Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.
Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.
Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringatan Keras
Sepanjang perjalanan pulang dari Cempaka Putih, kata-kata Ibu Sari bergema bagai lonceng peringatan di kepala Arman. Tapi, seperti magnet yang tak tertahankan, pikirannya justru semakin tertarik pada subjek yang membuatnya gelisah itu.
Ia tidak bisa menerima begitu saja bahwa poligami adalah jalan berliku penuh penderitaan. Harus ada sudut pandang lain. Harus ada pembenaran untuk hasrat samar yang mulai menggelembung di dadanya.
Sore itu, setelah menurunkan penumpang terakhir sebelum maghrib di kawasan Pancoran, Arman memutuskan istirahat panjang. Ia parkir di bawah jembatan layang, di tempat yang agak sepi. Angin sore yang berdebu menerpa wajahnya yang berminyak.
Ia membeli sebotol air mineral dingin dan sebungkus roti isi cokelat murah meriah. Sambil menyantap makanannya dengan cepat, jari-jarinya yang kotor oleh debu jalanan sudah menari di atas layar ponselnya yang retak.
Ia membuka mesin pencari.
“Keutamaan poligami dalam Islam.”
“Apakah poligami harus kaya?”
“Cara poligami yang benar.”
“Pengalaman poligami sukses.”
Artikel demi artikel ia lahap. Matanya berbinar saat menemukan konten-konten dari para ustaz dan penulis yang mendukung poligami dengan argumen yang, bagi telinganya yang sedang haus pembenaran, terdengar sangat masuk akal.
“Poligami itu sunnah Nabi, tidak mensyaratkan kekayaan. Yang penting niatnya ikhlas.”
Kalimat itu memberinya kelegaan. Jadi, ia tidak perlu menunggu jadi milyarder dulu? Keterbatasan finansialnya bukanlah penghalang mutlak.
“Poligami itu lebih baik daripada zina. Menyalurkan nafsu pada jalur yang halal.”
Arman mengangguk-angguk. Ia memang tidak pernah berselingkuh, tapi bukankah keinginannya untuk memiliki wanita lain adalah bentuk nafsu? Daripada nanti terjerumus, lebih baik dihalalkan. Ia merasa seperti sedang melakukan tindakan preventif.
“Poligami bisa meningkatkan ekonomi. Dua istri, dua sumber usaha. Satu bisa mengurus rumah, satu bisa membantu mencari nafkah. Sinergi!”
Ini dia! Pembenaran yang ia cari-cari. Ia membayangkan Rani tetap jaga warung, sementara istri kedua, mungkin seorang yang lebih melek digital, bisa membantunya mengembangkan bisnis ojek online atau memulai usaha lain. Hidup mereka justru akan lebih sejahtera.
“Adil dalam poligami bukan berarti membagi sama rata secara materi. Tapi membagi sesuai kebutuhan dan kemampuan. Masing-masing istri punya peran dan kelebihan berbeda.”
Arman menarik napas lega. Jadi, ia tidak harus memberi emas yang sama pada istri kedua? Tidak harus menyamakan uang belanja? Ini adalah konsep ‘adil’ yang fleksibel, cocok untuk kondisi keuangannya yang serba terbatas. Ia merasa menemukan puzzle yang pas.
Benih keraguan yang ditanam Ibu Sari mulai tergantikan oleh semangat baru. Ia merasa telah menemukan ‘ilmu’ yang lebih seimbang.
Ia bukanlah calon poligamis yang gegabah. Ia akan melakukannya dengan ilmu, dengan niat baik, untuk kebaikan semua pihak—termasuk Rani! Bukankah nanti bebannya akan lebih ringan jika ada yang membantu?
Pikirannya melayang tinggi, membangun istana di awan, ketika notifikasi orderan mendadak menyentak.
PING!
“ting!” notifikasi orderan masuk. Seorang penumpang dengan inisial “M”, tujuan ke Perumahan Taman Anggrek, tak jauh dari lokasinya. Arman menerima dengan cepat.
Di lokasi penjemputan, berdiri seorang wanita. Usianya mungkin sepantar atau sedikit lebih muda dari Arman. Ia mengenakan kaus oblong lengan pendek warna krem dan celana jeans ketat.
Rambutnya diikat tinggi, wajahnya tanpa riasan terlihat fresh namun ada kesedihan yang mengendap di sudut matanya. Ia membawa tas kerja kain kanvas yang sederhana.
“Halo, atas nama Mba Mira?” tanya Arman membuka aplikasi.
