NovelToon NovelToon
EMOSI BERJILID

EMOSI BERJILID

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.

Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.

bagaimana kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PELARIAN

Hunian Sinta masih sama, sudah beberapa hari perempuan itu kesiangan akibat kelelahan. Banyaknya pekerjaan yang menuntutnya fokus.

"Bunda ... Aku udah kena tegur kesiangan mulu!" protes Leo. .

"Astaga. .. Maaf ya Nak. Bunda akhir-akhir ini sibuk," ujar Sinta merasa bersalah.

"Bunda ... kenapa sih? Dulu waktu ada ayah, bunda biar kesiangan kita nggak pernah loh telat?" sahut Adrian bertanya.

Sinta terdiam, Leo mengangguk membenarkan. Dulu, ketika ayahnya masih tinggal bersama mereka. Sang ibu tetap sigap walau kesiangan.

"Ayo ... Kita berangkat. Nanti, Bunda ke kepala sekolah untuk minta maaf!" sahut Sinta tak menjawab pertanyaan putranya.

Mereka pun berangkat menaiki mobil ke sekolah.

Sampai sana, Sinta langsung pergi ke ruangan guru. Menghadap kepala sekolah.

"Assalamualaikum!" ujarnya memberi salam ketika masuk.

"Waalaikumsalam, masuk Bu!" suruh kepala sekolah.

Sinta masuk dan meletakan tas Hermes limited edition di pangkuan.

"Bu kepala sekolah, saya mohon maaf atas keterlambatan Leo dan Adrian. Saya terlalu sibuk jadi selalu bangun sedikit siang. Maklum Bu ... Saya kan sudah bercerai ...."

"Maaf Bu Sinta," potong kepala sekolah tegas. Ia menatap perempuan di depannya.

Sinta sangatlah anggun, cantik dan sangat mapan.

"Sekolah tidak mentolerir apapun masalah keluarga. Kami paham jika Ibu kerepotan setelah hal menyedihkan itu. Tapi maaf. .. Saya juga seorang janda. Tapi sebisa mungkin saya mendahulukan anak-anak ketimbang pekerjaan!"

Perkataan kepala sekolah membuat Sinta terdiam. Perempuan itu mengangguk paham.

"Saya akan usahakan Bu kepala sekolah ... Oh ya, saya mau bayar uang SPP ...."

"Sebentar ya, saya panggil Bu Rini," sahut kepala sekolah bernama Rosita.

Rosita mengambil gagang intercom di sebelahnya. Berbicara pada seseorang di sana.

"Oh. .. Jadi semua iuran sekolah Nanda Leo dan Nanda Adrian sudah dilunasi ayahnya sampai selesai sekolah?" ujarnya bertanya.

"Benar, Bu. Bahkan semua buku yang akan digunakan nanti, sudah dilunasi," jawab Bu Rini di ujung telepon.

"Baik, terimakasih, Bu Rini. Assalamualaikum!"

Rosita menutup intercom setelahnya. Ia menatap Sinta yang duduk dengan wajah tak percaya.

"Bu, ibu dengar sendiri kan, uang sekolah dan perlengkapannya sudah dilunasi hingga keduanya lulus sekolah!" ujar Rosita.

Sinta mengangguk, ia tau jika Farhan memang sangat cepat masalah pendidikan kedua anaknya. Terlebih Leo dan Adrian bersekolah di sekolah swasta.

Sinta pamit, ia berdiri dan meninggalkan ruangan itu. Rosita menatap punggung salah satu wali anak didiknya. Ia menggeleng pelan.

"Secantik itu masih diceraikan suami," gumamnya pelan sambil menggeleng.

Lalu tiba-tiba ia terkejut karena baru saja mengatai sesama perempuan.

"Astagfirullah, ampun Ya Allah!" ujarnya menyesal sambil menepuk pelan bibirnya sendiri.

Sinta berjalan menyusuri koridor sekolah dengan langkah gontai.

Ia berhenti sejenak di dekat pagar, menarik napas panjang.

Uang sekolah anak-anaknya sudah lunas. Buku-buku sudah dibayar.

