NovelToon NovelToon
Kebangkitan Istri

Kebangkitan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kebangkitan pecundang / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:47.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KI 28

“Bagaimana bisa enggak?” tanya pria berhelm merah.

“Selagi muda, hajar saja. Kalau jatuh, tinggal bangkit lagi.” Itu adalah perkataan Ibu Salamah yang tiba-tiba saja muncul di benak Miranda.

“Ini peluang bagus, tidak mungkin aku sia-siakan. Untuk masalah kesanggupan Ibu Salamah, nanti saja aku pikirkan,” ucap Miranda dalam hati, meyakinkan tekadnya.

Dengan mata berbinar, Miranda berkata, “Sanggup, Pak.”

Ekspresi miranda sangat meyakinkan membuat lelaki berhelm merah itu tersenyum

“Bagus kalau begitu,” ucap pria berhelm merah.

Miranda akhirnya meninggalkan area proyek dengan terus berpikir. Jika dia menerima pesanan dari proyek, maka dia akan menerima keuntungan Rp180.000. Hanya mengantarkannya saja sudah dapat untung Rp180.000.

Ditambah hasil mencari rongsokan yang dia targetkan Rp50.000 per hari, serta menjadi tukang cuci piring Rp30.000.

Memikirkannya saja membuat Miranda senang. Untuk masalah kesanggupan Ibu Salamah, dia akan membujuknya agar mau.

Akhirnya Miranda sampai di rumah Ibu Salamah.

Tampak Ibu Salamah sedang menyalakan dupa di sudut rumah. Di atas pembakaran dupa itu ada foto seorang lelaki. Asap tipis mengepul pelan, menari di udara. Wajah lelaki dalam foto itu tampak teduh, seakan ikut mengawasi ruangan kecil tersebut.

“Bagaimana, Mir, lancar?” tanya Ibu Salamah.

Miranda sebenarnya malu-malu mengungkapkannya, tetapi semua harus dicoba. Rasa takut harus dilawan.

“Lancar, Bu, tapi besok mereka pesan 60 bungkus,” ucap Miranda.

Ibu Salamah mengerutkan dahi, tampak berpikir keras.

“Terus, apakah kamu menyanggupi?” tanya Ibu Salamah.

Miranda malu-malu menganggukkan kepala lalu berkata, “Maaf, Bu, saya terima pesanan itu. Apakah Ibu bisa?”

“Terlalu banyak, Mir,” ucap Ibu Salamah.

“Jadi Ibu enggak bisa?” tanya Miranda, merasa menyesal sudah menyanggupi. Harusnya tadi dia pulang dulu ke rumah Ibu Salamah untuk menanyakan sanggup atau tidak.

“Bisa, tapi kamu harus bantu Ibu. Kalau masak sih gampang, tapi membungkusnya itu lho, Mir, yang susah,” ucap Ibu Salamah.

“Oh, kalau begitu saya akan menginap di rumah Ibu untuk membantu,” ucap Miranda.

Ibu Salamah menatap Miranda. “Ini dia masalahnya.”

Baru saja Miranda merasa lega, kini dadanya terasa sesak lagi. “Kenapa, Bu?”

“Kamu kan tidak punya KTP, Mir. Sedangkan kalau menginap, aku harus lapor dulu ke RT.”

Miranda tertegun. Benar juga yang dikatakan Ibu Salamah. Dia tidak punya KTP dan akan jadi masalah besar kalau dia menginap, lantas nanti ada razia.

“Kalau aku datang jam tiga pagi terus bantu Ibu, bagaimana?”

Ibu Salamah menatap Miranda dengan intens.

“Tidur kamu jadi berkurang dong, sedangkan seharian kamu mencari rongsok, malam jadi tukang cuci piring di tukang pecel lele,” ucap Ibu Salamah, matanya berembun.

“Tenang saja, Bu, aku sudah terbiasa sedikit tidur dari kecil.”

Dari umur delapan tahun sampai sekarang dua puluh lima tahun, mana ada Miranda kepikiran tidur banyak. Kalau banyak tidur, maka sumpah serapah akan dia terima. Kalau sekarang kurang tidur, tapi pikiran Miranda tidak dibebani untuk melayani banyak orang. Dahulu ia kurang tidur karena tekanan. Kini, ia kurang tidur karena pilihan.

