"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..
Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.
Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Ruang Kerja Rahasia
Bab 5: Ruang Kerja Rahasia
Kegelapan di kediaman Wijaya bukanlah kegelapan yang sunyi. Bagi Kenzi, malam adalah simfoni frekuensi radio, detak jam dinding yang mekanis, dan desis halus dari sistem filtrasi udara. Jam menunjukkan pukul 02:15 pagi. Ini adalah jendela waktu di mana kewaspadaan biologis manusia berada pada titik terendah, bahkan bagi para penjaga profesional yang disewa Tuan Wijaya.
Kenzi bergerak keluar dari kamarnya tanpa menimbulkan getaran sedikit pun pada lantai parket. Ia tidak lagi mengenakan kemeja taktisnya, melainkan pakaian stealth serba hitam yang pas di tubuh, memungkinkannya menyatu dengan bayangan koridor.
Tiga penjaga di sayap barat. Dua di lobi utama. Pola patroli mereka berulang setiap 15 menit. Amatir, batin Kenzi sinis.
Tujuannya adalah ruang kerja Tuan Wijaya di lantai dua sayap timur. Ruangan itu dilindungi oleh kunci biometrik sidik jari dan kode numerik delapan digit. Bagi pengawal biasa, ini adalah benteng. Bagi Kenzi, ini hanyalah teka-teki logika yang membosankan.
Kenzi berhenti di depan pintu jati besar itu. Ia mengeluarkan sebuah perangkat kecil seukuran koin dari sakunya—sebuah pemindai termal resolusi tinggi. Ia menempelkannya pada panel tombol. Sisa panas dari jari Tuan Wijaya yang menekan kode terakhir kali masih membekas samar.
3, 8, 1, 0, 9. Urutan gradasi suhu menunjukkan kode: 0-9-1-3-8-8-1-0.
Klik.
Suara kunci elektronik yang terbuka terdengar semerdu musik di telinga Kenzi. Ia menyelinap masuk dan menutup pintu dengan presisi. Ruangan itu berbau cerutu mahal dan kertas tua. Kenzi tidak menyalakan lampu. Ia menggunakan kacamata night vision yang terintegrasi dalam lensa kontaknya.
Matanya segera tertuju pada meja mahogani besar. Namun, naluri pembunuhnya mengatakan bahwa data asli tidak akan diletakkan di tempat yang begitu jelas. Ia mulai memindai dinding, mencari anomali pada kepadatan material.
Di sana. Di balik lukisan pemandangan gaya Renaisans.
Kenzi menggeser lukisan itu dengan sangat hati-hati agar tidak memicu sensor kemiringan. Di baliknya terdapat brankas dinding tanam baja karbon. Ia tidak mencoba membobolnya secara fisik—itu terlalu berisiko. Alih-alih, ia mengeluarkan sebuah transceiver frekuensi rendah dan menempelkannya pada kabel data yang tersembunyi di balik bingkai pintu.
"Hubungkan ke server pusat," bisik Kenzi pada mikrofon di kerahnya.
Di layar jam tangannya, barisan kode hijau mulai mengalir. Ia sedang menyadap jalur data biometrik brankas tersebut. Dalam waktu kurang dari dua menit, sistem pertahanan brankas itu menganggap Kenzi adalah pemiliknya yang sah. Pintu baja itu terbuka dengan desisan udara yang halus.
Di dalamnya terdapat tumpukan berkas fisik dan beberapa flash drive terenkripsi. Kenzi mengambil salah satu map bertanda "Proyek Phoenix". Ia memotret setiap halaman menggunakan kamera mikro yang tertanam di kancing bajunya.
Aliran dana ke rekening luar negeri... cangkang perusahaan di Panama... dan daftar nama.
Kenzi terpaku pada satu baris data. Ada nama ayahnya di sana. Di samping nama itu, terdapat cap merah bertuliskan "Eliminasi Selesai - Kontrak Organisasi 09".
Darah Kenzi terasa membeku. Rahang bawahnya mengeras. Selama ini, organisasinya mengatakan bahwa ayahnya tewas dalam kecelakaan kerja akibat kelalaian Tuan Wijaya. Namun, dokumen di depannya menunjukkan hal yang jauh lebih gelap: ayahnya dibunuh oleh organisasinya sendiri atas perintah yang dibiayai oleh dana yang berasal dari konsorsium yang melibatkan Wijaya.
Siapa yang sebenarnya menarik pelatuknya? Dan siapa yang membiayainya?
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari koridor. Berat langkahnya tidak konsisten dengan pola patroli penjaga. Ini adalah langkah kaki seseorang yang tidak terburu-buru, namun pasti.
Tuan Wijaya.
Kenzi bergerak dengan kecepatan predator. Ia mengembalikan map ke tempat semula, menutup brankas, dan mengembalikan lukisan ke posisi presisinya hingga derajat milimeter terakhir. Ia tidak punya waktu untuk keluar melalui pintu utama.
