Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
Suasana di kediaman Xavier lebih mirip pasar kaget yang baru saja digerebek satpol PP. Kepanikan meluap-luap. Di ruang tengah, Gerry, tangan kanan Xavier yang biasanya rapi dengan rambut klimis, kini terlihat seperti singa yang baru saja tersengat listrik.
"Bodoh! IQ kalian ini sebenarnya berapa, hah?! Kenapa bisa-bisanya kalian pulang tanpa Tuan Xavier?!" teriak Gerry. Suaranya yang menggelegar hampir menjatuhkan vas bunga antik di sudut ruangan.
Gerry meringis, memegangi lengan kanannya yang tertembak. Darah segar merembes, tapi kemarahannya jauh lebih membara daripada rasa perih itu.
"Tuan Gerry, tolong tenang dulu. Luka anda harus segera diobati—" ucap seorang dokter pribadi dengan tangan gemetar.
"Diam, kau dokter gigi atau dokter bedah?! Aku tidak butuh ceramahmu! Yang aku butuhkan adalah Tuan Xavier!" bentak Gerry murka. "Bagaimana kalau Tuan Besar tahu putranya menghilang? Kalian tahu kan hobi Tuan Besar? Dia tidak akan memecat kita, dia akan memenggal kepala kita dan menjadikannya hiasan dasbor mobilnya!"
Para pengawal langsung merapatkan barisan, wajah mereka pucat pasi. Ayah Xavier memang dikenal sebagai sang jagal yang tidak kenal ampun. Xavier yang kejam saja sudah mengerikan, apalagi ayahnya.
"Maafkan kami, Tuan. Sebagian tim sudah dikerahkan untuk menelusuri hutan lebat di perbatasan. Tapi medannya sangat sulit, akar-akar di sana seolah bergerak menghalangi kami," lapor salah satu pengawal bertubuh kekar dengan kumis baplang.
Gerry melotot ke arah pengawal itu. "Lalu kenapa kau masih berdiri di sini sambil memegangi kumismu itu?! Cepat cari! Kalau sampai matahari terbit dan tuan Xavier belum ketemu, mau kumis dan rambutmu itu hilang dari tempatnya, hah?! Akan kucabut satu-satu pakai pinset!"
Mendengar ancaman itu, para pengawal secara refleks memegang rambut dan kumis masing-masing dengan ekspresi horor. Mereka segera lari tunggang-langgang keluar kediaman, lebih takut kehilangan rambut daripada kehilangan nyawa.
"Astaga, bagaimana bisa mereka menjadi pengawal kepercayaan? Apa perusahaan rekrutmen kita sedang diskon saat itu?" gumam Gerry lirih sembari duduk dan memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. "Xavier, kau di mana? Jangan mati dulu, cicilan mobilku belum lunas!"
*
*
Sementara di luar sana dunia sedang kacau, di dalam hutan yang sangat rimbun, tempat di mana cahaya matahari bahkan tidak berani mengintip, suasananya sangat berbeda. Di sebuah pondok kayu yang tampak magis, Luna sedang berjuang sekuat tenaga.
"Aduh, Manusia! Kenapa kau berat sekali sih? Apa kau makan batu setiap hari?" gerutu Luna sembari menyeret tubuh Xavier ke atas tempat tidur kayunya yang empuk.
Setelah berhasil menaikkan tubuh kekar itu, Luna berdiri terengah-engah. Tubuhnya masih polos tanpa busana, tapi ia tampak tidak peduli. Perhatiannya tertuju pada napas pendek Xavier.
"Luna harus bagaimana sekarang? Aduh, Luna tidak mau dia mati! Mimi Peri! Mimi Periiiii! Tolong bantu Luna!" teriak Luna dengan suara melengking yang bisa membuat telinga manusia normal berdenging.
Wush!
Tiba-tiba, udara di tengah ruangan berputar. Muncul kelopak bunga yang berhamburan, diikuti oleh seorang wanita cantik dengan sayap transparan yang berkilauan di punggungnya.
