NovelToon NovelToon
Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."

Sinopsis Cerita:

Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Adu Fisik di Puncak Babel dan Kejatuhan Kaisar Iblis

BUAGH!

Sebuah pukulan telak menghantam rahang kiri Ba'al, mengirimkan cipratan darah hitam pekat ke lantai pualam putih. Sang Kaisar Iblis Kehampaan itu terhuyung ke belakang, matanya yang biasa angkuh kini membelalak penuh ketidakpercayaan.

Di dalam sangkar Segel Penekan Alam, tanpa manipulasi hukum ruang dan sihir penghancur bintang, pertarungan ini telah menyusut menjadi adu brutal antara daging, tulang, dan tekad murni.

Dan dalam urusan itu, Ye Chen adalah rajanya.

"Apa yang terjadi, Kaisar?" ejek Ye Chen. Napasnya terengah-engah, dada dan lengannya dipenuhi luka cakar yang dalam, namun kulitnya yang memancarkan kilau Emas Hitam terus memperbaiki diri dengan kecepatan yang tidak masuk akal. "Tangan manjamu tidak terbiasa memukul batu?"

Ba'al meludah darah dan pecahan gigi. Wajah tampannya kini bengkak dan cacat. Sebagai ras iblis tertinggi, fisiknya secara alami jauh lebih kuat daripada naga purba sekalipun. Namun pemuda di hadapannya ini... dia seperti anomali alam semesta.

"Kau hanyalah mutasi kotor," geram Ba'al, mengusap rahangnya. Urat-urat hitam menonjol di sekujur tubuhnya. "Dagingmu mungkin keras, tapi tulang Iblis Kehampaan tidak bisa dihancurkan oleh pukulan fana!"

Ba'al menerjang kembali. Kecepatannya memecahkan udara murni di dalam sangkar itu.

Cakar Pemutus Jiwa!

Lima jari Ba'al yang setajam pisau bedah mengincar ulu hati Ye Chen, berniat mencabut jantungnya langsung dari rongga dada.

Ye Chen tidak mundur. Insting Asura-nya mengambil alih. Dia memiringkan pinggangnya di sepersekian detik terakhir, membiarkan cakar Ba'al merobek sisi pinggangnya. Rasa sakit yang tajam menjalar, tapi Ye Chen mengabaikannya.

Sebagai gantinya, dia melingkarkan lengan kirinya di leher Ba'al, mengunci tubuh Kaisar Iblis itu dalam jepitan yang erat.

"Kena kau."

Tangan kanan Ye Chen mengepal, mengumpulkan seluruh tenaga dari setiap inci otot naganya.

DUM! DUM! DUM!

Ye Chen menghantamkan tinjunya ke sisi kepala Ba'al tiga kali berturut-turut. Suara benturan itu menggema ke seluruh puncak menara, terdengar seperti godam raksasa yang memukul landasan besi.

Tiga Begawan—Tian Jian, Fa Zun, dan Tie Shen—yang terkapar di luar sangkar segel, menatap pemandangan itu dengan horor.

"Gila..." bisik Tie Shen, yang merupakan ahli fisik. "Setiap pukulan pemuda itu setara dengan meteor yang jatuh. Dan Ba'al... monster itu menahannya tanpa pelindung Qi."

Di dalam sangkar, Ba'al meraung murka. Telinganya berdengung hebat, pandangannya berkunang-kunang. Dia, seorang penguasa Mahayana, sedang dipukuli seperti anjing jalanan!

"LEPASKAN AKU, SEMUT!"

Ba'al meronta. Dia membakar Esensi Darah Iblis-nya. Panas ekstrem yang melampaui suhu magma meledak dari kulit Ba'al, mencoba membakar lengan Ye Chen yang menguncinya.

"Membakar darah?" Ye Chen menyeringai, giginya yang putih ternoda darah emas. "Kau lupa siapa yang kau peluk."

Mata Ye Chen berubah menjadi hitam pekat.

"Mutiara Penelan Surga... Makan Api Darahnya!"

Pori-pori di lengan Ye Chen bertindak seperti ribuan mulut kecil. Panas dan energi esensi darah yang dipancarkan Ba'al tidak membakar Ye Chen, melainkan disedot masuk ke dalam tubuhnya.

"APA?!" Ba'al merasakan vitalitasnya ditarik keluar dengan paksa. "Kau... Kau berani memakan energi Iblis Kehampaan?!"

