Khayla Atmaja, gadis 21 tahun yang ceria dan berani, harus menerima kenyataan dijodohkan dengan Revan Darmawangsa, pria 32 tahun yang dingin dan sibuk dengan pekerjaannya. Perjodohan yang diatur oleh Kakek Darius itu mempertemukan dua pribadi yang bertolak belakang. Khay yang hangat dan blak-blakan, serta Revan yang tertutup dan irit bicara. Awalnya pernikahan ini hanya dianggap kewajiban, namun seiring waktu, kebersamaan perlahan menumbuhkan perasaan yang tak terduga, mengubah perjodohan menjadi cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 PINDAH RUMAH
Mobil yang dikendarai Revan akhirnya berhenti tepat di halaman rumah megah miliknya. Langit sudah mulai berwarna jingga, menandakan senja yang perlahan turun. Cahaya matahari yang tersisa memantul di dinding kaca rumah itu, membuatnya terlihat semakin elegan.
Khay keluar dari mobil sambil menghela napas pelan.
Rumah ini… Masih terasa sama seperti terakhir kali ia datang. Mewah dan Tenang.
Entah kenapa… kini terasa lebih hangat. Mungkin karena sekarang statusnya sudah berbeda Bukan lagi tamu Melainkan… istri pemilik rumah.
Revan berjalan mendekat, berdiri di samping Khay yang masih menatap bangunan besar di hadapannya.
“Kamu pasti sudah tidak asing di rumah ini,” ucapnya tenang.
Khay tersenyum kecil “Iya…” Ia melirik sekilas ke arah Revan, lalu bertanya dengan nada sedikit ragu, “Apa sekarang aku akan menempati kamar tamu?”
Revan tidak langsung menjawab Sebaliknya, ia justru melangkah lebih dekat Tangannya perlahan meraih kedua tangan Khay, Genggamannya hangat.
Membuat Khay refleks menahan napas “Baby…” panggilnya pelan.
Deg.
Lagi-lagi panggilan itu. Jantung Khay langsung berdetak tidak karuan.
“Kita sudah menikah,” lanjut Revan dengan suara rendah, “apa kamu tega membiarkan aku tidur seorang diri?”
Nada bicaranya terdengar santai, tapi ada godaan halus di dalamnya.
Khay langsung menatapnya, mata sedikit melebar.
Revan mendekatkan wajahnya Sangat dekat.
“Aku ingin selalu ada di samping kamu…” bisiknya tepat di telinga Khay.
Bulu kuduk Khay langsung berdiri “Mas…” gumamnya pelan, suaranya hampir tidak terdengar Ia menelan ludah, berusaha tetap tenang Namun wajahnya sudah memerah.
Khay mengalihkan pandangannya, mencoba menguasai diri “Dulu aku pikir kamu itu orangnya dingin dan angkuh,” ucapnya, mencoba terdengar santai.
Revan hanya diam, memperhatikan setiap ekspresi Khay.
“Ternyata aku salah…” lanjut Khay, lalu berhenti sejenak. Ia menatap Revan lagi, kali ini dengan senyum tipis “Kamu juga pintar menggoda.”
Revan tersenyum pelan Senyum yang tipis… tapi dalam.
Tanpa banyak bicara, ia mengangkat tangannya.
Jari-jarinya menyentuh lembut tengkuk leher Khay.
Menariknya perlahan mendekat. Dan…
Ia mencium bibir Khay dengan lembut Hanya singkat. Namun cukup untuk membuat dunia Khay seperti berhenti sesaat.
Saat Revan menjauh, Khay masih terpaku Wajahnya semakin merah.
“Dan mesum juga…” gumamnya lirih, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.
Revan terkekeh pelan “Kalau dengan istriku sendiri,” jawabnya santai, “itu bukan mesum.”
“Mas!” protes Khay spontan.
Revan tertawa kecil, lalu meraih tangan Khay “Ayo masuk.”
Begitu mereka masuk, para pelayan langsung menyambut dengan hormat “Selamat datang, Tuan. Nyonya.”
Khay sedikit canggung mendengar sapaan itu.
Nyonya… Ia masih belum terbiasa.
Revan seolah memahami Ia menggenggam tangan Khay sedikit lebih erat, memberi isyarat bahwa semuanya baik-baik saja.
“Kamar sudah siap?” tanya Revan singkat.
“Sudah, Tuan.”
Revan mengangguk, lalu mengajak Khay naik ke lantai atas.
Langkah Khay sedikit melambat saat mereka berhenti di depan sebuah pintu besar.
“Kamar utama,” ucap Revan.
Khay menatap pintu itu Perasaannya campur aduk.
Deg-degan,Canggung Dan… sedikit penasaran.
Revan membuka pintu Dan saat pintu itu terbuka Khay terdiam.
Kamar itu… Luas, Elegan. Dengan nuansa hangat dan pemandangan kota dari jendela besar “Ini…” gumam Khay pelan.
“Sekarang kamar kita,” potong Revan.
Khay menoleh cepat “Ki—kita?”
