangan yang dingin itu terasa makin dingin dan mencekam.

Kemarahan Darma memuncak. Merasa dirinya dan teman-temannya dihina habis-habisan, ia berteriak,

"Baiklah! Kalau itu maumu! Jangan menyesal kalau nanti tulangmu remuk!"

Darma pun mengajak sembilan orang murid utama lainnya yang ada di sana. Mereka adalah jagoan-jagoan yang menjadi kebanggaan Perguruan Naga Hitam. Sepuluh orang itu mengelilingi Baron di tengah lapangan latihan utama yang luas di balik air terjun itu.

Ketua Candra menatap dari kejauhan, ia ingin tahu apa yang di dapat Baron dari Keluarga tersembunyi Sutasoma

"Beri pelajaran padanya kak Darma!" teriak salah murd yang sedang penonton.

Hiaaaaaat

Darma langsung menyerang duluan. Ia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk melakukan Pukulan Naga Membara, jurus andalan perguruan itu.

" Wuuuut"

" Plaak"

Namun, bagi Baron, gerakan itu terasa sangat lambat. Dengan santai ia menangkis menggunakan satu tangan saja.

" Ah"

Tangan Darma terpental mundur karena benturan tenaga yang tidak seimbang. Wajahnya memucat kaget. Belum sempat ia sadar, murid-murid lainnya menyerang serentak dari berbagai arah.

"Seraaaaang!"

wush

Wuuuut

Pukulan, tendangan, dan tusukan tangan saling menyambar ke arah Baron. Namun, Baron tersenyum melihat semua serangan yang berantakan itu

Heaaaaah

Ia memutar tubuhnya, menangkis serangan dari kanan dengan sikunya, menepis serangan dari kiri dengan telapak tangan, dan menendang perut lawan yang mencoba menerjangnya dari bawah.

" Plaaak"

" PlaaaK

" Bugh"

" Aaaaargh"

Suara benturan tubuh terdengar beruntun. Setiap kali tangan atau kaki Baron menyentuh tubuh lawan, mereka langsung terpental jauh seolah ditabrak truk, menabrak tiang-tiang batu atau dinding alami, lalu jatuh terguling-guling kesakitan.

"Gimana bisa sekuat itu?" batin Darma yang baru bangkit, namun kembali diterjang oleh serangan balik Baron.

Baron menggunakan Ilmu Sapuan Angin Badai yang ia pelajari dari kediaman Sutasoma. Satu kibasan tangannya saja menghasilkan gelombang udara yang sangat dahsyat.

Wusss...

Dhuarrr!!

Darma dan dua orang temannya terpental paling jauh hingga menabrak tirai air terjun buatan di ujung lapangan.

Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, kesepuluh murid utama itu sudah tergeletak di tanah dengan kondisi terluka ringan hingga sedang, mengerang kesakitan. Tidak ada satu pun yang sanggup berdiri tegak menghadapi Baron.

Baron berdiri di tengah lapangan dengan napas yang teratur, tidak terlihat lelah sedikit pun. Justru wajahnya terlihat puas dan bersemangat. Ia memandangi semua orang yang kini menatapnya dengan pandangan takjub dan takut.

"Siapa lagi yang mau mencoba?" tantang Baron dengan suara lantang menggema di seluruh ruangan.

Semua orang terdiam seribu bahasa. Tidak ada yang berani angkat bicara. Kekuatan Baron benar-benar di luar nalar mereka. Ketua Candra yang melihat itu mengangguk ternyata kekuatan Baron hampir setara dirinya, ia bisa melihat dari kibasan terakhir tadi

namun tanpa sadar sadar setelah bertarung Baron menggaruk badannya yang tiba tiba terasa gatal, Di punggung bagian atasnya, tepat di bawah tengkuk, mulai tumbuh beberapa helai bulu-bulu pendek berwarna hitam pekat dan kasar, persis seperti bulu babi hutan.