Kepanikan akhirnya menguasai Ba'al. Jika ini terus berlanjut, dia akan dihisap sampai kering.

Ba'al menyadari dia tidak bisa menang dalam pertarungan jarak dekat melawan Mutiara Penelan Surga. Dia harus menghancurkan Segel Penekan Alam ini dan mendapatkan kembali kultivasi Mahayana-nya.

"PENGORBANAN KEHAMPAAN!"

Ba'al memusatkan seluruh sisa energi fisik yang dia miliki, bukan untuk menyerang Ye Chen, melainkan untuk meledakkan salah satu lengan kirinya sendiri.

BOOOOOOM!

Lengan kiri Ba'al meledak menjadi energi murni yang kacau. Ledakan fisik itu begitu dahsyat hingga melempar Ye Chen menjauh, merobek kulit dan daging di dada Ye Chen.

Ledakan itu juga menghantam batas sangkar lima warna yang diciptakan oleh Lima Kunci.

KRAAAK!

Sangkar itu retak. Kelima pusaka yang melayang di langit (Pedang, Jangkar, Matahari, Bulan, Bintang) bergetar keras. Keseimbangan formasi terganggu.

Seketika, aliran Qi dari alam semesta kembali membanjiri puncak Menara Babel.

Hukum Ruang dan Waktu kembali berfungsi.

"HAHAHAHA!" Ba'al tertawa gila, darah mengucur dari puntung lengan kirinya. Auranya langsung melonjak kembali menembus batas.

Spirit Severing Puncak... Mahayana Tingkat Awal... Mahayana Menengah!

Kaisar Iblis telah kembali.

"Sekarang," suara Ba'al bergema, membuat ruang di sekitarnya retak-retak. "Permainan fisik sudah selesai. Aku akan menghapus eksistensimu dari sejarah!"

Ba'al mengangkat tangan kanannya yang tersisa. Langit di atas menara seketika menjadi gelap gulita. Sebuah bola hitam pekat seukuran gunung mulai terbentuk di atas jarinya—sebuah lubang hitam mini yang menghisap segala sesuatu, termasuk cahaya.

Sihir Kehancuran Mahayana: Bintang Kematian (Death Star).

"Habislah kita," gumam Fa Zun di luar arena. "Bintang Kematian itu akan melenyapkan seluruh Benua Tengah."

Di tengah terpaan angin hisap yang mengerikan, Ye Chen bangkit perlahan. Jubahnya sudah hancur. Tubuhnya dipenuhi luka yang mulai sembuh secara otomatis.

Dia menatap bola hitam yang membesar di langit itu.

"Dia mendapatkan kembali sihirnya," batin Ye Chen.

Kultivasi Ye Chen saat ini adalah Spirit Severing Tingkat 3. Secara logika, menghadapi Mahayana Menengah yang menggunakan sihir pamungkas adalah hal yang mustahil.

Tapi Ye Chen tidak pernah percaya pada kemustahilan.

Dia mengulurkan tangan kanannya.

Pedang Naga Langit, yang tadi melayang sebagai bagian dari formasi, melesat dan mendarat di genggamannya. Tanpa sarung, pedang itu memancarkan aura dominasi mutlak.

"Kau pikir kau satu-satunya yang menyembunyikan sesuatu?" kata Ye Chen, suaranya tenang, mengalahkan deru badai hisapan lubang hitam.

Ye Chen memejamkan mata. Di dalam Dantiannya, Inti Emas Empat Elemen berputar dengan kecepatan yang menghancurkan nalar. Mutiara Penelan Surga melepaskan seluruh energi murni yang selama ini disimpannya—energi dari Kaisar Bintang Ungu, Jenderal Mo Luo, Jantung Tambang, dan sisa ledakan Ba'al tadi.

Pemutus Roh Tingkat 3... Tingkat 4... Tingkat 6... Tingkat 8!

Aura Ye Chen melonjak secara instan dan gila-gilaan, menembus Spirit Severing Puncak!

"Mustahil!" Ba'al terbelalak. "Bagaimana kau bisa menembus batas kultivasi sebanyak itu dalam sedetik tanpa mengalami ledakan meridian?!"

"Karena tubuhku lebih kuat dari akal sehatmu," Ye Chen membuka matanya. Sepasang pupil perak menyala.

Dia menggenggam pedangnya dengan kedua tangan.

