NovelToon NovelToon
Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AkeilanaTZ

Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari yang Hampir terlambat

Waktu berjalan jauh lebih cepat dari yang kubayangkan.

Beberapa bulan terakhir terasa seperti perjalanan panjang yang penuh kejutan kecil.

Dari mual di pagi hari.

Perut yang semakin membesar.

Gerakan kecil dari dalam rahim yang kadang membuatku tersenyum sendiri.

Sampai kepanikan Ashar setiap kali aku mengatakan satu kalimat sederhana seperti, “perutku terasa aneh.”

Namun sekarang semuanya sudah sampai pada fase yang paling menegangkan.

Hari Perkiraan Lahir.

Atau yang sering disebut dokter sebagai HPL.

Masalahnya…

hari itu sudah lewat.

Satu hari.

Dua hari.

Tiga hari.

Dan bayi kami masih terlihat sangat nyaman tinggal di dalam perutku.

Pagi itu kami kembali duduk di ruang pemeriksaan.

Ashar terlihat lebih gelisah dibandingkan aku.

Ia terus melihat jam.

Melihat layar ponselnya.

Lalu kembali melihat pintu ruang dokter.

“Ashar,” kataku pelan.

“Iya?”

“Kamu membuat kursi itu terlihat tidak nyaman.”

Ia menoleh.

“Apa?”

“Kamu terus bergerak sejak lima menit lalu.”

Ia menarik napas panjang.

“Aku hanya merasa kita harus melakukan sesuatu.”

Aku tersenyum kecil.

“Bayi kita mungkin hanya sedang menikmati kamar yang nyaman.”

Ia menggeleng serius.

“Kalau terlalu nyaman, dia tidak akan keluar.”

Aku tertawa kecil.

Ketika dokter akhirnya memanggil kami, Ashar langsung berdiri.

Bahkan sebelum aku sempat bangkit dari kursi.

Ia membantu memegang tanganku seolah aku sedang membawa sesuatu yang sangat rapuh.

Padahal aku hanya berjalan seperti biasa.

Di dalam ruang pemeriksaan, dokter tersenyum ramah seperti biasanya.

“Bagaimana kabarnya hari ini?”

“Baik, Dok,” jawabku.

Dokter mulai memeriksa perutku.

Beberapa menit kemudian ia berkata dengan nada tenang.

“Bayi kalian sehat.”

Ashar langsung bertanya,

“Lalu kenapa dia belum lahir?”

Dokter tertawa kecil.

“Setiap bayi memiliki waktunya sendiri.”

Ashar terlihat berpikir keras.

“Apakah itu berarti kita harus menunggu lebih lama?”

Dokter menggeleng pelan.

“Karena HPL sudah lewat beberapa hari, kita bisa membantu prosesnya sedikit.”

Aku menatap dokter.

“Maksudnya?”

“Kita bisa melakukan program perangsang kontraksi.”

Ashar terlihat langsung tegang.

“Apakah itu berbahaya?”

“Tidak. Ini prosedur yang cukup umum.”

Aku mengangguk.

Sejujurnya aku juga mulai merasa tidak sabar.

Perutku sudah sangat besar.

Berjalan terasa lebih berat.

Dan setiap malam aku selalu bertanya-tanya kapan bayi kecil itu akhirnya memutuskan keluar.

Beberapa jam kemudian kami sudah berada di ruang bersalin.

Ruangan itu terasa tenang.

Namun aku bisa merasakan kegugupan dari seseorang yang berdiri di sampingku.

Ashar.

Ia terlihat seperti seseorang yang sedang menunggu hasil ujian hidup.

Tangannya terus menggenggam tanganku.

“Ashar,” kataku pelan.

“Iya?”

“Kamu lebih gugup dari aku.”

Ia menelan ludah.

“Mungkin.”

Aku tersenyum.

“Kamu terlihat seperti orang yang akan melahirkan.”

Ia langsung menggeleng.

“Itu tidak mungkin.”

Aku tertawa kecil.

Bibi Ashar duduk menemani kami di kursi dekat tempat tidur.

Wajahnya terlihat tenang.

Ia memegang bahuku dengan lembut.

“Semua akan baik-baik saja.”

Aku mengangguk.

Namun ada satu perasaan yang tiba-tiba muncul di hatiku.

Sebuah perasaan yang lembut… sekaligus sedikit menyakitkan.

Aku menatap langit-langit ruangan.

Dan tanpa sadar memikirkan seseorang yang seharusnya ada di sini.

Ibuku.

Jika ia masih hidup, mungkin ia akan duduk di samping tempat tidur ini.

Memegang tanganku.

Mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Pikiran itu membuat dadaku terasa sedikit sesak.

Namun sebelum air mata sempat muncul, Ashar memanggilku.

“Mala.”

“Iya?”

“Apakah ini sudah mulai?”

Aku menoleh.

“Mulai apa?”

Ia menunjuk alat monitor di samping ranjang.

“Garisnya bergerak.”

Aku menahan tawa.

“Itu hanya detak jantung bayi.”

Ia mengangguk cepat.

“Oh.”