“Iya, betul,” jawab wanita itu dengan suara datar. Ia naik ke motor dengan cekatan.
Seperti biasa, Arman membuka obrolan.
“Dari kantor ya, Mba? Lumayan sore-sore gini macetnya udah mulai reda.”
“Iya. Habis shift,” jawab Mira singkat.
“Kerja di mana, Mba? Kalau boleh tahu.”
“Di apotek, dekat sini. Apoteker.”
“Wah, keren. Pekerjaan mulia,” puji Arman. Pikirannya bekerja. Seorang apoteker, pastilah berpendidikan dan mandiri. “Suami udah jemput?”
Terdengar desahan halus dari belakang.
“Suami lagi di luar kota.”
“Oh, dinas ya. Sibuk banget pasti.”
Mira terdiam sebentar, lalu berkata dengan nada yang tiba-tiba ingin berbagi, mungkin karena lelah atau karena Arman hanyalah seorang driver tak dikenal yang aman untuk curhat.
“Bukan dinas. Lagi jadwal sama istri kedua di Sukabumi.”
Motor Arman hampir oleng. Ia menguatkan genggaman di stang. Jantungnya berdetak kencang sekali. Ini dia! Hidup seperti memasangkan teka-tekinya. Baru saja ia membaca teori, sekarang praktiknya hadir di atas motornya.
“Istri… kedua?” tanya Arman, berusaha terdengar tenang.
“Iya. Mereka punya rumah sendiri di sana. Seminggu sekali suami saya ke sana. Bergantian. Seminggu di sini, seminggu di sana,” jelas Mira, suaranya kosong, seperti melaporkan jadwal piket.
Arman menelan ludah. Ia membayangkan jadwal yang teratur, kehidupan yang terkelola. Tidak ada drama seperti kisah Ibu Sari. “Oh… gitu. Berat ya, Mba?” tanyanya hati-hati.
“Awalnya iya. Sekarang… biasa aja. Yang penting komunikasi terbuka. Dan saya punya pekerjaan, punya kegiatan sendiri. Jadi nggak terlalu nungguin dia,” jawab Mira, dan kali ini ada sedikit kebanggaan dalam nada datarnya.
Sebuah kebanggaan karena bisa bertahan, karena kuat.
“Anak ada, Mba?”
“Belum. Dari istri kedua udah punya satu. Umur tiga tahun.” Ada jeda. “Kadang… kesepian juga sih. Apalagi kalo malem. Tapi ya sudahlah, ini pilihan.”
Mereka sampai di depan sebuah cluster rumah tipe 36 di perumahan yang cukup asri. Rumah Mira terlihat rapi, taman kecil di depannya ditanami bunga kertas. Bukan mewah, tapi teratur. Cerminan penghuninya yang berusaha menjaga normalitas.
“Ini sudah, Mas. Terima kasih,” kata Mira turun dan membayar via aplikasi.
“Sama-sama, Mba. Semoga diberi kesabaran ya,” ucap Arman tulus. Sebelum Mira masuk, ia buru-buru menambahkan, “Eh Mba, kalau lain kali butuh anter-antar, bisa langsung chat aja. Saya sering operasi di sekitar sini.
Tarifnya bisa lebih murah.” Ia memberikan kartu nama digitalnya via aplikasi chat.
Mira melihatnya, lalu mengangguk kecil. “Sip. Mungkin butuh juga. Terima kasih.”
Ia pun masuk ke dalam rumahnya, pintu tertutup perlahan. Arman tidak langsung pergi. Ia memandangi rumah itu, menandainya dalam peta mentalnya.
Ini adalah contoh nyata. Berjalan. Mungkin tidak bahagia-bahagia amat, tapi bertahan. Dan dia mandiri. Mira, sang apoteker, menjadi sosok baru dalam imajinasinya: potret istri kedua yang ideal. Mandiri secara finansial, tidak merepotkan, menerima sistem dengan kepala dingin.
Semangatnya kembali membara. Ia merasa menemukan bukti kedua setelah Budi bahwa poligami bisa dijalani dengan waras. Kunci utamanya: komunikasi, manajemen waktu, dan istri yang memahami.
Malam telah larut ketika Arman akhirnya memutar haluan ke rumah. Dompet digitalnya menunjukkan angka yang cukup untuk menutupi SPP Aldi dan sedikit sisa untuk bensin esok. Rasa lelah yang mendalam bersatu dengan kepuasan kecil telah memenuhi target.
