Shanaya berdiri di tepi taman halaman rumahnya, angin malam membelai sayap-sayap keabadiannya yang tersembunyi. Bintang mendekatinya, matanya memancarkan cinta yang tak terbantahkan. "Shanaya, aku tahu kita berbeda, tapi aku tidak peduli. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu," katanya dengan suara lembut.
Shanaya menoleh, mencoba menyembunyikan air matanya "Bintang, kamu tidak tahu apa yang kamu katakan. Aku...aku bukan seperti kamu. Aku memiliki rahasia yang tidak bisa kamu terima..." Shanaya mengangkat tangan, menghentikan Bintang yang ingin mendekat. "Tolong, jangan membuat ini lebih sulit daripada yang seharusnya. Aku tidak bisa menjadi yang kamu inginkan..."
Bintang terlihat hancur, tapi dia tidak menyerah. "Aku tidak peduli dengan apa yang kamu sembunyikan, Shanaya. Aku hanya ingin kamu..."
Apakah Shanaya akan membuka hatinya untuk Bintang atau justru pergi ke langit ketujuh dan meninggalkan Bintang seorang diri di malam yang sunyi ini? Ikuti terus kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4. "Permainan Memanas"
Tim Shanaya dan tim Bintang saling beradu strategi, tidak ada yang mau kalah. Shanaya, Joe, dan Nathaniel bekerja sama dengan baik, tapi Felix, Varel, dan Bintang tidak mau ketinggalan.
Dalam serangan berikutnya, Bintang mencoba mengoper bola ke Felix, tapi Shanaya sudah siap. Dia merebut bola dan berlari ke arah ring, kekuatan Jathayunya membuatnya melompat lebih tinggi dan lebih jauh.
Skor 72-70, tim Shanaya unggul dua poin. Waktu pertandingan semakin habis, dan tim Bintang harus mencetak poin untuk menang.
Felix mengambil bola dan mulai menyerang, Varel dan Bintang membantunya. Mereka bekerja sama dengan baik, dan Felix melempar bola ke dalam ring.
"3 poin!" teriak Thalia, tapi kali ini, tim Bintang yang bersorak
"Huuuu...."
Skor 73-72, tim Bintang unggul satu poin. Waktu pertandingan habis, dan tim Bintang menang.
Bintang mendekati Shanaya dan memujinya, "Loe mainnya keren, Shanaya. Gue gak tahu loe bisa lompat setinggi itu..."
Shanaya tersenyum, masih mencoba untuk mengatur napasnya. "Thanks, Bintang. Tim loe juga mainnya keren..."
Thalia memberikan sebotol air mineral pada Shanaya, "Loe pasti capek, Shan. Nih minum dulu..."
Shanaya mengambil air mineral itu dan meminumnya, dan merasa segar kembali. "Thanks, Thalia. Pertandingan tadi seru banget kan?"
Felix dan Varel mendekati mereka, masih tersenyum karena menang. "Selamat, Shanaya. Loe mainnya keren, tapi tim gue masih yang terbaik hahaha..." ucap Felix dengan senyum nakal
Shanaya tersenyum tetap tenang, "Loe juga mainnya keren, Felix. Tapi gue gak akan kalah lagi di lain waktu ya..."
Mereka semua tertawa, dan suasana menjadi lebih santai.
Mereka semua memutuskan untuk pulang secara konvoi dengan motor masing-masing. Bintang membonceng Shanaya, sementara Joe membonceng Thalia sebagai kekasihnya. Felix, Nathaniel dan Varel berjalan di depan, memimpin konvoi.
"Gue gak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya," ucap Shanaya, sambil menyisipkan rambutnya yang terbang tertiup angin ke belakang telinganya
Bintang tersenyum, "Gue juga gak tahu, tapi gue tahu kita akan menghadapi apa pun bersama-sama..."
Shanaya tersenyum, merasa bahagia karena memiliki teman-teman seperti mereka. Mereka berdua mengikuti konvoi, menikmati perjalanan pulang yang santai.
