Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.
Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.
Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.
Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.
Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Enam
Pagi datang dengan cahaya yang lembut, menyelinap masuk melalui sela jendela kamar Hanin. Udara desa masih dingin, menyisakan embun di ujung daun dan rumput liar di halaman. Ayam-ayam berkokok bersahutan. Dari kejauhan terdengar suara ibu-ibu menyapu halaman, ritmis dan tenang.
Hanin sudah bangun sejak sebelum Subuh. Ia tidak benar-benar tidur semalaman. Matanya sembap, tapi tekadnya bulat. Seperti setiap kali ia pulang ke rumah itu, ada satu tempat yang selalu ia datangi pertama kali. Makam.
Ia mengambil air wudhu dengan tangan yang sedikit gemetar. Setelah salat Subuh, ia duduk sebentar di atas sajadah. Doanya panjang. Lebih panjang dari biasanya.
“Abi … Umi … Hanin pulang,” bisiknya lirih.
Setelah itu ia mengambil kerudung hitamnya, yang sederhana tanpa motif. Ia sengaja memilih yang paling polos. Seolah ingin datang tanpa beban dunia, tanpa warna, tanpa apa-apa selain rasa rindu.
Jalan menuju pemakaman umum tidak terlalu jauh dari rumah. Hanya sekitar lima belas menit berjalan kaki. Dulu, ia sering melewati jalan itu bersama ayahnya sepulang mengaji di masjid. Sekarang, langkahnya terasa lebih berat.
Matahari baru naik sepenggalah. Cahaya keemasan menyentuh hamparan sawah di kanan kiri. Air irigasi berkilau seperti serpihan kaca. Angin pagi membawa aroma tanah basah yang menenangkan sekaligus menyayat.
Setiap langkah terasa seperti membuka kembali lembaran lama yang belum pernah benar-benar ia tutup.
Pemakaman umum itu sederhana. Tidak berpagar tinggi. Hanya ditandai gapura kecil dengan cat yang mulai mengelupas. Beberapa pohon kamboja berdiri teduh di dalamnya. Daunnya gugur berserakan di atas tanah merah.
Hanin melangkah masuk. Ia hafal betul letak dua makam itu. Bersebelahan. Nisan putih sederhana. Tanpa ukiran mewah. Hanya nama, tanggal lahir, dan tanggal wafat.
Namun langkahnya mendadak terhenti. Di sana. Di depan dua nisan itu. Ada seseorang.
Seorang pria sedang berlutut. Tubuhnya sedikit membungkuk. Tangannya memegang salah satu batu nisan dengan hati-hati, seolah takut menyakitinya. Kepalanya tertunduk.
Hanin mengerutkan kening. Siapa?
Sepupunya jarang datang sepagi ini. Tetangga pun biasanya tidak ada yang nyekar di hari biasa.
Jantung Hanin mulai berdetak lebih cepat. Ada firasat aneh yang sulit ia jelaskan.
Ia berjalan lebih cepat. Kerudungnya tertiup angin kecil. Langkahnya hampir berlari.
“Mas …?” suaranya pelan, tapi cukup untuk membuat pria itu menoleh.
Pria itu terkejut. Matanya membesar. Dan dunia Hanin seperti berhenti sesaat.
“Mas Arsenio?”
Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya. Di hadapannya berdiri Arsenio. Wajahnya terlihat pucat, seperti tertangkap basah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan.
Begitu juga Arsenio. Ia jelas tidak menyangka Hanin akan datang sepagi ini.
“Hanin …,” ucapnya pelan.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap. Angin pagi berembus pelan, menggugurkan satu dua daun kamboja di antara mereka.
Hanin yang pertama kali memecah keheningan. “Kenapa Mas ada di makam kedua orang tuaku?”
Nada suaranya tidak tinggi. Tapi ada getar yang tak bisa ia sembunyikan.
Arsenio tidak langsung menjawab. Tangannya yang tadi memegang nisan perlahan turun. Ia berdiri, lalu mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa kaku.
“Aku .…” Ia terdiam.
Untuk sesaat, pria itu terlihat gugup. Tidak seperti biasanya. Tidak seperti Arsenio yang selalu percaya diri dan tenang.
“Aku hanya ingin nyekar,” jawab Arsenio akhirnya.