Bulu-bulu itu tumbuh di sela-sela kulitnya yang mulus, menyatu dengan pori-porinya. Semakin ia mengerahkan kekuatan, semakin rasa gatal itu menjadi-jadi, dan semakin banyak bulu-bulu halus itu tumbuh menyembul keluar. Itu adalah efek samping dari kekuatan yang ia ambil dari dunia gaib, tanda bahwa wujud asli dari istrinya, Nyai Mayang, perlahan merasuk ke dalam tubuhnya.

Untungnya, pakaian Baron yang agak tebal menutupi hal itu sehingga tidak ada yang menyadarinya.

"Sudah selesai. Kalian semua sudah merasakan kekuatanku. Mulai sekarang, jangan coba coba memprovokasiku lagi," ucap Baron dengan nada dingin, lalu berjalan pergi meninggalkan lapangan itu menuju kamar yang disediakan untuknya, diikuti oleh tatapan kagum dan takut dari para murid lainnya.

Di dalam hatinya, Baron merasa sangat puas. Ia merasa tak terkalahkan. Namun, ia tidak tahu bahwa bayang-bayang wujud asli dari kekuatan itu perlahan-lahan menggerogoti tubuh dan jiwanya, mengubahnya menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia seutuhnya.

"Sekarang tinggal urusan dengan Satria " batin Baron sambil tersenyum miring, bayangan wajah Satria yang tenang terlintas di pikirannya. "Tunggu saja pembalasanku."

Dia yakin mampu mengalahkan Satria dengan kekuatannya saat ini

1
Dewi kunti
bimo pamer sama Bimo piye Iki kang
Blue Angel: tandain kak biar nanti saya revisi
total 1 replies
Dewi kunti
mentang2 beli nasi Padang ada bila sambel nya
Dewi kunti
menundukkan kepala,kok kepalane ketinggalan siiiich kan gak bs cuci mata
Dewi kunti
heeeehhh jari nya main ketetangga,Hadi ya😤
Blue Angel: tangannya ke gedean jadi salah pencet 🤣🤣🤣🙏🙏🙏
total 1 replies
Dewi kunti
kaget dan terkejut😤😤😤😤😤
Dewi kunti
tak tunggu updatenya,Yen iso Ojo gur sak bab to🤭🤭🤭🤭
Blue Angel: sesok tak up date 2 bab, 🙏🙏🙏🙏
total 2 replies
Aman Wijaya
top top markotop lanjut terus Thor
Aman Wijaya
ajian lembu sekilan.mantab lanjut terus
Aman Wijaya
gaaas njeduk Thor lanjut
pendekar angin barat
semangat thor
Aman Wijaya
gaaas njeduk Thor
Aman Wijaya
mantab Baron bercumbu dengan babi montok dan semlohe . lanjut terus Thor
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos pooolll lanjut
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor
Aman Wijaya
top top markotop lanjut terus
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos lanjut terus Thor
Was pray
aji lembu sekilan milik satria macet kah? kok terkena peluru satria nya? jangan2 udah luntur... 🤣🤣🤣
Was pray
katanya satria udah punya aji lembu sekilan? kok takut sama kestol? 🤣🤣
Was pray: waduh.... parah tuh satria... harusnya dia udah menguasai baru diajarkan pada oranf lain. .Kan otomatis di sini posisi satria sebagai pelatih/guru. .. masak guru belum punya kemampuan di suatu bidang udah diajarkan pada orang lain... harus satria udah menguasai dengan sempurna baru diajarkan pada orang lain karena dia udah mengalami proses menguasai ilmu itu sampai berhasil jadi bisa membimbing jadi dan Bimo agar berhasil menyerap ilmu tersebut, dirinya masih awam mnau membimbing orang lain
total 4 replies
Aman Wijaya
jooooz jooooz gandos lanjut terus
Aman Wijaya
jooooz pooolll Thor 💪💪💪 terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!