Saat mereka tiba di kos, Thalia dan Joe berpisah dengan Shanaya dan Bintang, dengan janji untuk bertemu lagi besok. Felix, Nathaniel dan Varel juga pergi, meninggalkan Shanaya dan Bintang sendirian.
"Gue senang hari ini, makasih ya..." ucap Shanaya, sambil menatap Bintang.
Bintang tersenyum, "Gue juga, Shanaya. Gue gak bisa meminta lebih. Oh ya gue balik dulu ya see you tommorow princess Shanaya..."
Bintang pulang ke rumahnya, sementara Shanaya memasuki kamar kosnya.
"Ugh, hari ini benar-benar melelahkan," ucap Shanaya sambil meletakkan tasnya di atas meja nakasnya
Dia mulai membersihkan diri kemudian berberes kosan, memasak dan makan malam setelahnya ia mulai mengerjakan tugas mata kuliah analisis puisi, fokus pada puisi-puisi yang harus dianalisis.
"Hmm, apa makna sebenarnya dari puisi ini?" gumamnya sendiri.
Setelah selesai, Shanaya bersiap untuk tidur.
"Sudah cukup untuk hari ini, mari kita tidur..." ucapnya sambil merebahkan dirinya di atas kasur yang tersedia di kamar kosan sepetaknya ini.
Malam ini, dia merasa puas dengan hari ini. "Hari ini benar-benar menyenangkan," ucapnya sambil tersenyum, memikirkan tentang pertandingan basket bersama Bintang.
Shanaya tertidur dengan senyum di wajahnya, tapi tidak lama kemudian dia mulai bermimpi. Dalam mimpinya, dia berada di sebuah taman yang indah, dikelilingi oleh bunga-bunga yang mekar dan burung-burung yang bernyanyi riang.
Tiba-tiba, seorang wanita cantik muncul di depannya. Dia mengenakan gaun putih yang elegan, dilengkapi dengan mahkota dan sayap putih yang indah. Wanita itu tersenyum hangat ke arah Shanaya, membuat Shanaya merasa tenang dan damai.
"Shanaya, aku telah menunggumu, kini waktunya telah tiba," ucap wanita itu dengan suara yang lembut dan senyuman yang hangat
Shanaya merasa hatinya berdebar, "Siapa kamu? Apa yang kamu inginkan?" tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar
Wanita itu tersenyum lagi, "Aku adalah penjaga dirimu lebih tepatnya jati dirimu, Shanaya. Aku di sini untuk membantumu memahami kekuatanmu yang sebenarnya..."
Shanaya merasa mata nya berlinang air mata, "Kekuatan apa? Aku tidak tahu apa-apa tentang itu, aku gak mau..." ucapnya dengan suara yang hampir menangis
Wanita itu mengambil tangan Shanaya, "Jangan takut, Shanaya. Kamu kuat dan mampu. Aku akan membantumu menemukan jalanmu..."
Wanita itu membawa Shanaya ke dalam kerajaan dongengnya, melewati gerbang emas yang indah dan memasuki istana yang megah. Shanaya merasa seperti berada di dalam sebuah negeri dongeng saat ini, dikelilingi oleh keindahan dan kemewahan yang menyelimutinya.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, Shanaya," ucap wanita itu dengan senyum misterius
Shanaya mengangguk, masih merasa sedikit tak percaya. Mereka berjalan melewati koridor yang panjang, melewati patung-patung yang indah dan lukisan-lukisan yang mempesona.
Tiba-tiba, mereka berhenti di depan sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu mahoni. Wanita itu membuka pintu itu, dan Shanaya melihat ke dalam.
"Ini...ini adalah ruanganmu?" tanya Shanaya, matanya melebar karena keheranan
Ruangan itu dipenuhi dengan sayap-sayap yang indah, semua bentuk dan ukuran. Wanita itu tersenyum, "Ya, Shanaya. Ini adalah ruang sayapmu. Aku akan membantumu menemukan sayapmu yang sebenarnya..."