"Luna, kenapa kau memanggilku seperti sedang dikejar serigala, Sayang?" ucap wanita itu tenang. Namanya Elisa, sang peri penjaga hutan.
"Huwaaa, Mimi Periii!!!!" Luna langsung menghambur dan memeluk Elisa. "Ada manusia masuk ke rumah Luna! Dia berlubang!"
Elisa mengusap kepala Luna dengan penuh kasih sayang, namun matanya langsung membelalak saat melihat pria yang tergeletak di tempat tidur Luna.
"Luna! Kenapa kau membawa manusia itu kemari? Manusia itu berbahaya! Mereka itu mahluk yang suka menebang pohon dan membuang sampah sembarangan!"
"Tapi, dia terluka parah. Luna tidak tega, jadi Luna seret saja ke sini," balas Luna dengan mata berkaca-kaca, bibirnya melengkung kebawah, siap untuk menangis bombay.
"Tapi Luna, manusia tidak boleh tahu tempat ini ada. Jika mereka tahu kota rahasia kita ada di balik hutan ini, mereka akan datang membawa kamera dan menjadikannya konten media sosial! Manusia itu serakah dan haus perhatian," Elisa kembali menasihati dengan nada serius.
Luna menggeleng kuat. "Luna janji, setelah dia sembuh, Luna akan mengantar manusia tampan ini pulang kembali ke asalnya. Dia tidak akan ingat apa-apa, janji!"
"Manusia tampan?" Elisa mengernyitkan dahi. Ia mendekat ke arah Xavier. "Tampan dari mananya? Dia hanya punya banyak otot dan wajah yang terlihat seperti orang yang tidak pernah tersenyum."
Luna mengangguk antusias, pipinya sedikit merona. "Iya, Mimi! Lihat hidungnya, runcing sekali seperti puncak gunung. Dan badannya... wah, Luna baru kali ini melihat manusia setampan dan segagah dia," ucapnya sambil nyengir lebar, memperlihatkan gigi taringnya yang kecil.
Elisa menatap Xavier lebih dekat. Entah kenapa, wajah pria ini mengingatkannya pada seseorang dari masa lalu, tapi ia segera menepis pikiran itu.
"Mimi Peri, bisa bantu Luna sembuhkan dia?" Luna memasang wajah kucing memohon yang paling mematikan.
"Maaf Luna, aku tidak bisa menggunakan kekuatan sihir periku untuk menyembuhkan luka akibat senjata manusia secara langsung. Itu melanggar aturan alam."
Wajah Luna langsung muram. "Yah, jadi dia akan jadi bangkai di tempat tidur Luna?"
"Tapi," potong Elisa cepat melihat bibir Luna mulai gemetar, "aku bisa membantumu membuat ramuan herbal. Hutan ini punya segalanya jika kau tahu cara meraciknya."
"Benarkah?!" Dalam sekejap, mata Luna kembali berbinar secerah lampu neon. "Mimi memang yang terbaik!"
"Tapi pertama-tama, kita harus mengeluarkan peluru itu dulu dari dagingnya." Elisa menunjuk ke arah lengan Xavier yang mulai membiru.
"Peluru?" Luna memiringkan kepalanya, nampak sangat bingung. "Apa itu sejenis kacang yang tumbuh di dalam kulit manusia? Kenapa manusia menanam kacang di lengan mereka? Apa itu cara mereka menyimpan camilan?"
Elisa menepuk jidatnya sendiri. Gadis kucing ini memang sangat polos.
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂
kan Xander jadi semakin dekat dengan Luna
hati hati Luna sama Xander itu
Masih gak menyangka Vier bisa semanis itu 🤭 Lun kamu bener bener ya berani kiss pipi Sapir , Luna hanya Sapir yang boleh kamu cium yang lain jangan🤭😂
Vier kondisikan perasaanmu 🤣 pelan pelan ajari Luna ya , guru terbaik❤️