Dia Xuan Huan. seorang pejuang tingkat sembilan. Programmer sekaligus hacker yang sangat ditakuti. Banyak lawan yang sudah ditaklukkan, bahkan ada yang berkeinginan untuk menjalin kerja sama.
Proyek terakhir yang Ia kerjakan, adalah proyek kecerdasan buatan, yang bisa menjelajahi alam semesta. Penuh dengan kode kode rumit dan mencengangkan.
Quantum Xuan, itulah nama programnya. Tapi karena program itu dia harus mati, dan jiwanya ditempatkan pada tubuh seorang gadis lemah 12 tahun ke belakang, yang juga mati karena penganiayaan. Lalu bisakan tubuh dengan jiwa Xuan membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aditya Jetli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Diincar
Beberapa jam berikutnya. "Siapa yang telah berani melukai putraku. Apa kalian sudah memastikan wajahnya?" tanya Wijaya, sesaat setelah melihat kondisi putranya yang sangat menyedihkan itu.
Beberapa giginya patah, dan tulang rusuknya ada yang masuk ke dalam. Untuk bernafas saja dia susah.
Tapi berkat teknologi yang cukup tinggi, ditambah dengan adanya dua ahli tulang, dan satu ahli ortopedi. kemungkinan kerusakan tersebut mudah untuk diperbaiki, sepanjang tidak benar benar patah.
"Ini poto dua gadis pelakunya tuan. Kebetulan ada yang memotret mereka dari jarak jauh, dan langsung mengirimkannya padaku." kata Chen Da, sambil menyerahkan handphone miliknya, yang berisi poto Nindya dan Kirana pada Wijaya.
"Siapa mereka. Kenapa aku tidak pernah melihatnya?" tanya Wijaya lagi.
"Mereka siswa sekolah elit Bunga Bangsa tuan, yang berlokasi di tanah kuda, dekat dengan beberapa kantor pemerintahan ibukota."
"Dulunya mereka adalah pemulung juga pengamen. tapi sekarang tidak diketahui apa kegiatannya?" jawab Chen Da, ajudan sekaligus pelindung tuan Wijaya.
Mempunyai kekuatan yang cukup tinggi, karateka Dan lima. Menguasai Wing Chun, Sanda, Samba dan Tai Chi. dan semua itu sudah dikuasainya dengan baik.
Dia direkrut oleh tuan Wijaya, karena bakat dan kekuatannya yang sangat luar biasa. Tentunya dengan bayaran tinggi. fasilitas nomor satu pula.
Di samping Wijaya ini lah dia sekarang berdiri, dan sedang menjelaskan pada tuannya.
Reaksi Wijaya. "Hanya dua orang gadis muda seperti ini, sudah mampu mengalahkan tiga pengawal pribadi milik anak ku. Bagaimana bisa?"
"Itulah kenyataannya tuan. Kalau tidak melihat dampaknya langsung, saya pun tidak percaya. Serangannya cukup kuat juga presisi. Diyakini dua gadis itu bukan orang sembarangan tuan." bantah Chen Da.
"Apa kau punya solusi untuk mengatasi masalah ini Chen Da?" tanya Wijaya.
"Untuk saat ini belum ada tuan. Tapi kalau boleh usul, sebaiknya tuan tarik saja dua gadis itu merapat ke kubu kita, dan jadikan pengawal pribadi salah satu keturunan tuan. Saya yakin keamanan mereka akan terjamin."
"Menarik mereka? Tapi salah seorang diantaranya sudah melukai anakku. Apa anakku yang ini bisa diajak bekerja sama?"
"Saya rasa bisa tuan. Buat saja kedua gadis itu menjadi pengawal, sekaligus pelayan tuan muda Amar, dan yang satunya lagi diberikan pada Nona Bella."
"Begitu ya. Apa kau bisa membujuk mereka, atau minimal menundukkan mereka Chen Da?"
"Jika membujuk dengan kata kata kemungkinan sulit tuan. Tapi jika membujuk dengan kekuatan, saya rasa bisa?"
"Kalau begitu lakukan. Tunggu apalagi? Aku ingin dua gadis itu sudah berada di depanku dalam satu jam!"
"Dimengerti tuan. Saya akan menghadirkan mereka untuk anda."
"Ya, Pergilah!"
"Siap!"
Di bagian lain.
[Tuan. Ada tiga kekuatan yang sedang mengincar anda. Rata rata anak buahnya mempunyai kekuatan yang cukup mumpuni. Oleh karena itu tuan harus berhati hati]
"Diincar. Oleh tiga kekuatan. seberapa besar peluangnya untuk menang?"
