NovelToon NovelToon
The Phantom

The Phantom

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance / Kriminal
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.

Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.

Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…

Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 — Garis yang Tidak Terlihat

“Seberapa buruk?”

Alice masih berdiri tenang di belakang meja kerjanya saat pertanyaan itu meluncur dari bibirnya. Ia tidak menunjukkan ketakutan, tidak pula menunjukkan niat untuk melarikan diri. Tatapannya jernih, seolah-olah ia sudah terbiasa menghadapi badai yang akan datang.

Leon tetap berdiri di tengah ruangan, tangannya tersembunyi di dalam saku jaketnya yang berisi senjata. Lampu neon di atas kepala mereka berdengung pelan, mengisi keheningan yang menyesakkan.

“Cukup buruk untuk membuat seluruh distrik ini terbakar,” jawab Leon pada akhirnya. Suaranya terdengar seperti gesekan logam yang dingin.

Alice menatap Leon selama beberapa detik, mencoba membaca apa yang tersirat di balik wajah pria itu. “Kau terdengar seperti seseorang yang sudah membuat keputusan, namun hatimu masih mencoba mencari alasan untuk membatalkannya.”

Leon menggelengkan kepalanya sedikit. “Aku belum membuat keputusan apa pun.”

Alice menutup buku catatannya dengan gerakan yang sangat tenang. “Kalau begitu, jangan berdiri seperti patung di tengah kliniku. Itu membuatku merasa seperti sedang diintai oleh predator.”

Ia menunjuk kursi pemeriksaan baja di sudut ruangan. “Duduklah. Kau terlihat sangat lelah, Leon.”

Leon mengikuti perintah itu dan duduk. Tubuhnya terasa berat, beban dari kontrak tujuh juta dollar itu terasa jauh lebih menyiksa daripada luka tembak di perutnya.

Alice berjalan menuju rak pendingin kecil di sudut ruangan, mengambil sebuah botol air mineral dingin, lalu melemparkannya ke arah Leon. “Tangkap.”

Leon menangkap botol itu dengan gerakan refleks yang sempurna. Ia membuka tutupnya dan meminum air itu dalam sekali teguk, merasakan dinginnya air membantu menjernihkan pikirannya yang kacau.

“Kau terlihat seperti orang yang sudah tidak tidur selama tiga hari berturut-turut,” komentar Alice sambil menyandarkan tubuhnya ke meja kerja.

“Kurang lebih begitu,” sahut Leon pendek.

Alice menyilangkan tangannya di depan dada, matanya tidak pernah lepas dari Leon. “Apa pekerjaanmu sebenarnya? Selain menjadi pasien langgananku di tengah malam?”

Leon menatap lantai semen yang bersih di bawah kakinya. “Aku seorang kurir.”

Alice mengangkat alisnya, senyum tipis tersungging di bibirnya. “Kurir macam apa yang membawa luka tembak dan memiliki harga kepala yang mahal di Distrik 6?”

“Kurir barang-barang yang tidak ingin diketahui oleh publik,” jawab Leon jujur.

Alice mengangguk pelan. “Di distrik ini, itu berarti barang-barang ilegal atau sesuatu yang sangat berbahaya bagi pemiliknya.”

Leon tidak membantah perkataan itu. Ia tetap diam, membiarkan Alice terus mengamati dirinya.

“Setidaknya kau cukup jujur untuk mengakuinya,” kata Alice.

“Tidak selalu,” balas Leon.

Alice memperhatikannya dengan penuh minat. “Aku tidak akan bertanya apa yang sedang kau antar malam ini, atau untuk siapa kau bekerja. Rahasia adalah mata uang terbaik untuk tetap hidup di Valmere.”

Leon menatap Alice dengan pandangan yang lebih dalam. “Kenapa kau tidak ingin tahu? Bukankah rasa ingin tahu adalah sifat dasar manusia?”

Alice mengangkat bahu sedikit. “Karena semakin sedikit yang aku tahu tentang urusan orang-orang seperti kau, semakin lama aku bisa mempertahankan klinik kecil ini.”

Leon sedikit mengernyitkan dahi. “Itu kebijakan yang aneh untuk seseorang yang tinggal di tempat seberbahaya ini.”

Alice tersenyum kecil, kali ini senyumnya terasa lebih tulus. “Tidak aneh jika kau sudah melihat apa yang aku lihat selama lima tahun terakhir.” Ia mengetuk permukaan meja kerjanya dengan jari telunjuknya. “Distrik ini punya banyak cerita buruk, dan aku tidak ingin menjadi bagian dari salah satunya.”

Leon menatap ke arah peralatan medis Alice yang tertata rapi. “Kau tidak terlihat seperti seseorang yang takut pada cerita-cerita buruk itu.”

Alice menatap balik ke arah Leon dengan pandangan yang serius. “Aku takut, Leon. Setiap malam aku takut jika ada orang yang mengetuk pintu ini bukan untuk mencari obat, melainkan untuk mengakhiri segalanya.”

“Tapi kau tetap membuka pintunya,” kata Leon.

Alice mengangguk pelan. “Karena rasa takutku tidak lebih besar daripada keinginanku untuk membantu mereka yang tidak punya pilihan lain.”

Sunyi menyelimuti ruangan itu kembali. Leon merasa ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya—sebuah konflik antara tugasnya sebagai kurir profesional dan rasa kemanusiaannya yang selama ini ia tekan habis-habisan.

