NovelToon NovelToon
Benang Merah Yang Patah

Benang Merah Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.

Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PUING-PUING PENGKHIANATAN

Pagi itu, Melbourne tidak lagi bersahabat. Langit tertutup awan kumulonimbus yang pekat, seolah alam sedang ikut berduka atau bersiap menyambut badai yang lebih besar. Di dalam penthouse, atmosfernya jauh lebih mencekam daripada badai mana pun di luar sana. Kejadian di depan brankas semalam telah mengubah segalanya. Tak ada lagi basa-basi dingin; yang tersisa hanyalah kenyataan pahit yang telanjang.

Vivien duduk di kursi penumpang mobil SUV antipeluru milik Maximilian. Kali ini, bukan Rolls-Royce yang mereka tumpangi, melainkan kendaraan taktis yang lebih kasar, seolah mereka sedang menuju ke medan perang yang sebenarnya. Maximilian duduk di sampingnya, rahangnya terkatup rapat, pandangannya lurus ke jalanan aspal yang basah.

"Kau tidak harus melakukan ini, Maximilian," ucap Vivien memecah keheningan yang menyesakkan. Suaranya serak, sisa dari ketegangan semalam. "Jika kau ingin membenciku, bencilah aku. Tapi jangan menodai ingatan tentang ayahku dengan kebohongan yang kau buat sendiri."

Maximilian menoleh perlahan. Matanya merah, tanda bahwa pria itu pun tidak tidur setelah konfrontasi di ruang kerja. "Kebohongan? Kau menyebut surat asli dari ayahku sebagai kebohongan? Vivien, kau dibesarkan dalam gelembung emas yang dibangun di atas darah orang lain. Hari ini, aku akan menusuk gelembung itu."

Mobil mereka berhenti di sebuah kawasan industri tua di pinggiran Melbourne. Di depan mereka berdiri sebuah gudang besar dengan logo Aksara Group yang sudah memudar dan tertutup karat. Ini adalah salah satu gudang logistik pertama yang dimiliki ayah Vivien saat mulai berekspansi ke Australia dua dekade lalu. Tempat ini seharusnya sudah dikosongkan bertahun-tahun lalu, namun Maximilian tampak memiliki kunci aksesnya.

Maximilian turun dan membukakan pintu untuk Vivien. Ia tidak memegang tangan Vivien dengan lembut seperti di konsulat. Ia mencengkeram lengan atasnya, memaksa Vivien berjalan masuk ke dalam bangunan yang terasa seperti makam raksasa itu.

Di dalam, udara terasa pengap, berbau debu, oli tua, dan kertas lembap. Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip memberikan kesan horor pada barisan rak-rak besi yang kosong. Maximilian membawa Vivien menuju sebuah kantor kecil di sudut gudang yang tersembunyi di balik tumpukan peti kayu.

"Kenapa kita di sini?" tanya Vivien, suaranya bergema di ruangan luas itu.

"Ini adalah tempat di mana ayahmu dan ayahku sering bertemu secara rahasia," jawab Maximilian sambil menendang sebuah pintu besi hingga terbuka. "Tempat di mana mereka merencanakan untuk menjatuhkan kartel logistik yang menguasai jalur pelabuhan. Tapi di tempat ini juga, ayahmu memberikan lokasi ayahku kepada orang-orang yang ingin melenyapkannya."

Maximilian menyalakan sebuah komputer tua yang layarnya sudah berjamur. Anehnya, mesin itu masih bekerja. Dengan lincah, Maximilian memasukkan serangkaian kode perintah yang tidak masuk akal bagi orang awam. Sebuah rekaman CCTV hitam putih muncul di layar yang bergetar.

"Lihat," perintah Maximilian.

Vivien mendekat ke layar. Tanggal di pojok video menunjukkan: 12 September 2016. Hari di mana ayah Maximilian dinyatakan meninggal karena serangan jantung di kamar hotelnya.

Dalam rekaman itu, terlihat ayah Vivien, Aksara, sedang berdiri di gudang ini bersama seorang pria yang wajahnya tertutup bayangan. Mereka sedang berdebat hebat. Vivien mengenali suara ayahnya, namun suaranya terdengar berbeda—lebih dingin, lebih penuh perhitungan.

"Alaric tidak mau mengerti," suara Aksara di rekaman itu terdengar jernih meskipun ada noise. "Dia terlalu idealis. Jika dia tidak mau menandatangani penyerahan jalur ini, kita semua akan mati. Aku harus melakukan apa yang harus kulakukan untuk melindungi keluargaku."

Pria misterius itu menyerahkan sebuah koper hitam. "Dan Alaric?" tanya pria itu.

Aksara terdiam sejenak. "Hotel Grand Hyatt, kamar 402. Dia akan berada di sana pukul sepuluh malam. Lakukan dengan rapi. Biar terlihat seperti kecelakaan medis. Aku tidak ingin putra-putranya tahu."