Saat ia tiba di rumah, lampu teras dan lampu warung masih menyala. Rani sedang menghitung uang receh di dalam kotak kayu, sambil sesekali mengetik di kalkulator tua.
Warungnya sudah hampir kosong, tinggal beberapa bungkus mie instan dan telur. Rani masih memakai daster pagi tadi, rambutnya sedikit berantakan, tapi wajahnya fokus.
“Aku pulang,” kata Arman, meletakkan helm.
Rani menoleh.
“Waduh, baru pulang. Capek ya? Gorengan tuh? Aku panasin nasi lagi.”
“Iya, nanti aja. Ini duit SPP Aldi, pas.” Arman mengeluarkan uang lembaran dari sakunya, uang yang masih terasa hangat dari usahanya seharian.
Rani menerimanya, menghitungnya cepat, lalu menganggap puas. Ia menyimpannya di dalam amplop yang sama dan menaruhnya di laci khusus. “Alhamdulillah. Besok pagi bisa aku antar.”
Arman duduk di kursi plastik dekat warung, mulai menyantap gorengannya. Rani duduk di seberangnya, kembali menghitung uang receh. Suasana hening, hanya terdengar suara kertas dan koin.
“Tadi dapat penumpang aneh-aneh lagi?” tanya Rani untuk mengisi keheningan.
“Biasa aja. Ada yang ke kantor, ada yang ke rumah.” Arman mengunyah. Lalu, entah kenapa, mungkin karena merasa sedang dalam misi rahasia yang mulia, atau mungkin karena ingin ‘menguji air’, ia menceritakan separuh kisahnya.
“Tadi siang, ada yang menarik. Nganterin seorang ibu ke pengajian.”
“Oh ya? Pengajian apa, biasa?”
“Enggak. Kajian khusus. Bahasanya… tentang poligami.”
Kata itu menggantung di udara seperti bau gorengan yang tiba-tiba tengik. Jari-jari Rani yang sedang memisahkan koin seratus perak dan lima ratusan berhenti mendadak.
Kepalanya terangkat perlahan. Matanya, yang tadi lelah, kini menyorotkan fokus yang tajam.
“Poligami?” ulangnya, nadanya datar, terlalu datar.
“Iya. Di Masjid Al-Ikhlas, dekat Lapangan Banteng. Kebetulan aja dapat penumpangnya ke situ. Spanduknya gede banget.” Arman mencoba terdengar kasual, sambil mengunyah tempe mendoan.
Rani menatapnya. Tatapan itu tidak marah, tapi seperti sinar X yang mencoba menembus tengkorak Arman untuk melihat apa yang sebenarnya berputar di dalam kepalanya.
“Terus? Ibu itu ngapa? Ikut kajiannya?”
“Iya katanya cari ketenangan jiwa. Suaminya dulu pernah mau poligami, tapi gagal. Jadi dia pengen paham.”
“Lalu?” Rani menyeringai, memaksanya melanjutkan.
Arman merasa tidak nyaman di bawah tatapan itu. “Ya… ngobrol-ngobrol biasa. Katanya poligami itu berat, bukan buat sembarangan orang. Harus kuat finansial dan mental. Gitu.” Ia memilih menyensor bagian ‘bisa memberkahkan rezeki’ dan kisah sukses yang ia baca online.
Rani mendiamkan lagi. Ia kembali menghitung koin-koinnya, tapi gerakannya kini kaku. Suara koin yang berdentang terdengar keras di keheningan malam.
“Apa menurut lo, Man, kita ini termasuk keluarga yang kuat finansial?” tanya Rani tiba-tiba, tanpa menatapnya.
Arman tercekat. “Ya… alhamdulillah masih bisa makan, masih ada rumah.”
“Maksudku, kuat buat nafkahin dua istri, dua rumah, anak dari dua istri?” Rani menatapnya lagi, dan kali ini ada api kecil yang menyala di balik matanya yang lelah.
“Itu… kan nggak harus langsung mewah. Yang penting cukup. Dan kalau istri keduanya mandiri, bisa bantu…”
“Bisa bantu?” Rani memotong, suaranya meninggi setengah nada. “Jadi lo sudah kepikiran ya? Sudah jadi bahan obrolan sama ibu-ibu di motor? Sudah diskusi serius gitu tentang syarat-syarat istri kedua?”
Arman tersedak. Ia salah langkah. “Nggak juga! Gue cuma… nyambungin obrolan aja. Dia yang cerita.”
