NovelToon NovelToon
Enam Serangkai

Enam Serangkai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Action
Popularitas:837
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Intelijen dadakan dan misi penyelamatan yang gagal

Kampus pagi itu terasa berbeda tanpa kehadiran Gia Kirana. Biasanya, di jam delapan kurang sepuluh, Gia sudah duduk manis di barisan depan kelas, menyiapkan pulpen dan buku catatannya dengan rapi seolah mau perang. Tapi hari ini, bangku itu kosong. Bahkan grup WhatsApp "Enam Serangkai" yang biasanya berisi spam foto makanan dari Rhea atau meme sampah dari Eno, mendadak sepi seperti kuburan tua.

"Oke, ini nggak bisa dibiarin," cetus Eno Surya sambil menggebrak meja kantin, membuat kopi Juna Pratama hampir tumpah ke diktat kuliahnya.

"No, bisa nggak sih sehari aja lo nggak dramatis?" protes Juna sambil mengelap tetesan kopi dengan tisu lecek.

"Dramatis gimana? Gia itu jantung pertahanan kita, Jun! Tanpa dia, siapa yang bakal marahin gue kalau gue telat? Siapa yang bakal ngeralat omongan dosen kalau salah? Gue merasa kehilangan jati diri!" Eno memegang dadanya dengan ekspresi sok merana.

Dewi Laras menghela napas panjang. Dia sendiri sudah mencoba menelepon Gia berkali-kali semalam, tapi hanya berakhir di kotak suara. "Gue setuju sama Eno, walaupun bahasanya agak lebay. Gia nggak pernah kayak gini. Pasti ada sesuatu yang gede banget sampai dia nggak ngasih kabar."

Tak lama, Bagas Putra datang dengan langkah cepat. Dia tidak membawa bola basket atau tas olahraga seperti biasanya. Wajahnya terlihat serius. "Gue baru dari administrasi jurusan. Katanya Gia izin nggak masuk sampai akhir minggu ini. Alasannya 'urusan keluarga'."

"Urusan keluarga itu luas banget, Gas," sahut Rhea Amara yang baru datang sambil membawa plastik berisi gorengan. "Bisa jadi ada yang nikahan, atau... ada yang sakit?"

"Nah, makanya!" Eno berdiri tegak. "Gue usul, kita lakukan misi intelijen. Kita datengin kostannya Gia sore ini. Kita bawa makanan paling enak biar dia mau buka suara."

"Ide bagus, tumben otak lo jalan, No," puji Laras.

Sore harinya, misi "Intelijen Dadakan" dimulai. Mereka berlima berboncengan motor menuju kostan Gia yang terletak di gang sempit belakang kampus. Bagas membonceng Laras, dan sepanjang jalan, Laras bisa merasakan punggung Bagas yang kokoh. Ada rasa aman yang aneh, meski mereka sedang dalam misi yang agak mencemaskan.

"Ras, lo pegangan yang bener. Gue mau lewat polisi tidur yang tingginya nggak ngotak nih," kata Bagas sedikit berteriak karena deru angin.

Laras ragu sejenak, lalu perlahan memegang pinggiran jaket Bagas. "Gini oke?"

"Oke," jawab Bagas singkat, tapi Laras bisa melihat dari spion kalau Bagas tersenyum tipis.

Sesampainya di depan kostan Gia, suasana tampak sepi. Mereka naik ke lantai dua dan berhenti di depan pintu kamar nomor 204. Eno, sebagai yang paling pede, langsung mengetuk pintu dengan gaya drummer band rock.

"Giaaaa! Paket nasi padang ekstra rendang datang memanggil!" teriak Eno.

Pintu terbuka sedikit. Gia muncul dengan wajah yang... berantakan. Matanya sembab, rambutnya yang biasanya rapi hanya dicepol asal-asalan, dan dia masih memakai kaos rumah yang sudah agak kusam.

"Kalian ngapain di sini?" tanya Gia lirih.

"Kita khawatir, Gi," kata Laras sambil maju selangkah. "Lo hilang kabar. Kita bawa makanan, kita makan bareng yuk di dalam?"

Gia terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. "Maaf ya, guys. Gue lagi nggak bisa terima tamu. Gue... gue lagi banyak pikiran."

"Gi, kalau ada masalah, lo bisa cerita sama kita," Bagas menimpali dengan suara rendah yang menenangkan. "Jangan ditelen sendiri. Kita kan udah janji di bawah topi caping dulu, inget?"

Mendengar kata "topi caping", pertahanan Gia sepertinya sedikit goyah. Matanya berkaca-kaca, tapi dia dengan cepat menghapusnya. "Bukannya gue nggak mau cerita. Tapi... ini rumit. Gue janji, nanti kalau udah agak tenang, gue bakal jelasin. Sekarang gue cuma butuh waktu sendiri. Tolong ya?"

Gia menutup pintu perlahan. Klik. Suara kunci diputar terdengar jelas di telinga mereka.

Mereka berlima berdiri mematung di koridor kostan yang sempit itu. Misi penyelamatan ini gagal total. Nasi padang yang mereka bawa terasa jauh lebih berat sekarang.

"Gue rasa... ini bukan masalah sepele," gumam Juna memecah keheningan.

"Iya. Gia yang kita kenal itu kalau ada masalah biasanya langsung dilibas. Kalau dia sampai minta waktu sendiri begini, berarti masalahnya yang lagi melibas dia," tambah Rhea sedih.

Saat berjalan turun menuju parkiran, suasana jadi mendung, persis seperti perasaan mereka. Bagas tiba-tiba berhenti di tangga bawah dan menoleh ke arah Laras yang jalan di belakangnya.

"Ras, kalau suatu saat lo punya masalah seberat Gia, janji ya jangan sembunyi kayak gitu?" tanya Bagas tiba-tiba.

Laras menatap mata Bagas yang dalam. "Emangnya kenapa?"

"Gue nggak suka lihat orang yang gue peduliin harus nanggung beban sendirian," jawab Bagas santai, tapi kalimat itu sukses bikin kaki Laras terasa lemas.

Di tengah ketidakpastian soal Gia, sebuah benih baru mulai tumbuh di hati Laras. Namun, dia tidak sadar bahwa apa yang dialami Gia hanyalah awal dari serangkaian kejadian yang akan mengubah hidup mereka berenam selamanya. Plot twist besar itu sudah mulai bergerak, perlahan tapi pasti, seperti bayangan yang memanjang saat matahari tenggelam.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!