Farhan tetap menunaikan tanggung jawabnya sebagai ayah.

Namun entah kenapa, dada Sinta terasa semakin sesak.

Bukan karena uang. Melainkan karena ia sadar,

mantan suaminya masih hadir dalam hidup anak-anaknya.

Sementara dirinya perlahan belajar menjalani semuanya sendirian.

Ia menyeka sudut matanya

cepat-cepat sebelum air itu jatuh.

“Bunda harus kuat,” bisiknya pada diri sendiri.

Sementara di tempat lain, Farhan dan Rani baru saja keluar dari sebuah gedung sekolah. Claudia di sekolahkan di sekolah swasta ternama di sana.

Gadis kecil itu sudah bermain bersama teman-temannya. Wajahnya ceria, pipinya kemerahan. Farhan dan Rani bahagia melihat putri mereka senang.

"Sayang, Ayah dan Mama pulang dulu ya, nanti Mama jemput!" ujar Rani pada anaknya.

"Iya Mama!" seru Claudia sambil tersenyum.

Rani melambaikan tangannya, Farhan membukakan pintu mobil untuk istrinya.

"Terimakasih sayang," ujar Rani tersenyum lalu masuk mobil dan duduk dengan tenang

"Sama-sama," sahut Farhan tersenyum lalu menutup pintu.

Kendaraan itu pun melaju, mereka berdua duduk tenang sampai Rani sadar jika perjalanan mereka bukan ke kantor sang suami.

"Loh ... Mas ... kita ke mana?" tanya Rani bingung.

Farhan tak menjawab, ia tersenyum lalu membelokkan kendaraannya ke sebuah show room mobil. Rani masih dilanda kebingungan.

"Ayo turun," ajak Farhan lembut.

Rani pun turun, ia berjalan mengekori suaminya. Sampai di dalam.

"Kau pilih mana yang kau suka!" suruh Farhan.

Rani menatapnya polos, ia belum mengerti.

"Mas?"

"Sayang," Farhan terkekeh. Dua penjual tetap diam dan menunggu.

"Untuk mobilitas kamu antar jemput Claudia. Kamu harus punya mobil. Kamu ada SIM kan?" Rani mengangguk.

"Nah ... Pilih satu!" suruh Farhan lagi.

Rani menelan salivanya, matanya menatap deretan mobil mewah di sana.

"Mas ... Kita cari yang sedikit murah aja,," bisiknya pelan.

"Sayang ... Mercedes Benz nggak mahal!" sahut Farhan tertawa. Dua seles saling lirik mendengar kata-kata pria itu.

Rani kembali menatap mobil-mobil dengan cat mengkilat itu Ia menggeleng pelan.

"Takut, Mas," ujarnya pelan.

"Kamu mau aku bantu pilih?" tawar Farhan.

Rani meremas celana suaminya, ia masih ragu. Tapi matanya tak lepas dari satu kendaraan berwarna merah. Farhan melihat apa yang ditatap istrinya.

"Mba ... Saya mau ambil yang merah itu!" ujarnya tegas.

"Mas!" protes Rani.

"Sudah, nggak apa-apa. Kamu terima ya!" putus Farhan tak mau ada penolakan.

Rani hanya mengangguk pelan, keduanya duduk di depan kasir.

"Ini untuk cicilan setahun dengan biaya. ...," belum selesai kasir bicara, Farhan langsung memotong.

"Saya bayar cash!"

Rani membola, melirik suaminya mengeluarkan kartu hitam. Pembayaran selesai, kendaraan langsung bisa dipakai sekarang juga.

"Sayang, ini kunci mobil dan surat-suratnya lengkap!' ujar Farhan menyerahkan apa yang ia bilang ke istrinya.

Rani menerima itu dengan tangan gemetar. Masih shock dengan apa yang terjadi.

"Istighfar dulu sayang," suruh Farhan.

Rani beristighfar, ia menenangkan dirinya. Farhan masih setia menunggu.

"Bagaimana, apa sudah tenang?" tanyanya. Rani mengangguk sebagai tanda jawaban. .

