NovelToon NovelToon
Lumpuh

Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Romantis / Cintapertama
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Vermilion Indiee

Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.

Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 30 - Terjadi Lagi

Alexa akhirnya pulang ke kontrakannya dengan berjalan kaki. Steven menemaninya setengah jalan sebelum akhirnya Alexa memintanya untuk segera kembali ke asrama.

Beberapa kali Steven memaksa ingin mengantar Alexa bahkan membuat alasan mau mengambil beberapa barangnya dari apartemennya, namun Alexa mengimingi Steven dengan tiga digit nomor teleponnya.

Dan itu berhasil. Steven begitu sederhana.

Alih - alih sampai di kontrakan dan langsung beristirahat, Alexa justru mendapati Bu Susi tengah mengunci pintu kontrakannya dengan semua barang - barang Alexa yang ada di luar.

"Buk?" sapa Alexa.

"Eh, Neng. Baru pulang kerja?" tanya Bu Susi masih ramah seperti biasa.

Alexa tersenyum dan mengangguk kecil. Dia memandang barang - barang itu sekali lagi memastikan apakah yang ada di luar itu memang koper dan barang - barang miliknya.

"Ini—"

"Maaf ya, Neng. Penghuni kontrakan lain minta Ibuk buat nyuruh Neng Alexa pergi. Ibuk sudah menolak tapi mereka bilang tidak akan mengontrak di sini jika masih ada Neng Alexa." Bu Susi langsung menjelaskan dengan wajah sayu—merasa bersalah.

Alexa diam beberapa saat berpikir. Memang benar dengan kedatangan banyaknya wartawan hari itu membuat banyak penghuni kontrakan lainnya tidak nyaman.

Dengan kesadaran penuh, Alexa mengakui kalau dirinya terlalu banyak masalah sehingga menganggu ketenangan orang lain.

"Saya mengerti, Buk," pasrah Alexa yang tak bisa melakukan apa - apa. "Tapi, apakah saya bisa pergi besok, Buk? Saya tidak tahu malam ini harus ke mana."

Bu Susi mengelus lengan Alexa mengerti. Dia memandang iba pada perempuan muda yang masih begitu polos di hadapannya itu.

"Ibuk juga sudah bilang pada semua orang kalau kamu akan keluar dari kontrakan besok pagi. Bahkan Ibuk berjanji. Tapi mereka akan meninggalkan kontrakan malam ini juga kalau Neng Alexa nggak keluar malam ini."

Akhirnya, Alexa mengalah. Dia mencoba mengerti masalah yang sudah dibuatnya dan intropeksi diri.

Dengan berat hati, dia membereskan barang - barangnya itu bersiap pergi. Padahal, meski berada di lingkungan toxic, Alexa bersyukur karena mengenal Bu Susi.

"Ibuk minta maaf ya, Neng," ungkap Bu Susi merasa bersalah.

"Tidak, Buk. Saya yang minta maaf karena sudah banyak membuat masalah. Kontrakan Ibuk juga jadi rusak karena saya." Alexa menunjuk beberapa kaca yang pecah dan belum dibenarkan.

Alexa sudah berjanji akan mengganti itu ketika gajinya cair. Bahkan kalau sudah tidak tinggal di sana pun, Alexa akan tetap bertanggung jawab.

"Tidak apa - apa, Neng. Itu hanya kerusakan kecil."

"Saya tetap akan menggantinya sesuai janji, Buk." Alexa tersenyum—berusaha terlihat kuat.

"Jangan terlalu di pikirkan. Sekarang, kamu lebih baik langsung cari tempat tinggal baru. Jangan lupa istirahat dan makan. Masalah kerusakan ini, jangan dipikirkan."

Perhatian Bu Susi berhasil meluluhkan hati Alexa yang sebatang kara mengharapkan mendapatkan sedikit kasih sayang dari sosok Ibu.

Alexa mengangguk dengan mata berkaca - kaca dan menyalami tangan Bu Susi untuk pamit. Tenggorokannya tercekat sampai tak bisa mengatakan kalimat apa pun untuk berpamitan.

"Sering - sering main ke sini ya, Neng. Ibuk nggak punya anak, jadi kesepian," ucap Bu Susi sebelum Alexa melangkah pergi.

"Iya, Buk. Saya pasti sering main kok. Terima kasih ya, Buk. Saya pamit."

Alexa melambaikan tangannya dan berjalan pergi menyeret koper, menggendong tasnya—tanpa tujuan.

Selain tujuan, Alexa juga tak lagi memiliki uang untuk melakukan pindahan secara dadakan. Kos murah pun, bukan berarti dia bisa masuk tanpa membayar uang muka.

Barang berharga pun tak Alexa punyai lagi untuk dia jual.

Rumah.

Alexa punya rumah meski jauh. Tapi dia tidak memiliki keberanian untuk pulang ke sana. Terlalu menyakitkan baginya jika pulang di saat dia belum bisa mengatasi traumanya sendiri.

Sesaat, Alexa menatap jam di layar ponselnya yang menunjukkan pukul sembilan malam.

"Permisi..." Alexa menyapa seseorang penjaga counter HP.

Dia memutuskan untuk menjual ponselnya. Satu - satunya barang berharga yang dia miliki saat ini.

