Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.
Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.
Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Enam bulan berlalu sejak status "asuransi tetap" itu diresmikan, namun bagi siapa pun yang melihat kami di koridor sekolah, hubungan ini tampak seperti teka-teki yang macet. Aku masih menjadi Nara yang ahli dalam menarik diri—si siput yang segera masuk ke cangkangnya setiap kali bayangan Ayah muncul di pikiran atau saat Arkan melangkah terlalu dekat ke area pribadiku
Namun, Arkan adalah anomali yang luar biasa sabar.
Setiap pagi, di atas meja belajarku, selalu ada benda-benda kecil yang tak absen menyapa. Kadang sebungkus cokelat kacang, kadang pulpen gel warna-warni karena dia tahu aku suka membuat catatan Kimia yang rapi, atau sesekali hanya selembar post-it kuning bertuliskan: "Semangat bab stoikiometrinya, Ra. Jangan lupa kedip."
"Nih, dari si bucin nomor punggung tujuh," Kak Pandu melempar sebuah tote bag kecil ke kasurku suatu sore. Isinya adalah kaus kaki motif Daisy yang lucu dan sebotol vitamin C. "Dia nggak mau masuk tadi, katanya takut lo lagi butuh 'ruang kedap suara'."
Aku menatap pemberian itu dengan rasa bersalah yang menggunung. "Dia nunggu di depan lama, Kak?"
"Satu jam. Sambil benerin sketsa di atas jok motor," jawab Kak Pandu sambil bersandar di pintu. "Gue kadang heran, Ra. Arkan itu kapten basket, calon arsitek, fansnya satu sekolah. Tapi dia betah banget jadi 'satpam' di depan pintu hati lo yang gemboknya udah karatan itu."
Aku terdiam. Enam bulan Arkan menghadapi sikap dinginku. Enam bulan dia hanya menerima balasan pesan singkat "ya" atau "oke" dariku. Tapi dia tidak pernah absen menjemputku, meskipun seringnya aku memilih pulang bersama Kak Pandu secara mendadak .
Besoknya di sekolah, aku sedang duduk sendirian di taman belakang saat Arkan muncul. Ia tidak langsung duduk di sampingku. Ia berdiri sekitar dua meter jauhnya, menjaga jarak aman yang selama ini aku gariskan tanpa bicara.
"Ra, gue dapet pengumuman lolos tahap pertama beasiswa Arsitektur di Jakarta," ucapnya lirih. Ada binar bangga di matanya, tapi ada ketakutan juga di sana.
Aku menoleh. "Bagus, Kan. Itu mimpi lo, kan?"
"Iya. Tapi itu artinya gue bakal jauh, Ra," Arkan melangkah satu tapak lebih dekat. "Gue cuma mau tanya satu hal. Selama enam bulan ini, apa gue beneran nggak berhasil bikin lo ngerasa aman sedikit aja? Apa tembok lo itu emang nggak ada pintunya buat gue?"
Suaranya bergetar. Untuk pertama kalinya dalam enam bulan, aku melihat Arkan yang mulai kelelahan. Bukan lelah mencintaiku, tapi lelah menghadapi ketidakpastian yang aku bangun sebagai benteng .
"Bukan nggak ada pintunya, Arkan," jawabku lirih, jemariku meremas ban kapten di saku rokku yang selalu kubawa namun jarang kupakai lagi. "Gue cuma takut kalau gue buka pintunya, lo bakal liat betapa berantakannya di dalem, terus lo mutusin buat pergi."
Arkan tersenyum tipis, sebuah senyum paling tulus yang pernah kulihat. Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto maket rumah kaca yang pernah ia buat untukku. "Ra, arsitek itu tugasnya ngerapiin yang berantakan. Gue udah liat semuanya, dan gue tetep milih buat tinggal. Tolong, jangan tarik diri lagi. Gue nggak akan pergi, kecuali lo yang bener-bener minta gue ilang."
Malam itu, aku merenung di depan meja belajar. Aku melihat tumpukan perhatian kecil dari Arkan selama enam bulan terakhir. Dia tidak pernah menyerah pada "pajak kebahagiaan" yang aku takuti. Dia justru menjadi orang yang selalu membayar pajak itu untukku.