Beberapa detik kemudian ia bertanya lagi.

“Sekarang?”

Aku tertawa.

“Belum.”

Beberapa jam berlalu.

Program perangsang kontraksi mulai bekerja perlahan.

Awalnya hanya rasa tidak nyaman kecil di perut.

Namun kemudian…

rasa itu datang lagi.

Kali ini lebih kuat.

Aku menarik napas panjang.

Ashar langsung menegakkan badan.

“Apa itu?”

“Sepertinya kontraksi.”

Matanya langsung membesar.

“Sekarang?”

Aku mengangguk pelan.

Ia langsung berdiri seperti seseorang yang baru saja mendapat alarm darurat.

“Apa yang harus aku lakukan?”

Aku menahan senyum.

“Tenang.”

Namun Ashar sudah terlihat sangat panik.

Ia melihat ke arah pintu.

Kemudian ke arah monitor.

Kemudian kembali ke arahku.

“Aku harus memanggil dokter?”

“Belum.”

Ia terlihat benar-benar kebingungan.

Bibi akhirnya tertawa kecil.

“Tenang saja, Ashar.”

Ia menggeleng.

“Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya.”

Aku menatapnya sambil tersenyum lembut.

“Aku juga.”

Kontraksi berikutnya datang beberapa menit kemudian.

Kali ini lebih kuat.

Aku memejamkan mata sambil menarik napas.

Ashar langsung menggenggam tanganku lebih erat.

“Mala.”

“Iya?”

“Apa ini sangat sakit?”

Aku membuka mata.

“Lumayan.”

Ia terlihat seperti ingin menggantikan posisiku.

“Seandainya aku bisa membantu.”

Aku tersenyum kecil.

“Kamu sudah membantu.”

“Bagaimana?”

“Kamu di sini.”

Kalimat itu membuatnya terdiam beberapa detik.

Kemudian ia menggenggam tanganku lebih erat.

Di luar ruangan, aku tahu ada orang lain yang menunggu.

Kakek Ashar.

Dan pamannya.

Mereka tidak masuk ke ruang bersalin, namun sejak tadi mereka bersiaga di luar.

Ashar sempat keluar sebentar sebelumnya.

Ketika ia kembali, ia berkata,

“Kakek membawa termos teh.”

Aku tertawa kecil.

“Di ruang bersalin?”

Ia mengangguk.

“Katanya menunggu bisa membuat haus.”

Itu benar-benar terdengar seperti sesuatu yang akan dilakukan kakek.

Kontraksi mulai datang lebih sering.

Rasa sakitnya semakin kuat.

Aku memegang tangan Ashar.

Ia terlihat semakin panik setiap kali aku meringis.

“Mala.”

“Hm?”

“Kamu baik-baik saja?”

Aku mengangguk.

Namun air mata mulai muncul di sudut mataku.

Bukan hanya karena rasa sakit.

Tetapi juga karena satu perasaan yang sulit dijelaskan.

Aku menatap Ashar.

“Aku berharap ibu ada di sini.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Ashar terdiam.

Kemudian ia membungkuk sedikit.

Mencium keningku dengan lembut.

“Aku tahu.”

Suaranya sangat pelan.

“Dia pasti sedang melihatmu.”

Aku memejamkan mata.

Dan untuk beberapa detik aku benar-benar berharap itu benar.

Beberapa jam kemudian ruangan bersalin menjadi jauh lebih sibuk.

Dokter masuk.

Perawat mulai mempersiapkan banyak hal.

Kontraksi datang semakin kuat.

Ashar masih memegang tanganku.

Namun sekarang wajahnya terlihat jauh lebih pucat.

Aku bahkan sempat berkata di tengah napas beratku,

“Ashar… jangan pingsan.”

Ia langsung menggeleng cepat.

“Aku tidak akan pingsan.”

Namun wajahnya mengatakan hal yang berbeda.

Bibi tertawa kecil dari kursinya.

Dan akhirnya…

setelah perjalanan panjang yang terasa seperti selamanya…

suara tangisan kecil memenuhi ruangan.

Tangisan yang tipis.

Namun sangat jelas.

Aku menoleh.

Dokter tersenyum.

“Selamat.”

Suaranya terdengar hangat.

“Bayi perempuan yang sehat.”

Air mata langsung mengalir di wajahku.

Ashar berdiri di sampingku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

Antara tidak percaya.

Bahagia.

Dan sangat lega.

Perawat kemudian membawa bayi kecil itu mendekat.

Aku melihat wajahnya untuk pertama kali.

Sangat kecil.

Sangat rapuh.

Namun juga sangat sempurna.

Ashar menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Itu… anak kita?”

Aku tertawa pelan di tengah air mata.

“Iya.”

Ia mengangguk perlahan.

Seolah baru memahami sesuatu yang sangat besar.

Dan di luar ruangan…

kakek serta paman Ashar akhirnya bisa mendengar kabar yang mereka tunggu sejak pagi.

Tangisan kecil itu.

Tangisan yang menandai bahwa keluarga kecil kami…

akhirnya menjadi tiga orang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!