“Arman,” panggil Rani, meletakkan semua koinnya. Suaranya tegas dan dingin, berbeda dari nada rengekan atau keluhan sehari-hari. Ini nada peringatan.
“Kita sudah nikah hampir tujuh tahun. Gue tau loe. Loe kalau nanya atau bahas sesuatu berulang-ulang, biasanya lagi kepincut. Dulu waktu mau beli motor ini aja sama. Nanya sana-sini, bandingin spek, tidur nggak nyenyak. Sekarang lo lagi demen nanya-nanya tentang poligami.”
“Itu kan kebetulan…”
“Kebetulan ketemu teman SMA yang poligami. Kebetulan nganter ibu ke kajian poligami. Kebetulan lagi ‘kepo’ sama topik itu. Jangan ‘kebetulan-kebetulan’ sama gue.”
Rani berdiri. Tubuhnya yang lebih kecil tiba-tiba terasa besar. Emas di gelang tangannya berkilat sinis di bawah lampu neon.
“Gue kasih tau ya, Man. Poligami itu mimpi buruk buat gue. Titik. Nggak ada nego. Nggak ada ‘tapi kan bisa bantu’.
Nggak ada ‘tapi kan dia mandiri’.
Nggak ada ‘tapi kan demi ibadah’.
Bagi gue, itu penghinaan."
"Pertama, lo nggak menghargai perjuangan gue dari nol bantu lo bangun semua ini.
Kedua, lo anggap gue tidak cukup.
Ketiga,” suaranya mendesah, berusaha menahan sesuatu yang lebih pedih,
“loe mau pecahin keluarga kita yang cuma punya Aldi satu-satunya itu. Untuk apa? Untuk nambah istri?”
Arman terdiam. Gorengan di tangannya sudah tak lagi enak. Kata-kata Rani meluncur seperti pecahan kaca, tajam dan tepat sasaran. Ia tak menyangka reaksinya begitu langsung, begitu keras.
“Gue belum ngomong apa-apa…” bela Arman lemah.
“Nggak usah ngomong. Itu ada di mata lo. Ada di caranya lo pulang malam, melamun di teras, dan sekarang bawa-bawa topik itu. Jadi, sebelum lo kemana-mana, dengerin baik-baik.” Rani melangkah mendekat, menatapnya langsung.
“Selama gue masih bernafas, jangan harap. Kalau lo paksa, yang ada cuma satu: cerai. Dan gue yakin, pengadilan agama akan berpihak ke gue. Loe akan kehilangan segalanya. Rumah ini, warung ini, dan yang pasti, Aldi.”
Kata ‘cerai’ dan ‘kehilangan Aldi’ seperti pukulan knock-out. Wajah Arman pucat. Ia tak pernah membayangkan sampai situ. Dalam khayalannya, Rani akan marah-marah, lalu akhirnya menerima dengan ikhlas. Bukan mengancam dengan pisau bermata dua seperti ini.
Rani melihat perubahan ekspresi di wajah suaminya. Ia mengambil napas, mencoba meredakan gejolaknya.
“Kita punya masalah, Man. Masalah ekonomi, masalah jenuh. Tapi itu kita selesaikan berdua. Bukan dengan nyari orang ketiga. Oke? Sekarang, ayo makan malam. Nasi udah gue panasin.”
Dia berbalik, masuk ke dalam rumah, meninggalkan Arman sendirian di depan warung yang sepi. Ancaman itu masih menggema di telinganya.
Tapi, anehnya, di balik rasa takut dan kaget, muncul juga rasa membangkang kecil. Dia egois. Dia tidak mau memahami. Pikirannya kembali ke Mira si apoteker, yang rela berbagi suami. Itu baru perempuan yang pengertian.
Namun, ketika ia melihat lampu kamar Aldi yang masih menyala dari balik jendela, ancaman Rani terasa sangat, sangat nyata.
Malam itu, gorengan 5000-an rasanya seperti abu di mulutnya. Garis merah telah digambar oleh Rani, tegas dan berwarna murka. Dan Arman berdiri di tepinya, dengan satu kaki masih ingin melangkah ke seberang, sementara kaki lainnya terpaku oleh bayangan kehilangan segalanya.
Pertempuran belum usai, tapi medan perangnya telah berubah dari batinnya sendiri ke ruang tamu rumahnya, dan musuhnya bukan lagi keraguan, melainkan istri yang ia punya, yang ternyata sama sekali tidak seperti Mira.
arman makin blangsak hidup nya.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.