Revan mengangguk santai “Kamu istriku,” ucapnya. “Jadi ini juga tempatmu.”
Khay berjalan masuk perlahan Tangannya menyentuh seprai tempat tidur yang terlihat begitu nyaman.
“Ini lebih besar dari kamar tamu…” gumamnya.
Revan berdiri di belakangnya “Tentu saja.”
Khay berbalik, menatap Revan “Mas yakin… aku langsung di sini?”
Revan mendekat lagi Tatapannya lembut “Kenapa? Kamu masih mau lari ke kamar tamu?”
Khay menggeleng cepat “Bukan gitu…”
Revan mengangkat dagunya pelan “Tenang,” ucapnya lembut. “Aku gak akan memaksamu.”
Khay terdiam Kalimat itu… selalu berhasil membuatnya merasa aman.
“Tapi,” lanjut Revan pelan, “aku tetap ingin kamu di sini. Di dekatku.”
Khay menunduk Jantungnya kembali berdebar. “Ya… kan kita sudah menikah,” gumamnya pelan, lebih seperti meyakinkan dirinya sendiri.
Revan tersenyum “Jawaban yang bagus.”
Khay langsung memanyunkan bibir “Ih…”
Revan tertawa kecil.
Malam mulai turun. Khay duduk di tepi tempat tidur sambil memainkan ujung bajunya Masih terasa canggung.
Apalagi ini pertama kalinya ia benar-benar tinggal di rumah Revan… sebagai istri.
Sementara itu, Revan keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai Ia melihat Khay yang duduk diam.
“Kamu kenapa?” tanyanya.
Khay langsung menggeleng “Gak kenapa-napa.”
Revan mendekat Duduk di sampingnya “Kamu kelihatan tegang.”
Khay menghela napas “Ya… sedikit.”
Revan mengangguk pelan “Wajar.” Ia menyandarkan punggungnya ke headboard tempat tidur “Kita jalani pelan-pelan saja.”
Khay menoleh Menatap wajah Revan Untuk pertama kalinya… Ia benar-benar melihat sisi lembut pria itu.
Bukan hanya dingin. Bukan hanya tegas, Tapi juga… sabar. Khay tersenyum kecil. “Mas…”
“Iya?”
“Makasih ya.”
Revan mengernyit “Untuk apa?”
“Udah sabar sama aku.”
Revan tersenyum tipis “Karena kamu pantas untuk itu.”
Deg.
Lagi. Khay langsung memalingkan wajahnya. “Mas ini… suka bikin jantung aku capek.”
Revan tertawa pelan “Biasakan.”
Khay langsung menatapnya “Enak aja!”
Revan hanya tersenyum Lalu perlahan, ia meraih tangan Khay. mencium bibir khay yang kenyal dengan lembut.
Tangan Revan sudah tidak bisa diam. ia membuka tali pengait pakaian khay, membuat khay sedikit terkejut..
Suasana kamar seketika hening. Udara di antara mereka seolah memanas.
Khay yang sejak tadi berada dalam dekapan Revan sudah menutup matanya. Jantungnya berdegup begitu kencang, seolah ingin keluar dari tempatnya.
Pikir khay mungkin ini sudah saatnya untuk dirinya menjadi milik Revan seutuhnya. namun....
suara ponsel khay berbunyi...
Ting… ting…
Suara ponsel Khay tiba-tiba memecah suasana.
Khay langsung membuka mata. “Mas… ponselku…” ucapnya pelan, hampir seperti menemukan penyelamat.
Revan menghela napas panjang Jelas terlihat ia sedikit kesal… tapi tetap menahan diri “Angkat saja,” ucapnya akhirnya.
Khay segera meraih ponselnya dengan tangan sedikit gemetar Begitu melihat nama yang tertera, ia langsung duduk tegak.
“Mamah…” Ia menelan ludah, lalu menjawab panggilan itu.
“Halo, mah…”
“Assalamualaikum, nak,” suara lembut sang mamah terdengar dari seberang.
“Waalaikumsalam, mah.”
“Kamu sedang apa, nak?”
Khay melirik Revan sekilas.
Pria itu kini sudah menyandarkan tubuhnya di kasur, satu tangan di belakang kepala, menatap Khay tanpa ekspresi… tapi jelas memperhatikan.
“Eum… lagi istirahat, mah,” jawab Khay sedikit gugup.
Mamah terkekeh pelan. “Mamah dengar kamu sudah pindah ke rumahnya nak Revan?”
Khay kembali melirik Revan. “Iya, mah… mulai hari ini aku tinggal di rumah mas Revan.”
“Alhamdulillah,” ucap mamah terdengar lega “Memang sudah seharusnya begitu, nak. Kalian kan sudah suami istri.”
“Iya, mah…”
Nada suara Khay mulai melemah Ia seperti sudah bisa menebak arah pembicaraan ini Dan benar saja..
“Dengan begitu,” lanjut mamah, “kalian akan lebih cepat dekat.”
Khay menelan ludah “Iya, mah…”
“Dan… semoga tidak lama lagi mamah bisa menggendong cucu.”
Deg.