Menumpang di rumah kakaknya sendiri seharusnya terasa aman.
Namun justru di sanalah semuanya berubah.
Di balik rumah tangga yang terlihat tenang, ternyata tersimpan jarak, kesunyian, dan luka yang tak pernah terlihat orang lain. Ia hanya berniat tinggal sementara… tapi semakin lama, ia mulai melihat sisi lain dari pria yang seharusnya tak boleh ia perhatikan.
Tatapan yang terlalu lama.
Perhatian yang terasa berbeda.
Dan debar yang muncul di waktu yang salah.
Ia tahu batasnya.
Ia tahu itu salah.
Tapi bagaimana jika hati justru tertarik pada seseorang yang tak pernah dimiliki siapa pun bahkan oleh istrinya sendiri?
Dan ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap…
hubungan terlarang itu perlahan menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dihentikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syizha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dingin
"Hahahaha ...." Aku tertawa kecil. Berusaha santai.
"Alana Alana, saat kayak gini bisa-bisanya kamu masih becandain Mas." Aku langsung menyimpulkan seperti itu. Karena tak mungkin Alana serius dengan ucapannya. Dia terlalu ngacau.
"Udah, buruan kamu tidur. Ini udah malam."
Kulanjutkan langkahku. Meninggalkan Alana menuju ke kamarku. Aku masuk. Langsung kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Di samping Liliana yang sudah tertidur nyenyak sedari tadi.
Aku berbaring telentang. Pandanganku menerawang ke langit-langit kamar.
"Dia beneran nggak serius, kan? Dia bercanda, kan?" Aku bergumam sendiri. Sebetulnya aku ragu-ragu dengan keyakinanku sendiri.
"Tapi, kalau ternyata dia serius gimana?
"Enggak ... Enggak... Enggak. Ngapain aku berpikir kayak gitu." Kutepis kemungkinan tersebut.
Aku berusaha mengalihkan pikiran. Tak ingin lagi mengingat-ingat perkataan Alana.
Kumiringkan posisi tubuhku. Kali ini menghadap ke arah Liliana. Dia juga tengah berposisi miring menghadap ke keberadaanku.
Aku menatap wajahnya dalam-dalam. Wajah cantik yang sayang belum bisa kugapai sampai detik ini.
Srettttttt....
Aku menyentuhnya. Aku mengelus permukaan pipihnya. Karena hanya saat seperti ini lah aku berkesempatan untuk setidaknya sedikit saja menyentuh dirinya. Untuk sedikit saja mengambil hakku.
"Kapan sih, Li, aku harus terus nungguin kamu," gumamku. Tentu tak ada yang menimpali. Liliana masih tertidur pulas, tak terusik sedikitpun.
***
Keesokan harinya ....
Aku mendengar suara langkah kaki juga kegiatan lain yang sedikit bising. Aku jadi terbangun dari tidurku. Liliana sedang mondar mandir tak karuan. Mengambil handuk, dalaman, dan mengambil peralatan mandinya yang lain.
Ia sangat tergesa-gesa.
"Kamu kenapa?" Aku terduduk. Kukucak-kucak mataku agar rasa kantukku sepenuhnya hilang.
"Lihat, ini udah jam berapa. Aku telat bangun."
Liliana menjawab sambil masuk ke kamar mandi.
Aku menengok jam yang tertempel di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh kurang dua puluh menit. Ya, Liliana hampir terlambat ke sekolah untuk mengajar.
Biasanya hampir setiap hari ia bangun jam lima, bersiap-siap, jam enam lebih lima belas, dia pun berangkat.
Aku turun dari tempat tidur. Aku berniat ingin membantu Liliana. Mempersiapkan barang-barangnya untuk mempersingkat waktu dia bersiap-siap.
Aku membuka almari pakaiannya. Kuambil salah satu baju yang biasanya ia pakai untuk mengajar. Memadukan atasan dan bawahan yang menurutku cocok. Selesai, kutaruh di atas permukaan tempat tidur.
Giliran aku menuju ke rak sepatu miliknya. Aku mengambil sepatu dengan hak yang tak terlalu tinggi. Aku meletakkannya di dekat aku menaruh bajunya.