Semua elemen—Api Ungu, Petir Biru, Darah Naga, dan Kegelapan Asura—ditarik ke dalam bilah pedang abu-abu itu. Namun, yang paling mematikan adalah lapisan energi transparan di ujung bilahnya.

Niat Pedang Kehampaan. Tahap Kesempurnaan.

"Lenyaplah bersama bintangmu, Ba'al."

Ye Chen mengayunkan pedangnya dari bawah ke atas.

Teknik Pedang Asura Rahasia: Pemutus Dimensi - Tirai Akhir Dunia!

SHIIIIIIING!

Tidak ada ledakan besar. Tidak ada suara gemuruh.

Hanya ada satu garis cahaya perak yang sangat tipis, meluncur vertikal ke atas dengan kecepatan yang melampaui konsep waktu.

Garis cahaya itu menabrak Bintang Kematian milik Ba'al.

Bola lubang hitam yang konon bisa menelan benua itu... terbelah dua secara simetris. Strukturnya dihancurkan dari tingkat konseptual. Bola hitam itu pudar menjadi angin lalu.

Garis cahaya perak itu tidak berhenti. Ia terus melaju.

Melewati udara kosong.

Melewati ruang.

Melewati tubuh Ba'al.

Ba'al berdiri mematung di udara. Tangan kanannya masih terangkat.

Wajahnya perlahan berubah menjadi ekspresi kebingungan yang absolut.

"Apa yang... kau... potong?" bisik Ba'al.

Di tengah dahinya, muncul sebuah garis merah tipis yang memanjang ke bawah melewati hidung, leher, hingga ke perut.

"Aku memotong 'keberadaanmu'," jawab Ye Chen datar, menurunkan pedangnya.

SREEEET.

Tubuh Kaisar Iblis Kehampaan, sang penguasa Mahayana, terbelah menjadi dua bagian sempurna. Bahkan jiwa Mahayana-nya yang seharusnya abadi terbelah dan musnah tanpa sisa karena terkena Niat Kehampaan.

Dua potong tubuh Ba'al jatuh berdebum ke lantai pualam Menara Babel. Darah hitam menggenang.

Langit kembali cerah.

Pertempuran selesai. Ye Chen menang.

Tiga Begawan yang menonton adegan itu terdiam. Hati mereka, yang telah berlatih selama ribuan tahun hingga mati rasa, kini dipenuhi oleh teror yang murni. Pemuda ini baru saja membunuh entitas setingkat dewa dengan satu tebasan pedang.

Ye Chen berdiri dengan napas yang memburu. Tubuhnya gemetar, batas kultivasi paksaannya mulai menurun, menguras seluruh tenaganya hingga ke titik nol. Pusing yang luar biasa menyerang kepalanya.

Tapi dia belum selesai.

Ye Chen menancapkan pedangnya ke lantai untuk menopang tubuhnya. Dia mengangkat tangan kirinya.

Keempat kunci yang tersisa (Jangkar, Matahari, Bulan, Bintang) kembali terbang mengelilinginya.

Dia menatap Tiga Begawan yang terkapar.

"Aku sudah membersihkan sampah kalian," kata Ye Chen, suaranya serak. "Sekarang, aku akan mengambil apa yang menjadi hakku."

"Tunggu, Ye Chen!" Tian Jian (Begawan Pedang) memaksakan diri untuk duduk. "Kau tidak mengerti! Jika kau membuka Pintu Langit sekarang, Alam Dewa Kuno akan menyadari keberadaan kita! Dunia ini belum siap menerima serbuan ras suci atau dewa dari atas sana!"

"Dunia ini tidak akan pernah siap jika terus bersembunyi dalam sangkar," balas Ye Chen tajam.

Ye Chen menggabungkan kelima kunci itu. Pedang Naga Langit di tangannya berdengung.

WUUUUUUNG!

Sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari cahaya emas dan awan mulai terbentuk di puncak Menara Babel.

Rantai-rantai hukum alam yang menyegel dunia ini selama jutaan tahun mulai putus satu per satu.

"Saatnya melihat," Ye Chen mendongak, matanya menatap tajam ke balik gerbang cahaya yang perlahan terbuka. "Seperti apa rupa para Dewa itu."

Gerbang Alam Dewa (Gate of the God Realm) Terbuka.

Cahaya menyilaukan menelan seluruh Benua Tengah. Era baru bagi Alam Roh Sejati, dan langkah pertama Asura ke medan perang kosmik, akhirnya dimulai.

(Akhir Bab 22)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!