Lutut Vivien lemas. Ia harus berpegangan pada meja kayu yang rapuh agar tidak jatuh ke lantai. Suara itu... kata-kata itu... itu adalah suara ayahnya yang sedang merencanakan pembunuhan sahabatnya sendiri.

"Tidak... ini tidak mungkin," bisik Vivien, air mata mulai mengalir deras di pipinya. "Ini editan. Kau merekayasa ini dengan teknologi AI, Maximilian! Kau ingin menghancurkan mentalku!"

Maximilian mematikan layar dengan kasar. Ia berbalik dan mencengkeram kedua bahu Vivien, mengguncangnya dengan keras. "AI tidak bisa merekayasa rasa sakit di matanya saat dia mengucapkan itu, Vivien! Aku menemukan rekaman ini di brankas tersembunyi milik asisten ayahmu—Bara! Itulah sebabnya Bara lari darimu semalam! Dia tahu kalau kau melihat ini, kau tidak akan pernah bisa memandang ayahmu dengan cara yang sama lagi!"

Vivien terisak, suaranya pecah menjadi tangisan yang menyayat hati. Segala sesuatu yang ia yakini tentang hidupnya—tentang ayahnya yang pahlawan, tentang musuh yang kejam—semuanya terbalik dalam satu malam.

"Lalu kenapa?" tanya Vivien di sela tangisnya, menatap Maximilian dengan mata yang sembab. "Jika kau tahu ayahku membunuh ayahmu, kenapa kau menikahiku? Kenapa tidak bunuh saja aku? Kenapa harus sandiwara kontrak ini?"

Maximilian melepaskan cengkeramannya. Ia mundur selangkah, menatap ke arah kegelapan gudang. Bahunya yang lebar tampak merosot untuk pertama kalinya.

"Karena aku ingin kau merasakannya, Vivien," suara Maximilian kini berubah menjadi bisikan yang hampa. "Aku ingin kau berada di posisiku. Mencintai seseorang yang ternyata adalah bagian dari monster yang menghancurkan duniamu. Aku ingin kau terikat denganku, membenciku, tapi juga menyadari bahwa hanya aku satu-satunya orang di dunia ini yang tidak membohongimu."

Vivien tertegun. "Mencintai seseorang? Apa maksudmu?"

Maximilian menatapnya kembali, dan kali ini, ada kilatan emosi yang jauh lebih berbahaya daripada amarah. Itu adalah keputusasaan.

"Kau pikir aku baru mengenalmu saat aku mengakuisisi perusahaanmu?" Maximilian mendekat, jemarinya mengusap air mata di pipi Vivien dengan gerakan yang kasar namun anehnya terasa intim. "Aku sudah mengawasimu sejak pemakaman ayahku. Saat kau datang membawa bunga putih dan menangis di sana, tanpa tahu bahwa ayahmu adalah alasan di balik peti mati itu. Aku membencimu karena kau begitu suci dan tidak tahu apa-apa. Tapi aku juga tidak bisa berhenti melihatmu."

Vivien merasakan napasnya tertahan. Ini adalah pengakuan yang paling mengerikan sekaligus paling jujur yang pernah ia dengar. Maximilian tidak hanya mengikatnya dalam kontrak bisnis; pria ini telah menjadikannya pusat dari obsesi dendamnya selama sepuluh tahun.

"Kau gila," bisik Vivien.

"Mungkin," jawab Maximilian dingin. "Tapi benang merah kita sudah berlumuran darah sejak lama, Vivien. Kita tidak bisa memutusnya. Kita hanya bisa menyeret satu sama lain ke dalam neraka ini sampai salah satu dari kita benar-benar hancur."

Tiba-tiba, suara deru mobil lain terdengar di luar gudang. Lampu sorot yang tajam menembus jendela-jendela gudang yang kotor. Maximilian segera waspada. Ia menarik pistol dari balik jasnya—sebuah tindakan yang membuat Vivien terpekik.

"Siapa itu?" tanya Vivien ketakutan.

"Orang-orang yang tidak ingin rekaman itu keluar," jawab Maximilian sambil menarik Vivien ke balik peti kayu besar. "Sepertinya Bara tidak hanya bertemu denganmu semalam. Dia diikuti."

Suara tembakan pertama memecah keheningan gudang. Peluru mengenai rak besi di dekat mereka, menciptakan percikan api yang menerangi kegelapan.

Vivien menyadari satu hal di tengah desingan peluru: Perang antara keluarga Aksara dan Alfarezel belum berakhir. Mereka baru saja membuka kotak pandora yang berisi musuh-musuh lama yang jauh lebih mematikan.

Dan di tengah puing-puing pengkhianatan ini, satu-satunya orang yang bisa menjaganya tetap hidup adalah pria yang paling ia benci.

1
Panda%Sya🐼
Kebayang gimana gantengnya si Maximilian ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!