Shanaya merasa hatinya berdebar, "Sayapku yang sebenarnya?"
Wanita itu mengangguk, "Ya, Shanaya. Sayapmu yang sebenarnya. Kamu memiliki kekuatan besar di dalam dirimu, dan sayapmu adalah manifestasi dari kekuatan itu sendiri..."
Shanaya merasa matanya berlinang air mata, "Tapi aku tidak tahu bagaimana cara menggunakannya..."
Wanita itu meletakkan tangan di bahu Shanaya, "Jangan khawatir, aku akan membantumu. Aku akan mengajarkanmu cara mengontrol sayapmu dan menggunakan kekuatanmu..."
Shanaya merasa hatinya dipenuhi dengan harapan, "Benar? Kamu akan membantuku?"
Wanita itu tersenyum, "Ya, Shanaya. Aku akan membantumu menjadi dirimu yang sebenarnya..."
Wanita itu tersenyum, "Aku telah menunggumu untuk tumbuh dewasa, putriku. Aku adalah ibumu, yang telah tiada sejak kamu dilahirkan..."
Shanaya merasa hatinya bergetar, "Ibu...?"
Wanita itu membelai rambut Shanaya dengan lembut, "Ya, Shanaya. Aku adalah ibumu. Aku telah menunggumu untuk menemukan kekuatanmu dan menjadi dirimu yang sebenarnya..."
Shanaya merasa air matanya mengalir, "Tapi...tapi aku tidak tahu apa-apa tentangmu, bahkan ayah gak pernah cerita apapun tentang dirimu..."
Ibu Shanaya tersenyum, "Aku tahu, putriku. Aku akan memberitahu kamu semua tentang dirimu dan kekuatanmu. Aku akan membantumu menjadi kuat dan bahagia. Apa yang terjadi padaku jangan sampai hal itu terjadi pula padamu..."
Shanaya merasa hatinya dipenuhi dengan cinta dan harapan, "Aku ingin tahu, ibu..."
Ibu Shanaya tersenyum, "Baiklah, putriku. Panggil aku Bunda, Shanaya..."
Shanaya mengangguk, "Baik, Bunda. Aku ingin tahu, bagaimana Bunda dan Ayah bertemu? Dan...dan kenapa Bunda meninggal setelah aku lahir?"
Bunda Shanaya mengambil napas dalam, "Aku dan ayahmu...kami bertemu di sebuah tempat yang sangat indah, di mana kekuatan kami pertama kali bertemu. Kami jatuh cinta, dan...dan aku hamil mengandung dirimu pada akhirnya, tapi....."
Shanaya mendengarkan dengan sangat saksama, "Lalu?"
Bunda Shanaya tersenyum sedih, "Lalu, kekuatan yang aku miliki...itu terlalu besar untuk tubuhku. Aku tahu bahwa aku tidak bisa bertahan lama, tapi aku ingin melihatmu lahir dan tumbuh menjadi kuat ya lebih kuat daripada diriku..."
Shanaya merasa hatinya berat, "Bunda...aku tidak ingin kehilanganmu lagi..."
Bunda Shanaya memelaskan rambut Shanaya, "Aku tahu, putriku. Tapi kamu harus kuat. Kamu memiliki kekuatan yang sama sepertiku, dan kamu harus menggunakannya untuk kebaikan..."
Bunda Shanaya tersenyum, "Aku akan memanjakanmu, putriku. Aku ingin kamu merasa bahagia di sini..."
Shanaya merasa dirinya dibawa ke sebuah ruangan yang dipenuhi dengan bunga-bunga indah dan aroma yang harum. Bunda Shanaya membantunya mandi dengan air yang hangat dan meletakkan gaun putih yang indah di atas tubuhnya.
"Aku ingin kamu merasa seperti putri sejati," ucap Bunda Shanaya dengan senyum hangat
Shanaya merasa dirinya seperti di dalam negeri dongeng, "Bunda, ini semua terlalu indah..."