Terakhir, aku mengambil aksesoris yang mungkin akan dikenakannya. Jam tangan, gelang, dan kalung. Aku juga meletakkannya di atas bajunya.
Usai mempersiapkan barang-barang untuk menunjang penampilannya, aku keluar dari kamar. Aku pergi ke ruang makan. Biasanya jam segini hindangan lezat sudah tertata rapi. Tapi kali ini tak ada. Meja kosong tanpa makanan sama sekali. Mungkin Alana belum bangun. Pasti gara-gara semalam ia yang bergadang menemaniku.
Aku membuat sandwich.
Dengan isian seadanya yang tersedia di kulkas. Aku memasukannya ke tempat bekal makanan.
Selesai membuat sarapan untuk Liliana, aku kembali ke kamar. Kuraih tas kerja Liliana yang semula bertengger di rak ruangan ini. Aku memasukan bekal buatanku ke dalamnya.
Cekrekkk....
Pintu kamar mandi terbuka. Liliana sudah mandi. Badannya sudah segar. Ia hanya memakai dalaman lalu dibalut handuk.
"Ini, aku udah menyiapkan bajumu." Aku menyerahkan kemeja dan rok pilihanku yang tadi.
Liliana memperhatikannya.
"Aku lagi pengen pakai yang lain." Liliana menolaknya. Ia membuka almari. Ia mengambil sebuah kemeja bewarna merah muda. Kemeja yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Mungkin baru. Tapi aku tak tahu kapan ia membelinya.
"Sama aja kan, kenapa harus pakai itu?" Aku sedikit memprotes.
"Pokonya aku ingin pakai ini."
Aku membiarkannya.
Wanita memang kadang-kadang terlalu ribet untuk sesuatu hal yang sepele. Setelah Liliana berpakaian lengkap, aku mengambil dan menyerahkan aksesorinya. Kali ini tanpa penolakan. Ia langsung mengenakannya.
Ia duduk di kursi meja
riasnya. Menghadap ke cermin,
mengenakan make-up nya.
Sedang aku, kuraih hairdryer miliknya yang tersimpan di laci meja riasnya. Aku menyalakannya. Aku membantu mengeringkan rambutnya. Berdiri di belakang keberdaannya.
Kerap kali Liliana bermake-up sambil melihat ke arahku dari pantulan cermin. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
Kurang lebih lima menit, aku dan Liliana sama-sama selesai. Liliana beranjak. Aku menyerahkan tas kerjanya.
"Ini tas kamu. Di dalamnya sudah ada bekal makanan. Nanti bisa kamu makan setelah sampai di sekolah. Tapi maaf, cuma sandwich. Alana sepertinya belum bangun. Jadi belum ada makanan apa-apa."
Liliana menerimanya sambil tertegun.
"Kenapa kamu harus sebaik ini?" Dia malah berkata demikian.
"Kamu sedang telat kan. Aku hanya sekedar__"
"Kamu jangan pernah berharap aku akan membalas perbuatanmu." Liliana memotong ucapanku.
"Jadi saranku, kamu tak perlu susah-susah memperlakukanku seperti ini," tambahnya. Ia segera melenggang pergi. Tanpa berpamitan. Tanpa mengucapkan kata-kata yang manis untuk mengiringi perpisahan kami kali ini.
"Huffff ...." Aku menghela nafas. Sedih, tapi aku sudah terbiasa seperti ini.
Kualihkan suasana hatiku. Aku keluar dari kamar. Berjalan menuju ke dapur. Bermaksud kembali membuat sandwich, tapi kali ini untuk diriku sendiri.
Di tengah-tengah langkah kakiku, aku melewati kamar Alana.
"Serius, dia beneran masih tidur," gumamku.
Pikiran liarku tiba-tiba muncul. "Jangan-jangan dia pingsan. Jangan-jangan terjadi apa-apa sama dia di dalam sana."
Aku mendekat ke depan pintu kamar Alana. Aku mengetuknya perlahan.
"Alana, kamu nggak bangun?" Suaraku sedikit lantang.
Tak ada sahutan. Di dalam tak terdengar suara apapun.
Aku iseng memutar daun pintu. Dan ternyata__
Cekrekkk....