"Nah. .. Sekarang, mobil ini milikmu. Aku iringi kau sampai sekolah," ujar Farhan lagi.

Rani naik mobil barunya, menyalakan mesin. Sudah lama ia tak menyetir sendiri. Semenjak sebelum mantan suaminya main gila, judi dan perempuan.

Jantungnya berdegup kencang, perlahan, ia menetralkan perseneling. Lalu kendaraan itu melaju dengan kecepatan pelan, meninggalkan bangunan show room.

Mobil Farhan ada di sisinya, melaju stabil. Hingga sampai di sekolah Claudia. Rani sudah bisa menyetir dengan baik.

Ia turun begitu juga Farhan. Pria itj mendekat dan memeluk istrinya, Rani sedikit terisak.

"Sudah, sudah," ujar Farhan lembut.

"Sayang, aku tinggal ya. Maaf nanti aku pulang terlambat. Langsung saja tidur ya. Nggak usah nunggu!' ujar Farhan cepat.

Rani mengangguk, satu bulan menikah dengan Farhan. Ia harus mengerti jika posisi suaminya adalah posisi tertinggi di perusahaan. Jadi ia harus belajar berbagi dan mengerti.

Farhan pun pergi dari sekolah, tak lama Claudia pulang. Ia kaget sang ibu berdiri di samping mobil baru.

"Mama ... Itu mobil Mama?" Rani mengangguk.

"Iya sayang. Mama punya mobil baru!" jawab Rani tersenyum lebar.

"Horee ... Aku punya mobil lagi!" teriak Claudia bersorak kegirangan.

Sedangkan di sebuah toko besar, Sinta nampak sibuk dengan adonan kue. Pesanan datang bertubi-tubi, pertengahan tahun memang pesanan kue meningkat. Terlebih setelah perceraiannya dengan Farhan. Usaha kuenya mulai banyak dikenal para pengusaha.

Farhan duduk di kursi di ruang kerjanya. Melihat laporan dari bawahannya. Memastikan jika semua sesuai kendali.

bersambung.

Ah ...

Next?

1
Atik Marwati
kan..kan..mau selingkuh lagi cari yg katanya sempurna...😤😤
Atik Marwati
anak orang kaya tapi kekurangan gizi🥺🥺
Atik Marwati
anak anaknya Sam binasih ditinggal akhirnya Farhan yang jemput
Atik Marwati
anaknya empat ya... kasihan yang 2 masak ga di ingat sih..
Serli Ati
ah...pasti Rani buat alasan sambil bermanja dengan Farhan dan Farhan pasti percaya apa yg dikatakan rani dan masalah selesai dech, Rani merasa aman.
Serli Ati
ah....istri Soleha yg manja dan penurut Farhan memang selalu membutuhkan uang Farhan ya, semoga Rani bisa membuka mata dan hati Farhan utk melihat keburukan dan tipu muslihat Rani yg telah menjerat leher dan meruntuhkan rumah tangganya terdahulu.
Atik Marwati
kelihatan belangnya sekarang...rasakan Farhan
Atik Marwati
🧐🧐🧐
vania larasati
lanjut kak
Serli Ati
sungguh malang nasib Farhan istri tua yg setia tapi mandiri dan ambisius istri muda yg manja, tamak dan rakus hanya ingin menguasai harta saja Farhan saja.
dewi: tp ms mending yg pertama lah mnrt aq ms bisa di beri pengertian pelan2 dr pd istri kedua
total 1 replies
nurry
lanjuuuuttt
nurry
nah sekarang puyeng kan Bu Rani 😄
nurry
sama-sama gila kakak 😄😄😄
nurry
wah wah wah Rani mulai gak jujur sama Farhan, hati2 main api kalo kebakar gosong 😄
nurry
set dah Rani 😬
nurry
astaga Rani 😬
Atik Marwati
berharap dapat berlian ternyata krikil...
vania larasati
lanjutt kak
vania larasati
lanjut kak
Atik Marwati
sama sama anak kandung kok begitu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!