“Mir,” ucap Ibu Salamah, “ada satu syarat lagi.”

Miranda merasa Ibu Salamah ini banyak maunya. Dia sudah sukarela membantu, sekarang ada syarat lagi. Namun, membayangkan keuntungan yang akan dia dapatkan membuat Miranda harus bersabar.

“Apa, Bu?” tanya Miranda.

“Aku sudah tua, Mir, sedangkan sampai sekarang belum ada yang mewarisi keahlianku,” ucap Ibu Salamah.

“Aku tidak berminat menjadi pendekar, Bu. Aku hanya tukang pungut sampah.”

Ibu Salamah mengernyitkan dahi. “Apa yang kamu pikirkan? Apakah kamu mengira aku orang sakti yang akan menurunkan ilmu rahasia pada kamu?”

Miranda agak kikuk. “Anu, Bu, soalnya di Ibu ada dupa, sepertinya Ibu bukan orang biasa.”

Ibu Salamah mengernyitkan dahi. “Oh, itu kebiasaan leluhur Ibu.”

Suasana mendadak hening. Miranda tidak mau bertanya selanjutnya, walau dia penasaran sebenarnya dari mana Ibu Salamah berasal. Dari wajah, warna kulit, dan beberapa kebiasaan sudah jelas itu bukan budaya lokal.

“Sebenarnya saya punya beberapa resep makanan dan itu harus saya turunkan. Sayang sekali anak saya semua laki-laki, tapi tidak ada yang berminat bisnis di dunia kuliner. Bagaimana kalau kamu aku ajarkan memasak?” ucap Ibu Salamah.

“Hanya membuat nasi uduk, kenapa begitu berlebihan,” pikir Miranda.

Bagi Miranda, waktu adalah uang. Kalau dia harus belajar memasak, maka akan banyak waktu terbuang.

“Untuk menghasilkan banyak uang tidak cukup dengan kerja keras saja, Miranda. Proyek suatu saat akan selesai. Setelah bangunan itu jadi, kemungkinan dia punya kantin dan kamu tidak akan dipakai lagi. Menjadi tukang rongsokan juga tidak selamanya dapat banyak. Semua di dunia tidak stabil, Mir. Selalu saja ada yang berubah,” ucap Ibu Salamah lalu meneguk air.

Miranda tertegun. Hal ini belum dia pikirkan. Kerasnya Kota Jakarta sudah mengajarkan pada dia persoalan mencari uang adalah persoalan keberanian, kemauan, dan kerja keras. Namun siang ini dia mendengarkan satu hal penting dari Ibu Salamah, yaitu keahlian.

“Apa yang harus aku lakukan, Bu?” tanya Miranda.

“Jadi kamu menjadi muridku?” tanya Ibu Salamah, malah balik bertanya.

Miranda menganggukkan kepala.

“Baguslah. Dunia memang terus berubah dan kamu harus terus bertambah ilmunya, Mir,” ucap Ibu Salamah.

Miranda menganggukkan kepala. “Jadi aku harus belajar. Sebenarnya dari dulu aku ingin sekolah, tapi siapa yang peduli padaku,” ucap Miranda dalam hati.

“Mulai sekarang kamu di rumahku dari jam sepuluh pagi sampai jam empat sore,” ucap Ibu Salamah.

Sebenarnya Miranda agak kurang rela kehilangan jam mencari kerja sebanyak itu. Namun, apa yang dikatakan Ibu Salamah adalah kebenaran. Selain uang, dia juga harus mencari ilmu.

“Baiklah, Bu,” ucap Miranda.

Kemudian Ibu Salamah masuk ke kamar lalu kembali lagi dan membawa sebuah kotak. Wangi kayu cendana langsung tercium. Perlahan Ibu Salamah membuka kotak kayu itu.

Kotak itu tampak tua, namun terawat.

Dia mengeluarkan sebuah buku dengan kertas berwarna cokelat. Dari hurufnya sudah jelas itu bukan huruf Latin.

Tulisan-tulisan itu rapat dan asing, menyimpan rahasia rasa yang belum pernah Miranda kenal..

“Ini resep makanan keluarga besarku. Sayang sekali harus berakhir di tanganku,” ucap Ibu Salamah berkaca-kaca.

“Bu, apa tak masalah resep makanan keluarga diturunkan ke saya?” tanya Miranda.