"Ada yang bisa dibantu?" tanya penjaga itu—dingin.

Mata pria itu sayu dan tampak setengah terkantuk. Ada aroma a1kohol meski tidak menyengat. Alexa jelas mengenal tingkah dan aroma orang yang sedang dibawah kendali minuman keras.

Dulu, dia menghadapi hal seperti itu hampir setiap hari.

"Saya mau jual handphone saya." Alexa menunjukkan ponselnya.

Saat itulah dia baru sadar ada pria lain yang juga menjaga di sana sedang tiduran di lantai beralaskan karpet sembari memegang ponselnya. Sesaat mata Alexa bertemu dengan mata pria itu yang merah.

"Masih lumayan bagus sih. Kami berani di harga satu koma satu juta," kata Pria itu dengan suaranya yang parau.

"Bisa naikin sedikit, Mas?" Alexa mencoba meminta harga lebih tinggi.

"Situ minta berapa?"

"Satu juta lima ratus."

"Nggak bisa. Mentok satu koma dua."

Alexa berpikir sejenak. Dia mungkin bisa mendapatkan harga lebih tinggi di tempat lain tapi kakinya tak lagi sanggup melangkah untuk menjelajahi counter HP yang masih buka di jam - jam malam.

"Boleh deh, Mas. Tapi, bisa tolong di reset dulu sama saya mau ambil SIM card - nya," ujar Alexa.

"Ada foto t31anjangnya nggak, Neng? Buat saya aja." Pria yang sedang rebahan di lantai menyahuti.

Sempat terkejut, Alexa hanya terkekeh canggung mengusap tengkuknya yang tak gatal. Dia tahu itu mungkin hanya candaan walaupun sangat tidak nyaman didengar.

Tanggapan Alexa hanya menggeleng sebagai jawaban. Jangankan foto seperti itu, bahkan sangat jarang ada foto - foto Alexa atau orang tuanya. Hampir tidak ada.

"Akun email juga mau dihapus?" tanya penjaga yang sedang mengotak - atik ponsel Alexa.

"Iya. Saya mau bikin yang baru saja."

"Wah... ini video apa?"

Mendengar itu, Alexa langsung berebut ponselnya untuk melihat. Itu adalah video saat ayahnya sedang memukuli ibunya. Alexa juga pernah memiliki pikiran untuk melaporkan ayahnya ke polisi.

Dia hendak menghapus video itu sendiri tanpa ragu pria berambut merah yang rebahan bangkit dan merebut ponsel milik Alexa dengan sempoyongan.

"Video b0k3p nih pasti!" katanya antusias.

"Bukan. Saya hapus sendiri saja videonya." Alexa berusaha mengambil ponselnya tapi pria itu menghindar dan masih terus menatap ke layar ponsel Alexa.

"Ini fotonya Neng kalau diedit t31anjang juga bagus. Kirim ke gue, Bro."

"Mas, tolong jaga sopan santun ya!" Alexa berteriak karena kehabisan kesabaran.

"Saya nggak ikutan, Mbak. Teman saya memang gitu."

"Ya kalau gitu tolong dong, Mas."

Alih - alih menolong, pria itu justru mengambil uang dan memberikannya pada Alexa.

"Itu dua juta. Anggap saja saya juga membeli data yang ada di dalam hape mbaknya."

PLAK!

Alexa menampar pria itu dengan kencang. Wajahnya memerah menahan amarah. Suasana hatinya sedang buruk dan kejadian buruk selalu menyertainya membuatnya kehilangan kesabaran.

"Saya nggak jadi jual hape saya! Kembalikan atau saya lapor ke polisi!" ancam Alexa.

"Wooooww... serem..." ledek Si Rambut Merah sembari menyentuh hidung Alexa dengan ujung jari telunjuknya.

Awalnya hanya itu. Tapi lama kelamaan, tangannya menyentuh gundukan di dad4 Alexa membuat Alexa langsung menyilangkan tangannya—menyelamatkan tubuhnya.

"Masuk aja, Neng. Kita seneng - seneng dulu. Nanti saya kasih uang, hape Eneng balik," ucapnya plenger.

Karena marah, Alexa langsung mendorong Etalase berisi ponsel - ponsel dan juga SIM card yang di jual sekuat tenaga hingga dua pria itu melangkag mundur. Etalase itu pun roboh bahkan pecah di beberapa bagian.

Cukup parah.

"BAN9SAT!" tutuk Si Rambut merah.

Alexa merebut kembali ponselnya tanpa peduli kakinya terkena pecahan etalase itu dan langsung berlari pergi.

"WOY! AWAS LO!" teriak dua pria itu mengejar Alexa.

Detak jantung Alexa tak karuan mengingat kembali bahwa sebelumnya dia juga mendapatkan p3l3cehan yang membuatnya tak bisa hidup tenang dan terus merasa takut.

Tanpa sadar, tangisnya merekah tanpa suara. Dia terus berlari dengan tertatih karena rasa perih di kakinya akibat pecahan kaca etalase tadi. [ ]

1
Irnawati Asnawi
😍😍😍
Irnawati Asnawi
setiven yang ngomong aku yang dek dekan, 😍😍😍
Vermilion Indiee: Wkwk... aku juga🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!