Hanin menatapnya lekat-lekat. Matanya mencoba mencari kebohongan di wajah itu.
“Dari mana Mas tahu kalau ini makam kedua orang tuaku?”
Pertanyaan itu lebih tajam. Arsenio menarik napas pelan.
“Dari Ustaz Hamid,” jawabnya. “Aku bertanya tentang keluargamu. Beliau bilang kedua orang tuamu sudah tiada karena kecelakaan.”
Hanin terdiam. Nama Ustaz Hamid membuatnya sedikit melunak. Ia tahu ustaz itu memang sering berbagi cerita jika ada yang bertanya dengan niat baik.
Arsenio berusaha tersenyum tipis. “Aku cuma ingin mendoakan. Tidak ada maksud lain.”
Ia berusaha bersikap wajar. Santai. Seolah ini hal biasa. Seolah kehadirannya di makam itu bukan sesuatu yang aneh.
Tapi Hanin masih berdiri kaku beberapa detik. Lalu perlahan ia melangkah mendekat. Ia duduk di antara dua makam itu. Seperti biasa. Seperti setiap kali ia pulang.
Arsenio bergeser sedikit, memberi ruang.
Tanah di sana masih lembap. Rumput liar tumbuh di sela-sela batu nisan. Hanin mengusap permukaannya pelan. Seperti menyentuh tangan orang tuanya.
Ia membuka mushaf kecil dari dalam tasnya. Suara bacaan Al-Qur’an mengalun pelan di antara nisan-nisan lain. Lembut. Bergetar. Kadang terhenti karena ia harus menelan tangis yang menggenang.
Arsenio diam. Ia hanya menunduk. Untuk pertama kalinya, ia melihat Hanin begitu rapuh, tapi sekaligus begitu kuat.
Setiap ayat yang dibaca Hanin seperti keluar dari tempat paling dalam di dadanya. Bukan sekadar lantunan. Tapi pengakuan. Penyesalan. Kerinduan.
“Ya Allah … ampunilah Abi dan Umi. Lapangkan kubur mereka. Terangi alam mereka .…”
Air mata Hanin jatuh satu per satu ke tanah. Arsenio menelan ludah. Dadanya terasa sesak. Ia tahu cerita itu. Kecelakaan yang telah merenggut nyawa kedua orang tuanya.
Tapi melihatnya langsung seperti ini rasanya berbeda. Setelah selesai, Hanin mengangkat kedua tangannya. Doanya panjang. Bibirnya bergetar.
Beberapa menit kemudian, ia menurunkan tangan. Mengusap wajahnya pelan.
Hanin menarik napas panjang. Lalu menoleh ke samping. Dan kembali terkejut. Arsenio masih di sana.
Belum pergi. Masih duduk diam.
Hanin mengerutkan kening. “Mas … kamu sedang menunggu siapa?”
Arsenio menatapnya. Ada sesuatu dalam tatapannya yang sulit dijelaskan.
“Menunggu kamu,” jawabnya jujur.
Hanin terdiam.
“Aku ingin mengajak kamu makan,” lanjut Arsenio pelan.
Kalimat itu biasa saja. Tapi bagi Hanin, terasa seperti lemparan batu ke danau yang sudah susah payah ia tenangkan.
Ia langsung teringat dua tahun lalu. Satu foto. Satu kesalahan.
Ia dan Fahmi. Duduk berdampingan di sebuah kafe kecil. Ia melepaskan hijabnya waktu itu. Rambutnya tergerai. Mereka tertawa. Fahmi mengangkat ponsel dan memotret.
Foto itu tidak pernah ia sangka akan menjadi awal dari segalanya. Ayahnya melihat foto itu di ponselnya. Wajah ayahnya berubah. Ibunya menangis.
Pertanyaan-pertanyaan tajam. Nasihat yang penuh kecewa. Dan akhirnya keputusan memasukan Hanin ke pesantren.
Hari itu, Hanin merasa dunianya runtuh. Dan di hari mereka mengantarnya ke pondok kecelakaan itu terjadi.
Semua seperti potongan puzzle yang tak pernah bisa ia susun ulang.
Hanin menunduk. “Maaf, Mas,” ucapnya pelan. “Aku tidak bisa.”