[Kubu pertama, mempunyai 3 petarung level 1. satu petarung level 2 dan 1 petarung level 5. Rata rata sudah mencapai angka 100, 200 dan 500]
[Kubu dua, memiliki 11 petarung level 2. Satu petarung level 7 dan 1 petarung level 8. Kekuatan mereka sudah cukup mumpuni untuk ukuran sekarang]
[Sementara kubu 3, mempunyai satu petarung dengan kekuatan mendekati 1.000, berkat kemampuannya yang cukup banyak]
[Namun jika berhadapan dengan tuan, dia tidak ada apa apanya]
[Selain satu petarung yang kuat itu, kubu 3 juga memiliki ratusan petarung level 1 sampai level 5. Bahkan tiga komandannya sudah berada di level 9]
"Kekuatannya berada di bawah Chen Da, asisten sekaligus pengawal pribadi Tuan Wijaya. Kekuatannya sudah mencapai 900. dan dipercayakan untuk memimpin pasukan pengamanan, yang jumlahnya sekitar 700 orang]
"Kalau begitu tunjukkan petanya, dan tunjukkan juga siapa orang orang itu, agar saat bertemu, aku bisa langsung menghajarnya."
[Baik tuan]
Maka dalam sekejap saja, lokasi tiga kubu yang dibicarakan tadi sudah terpampang di depan mata. di mana kekuatan orang orang tersebut cukup lumayan bagi orang kebanyakan. Tapi bagi Nindya, itu hanya biasa biasa saja.
Lalu dengan teliti dia mengamati, dan memutuskan untuk membuat perhitungan dengan mereka. Dimulai dari kubu satu. Kubu dua, dan yang terakhir baru kubu tiga. Dimana Chen Da menjadi pengawalnya.
Tak lama kemudian dia memanggil bawahannya untuk menghadap. Lalu berkata. "Lili. Sekarang kita sedang diincar. Tiga kekuatan sekaligus. Bagaimana pendapatmu. Apakah kita akan menunggu atau menyusul mereka saja sebelum mereka membuat kekacauan?"
"Menurut Lili, sebaiknya kita susul saja mereka. dan datangi tempatnya satu persatu, agar tidak bisa meremehkan kita lagi Nona."
"Bagus! Aku suka ketegasan mu. Kalau begitu bersiaplah. Kubu satu nampaknya sudah mulai bersiap siap. Sepertinya mereka sudah tidak sabar untuk menangkap kita?"
"Baik Nona. Lili juga sudah tidak sabar untuk menghajar mereka!"
"Mau kau apakan?"
"Lili akan patahkan tangan dan kaki mereka, agar mereka tahu kekuatan dari negeri seberang sana." jawabnya.
Lalu menghilang bersama Nindya. Padahal saat itu mereka sedang berada di kamar hotel, yang tinggal satu hari lagi ditempatinya.
Begitu sampai. Mereka berdua langsung masuk, dan langsung pula membuat kekacauan.
"Siapa kalian. Kenapa berani sekali membuat keributan di markas Serigala?" tanya komandan jaga pada Nindya dan Kirana.
"Usah banyak tanya! Layani saja kami dengan baik. Karena kami ingin mematahkan leher kalian!" jawab Kirana mendahului tuannya.
"Kurang ajar! Dasar perempuan jalang. Kuhabisi kalian!" reaksi komandan jaga tidak senang.
Lalu memanggil bawahannya untuk datang. "Kawan kawan! Mumpung sekarang kita sedang senggang. Ayo kita tangkap dua perempuan jalang ini, dan jadikan mereka sebagai alat untuk bersenang senang!" sambungnya.
Lalu merangsek ke arah Kirana, yang dia sangka lemah itu.
Namun belum juga sampai, tubuh komandan jaga itu terpental, karena tanpa basa basi lagi, Kirana langsung mengeluarkan energi spiritualnya, dan langsung pula membanting komandan jaga ke lantai.
Melihat kejadian itu, bawahannya langsung berhenti, dan memandang ke arah satu sama yang lain.
Sementara Nindya sudah bergerak masuk ke dalam, tanpa seorangpun menyadarinya.
Dia membiarkan Kirana menghadapi 58 orang itu sendirian, karena dia yakin mereka itu tidak apa apanya jika dibanding dengan bawahannya.
Dan benar saja, hanya dalam waktu satu menit, kerumunan yang berjumlah 58 orang itu sudah terkapar semua.
Terlihat kaki dan tangan mereka bengkok, Kesadaran mereka sudah menghilang, dan wajah sangar yang tadi diperlihatkan sudah tidak ada. Seluruhnya pingsan.
Sedangkan di tempat lain dalam bangunan dan waktu yang sama. Saat ini Nindya sedang berhadapan dengan 4 orang petarung kuat, juga 25 orang bawahannya.
Kekuatan empat orang itu cukup tinggi. Memiliki pelatihan tubuh tingkat 1 dan 2. Sama dengan laporan yang disampaikan oleh Ji Quan, asistennya.
Tetua pertama mereka yang bernama Arga, memiliki kekuatan tubuh sebesar 200 kilo, tanpa dilandasi oleh tenaga dalam, apalagi energi spiritual.
Jadi bisa diatasi dengan mudah karena Nindya memiliki energi tersebut.