Ia melirik ke jendela besar di ujung ruangan. Dikunci dari dalam dengan sensor getar. Kenzi tidak bisa memecahkannya. Matanya memindai langit-langit.
Ventilasi udara. Diameter 40 sentimeter. Cukup.
Dengan satu lompatan ringan, ia meraih jeruji ventilasi, membukanya tanpa suara menggunakan obeng mikro, dan menarik tubuhnya masuk tepat saat gagang pintu ruangan itu berputar.
Dari balik jeruji ventilasi yang gelap, Kenzi melihat Tuan Wijaya masuk. Pria paruh baya itu tampak lelah. Ia menyalakan lampu meja, duduk, dan menghela napas panjang. Wijaya mengambil sebuah foto kecil dari laci mejanya—foto Alana saat masih kecil.
"Maafkan Ayah, Alana," gumam Wijaya lirih. "Dosaku terlalu besar untuk ditebus, tapi aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu."
Kenzi mengamati dari kegelapan. Skeptisismenya yang tajam mulai menganalisis nada suara Wijaya. Penyesalan? Atau sekadar rasa takut akan konsekuensi? Bagi Kenzi, emosi manusia adalah topeng. Namun, data yang baru saja ia lihat mengubah segalanya. Jika organisasinya berbohong tentang kematian ayahnya, maka misi ini bukan sekadar tugas—ini adalah jebakan bagi dirinya juga.
Wijaya kemudian membuka laptopnya. Kenzi menggunakan kesempatan ini untuk menjatuhkan sebuah mikro-transmiter seukuran butiran debu ke atas karpet tebal di bawah meja kerja tersebut. Alat itu akan menyadap setiap percakapan di ruangan ini selama enam bulan ke depan.
Setelah memastikan Wijaya tenggelam dalam pekerjaannya, Kenzi merangkak melalui saluran udara menuju sayap luar gedung. Ia keluar melalui lubang pembuangan di atap, meluncur turun menggunakan kabel drainase, dan kembali ke kamarnya seolah-olah ia tidak pernah pergi.
Di dalam kamarnya, Kenzi duduk di tepi tempat tidur. Ia membuka koneksi satelit pribadi yang tidak bisa dilacak oleh organisasinya. Ia mulai memproses data yang ia potret tadi.
Setiap dokumen yang ia baca hanya menambah keraguan pada misi yang diberikan padanya. Organisasi memerintahkannya untuk mengamati kelemahan Wijaya agar bisa melakukan sabotase besar. Tapi sekarang ia menyadari, dia bukan dikirim untuk menjadi pengamat, dia dikirim untuk menjadi kambing hitam. Jika keluarga Wijaya hancur, Kenzi adalah orang pertama yang akan disalahkan, dan organisasi akan menghapus jejak dengan melenyapkannya.
Ternyata, aku hanya bidak yang sedang menunggu untuk dikorbankan, batin Kenzi. Matanya menatap tajam ke arah dinding yang membatasi kamarnya dengan kamar Alana.
Gadis itu tidak tahu apa-apa. Dia adalah pusat dari badai konspirasi ini, namun dia hanya peduli pada kebebasannya yang terenggut. Kenzi merasa muak. Bukan pada Alana, tapi pada dirinya sendiri yang telah menjadi alat bagi orang-orang yang membunuh ayahnya.
Sebuah notifikasi muncul di ponsel taktisnya. Pesan dari pusat.
"Update status. Berikan titik koordinat kelemahan perimeter untuk fase pertama sabotase ekonomi minggu depan."
Kenzi mengetik balasan dengan jari yang stabil, meski pikirannya sedang merencanakan pemberontakan.
"Perimeter masih diperketat oleh tim internal. Membutuhkan waktu 48 jam tambahan untuk pemetaan biometrik. Lanjutkan sesuai jadwal."
Lies.
Kenzi meletakkan ponselnya. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, dia tidak menjalankan misi untuk organisasi. Dia menjalankan misinya sendiri. Dia akan menjaga Alana tetap hidup, bukan karena perintah, tapi karena Alana adalah satu-satunya kartu as yang dia miliki untuk menyeret Tuan Wijaya dan pemimpin organisasinya ke dalam neraka yang sama.
"Eksistensi terlarang..." Kenzi berbisik pada dirinya sendiri. "Kalian yang memberiku nama itu. Sekarang, mari kita lihat seberapa terlarang aku bisa bertindak."
Malam itu, di balik wajah dinginnya yang tak terbaca, Kenzi berhenti menjadi seorang pengawal atau pembunuh bayaran. Dia menjadi seorang pemain dalam permainan yang jauh lebih berbahaya: permainan balas dendam yang akan membakar seluruh kediaman Wijaya dan siapa pun yang berdiri di baliknya.