Arsenio terlihat sedikit kaget. “Kenapa?”
“Aku tidak enak pergi berdua,” jawab Hanin hati-hati.
“Kita cuma makan. Tidak lebih.”
Hanin menggeleng pelan. “Mas mungkin menganggap itu hal biasa,” katanya. “Tapi buat aku … tidak lagi.”
Arsenio terdiam. Hanin menatap dua nisan di depannya.
“Dulu aku juga berpikir begitu,” lanjutnya lirih. “Cuma ngobrol. Cuma foto. Cuma jalan sebentar.”
Suaranya mulai bergetar. “Tapi dari yang ‘cuma’ itu … semuanya berubah.”
Ia menahan napas. “Abi melihat foto aku dengan seorang laki-laki. Tanpa hijab. Tertawa lepas. Beliau merasa gagal mendidikku.”
Air mata kembali jatuh. “Umi menangis semalaman. Aku masih ingat suara isaknya.”
Arsenio mengepalkan tangan di atas lututnya.
“Aku tidak menyalahkan siapa pun,” lanjut Hanin. “Itu salahku. Aku yang membuka pintu itu.”
Ia tersenyum pahit. “Dan aku yang harus menanggung akibatnya.”
“Hanin .…” Arsenio ingin menyela.
Tapi Hanin menggeleng. “Mas baik. Aku tahu itu. Tapi aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama.”
Angin berembus lebih kencang. Daun-daun kamboja berguguran di sekitar mereka.
“Aku sudah kehilangan Abi dan Umi,” ucapnya pelan. “Aku tidak mau kehilangan arah lagi.”
Arsenio menatapnya lama. “Aku tidak berniat membuatmu salah arah,” ucapnya pelan. “Aku hanya … ingin mengenalmu lebih dekat.”
Kalimat itu terlalu jujur. Hanin memejamkan mata sebentar.
Dulu, kata-kata seperti itu akan membuat jantungnya berdebar bahagia. Sekarang yang ia rasakan hanya takut.
Takut jika ia lengah. Takut jika ia kembali membuka celah. Takut jika takdir kembali mengambil sesuatu darinya.
“Jika Mas ingin mengenalku lebih dekat, seringlah datang ke pondok pesantren. Kita ngaji bareng yang lainnya."
Sunyi kembali menyelimuti mereka. Burung kecil hinggap di atas salah satu nisan, lalu terbang lagi.
Arsenio akhirnya mengangguk pelan. “Baiklah. Maaf kalau aku membuatmu tidak nyaman.”
Hanin menggeleng cepat. “Bukan begitu.”
Ia berdiri perlahan. Mengusap kerudungnya. “Terima kasih sudah mendoakan Abi dan Umi.”
Arsenio ikut berdiri. “Aku sungguh-sungguh mendoakan mereka,” ucapnya.
Hanin mengangguk. Beberapa langkah ia berjalan menjauh, lalu berhenti. Tanpa menoleh, ia berkata pelan,
“Mas … jangan temui aku dengan cara seperti ini lagi.”
Arsenio terdiam. Hanin melanjutkan langkahnya keluar dari pemakaman.
Air matanya kembali jatuh. Bukan karena Arsenio. Bukan karena ajakan makan itu. Tapi karena kenangan yang tak pernah benar-benar pergi.
Karena rasa bersalah yang masih tinggal. Karena rindu yang tak pernah menemukan tempat pulang.
Di belakangnya, Arsenio masih berdiri di antara dua nisan itu. Ia menatap nama yang terukir di batu putih sederhana.
Dan ia sadar, mencintai seseorang yang sedang berdamai dengan masa lalunya bukan perkara mudah.
Arsenio kembali berlutut di antara makam kedua orang tua Hanin, dan berkata, "Maafkan aku, Pak, Bu. Aku janji akan menjaga Hanin, menggantikan tugas kalian."
semoga bahagia selalu..
masak orang hidup minta do'a sama yg udah almarhum, Pak Ustadz lihat author ini Pak Ustadz... 🤭
GK usah bikin huru hara...
lah.... ribet bgt....
up LG thor
apa tujuannya datang ke kuburan org tuanya Hanin..
di gubuk tengah ladang aj...
Arsen mau nin....asal dgn mu...😄😄🤭