“Tidak ada ketentuannya sih. Daripada ini punah, lebih baik saya turunkan sama kamu,” jawab Ibu Salamah.

“Kenapa ke saya, Bu?” tanya Miranda.

“Karena kamu baik dan pekerja keras, Mir.”

Miranda menganggukkan kepala lalu berkata, “Terima kasih, Bu.”

..

..

Sementara itu, Raka terus menelepon Lina, namun tak kunjung diangkat. Menelepon Maryono, kakaknya Lina, sama saja, tidak diangkat.

Tak mau menyerah, Raka terus menelepon Lina. Di deringan ke-18, akhirnya diangkat.

“Kenapa sih kamu ganggu aja, Ka?” tanya Lina kesal.

“Kakak kamu itu gimana sih kok sulit dihubungi,” ucap Raka kesal.

“Alah, itu hanya masalah kecil. Kamu berikan saja proyek yang lain kepada kakakku, nanti keuntungannya untuk membeli filter baru,” ucap Lina terdengar menyepelekan masalah.

“Proyek pertama saja mengecewakan, bagaimana aku akan memberikan proyek baru,” ucap Raka kesal.

“Begini, Raka,” ucap Lina, “uangnya habis. Kamu pakai dulu saja uang kamu untuk menutupi kalau begitu.”

“Kamu ini bikin pusing saja, Lina,” ucap Raka.

“Kamu yang mempersulit diri. Kamu beri lagi proyek pada kakakku, maka kamu akan mendapatkan keuntungan, Raka. Kan pabrik kamu kekurangan gula, nah beri aja proyek itu. Aku sudah memberi kamu solusi, ya. Jangan beranggapan aku tidak peduli,” ucap Lina. “Sudah dulu ya, aku lagi meeting.”

Raka hampir saja membanting ponselnya, namun dia urungkan saat nomor ibunya menelepon.

Raka memijat tombol hijau.

“Raka, bawa kembali Miranda kembali ke rumah,” ucap Rina.

1
nunik rahyuni
bagus..org sok sok an tu di ambung ambung j terus biar melayang...lama klamaan akhirnya jatuh 🤣🤣🤣🤣
Sunaryati
Lina sifat sombong dan kebencian kamu pada Miranda,jadi berkah dan keuntungan baginya.
Sunaryati
Pandai juga kalian mengelabuhi Lina
Sunaryati
Nah jadi orang itu jangan julid dengan orang lain rugi sendiri ,kan
nunik rahyuni
nah kua ini ni hadil didikan mu..manja teruuuus
nunik rahyuni
kapok..mudahan hbis modalnya jg buat niruti anaknya yg pekok tu alamat kere
Sunaryati
maksudku makian
Sunaryati
Dengan makin banyaknya makin dan hujatan Miranda makin kuat dan tangguh
nunik rahyuni
lanjuuut double triple up
nunik rahyuni
knp pula ketemu mak lampir dan keturunanya..😡😡😡bikin esmosi terus..rasa rasa mira ni kok susah baner mau hidup tenang..dan org2 tu kok pikiranya picik..apa g punya agama ya..tuhan sudah mengatur rejeki stiap orang..jgn iri melihat orang punya bnyk rejeki
nunik rahyuni
lanjuuut ...lanjuuut...
nunik rahyuni
tangkap sj mir sebagai gebrakan baru..tp kmu g usah muncul dlu biar di cover fstimah ..kmu ckup brada di blkg layar sebagai pamantau.....klo sdh tetkenal dan sukses mereka akan tau diapa di balik usaha sukses itu 👏👏👏dan boooom mreka akan kaget..shock dan pingsan melihat kesuksesanmu
Sunaryati
Terima saja,dan tawarkan tenda hajatan . Miranda janga muncul.Jika muncul pakai masker, sebaiknya tidak muncul sama sekali. tetapi bekerja di balik layar
Sunaryati
Suka
Sunaryati
Jalan menuju kesuksesan kalian sepertinya terbuka lebar
Sunaryati
Makin banyak anggota keluargamu Miranda ,semoga segera sukses
"C"
bagus novelnya
nunik rahyuni
tim marketing nya yg serba bisa 🤣🤣🤣
nunik rahyuni
waaah waaah ...aq jg jualan mie ayam jg lho..ayo mbak mir kita bagi resep🤣🤣🤣
Riss Taa
bagus...semangat berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!