"Jawab jujur pertanyaan saya, apa kamu orang yang tidur dikamar hotel saya?" tanya Kaivandra Sanzio Artamevia.
Seana Xaviera Levannia menatap mata pria berbahaya itu, sebelum akhirnya perlahan&amp melangkah mundur. "B-bukan saya kok Pak--"
..
Kaivandra Sanzio Artamevia, seorang pria yang paling dikenal di kota ini. Di pria kejam dan haus darah dengan kecenderungan menggunakan metode brutal, dan tidak menusiawi. Tidak ada wanita yang berani mendambakannya, meskipun Zio diberkahi dengan penampilan yang tampan.
Tanpa diduga, seorang wanita berhasil tidur dengannya ketika dia sedang dalam keadaan mabuk! Ketika Zio mengacak-acak seluruh dunia hanya untuk mencari wanita misterius itu, dia baru menyadari bahwa tubuh sekretarisnya semakin berisi.
Apakah kebenaran yang selama ini ditutup rapat-rapat, akan terbongkar lewat kecurigaan Zio?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Gloretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Suara berat Sanzio terdengar di seberang sana. "Kamu pergi ke gedung star dan tolong ambilkan beberapa dokumen untuk saya. Juga, bawakan dasi ungu yang ada dilemari itu."
"Baik, Pak Zio." Jawab Seana dengan hormat sembari menekan tombol lift ke lantai bawah. Dia menutup telepon tepat saat pintu lift terbuka. "Vel, aku boleh pinjam mobil kamu ngga? Aku harus ke gedung Star," katanya pada Velia.
"Seharusnya Pak Zio kasih lo fasilitas mobil kalau dia memang mau nyuruh-nyuruh lo pergi ke gedung star segala!." Velia menggerutu, tetapi dia tetap mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam tasnya dan memberikannya pada Seana.
Seana menerima kunci itu. "Aku cuma disuruh ngambil beberapa dokumen buat dia. Nanti aku isi penuh bensin kamu, oke?,"
"Bukan gitu maksud gue, bos kita kaya raya tapi dia pelit Seana. Lo malah mau sedekah gitu aja?." gumam Velia. Dia memang tidak pernah merasa puas dengan cara penanganan fasilitas karyawan diperusahaan Sanzio.
Seana tertawa kecil. "Kamu harus berani ngomong kayak gini didepan orangnya,"
Seana sudah hafal dengan Velia, temannya itu tidak pernah berhenti menghina Sanzio sejak dia mulai bekerja di sini. Seana tahu bahwa Velia selalu ingin menyindir Sanzio apa pun yang terjadi.
Seana pun keluar dari lift, lalu naik ke lift lain untuk menuju ruang parkir dibawah tanah.
Gedung Starlight adalah tempat yang biasanya Sanzio tinggali jika pria itu tidak ingin pulang. Seana sudah beberapa kali pergi ke sana untuk mengambil barang-barang atas perintah Sanzio. Meskipun sebagian besar gedung itu didekorasi dengan warna hitam, dekorasi tersebut membuatnya tampak kurang represif dan lebih luas.
Seana berjalan masuk ke ruang kerja Sanzio dan langsung mengambil dokumen seperti yang diminta, lalu pergi mendekati lemari yang berada tak jauh dari meja kerja Sanzio, membuka laci tempat dimana Sanzio selalu menyimpan dasinya. Saat membuka pintu lemari, terdengar ada sesuatu yang jatuh.
Seana membungkuk dan mengambilnya. Begitu melihat isi kotak itu, pipi Seana langsung memerah. Itu adalah kotak k0nd0m yang belum dibuka!!
Untuk sesaat, pikiran Seana kosong hingga banjir kenangan yang terpendam menyerbunya. Dia melemparkan kotak itu ke dalam laci seolah-olah kotak itu berisi sebuah bom yang siap meledak.
Sanzio yang dikenal dingin dan tidak pernah terlihat bersama dengan wanita mana pun. Mengapa bisa memiliki benda seperti itu? Dan dalam jumlah yang tidak sedikit.
Karena tidak ingin terlalu memikirkannya, Seana segera mengambil dasi yang dimaksud dan segera menutup lemari itu.
Mengambil dokumen-dokumen di atas meja, sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan.
Butuh waktu sekitar satu jam baginya untuk kembali ke kantor.
Seana mengetuk pintu ruang kerja Sanzio. Tetapi tidak ada jawaban.
Seana pun memutuskan untuk tetap masuk. Namun, terlihat ruangan itu kosong. Seana meninggalkan dokumen-dokumen itu di atas meja Sanzio, lalu membawa dasi itu ke ruang istirahat untuk Sanzio, seperti yang selalu Seana lakukan ketika Sanzio tidak sedang dikantornya.
Namun hari ini berbeda. Saat membuka pintu ruang istirahat, Seana terkejut dengan apa yang terjadi didalam. Bahkan sebelum pikirannya sempat menyadari apa yang terjadi, dia menutup pintu dengan gerakan cepat hingga tidak sengaja menimbulkan suara yang keras.
Seana tidak menyangka Sanzio sedang mandi! Jantungnya berdebar kencang dan wajah Seana memerah.
Kamar mandi Sanzio hanya dikelilingi oleh kaca yang bisa di buramkan, tetapi saat itu kaca tidak sedang dalam mode buram.
"Maaf, Pak. Saya mau narok dasi punya bapak!" teriak Seana menjelaskan. Kemudian meletakkan dasi tersebut di atas meja dan berlari keluar dari kantor Sanzio.
Karena terburu-buru ketika keluar, Seana tidak sengaja menabrak seseorang. Ia menoleh dan mendongak, menatap mata gelap Mike.
"Kenapa kamu lari-lari?," Mike menyentuh kedua pundak Seana, membantunya menstabilkan diri.
"Maaf, aku ngga sengaja," kata Seana.
Mike sedikit kesal dengan kecerobohan Seana. Wanita itu memang selalu seperti ini, tetapi yang mengejutkannya, Sanzio tampaknya tidak pernah keberatan dengan kecerobohan Seana.