NovelToon NovelToon
Dua Hati Mencintai

Dua Hati Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romantis
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Agustin Hariyani

Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 19

Kakek Jo tidak pernah bergerak tanpa rencana.

Dan ketika ia diam selama beberapa minggu.

Itu artinya sesuatu sedang disusun.

Rapi.

Pelan.

Dan tepat sasaran… untuk hati dua orang yang gengsi untuk mengaku.

Suatu pagi…

 Zara menerima pesan dari Kakek Jo.

“Malam ini makan malam bersama. Wajib hadir. Dress formal.”

Zara mengernyit.

“Bersama?”

Kenzy yang duduk di depan meja kerja pura-pura fokus pada laptop.

“Kakek lagi.”

“Bapak tahu?”

“Tidak.”

Padahal Kenzy tahu.

Karena saat sarapan dirumah pagi tadi.

Kakek Jo sudah berkata padanya,

“Kalau malam ini kamu pulang tanpa status jelas, kamu bukan cucu saya.”

Malam itu mereka tiba di restoran rooftop privat yang disewa kakek Jo.

Tempatnya hangat. Lampu temaram. Hanya ada satu meja bundar  dan dua kursi.

Zara bingung.

“Katanya makan malam bersama?”

Kenzy melihat sekeliling.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya mereka.

Dan di tengah meja,

Sebuah map kecil.

Zara membuka.

Isinya foto-foto mereka selama beberapa bulan terakhir.

Di kantor, di acara pertunangan, saat meeting, di rumah saat Zara sakit.

Semua candid.

Semua terlihat… nyata.

Di halaman terakhir ada tulisan tangan Kakek Jo.

“Kalian bisa terus pura-pura.

Tapi hati tidak bisa diajak rapat direksi.”

Zara terdiam tersenyum kecil.

Kenzy menghela napas panjang.

“Kakek…”

Lampu sekitar meja meredup sedikit.

Musik lembut mengalun.

Jelas ini jebakan.

Dan mereka sadar.

Mereka duduk berhadapan.

Sunyi.

Tidak ada tamu. Tidak ada karyawan. Tidak ada kamera.

Tidak ada alasan untuk akting.

Zara menatap foto-foto itu lagi.

Senyum mereka.

Tatapan Kenzy saat menatapnya.

Zara menarik napas panjang.

“Pak…”

Kenzy menatapnya.

“Iya.”

“Saya Lelah berpura-pura terus.”

Kenzy tidak langsung menjawab.

Zara menunduk.

“Saya pikir ini cuma akting, cuma strategi, cuma cara buat nutup gosip.”

Suaranya sedikit gemetar.

“Tapi setiap hari kita bareng… setiap rutinitas kecil…setiap perhatian bapak, saya jadi lupa mana yang peran dan mana yang bukan.”

Kenzy diam.

Tatapannya melembut.

Zara menggenggam ujung dressnya.

“Saya cemburu kalau ada perempuan dekat Bapak.”

Sunyi makin dalam.

“Saya deg-degan kalau Bapak pegang tangan saya walau cuma sebentar.”

Kenzy menahan napas.

“Saya senang waktu Bapak nungguin saya sakit. Terlalu senang sampai takut sendiri.”

“Saya nggak tahu kapan tepatnya perasaan ini tumbuh… tapi saya sadar…”

Ia menatap Kenzy.

Langsung.

Tanpa bercanda.

Tanpa defensif.

“Saya mencintai bapak.”

Hening.

Angin malam menyentuh pelan.

Zara tersenyum kecil, gugup.

Kenzy berdiri perlahan.

Zara ikut berdiri, jantungnya berdetak terlalu cepat.

Kenzy mendekat.

Berhenti hanya sejengkal darinya.

“Zara.”

“Iya…”

“Kamu tahu kenapa saya tidak pernah menghentikan sandiwara ini?”

Zara menggeleng.

“Karena saya juga tidak ingin itu berakhir.”

Jantung Zara serasa jatuh.

Kenzy mengangkat tangannya, menyentuh lembut pipinya.

“Saya juga menyukai kamu.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi berat.

“Saya suka cara kamu masuk ke hidup saya tanpa izin. Suka cara kamu membuat kantor terasa lebih hidup. Suka cara kamu berani membantah saya.”

Zara hampir menangis.

“Saya tidak pernah sedekat ini dengan siapa pun setelah…”

Ia berhenti.

Nama itu tidak disebut.

Kenzy menarik napas panjang.

“Zara, saya tidak mau bohong.”

Suaranya jujur. Terlalu jujur.

“Saya menyukai kamu. Sangat.”

Zara menatapnya, berharap.

“Tapi… saya juga tidak bisa memungkiri…”

Kalimatnya menggantung.

“Ada bagian kecil di hati saya yang belum sepenuhnya kosong.”

Zara terdiam.

Tidak marah.

Tidak kaget.

Karena ia tahu Kenzy punya masa lalu.

“Nama itu… masih ada, tidak sebesar dulu. Tidak seperti dulu. Tapi belum sepenuhnya hilang.”

Kenzy menatap Zara dalam.

“Saya tidak ingin kamu masuk ke hidup saya dengan bayangan orang lain masih berdiri di belakangmu.”

Sunyi.

Malam terasa lebih jujur dari biasanya.

Zara menelan ludah.

“Kalau begitu… kenapa Bapak jawab perasaan saya?”

Kenzy tersenyum tipis.

“Karena yang saya rasakan sekarang nyata.”

Ia mendekat sedikit lagi.

“Dan kamu bukan pengganti siapa pun.”

Zara memejamkan mata sebentar.

Lalu berkata pelan,

“Saya tidak takut dengan masa lalu Bapak.”

Kenzy menatapnya.

“Saya cuma takut kalau suatu hari saya kalah sama kenangan.”

Kenzy menggeleng.

“Kamu tidak sedang bersaing dengan kenangan atau siapapun.”

Ia menyentuh kening Zara lembut dengan dahinya.

“Kamu sedang menciptakan yang baru.”

Dan untuk pertama kalinya,

Tidak ada jarak di antara mereka.

Kenzy mencium kening Zara pelan.

Lama.

Penuh makna.

Bukan ciuman penuh gairah.

Tapi janji.

Zara memegang jasnya, dan memelukmya lembut.

“Kalau begitu… jangan setengah-setengah.”

Kenzy tersenyum.

“Kamu juga.”

Di sudut lain restoran,

Kakek Jo dan Bibi mengintip dari balik pintu privat.

Bibi menutup mulutnya menahan haru.

“Kita berhasil…”

Kakek Jo tersenyum puas.

“Saya bilang juga apa.”

Bibi menatapnya.

“Tapi hati tetap urusan mereka.”

Kakek Jo mengangguk.

“Benar.”

Ia menatap dua anak muda yang kini berdiri berdekatan di bawah lampu temaram.

“Sekarang tinggal satu hal…”

Bibi menyipitkan mata.

“Apa?”

Kakek Jo menjawab pelan,

“Masa lalu.”

1
Azahra Wicaksono
🤣🤣😄
Retno Isusiloningtyas
jodoh Ken ore nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!