Yan Jian— seorang generasi muda yang awalnya terlahir tanpa memiliki Roh Bela Diri bawaan, kini bangkit sebagai Generasi Muda terkuat di Provinsi Chang Yuan.
Setelah melakukan pertarungan panjang yang melelahkan waktu, menepati janji, menorehkan prestasi, hingga dirinya disebut Generasi Muda nomor satu di Provinsi Chang Yuan.
Yan Jian bersama sembilan Generasi Muda perwakilan Provinsi Chang Yuan lainnya berangkat menuju Kota Kekaisaran, tempat Kompetisi terbesar di salah satu Kekaisaran Wilayah Timur. Namun di wilayah timur besar, Provinsi Chang Yuan di anggap sebagai debu berjalan, karena setiap kompetisi, provinsi Chang Yuan selalu menjadi yang terlemah dan selalu berada di peringkat paling rendah.
Mampukah Yan Jian bersama rekan-rekannya mengangkat dan mengharumkan Provinsi Chang Yuan di Kompetisi terbesar Kekaisaran Api Agung itu? Yuk, ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PKT 2: Chapter 7
"Pedang Nol Derajat!"
Suara Yan Jian keluar dingin membeku, seperti hembusan angin dari puncak salju abadi di utara yang tak pernah mencair. Begitu kata-kata itu selesai terucap, kedua matanya terbuka lebar. Di pinggiran matanya yang hitam pekat, terlihat lapisan tipis kristal es berwarna biru pucat merambat perlahan, seolah darah di pembuluh matanya sendiri ikut membeku.
Pedang di tangannya dengan bilah ramping berkarat yang seolah terbuat dari besi ribuan tahun, ditegakkan tepat di depan wajahnya. Ujung pedang itu bergetar pelan, seakan menahan beban yang tak terlihat.
Yan Jian menarik napas dalam-dalam. Kemudian, dengan gerakan yang lambat namun penuh kekuatan dahsyat, dia memutar seluruh tubuhnya setengah lingkaran. Pedang itu diayunkan mengikuti putaran badannya, tapi gerakannya terasa berat luar biasa, seperti mengayunkan gunung es yang membeku ribuan tahun. Otot-otot lengannya menegang, urat-urat di lehernya menonjol, dan napasnya mengembun putih tebal di udara yang tiba-tiba menjadi sangat dingin.
"Haaaaaaa...!!"
Teriakan Yan Jian meledak, bukan sekadar suara manusia, melainkan raungan badai salju yang mengguncang jiwa. Seluruh energi spiritual dan esensi dingin di dalam tubuhnya dituangkan ke dalam satu ayunan pedang itu.
Seketika udara di sekitar mereka membeku.
Krak!
Suara kristalisasi terdengar di mana-mana. Uap air di atmosfer langsung berubah menjadi kepingan salju kecil yang turun perlahan dari langit yang tadinya cerah. Satu per satu, butiran salju itu jatuh, lalu semakin banyak, semakin lebat, hingga dalam hitungan detik area pertarungan berubah menjadi negeri musim dingin yang tak wajar.
Tanah bebatuan di bawah kaki mereka langsung dilapisi kristal es tebal berwarna biru keperakan. Retakan-retakan di tanah yang sebelumnya tercipta akibat hentakan Wang Ziwei kini membeku, seolah waktu di sekitar retakan itu dihentikan. Rumput liar di pinggir arena pertarungan langsung layu dan berubah menjadi patung es rapuh.
Wang Ziwei berdiri di hadapan Yan Jian dalam jarak 20 meter, aura petir ungu di tubuhnya masih berkelebat, tapi untuk pertama kalinya ekspresinya berubah serius. Napasnya mengembun putih, dan dia bisa merasakan suhu tubuhnya sendiri mulai ditarik keluar oleh dingin yang tak wajar ini.
Ketika pedang Yan Jian selesai diayunkan. Dari ujung bilahnya melesat gelombang es tipis namun sangat tajam, seperti ribuan jarum es tak kasat mata yang bergerak dalam satu garis lurus sempurna menuju Wang Ziwei. Gelombang itu tidak hanya membawa dingin, tapi juga tekanan murni yang seolah ingin membekukan segala sesuatu hingga ke tingkat Nol.
"Menarik..." gumam Wang Ziwei pelan.
Dia mengangkat pedang ungunya dengan kedua tangan, aura ungu di tubuhnya meledak lebih terang. Bilah pedangnya bergetar hebat, seolah menolak dingin yang mendekat.
"Kalau begitu... aku akan ...."
Kata-kata Wang Ziwei terpotong ketika Zhang Feng tiba-tiba berteriak: "Awas! Bahaya!" teriak Zhang Feng dengan suara yang lantang dan panik.
Zhang Feng melangkah maju satu langkah, menghantamkan pedangnya ke depan dengan kekuatan penuh.
Trang! KRRRAAAKKK! Bang—
Dua kekuatan bertabrakan di tengah udara.
Gelombang es biru pucat bertemu dengan tebasan api yang membara. Ledakan energi dingin dan energi panas saling mendorong, menciptakan badai dahsyat di titik pertemuan. Salju beterbangan liar, kristal es pecah berhamburan seperti kaca yang dihancurkan, sementara sisa-sisa ledakan membakar udara hingga menimbulkan asap tipis. Bahkan derasnya air sungai seketika membeku, namun kembali dipecahkan oleh kekuatan langit dan bumi.
Keduanya terdorong mundur bersamaan.
Yan Jian mendarat dengan satu lutut di atas tanah yang kini sepenuhnya membeku, napasnya terengah-engah tapi matanya masih berkilat dingin. Pedangnya tertancap di tanah, ujungnya menembus lapisan es setebal satu jengkal.
Wang Ziwei berdiri tegak, meski lengan kanannya sedikit gemetar. Ada lapisan tipis embun beku di bahu kirinya, tapi dia segera menghancurkannya dengan hembusan elemen petir ungu. Dia terdiam dalam keadaan mematung, dia berpikir jika serangan itu tidak dihentikan oleh Zhang Feng... entah bagaimana jadinya nasibnya saat ini.
"Pedang Nol Derajat... jurus yang konon hanya bisa digunakan oleh Binatang Monster peringkat ke tiga ... Pe— Permaisuri Es dan salju Lin Bing?" ucap Wang Ziwei dengan ekspresi wajah yang begitu tercengang.
Di sisi lain, Zhang Feng bangkit berdiri sembari memegangi dadanya yang terasa sakit.
"Astaga...!!" ucap An Lang, "Bahkan mampu membuat Senior Zhang benar-benar terhempas mundur!" sambung An Lang, sangat begitu terkejut dan takjub dengan kemampuan Yan Jian.
"Sial!" Zhang Feng sangat merasa kesal, bahkan tangannya masih bergetar, "Apa kau benar-benar dari Provinsi Chang Yuan?" sambung Zhang Feng, bertanya dengan nada yang berat.
Yan Jian pun berjalan pelan, mendekat ke arah Zhang Feng. Setiap langkah kakinya menginjak tanah bebatuan, membuat tanah itu menjadi beku dan retak seperti jaring laba-laba di atas tanah.
"Kedua Senior! Yan... tidak pernah membunuh orang tanpa nama! Pertarungan ini... apa masih mau dilanjutkan?" tanya Yan Jian dengan nada yang tenang, tetapi dingin menusuk jiwa.
Bahkan mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut pemuda dihadapannya, membuat insting pembunuh Zhang Feng mengatakan bahwa bocah itu tidak dapat untuk disinggung.