Bunda Shanaya memelaskan rambut Shanaya, "Aku ingin kamu merasa bahagia, putriku. Aku akan selalu ada untukmu, walaupun aku tidak bisa berada di sampingmu secara fisik tapi aku akan selalu melindungimu dan menjadi sayap sebagai perisai untukmu..."
Shanaya merasa hatinya dipenuhi dengan cinta, "Aku akan selalu mengingat Bunda, dan aku akan menjadi kuat seperti yang Bunda inginkan, Shanaya janji..."
Bunda Shanaya membuka tangannya, "Aku ingin memelukmu, putriku," ucapnya dengan suara yang lembut
Shanaya berlari ke dalam pelukan Bunda Shanaya, merasa dirinya aman dan bahagia. Mereka berpelukan erat, menikmati momen indah itu.
Setelah beberapa saat, Bunda Shanaya melepaskan pelukan, "Aku memiliki sesuatu untukmu, Shanaya," ucapnya sambil mengambil sebuah tusuk konde berwarna merah kombinasi emas yang indah dari atas meja
"Ini adalah tusuk konde yang akan membantu kamu mengontrol sayapmu," ucap Bunda Shanaya sambil memasang tusuk konde itu di rambut Shanaya
"Dengan ini, sayapmu tidak akan mengganggumu lagi, apalagi terkembang dengan sembarangan di tempat umum..."
Shanaya merasa lega, "Terima kasih, Bunda. Aku akan selalu mengenakannya..."
Bunda Shanaya tersenyum, "Aku tahu kamu akan menurutiku, putriku..."
Bunda Shanaya mengantarkan putrinya itu melewati setiap lorong pintu yang tadi mereka lewati dan mereka pun saling berpisah satu sama lain di lorong pintu kayu yang tadi mereka lewati.
Shanaya terbangun dari tidurnya, merasa sedikit disorientasi. Dia melihat sekeliling kamar kosnya, mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi. Mimpi itu terasa sangat nyata baginya.
Tiba-tiba, matanya tertuju pada sebuah tusuk konde yang indah di sampingnya. Shanaya merasa jantungnya berdetak kencang.
"Apa...apa ini? Apakah itu nyata?"
Dia mengambil tusuk konde itu, merasakan kehangatan dan keindahan yang sama seperti dalam mimpinya.
"Apakah aku benar-benar bertemu dengan Bunda? Atau itu hanya mimpi?"
Shanaya merasa dirinya begitu bingung, "Tusuk konde ini...apakah ini bukti bahwa Bunda benar-benar ada?"
Dia memandang tusuk konde itu dengan mata yang berkaca-kaca, "Bunda...apakah kamu benar-benar ada?"
Shanaya merasa dirinya tidak bisa menahan lagi, dia meletakkan tusuk konde itu dan mulai menangis. "Aku ingin Bunda...aku ingin kasih sayang seorang ibu," katanya dengan suara yang tersendat.
Dia merasa kesepian dan kosong, mengingat bahwa ayahnya tidak pernah menceritakan tentang ibunya. "Ayah selalu menyembunyikan sesuatu dariku...apa lagi yang tidak aku tahu?"
Shanaya menangis lebih keras, merasa dirinya seperti anak yatim yang tidak memiliki ibu. "Aku ingin Bunda...aku ingin tahu tentang bunda lebih banyak..."
Dia merasa dirinya merasa sakit hati, karena tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. "Aku ingin tahu kenapa Bunda meninggal...kenapa aku tidak bisa mengenalnya..."
Shanaya menangis di atas tempat tidurnya, merasa dirinya sangat kesepian dan tidak lengkap. Ayahnya memang begitu misterius seperti banyak hal yang disembunyikan namun entah apa yang disembunyikannya itu dari Shanaya.
Bahkan ayahnya yang tak lain bernama Tirtayasa itu hingga kini tidak pernah dekat dengan wanita lain apalagi menikah lagi, padahal kedua orang tuanya selalu menginginkannya untuk mencari ibu sambung untuk cucunya Shanaya namun Tirta selalu menolak dengan keras.