Alice memecah keheningan itu lagi. “Sekarang giliranmu untuk menjawab pertanyaanku.”

Leon menatap Alice. “Apa yang ingin kau ketahui?”

Alice menunjuk ke arah pintu keluar klinik. “Kau datang ke sini malam ini bukan untuk memeriksa jahitanmu. Aku tahu itu, dan kau pun tahu itu.”

Leon tetap diam, menunggu Alice melanjutkan kalimatnya.

“Kau datang karena ada sesuatu di kepalamu yang mengganggu kedamaianmu,” Alice berkata dengan nada yang sangat tenang, hampir menyerupai diagnosa medis.

Leon bertanya dengan suara datar. “Sejak kapan dokter juga memiliki kemampuan membaca pikiran pasiennya?”

Alice tersenyum tipis, matanya berkilat ramah. “Aku tidak membaca pikiranmu, Leon. Aku membaca wajahmu. Sebagai dokter, aku belajar untuk melihat apa yang disembunyikan oleh tubuh pasienku.”

“Dan apa yang kau lihat di wajahku?” tanya Leon.

Alice menjawab tanpa ragu sedikit pun. “Aku melihat seseorang yang sedang memikirkan orang lain. Seseorang yang membuatmu meragukan prinsip hidup yang selama ini kau pegang teguh.”

Leon tidak bergerak. Ia merasa Alice seolah-olah bisa melihat menembus jaket taktisnya dan langsung ke arah jiwanya.

“Mungkin kau benar,” bisik Leon pelan.

Alice mengangguk pelan, menunjukkan pemahaman yang mendalam. “Kalau begitu, aku punya sebuah saran sederhana untukmu.”

Leon menunggu saran itu dengan penuh perhatian.

“Jangan lakukan hal yang bodoh,” kata Alice santai.

“Hal bodoh seperti apa?” tanya Leon.

“Hal yang akan membuatmu menyesali setiap detik sisa hidupmu karena kau tidak mengikuti kata hatimu sendiri,” jawab Alice dengan tegas.

Leon tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung kepahitan yang nyata. “Seluruh hidupku sudah dipenuhi dengan keputusan-keputusan yang membuatku menyesal.”

Alice memandangnya dengan tatapan yang lebih lembut sekarang. “Kau tidak terlihat seperti seseorang yang menikmati penderitaan itu, Leon.”

Leon tidak menjawab. Ia berdiri dari kursi pemeriksaan dan berjalan menuju pintu. Namun tangannya terhenti di gagang pintu, ia merasa seolah-olah ada sebuah beban yang menariknya untuk tetap tinggal.

Alice berjalan mendekati jendela dan membuka sedikit tirai, memandang ke arah gang yang gelap di luar sana. “Kau tidak diikuti oleh siapapun malam ini, Leon. Setidaknya untuk saat ini.”

Leon menoleh sedikit ke arah Alice. “Terima kasih.”

“Kau bisa tinggal di sini beberapa menit lagi jika kau mau,” tawar Alice. “Kau terlihat seperti seseorang yang tidak punya tempat tujuan lain malam ini.”

Leon menatap ke arah kursi-kursi di ruangan kecil itu. Ruangan ini terasa seperti satu-satunya tempat di Valmere di mana ia tidak perlu menjadi seorang predator. “Mungkin aku akan duduk sebentar lagi.”

Alice kembali ke meja kerjanya dan membuka bukunya kembali. “Duduklah sesukamu, selama kau tidak berdarah di lantai kayuku yang bersih.”

Leon duduk kembali, memejamkan matanya sejenak dan menikmati kesunyian yang jarang ia dapatkan. Beberapa menit berlalu dalam diam, hanya suara halaman buku yang dibalik Alice yang terdengar.

Akhirnya, Leon berdiri kembali. Ia tahu ia tidak bisa melarikan diri dari kenyataan selamanya. “Aku harus pergi sekarang.”

Alice tidak mendongak dari bukunya. “Baiklah. Hati-hati di luar sana.”

Leon berjalan menuju pintu, namun sebelum ia membukanya, Alice bersuara kembali tanpa mengangkat kepalanya.

“Leon.”

Leon berhenti di ambang pintu. “Ya?”

Alice menutup bukunya dan menatap Leon dengan pandangan yang sangat dalam. “Kau tadi bilang pekerjaanmu adalah mengantar barang.”

Leon menunggu kelanjutan kalimat itu.

“Barang apa yang sedang kau bawa dalam pikiranmu malam ini?” tanya Alice dengan senyum tipis yang penuh misteri. “Karena wajahmu terlihat seperti seseorang yang sedang memegang sesuatu yang sangat berbahaya bagi keselamatan dunia.”

Sunyi menguasai ruangan itu selama beberapa detik. Leon menatap Alice untuk terakhir kalinya malam itu, menyadari bahwa wanita ini jauh lebih cerdas daripada yang ia duga.

“Kau benar,” kata Leon pelan.

Alice memiringkan kepalanya sedikit. “Lalu, apa itu?”

Leon membuka pintu klinik, membiarkan udara malam yang dingin menyapu wajahnya. Ia melangkah keluar ke kegelapan gang, lalu menoleh sedikit sebelum menutup pintu.

“Sebuah keputusan,” jawab Leon datar, lalu ia menutup pintu rapat-rapat dan menghilang ke dalam bayangan malam Distrik 6.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!